Friday, 29 September 2017

Cek Fetomaternal: Melahirkan Normal atau Caesar?

Assalaamualaikum,

Kali ini saya pengen share mengenai pengalaman cek fetomaternal pada kehamilan, manfaatnya, di mana, apa saja yang kita dapatkan,  dan lain-lain.

Seperti yang pernah saya ceritakan di post sebelumnya, saat memasuki trimester dua, dr. Nining, obgyn saya di RS Hermina Depok menemukan kondisi Placenta Previa di rahim saya. Kondisi dimana mulut rahim tertutup oleh placenta.

Karena saya bukan orang medis, saya akan menjelaskan dari sisi saya aja sebagai pasien ya.

Image: courtesy of babycenter.com


Menurut dokter, sebenarnya pada kasus saya letak placentanya tidak benar-benar menutupi jalan lahir, jadi hanya tertutup sedikit saja, atau Marginal Placenta Previa (lihat pada gambar). Tapi tetap saja bisa menimbulkan resiko pendarahan saat melahirkan.

Saat itu usia kehamilan saya masih sekitar 20 minggu. Menurut dr. Nining, placenta itu sifatnya tidak akan bergeser karena memang menempel di dinding rahim. Tidak ada yang bisa dilakukan agar bergeser. Hanya saja, seiring membesarnya janin, maka rahim juga akan mengembang, jadi selalu ada kemungkinan placenta tertarik ke samping seiring mengembangnya rahim. Menurutnya, jika sudah tidak menutup jalan lahir, ada harapan untuk melahirkan secara normal.

Memasuki usia kehamilan 28 minggu, dokter menemukan bahwa placenta letaknya sudah agak naik dan tidak menutupi lagi. Bahkan menurut dr. Nining sudah bukan Placenta previa lagi, tapi sudah jadi placenta letak rendah. Jadi saya dan suami masih berharap sekali saya bisa melahirkan secara normal. Apalagi Hubby cerita, ada salah satu temannya cerita, istrinya placenta previa namun pada saat terakhir ternyata placentanya sudah naik dan bisa melahirkan secara normal.

Di usia 28 minggu itu saya dan suami juga berkonsultasi apakah kami bisa USG 4D. Dokter mengusulkan untuk fetomaternal saja. Menurutnya, cek fetomaternal lebih komprehensif daripada 4 dimensi. Kita bisa mengetahui aliran darah janin, fungsi jantung dari janin, dan lain-lain.

Karena saya juga jadi galau karena ada kemungkinan harus Caesar, jadi kami pikir ga ada salahnya untuk cek fetomaternal supaya bisa memberikan insight tambahan untuk mengambil keputusan. Karena kelahiran sebelumnya saya melahirkan secara normal, just to picture myself melalui operasi itu sesuatu yang belum bisa saya bayangkan. Secara mental pun saya belum siap. Apalagi selalu ada komentar atau pertanyaan yang malah bikin saya tambah pusing. Mengenai kenapa harus caesar? Kenapa tidak melahirkan secara normal saja? Dan lain-lain. Padahal kalo bisa milih mah ya pastinya saya pengen lahiran normal dong yah.

Ada yang nyuruh posisi nungging atau senam hamil biar placentanya pindah dan lain-lain, padahal ini kan placenta, bukan bayi sungsang. Ini pertama kalinya saya ngerasain perasaan orang yang melahirkan secara caesar. Buat yang baca tulisan ini, please, menghadapi kenyataan harus caesar saja sudah berat, jadi janganlah ditambah-tambah dengan bertanya terlalu jauh mengenai keputusan yang pastinya sudah dipikirkan matang-matang. Apalagi nge-judge begini begitu. Karena percayalah, pertanyaan yang terlalu jauh itu bikin gusar dan sangat menganggu.

