Wednesday, 22 November 2017

MinumMilo : Bonding Time bersama Si Kakak Pertama dan Mimpi ke Barcelona



Assalaamualaikum,

Weekend lalu, kami akhirnya bisa jalan-jalan dan makan di luar bareng berempat. Maklum setelah melahirkan, sebulan terakhir ini saya lebih banyak di rumah untuk memulihkan diri, dan mengurus adek Alia yang masih newborn. Apalagi saya masih enggak bisa kemana-mana dan menjaga diri karena melahirkan dengan bedah caesar. Jadilah saya agak sedikit 'mengabaikan' kakak Aira. Di bulan pertama ini, saya enggak mengantar jemputnya ke sekolah, dan hampir setiap saat saya dalam keadaan menggendong adek Alia. Jadi saya senang sekali bisa jalan-jalan sekalian belanja groceries bersama. 

Kalau lagi belanja grocery gini, saya enggak melewatkan beli Milo buat di rumah. Milo ini biasanya selalu ada persediaan di kotak di dapur. Soalnya bisa bikin minuman enak dalam sekejap. Kalau mau tambah fancy dan seru, tinggal tambah ekstra krim, ekstra susu, atau ekstra saus cokelat. Enak 😋. Jadi saya langsung kepikir pingin bikin MILO dingin berdua sama Aira di rumah. 




Sampe rumah, kebetulan si adek bobo. Jadi saya manfaatin waktu buat bikin iced Milo sama si kakak dan ngobrol bonding berdua. Dan saya tahu saya juga harus meluangkan waktu berdua saja dengannya every once in a while. Sebenarnya saya juga kangen ngobrol berdua gini sama Aira tanpa dialihkan perhatian sama adik bayi. 

Saya sama Aira sama-sama suka Milo dingin pakai es. Paling enak sih kalau seduh Milo-nya ekstra banyak, lalu dikocok pakai shaker. Sore itu gerah banget dan kami cape abis jalan-jalan. Jadi rasanya nyess.. seger. 

Kakak Aira lagi nunjukin giginya yang mulai goyang lagi.
Nah, kebetulan di supermarket kemarin saya lihat ada undian Consumer Promo Road to Barcelona 2017 dari Milo. Hadiahnya bikin ngiler karena kita #BisaKeBarcelona . Ada 3 (tiga) paket Family Trip ke Barcelona, 50 Koin emas @10 gram, Ratusan Voucher Belanja, dan Ribuan Merchandise Official Barcelona .

Caranya mudah. Kirimkan struk belanja asli produk MILO (Bubuk dan/atau cair) senilai Rp100.000 (tidak berlaku kelipatan) atau 30 sachet MILO Active-Go 18g dan atau MILO 3in1 35g beserta data diri ke PO BOX MILO JKT 10000 atau bisa masukkan langsung ke dropbox yang tersedia (info selengkapnya di Facebook MILO Indonesia). 

Saya juga langsung beli stok MILO lagi nih, buat dikirimkan. Saya satukan pembeliannya dalam satu struk. Oiya, pajak hadiah ditanggung pemenang ya.



Nah, tunggu apalagi? Yuk #MinumMilo dan kirim kemasan MILO sebanyak-banyaknya biar bisa terbang ke Barcelona! 


Wassalaamualaikum.

Friday, 29 September 2017

Cek Fetomaternal: Melahirkan Normal atau Caesar?

Assalaamualaikum,

Kali ini saya pengen share mengenai pengalaman cek fetomaternal pada kehamilan, manfaatnya, di mana, apa saja yang kita dapatkan,  dan lain-lain.

Seperti yang pernah saya ceritakan di post sebelumnya, saat memasuki trimester dua, dr. Nining, obgyn saya di RS Hermina Depok menemukan kondisi Placenta Previa di rahim saya. Kondisi dimana mulut rahim tertutup oleh placenta.

Karena saya bukan orang medis, saya akan menjelaskan dari sisi saya aja sebagai pasien ya.

Image: courtesy of babycenter.com


Menurut dokter, sebenarnya pada kasus saya letak placentanya tidak benar-benar menutupi jalan lahir, jadi hanya tertutup sedikit saja, atau Marginal Placenta Previa (lihat pada gambar). Tapi tetap saja bisa menimbulkan resiko pendarahan saat melahirkan.

Saat itu usia kehamilan saya masih sekitar 20 minggu. Menurut dr. Nining, placenta itu sifatnya tidak akan bergeser karena memang menempel di dinding rahim. Tidak ada yang bisa dilakukan agar bergeser. Hanya saja, seiring membesarnya janin, maka rahim juga akan mengembang, jadi selalu ada kemungkinan placenta tertarik ke samping seiring mengembangnya rahim. Menurutnya, jika sudah tidak menutup jalan lahir, ada harapan untuk melahirkan secara normal.

Memasuki usia kehamilan 28 minggu, dokter menemukan bahwa placenta letaknya sudah agak naik dan tidak menutupi lagi. Bahkan menurut dr. Nining sudah bukan Placenta previa lagi, tapi sudah jadi placenta letak rendah. Jadi saya dan suami masih berharap sekali saya bisa melahirkan secara normal. Apalagi Hubby cerita, ada salah satu temannya cerita, istrinya placenta previa namun pada saat terakhir ternyata placentanya sudah naik dan bisa melahirkan secara normal.

Di usia 28 minggu itu saya dan suami juga berkonsultasi apakah kami bisa USG 4D. Dokter mengusulkan untuk fetomaternal saja. Menurutnya, cek fetomaternal lebih komprehensif daripada 4 dimensi. Kita bisa mengetahui aliran darah janin, fungsi jantung dari janin, dan lain-lain.

Karena saya juga jadi galau karena ada kemungkinan harus Caesar, jadi kami pikir ga ada salahnya untuk cek fetomaternal supaya bisa memberikan insight tambahan untuk mengambil keputusan. Karena kelahiran sebelumnya saya melahirkan secara normal, just to picture myself melalui operasi itu sesuatu yang belum bisa saya bayangkan. Secara mental pun saya belum siap. Apalagi selalu ada komentar atau pertanyaan yang malah bikin saya tambah pusing. Mengenai kenapa harus caesar? Kenapa tidak melahirkan secara normal saja? Dan lain-lain. Padahal kalo bisa milih mah ya