Okay, kembali ke topik. Jadi atas pertimbangan posisi placenta yang sudah agak naik ini, saya masih berharap bisa melahirkan secara normal. Tapi tentu saja saya enggak mau kemudian jadi gambling. We need to know the exact chances that we have. Jika harus mengambil resiko dengan melahirkan normal, sejauh apa resiko yang kami hadapi? Jika pun pada akhirnya harus caesar, maka saya harus mendapatkan fakta kuat sehingga saya bisa deal with it dan bisa menerima kenyataan itu tanpa dibuntuti trauma pasca melahirkan.

Karena itulah, akhirnya kami mendaftar cek fetomaternal di dr. Novie Resistantie yang kebetulan praktek juga di RS Hermina Depok. Kami booking untuk minggu depannya. FYI, dr. Novi praktek di Hermina Depok pada hari Senin, Rabu, dan Jumat dari jam 16.00 sampai jam 22.00. Dan antrian berdasarkan jadwal kedatangan pada saat hari H.

Setelah googling sana-sini, kami jadi tahu bahwa fetomaternal adalah pengecekan kondisi janin yang komprehensif. Bedanya dengan USG 3D atau 4D biasa, ternyata fetomaternal harus dilakukan oleh dokter khusus fetomaternal, bukan obgyn yang biasa. Pengecekannya mencakup aliran darah, fungsi ginjal, jumlah ketuban, dan lain-lain. Karena mengecek banyak aspek, maka cek fetomaternal ini biasanya diidentikkan juga dengan pengecekan pada kehamilan yang beresiko.

Sebenarnya fetomaternal bisa dilakukan kapan saja. Hanya saja, jika ingin mendapatkan imaji wajah si adek bayi, sebaiknya dilakukan di usia 28-32 minggu kehamilan. Pertimbangannya di usia tersebut bayi sudah cukup besar namun masih aktif bergerak di dalam rahim ibu. Jadi besar kemungkinan kita bisa melihat wajah si kecil. Walopun ada juga yang ngalamin pas cek feto ternyata posisi adek bayinya lagi nggak menghadap depan.

Tapi ya balik lagi ke tujuan awalnya dari fetomaternal, yaitu mengecek si adek bayi secara komprehensif dan memastikan keadaannya di dalam rahim. Jadi bisa melihat wajahnya secara 3D atau 4D itu ya hanya bonus saja.

Minggu depannya saya mendaftar booking untuk hari Rabu. Tapi ternyata sebelum hari H saya ditelepon RS Hermina katanya dr. Novi kebetulan hari Rabu berhalangan. CS nya menawarkan apakah mau di reschedule lagi. Akhirnya saya setuju di hari Rabu minggu depannya. Saya pikir toh kan usia kehamilan saya masih 29 minggu saat itu. Jadi minggu depannya usia kehamilan saya masih 30 minggu.

Hari Rabu minggu depannya saya ternyata mendapat antrian no. 18. Saya pikir okelah ya, biasa kalo ke obgyn mah ngantri. Etapi ternyata saya baru tahu kalau fetomaternal itu karena pemeriksaannnya komprehensif, satu orang pasien bisa memakan waktu 30-45 menit xD. Waktu itu saya menunggu dari setelah maghrib, dan pukul 21.30 yang dipanggil baru nomor 12. Hubby yang memang baru pulang kerja dan lagi ga enak badan sudah kecapean. Dan bocil juga besoknya harus sekolah. Jadi saya putuskan reschedule saja lagi. Saya minta hari Jumat, tapi ternyata Jumat sudah penuh schedulenya, jadi saya minta Rabu depannya lagi saja.

Minggu depannya, Rabu saya pergi ke RS, dan di meja pendaftaran saya diberitahu bahwa jadwalnya terpaksa harus reschedule lagi karena dr. Novi tidak bisa hadir lagi. Kata petugasnya sebenarnya mereka sudah menelpon saya dua kali tapi tidak diangkat. Memang sih siang itu ada telepon masuk tapi saya sedang mengerjakan hal lain jadi enggak kedengaran nada panggilnya. Akhirnya saya reschedule lagi untuk minggu depannya.

Karena saat itu usia kehamilan saya sudah 31 mingguakhirnya saya dan Hubby cari info apakah bisa melakukan fetomaternal di rumah sakit yang lain. Saya khawatir nanti bayinya akan terlalu besar dan gerakannya tidak sebebas saat sebelum usia 32 minggu. Ternyata dr. Novi juga praktek di RS Bunda Margonda. Dan saya baru tahu ternyata dr fetomaternal itu jumlahnya tidak banyak, maka wajar saja kalau jadinya mengantri sekali. Kebetulan di RS Bunda Margonda ada jadwal hari Sabtu pagi, jadinya kami lebih santai.

Akhirnya setelah 3 kali reschedule kami berhasil juga cek fetomaternal. Ngantrinya cukup lama, tapi enaknya kalo di RS Bunda diurutnya berdasarkan nomor antrian dan ruang tunggunya tidak se-hectic di Hermina.

Kesan pertama sama dr. Novi, orangnya lembut banget, bahasanya halus dan pemeriksaan serta cara memberikan informasinya detail banget. Dari aliran darah, volume otak, fungsi jantung semuanya dicek. Alhamdulillah semuanya sehat dan normal.

Mengenai Placenta Previa, betul kata dr. Nining, placentanya sudah tidak menutupi jalan lahir, namun jaraknya masih sekitar 2 cm dari mulut rahim. Jadi memang masuk kategori placenta letak rendah.

Namun ada temuan lain yang ditemukan oleh dr. Novi, yaitu indikasi adanya Vasa Previa. Kami dijelaskan dengan ditunjukkan di usg lewat color doppler. Ternyata terdapat pembuluh-pembuluh darah besar di daerah mulut rahim, di bawah janin. Namun mengenai kondisi ini dr. Novi tidak memberikan pendapatnya lebih jauh. Menurutnya, dr. Nining lebih tahu mengenai riwayat kehamilan saya, jadi alangkah lebih baik jika dibicarakan lebih lanjut dengan dr. Nining.

Setelah Fetomaternal, laporan seperti inilah yang saya dapatkan,



Terdapat sekitar 30 lebih hasil usg 2D yang mencakup pengukuran-pengukuran fisik serta keadaan bayi. Ada juga foto 3D wajah adek bayi beserta print out laporannya. Kesemuanya ini juga disimpan di dalam satu CD.

Laporan USG Fetomaternal

Mengenai biaya untuk fetomaternal, dari awal di RS Hermina depok, kami diberitahu bahwa pemeriksaan fetomaternal ini kira-kira biayanya sekitar Rp 1.200.000 , sudah termasuk jasa dokter. Di RS Bunda Margonda ternyata biayanya tidak terlalu jauh dari perkiraan tersebut. Tindakan USG 4D (Rp 500.000), Alat Ultrasonograph (Rp 537.000), lainnya ada komponen biaya umum rumah sakit, film usg warna, dan lain-lain, jumlahnya jadi Rp 1.139.400. Ini biaya tanpa obat yang diresepkan.

Oiya, lebih lanjut mengenai Vasa Previa ini sepertinya akan saya bahas di post yang lain. Karena ternyata banyak hal yang kami temukan selanjutnya. Pada hari itu at least saya dan Hubby merasa tenang adek bayi baik-baik saja. Dan kami pun merasa cukup lega mengetahui kondisi Vasa Previa ini dari awal. Karena katanya memang kasusnya jarang terjadi dan sulit diketahui dengan USG biasa. Kami masih galau apakah masih ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal. Hari itu kami menghabiskan waktu mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Vasa Previa. Insya Allah bersambung di post berikutnya.

Wassalaamualaikum.

Monday, 25 September 2017

Mempersiapkan Masa Menyusui: Review Produk Mooimom Indonesia (Maternity Belt, Maternity & Nursing Bra, Nursing Top, & Corset)


Assalaamualaikum,

Berbicara tentang produk-produk kehamilan dan menyusui, sebenarnya dulu di awal kehamilan saya termasuk orang yang skeptis. Ya walopun saya memang orang yang biasanya skeptis terhadap banyak hal juga sih. Hahahaha. 

Saya dulu enggak terlalu mempermasalahkan kenyamanan selama kehamilan. Mengenai pemilihan maternity bra, baju tidur, maternity undies, apalagi korset-korsetan xD. Saya orangnya enggak suka ribet dan lebih suka apa yang bisa saya pakai, ya saya pakai saja. Kalo misalnya ga muat, ya ga muat saja. Habis perkara. 

Semuanya berubah saat kehamilan pertama saya masuk usia 6 bulan. Saya mulai lelah memakai sepatu wedges, dan kemudian beralih ke sepatu gladiator yang empuk. Saat badan tambah besar, rupanya beban di kaki juga tambah berat. Mulai saat itu saya mulai menghargai sepatu bagus. Lepas dari kehamilan, saya masih keranjingan sepatu yang nyaman sampe sekarang. Karena percuma kalo beli yang ga nyaman biasanya saya ga suka makenya. Wkwkwkwk. Selain perubahan pada sepatu, saya juga mulai merasakan engap/sesaknya pake bra berkawat. Apalagi dipakai selama bekerja seharian. Rasanya menyiksa sekali. Saat itu pertama kalinya saya beli bra yang seamless. Dan habis itu langsung ketagihan. Bra seamless-nya masih selalu saya pakai sampai masa menyusui.

Dulu kehamilan pertama juga ga keranjingan pengen beli undies khusus ibu hamil. Karena emang undies buat ibu hamil itu kalo mau yang nyaman kan rada mahal, yes? Tapi di bulan ke enam itu juga saya beralih ke undies khusus ibu hamil yang juga seamless.

Oiya, saya juga dulu ga suka banget pake daster buat di rumah. Saya prefer celana pendek dan kaos. Tapi ternyata yaa pas hamil itu emang paling enak pake daster. Selain lebih adem, pake daster itu praktis banget karena pasti muat di bagian perut. Hahahaha.

Yes. Berdasarkan segala ke-skeptisan saya dulu, akhirnya di kehamilan ke dua ini saya udah ga se-sceptical dulu. Saya bener-bener menghargai produk-produk maternity dan nursing yang memang dirancang khusus buat kenyamanan ibu hamil.

Jadi dari trimester dua, saya mulai beli setengah lusin daster, 3 jegging ukuran 6L yang saya modifikasi sendiri supaya pas di perut dan di kaki, dress-dress dan abaya, dan 10 undies khusus ibu hamil.

Kesimpulannya, ternyata kenyamanan buat si ibu sendiri saat hamil dan menyusui itu ga kalah penting. Karena proses ini adalah proses yang panjang dan kadang melelahkan. Jadi penting banget si ibu merasa nyaman dalam melalui prosesnya.

Sekarang, menghadapi kelahiran si adek, selain saya menyiapkan keperluan dedek bayi, saya juga menyiapkan beberapa nursing stuffs yang sepertinya akan saya butuhkan sendiri nanti. Karena sudah pernah pengalaman, bedanya kehamilan sekarang dan sebelumnya, kali ini saya juga mikirin kebutuhan diri saya sendiri juga selain kebutuhan si adek.

Seperti pakaian yang saya pikir akan nyaman saat saya memulihkan diri pasca melahirkan, bra yang nyaman untuk menyusui, baju menyusui, hingga pompa ASI. Tapi dari semuanya itu, kali ini saya pengen bahas beberapa produk maternity & nursing yang saya siapkan. Kebetulan beberapa produk ini saya dapat dari Mooimom Indonesia.

Saya mengenal Mooimom pertama kali dari instagram, dan produk pertama yang bikin saya kepengen beli adalah bra seamless-nya. Karena melihatnya saja mengingatkan saya sama bra seamless yang saya pakai waktu hamil pertama dulu (sekitar 5-6 tahun lalu). Saya ingat banget gimana nyamannya pakai bra seamless. Kebetulan saat mulai membeli perlengkapan bayi di salah satu baby shop di Bogor, saya menemukan produk Mooimom.

Di sana saya bisa langsung melihat produknya sendiri dan melihat kualitasnya serta melihat ukurannya tanpa menerka-nerka. Saya juga membeli korsetnya yang menurut review di internet bagus buat yang baru saja melahirkan namun nyaman.


Seamless Maternity/Nursing Bra

Bukan rahasia lagi kalau saat hamil PD membesar karena tubuh menyiapkan diri untuk memberikan ASI. Seiring dengan bertambah besarnya ukuran perut, ukuran bayi, maka seringkali proses ini diiringi dengan rasa engap di dada, dan kadang-kadang juga back pain.

Pertama kali saya lihat seamless bra dari Mooimom ini saya langsung suka. Bahannya stretchy tapi lembut dan menyerap keringat.



Nah, yang berbeda dari bra seamless saya jaman hamil dulu adalah, bra yang ini adalah nursing bra juga, jadi terdapat kaitan untuk akses menyusui. Kaitnya terbuat dari bahan yang bagus dan mudah dilepas dan dikait.



Bra ini juga dilengkapi pad di dalamnya yang bisa dengan mudah dilepas-pasang. Tergantung kita nyamannya bagaimana. 



Karet di bagian bawahnya ini nyaman banget dan menyerap keringat.



Breathable Corset 25 cm

Selain seamless bra, ini juga produk lain yang saya beli. Saya membaca beberapa review kalau breathable corset ini bagus namun nyaman. Bukan apa-apa, jaman lahiran anak pertama dulu, korset-korset yang saya punya terasa kurang nyaman. Korset yang pakai tali banyak alias gurita itu memang mantap banget, tapi enggak enak dipake aktivitas. Selain itu, kurang praktis dengan aktivitas setelah melahirkan yang bejibun. Dari terjaga karena tangisan bayi, bulak-balik ganti popok kain, sampai rasanya susah banget menemukan waktu mengurus diri sendiri. 

Korset lainnya yang saya punya adalah model korset yang pakai velcro. Korsetnya lumayan enak tapi cepet banget longgar kalau lagi aktivitas xD. Nah, yang ini saya belum cobain. Ya iyalah, orang lahirannya aja belum kan. Wkwkwkwk... saya cuma siapin ini sebagai salah satu perlengkapan yang saya masukin ke koper untuk persiapan melahirkan. Tapi kalau lihat bahan dan kualitasnya sih kayaknya bagus.






Maternity Support Belt

Maternity belt ini adalah salah satu perlengkapan maternity yang saya rasakan kegunaannya, terutama di trimester tiga kehamilan. 


Seiring bertambah besarnya perut, kadang suka kerasa sakit pinggang. Berjalan pun udah susah mempertahankan postur yang benar. Pokonya jalan ajalah gitu.

Paling terasa sih kalo pas lagi duduk di mobil. Entah saat menyetir atau saat jadi penumpang doang. Perut kadang rasanya terguncang-guncang. Makanya sejak usia 30 minggu kehamilan saya malah balik lagi pakai celana. Karena saya merasa celana bisa memberikan support lebih di bagian perut daripada baju dress. Padahal sebelumnya saya keranjingan banget pake dress dan abaya.

Saat memakai maternity belt ini, awalnya saya pikir saya akan merasakan support lebih banyak di bagian perut. Tapi saat dipakai, ternyata the best part-nya bukan di situ. Tapi di bagian pinggang belakang. Kalau kata urang sunda mah paling enak dipake kalo pas nyeri cangkĂ©ng. 

Jadi si maternity belt ini kan pakai velcro di bagian depan perut, nah terus ada velcro lagi di bagian pinggang kiri dan kanan. Nah si velcro di pinggang ini yang bikin perut jadi terasa tersangga dengan baik. Terus pinggang bagian belakang ketarik ke depan juga jadi rasanya enak.




Bagian velcro-nya lembut banget kayak gini. Kualitas bahannya juga bagus.

Karena pakai velcro, kita jadi bisa lebih mudah melepas dan menyesuaikan kembali maternity beltnya. Karena biasanya posisi duduk dan posisi berdiri/berjalan, biasanya ukurannya berbeda. Kita biasanya butuh rasa "ditopang" yang lebih tinggi saat berjalan. Sementara saat duduk, kita biasanya membutuhkan rasa yang lebih "longgar".

Kadang belt-nya saya pakai di luar seperti ini,



Tapi kadang saya pakai dibawah baju seperti ini.


Lalu apa worthed membeli maternity belt ini padahal kepakenya cuma selama hamil? 

Eits. No worries, setelah melahirkan, maternity belt ini bisa dipakai sebagai korset. Jadi cucok banget kan? Menopang selama kehamilan, dan bisa bantu kita get back in shape setelah melahirkan. 


Super Soft Crossover Maternity & Nursing Bra

Produk lain yang saya coba adalah Super soft Crossover Maternity & Nursing Bra. Seperti Seamless Nursing Bra, bra ini juga tanpa kawat. Bahannya sama-sama stretchy, dan sama-sama nyaman. Tapi yang ini bahannya lebih seperti kaus.



Bra ini juga memiliki kaitan di bagian atas yang bisa dengan mudah dilepas-pasang untuk akses menyusui. 



Ini bagian bawah bra-nya. Bahannya nyaman banget dan enggak panas.




Seamless Maternity & Nursing Top

Produk ini adalah produk yang saya paling excited buat cobain. Karena saya tahu seamless bra-nya enakeun, jadi saya penasaran apakah seamless nursing top ini sebagus bra-nya.

Gambar dari www.mooimom.id

Saat saya menyusui bocil pertama kali dulu, which is 6,5 tahun lalu, baju breast feeding friendly enggak sebanyak sekarang. Nursing apron juga belum menjadi sesuatu yang populer. Orang-orang tua biasanya ngasi tau supaya pakai baju bukaan depan supaya memudahkan saat menyusui. Realitanya, baju bukaan depan itu sama sekali ga nyaman karena kita kan ga bisa bebas buka baju setiap bocah nangis karena bakal kebuka kemana-mana. What worked for me, saat itu adalah, wearing tank top over my bra. Lalu pakai baju yang loose. Jadi saat menyusui, saya tinggal angkat baju loose dari bawah, tanpa takut keliatan perut atau pinggang karena di bawahnya saya pakai baju lagi. Di bagian atas juga jadinya enggak terbuka kemana-mana. Pokoknya paling aman lah.

Nah, saat tahu bahwa nursing top ini menggabungkan fungsi nursing bra dan tanktop, tentu saja saya seneng banget. Karena semuanya jadi lebih mudah. Bahan dan kualitasnya pun sama banget dengan seamless nursing bra-nya.




Seamless top ini juga memiliki kaitan untuk akses menyusui, serta pad yang bisa dilepas pasang.



Ini adalah bagian belakangnya. Walaupun seperti tank top, tapi enggak usah khawatir karena fungsi bra-nya bisa menyangga dengan baik. Bahannya bisa menyesuaikan dengan tubuh kita. Tapi masih sangat nyaman dipakai. Nursing top ini bahkan bisa saya pakai dengan nyaman sekarang, walaupun saya sedang hamil 37 minggu. 



Buat yang penasaran dengan rangkaian produk kehamilan dan menyusui dari mooimom, bisa langsung cek ke websitenya MOOIMOM INDONESIA di www.mooimom.id  atau bisa juga like Facebook Fanpage-nya di https://www.facebook.com/mooimomid/



Setelah mencoba produk-produknya mooimom ini, saya juga jadi penasaran sama produknya yang lain. Baru-baru ini saya memesan Manual Breast Pump-nya dan baru saja sampai hari ini. Tapi berhubung saya belum melahirkan, saya reviewnya nanti ya kalau sudah saya coba setelah mulai menyusui. Hehehehe.

Wassalaamualaikum.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...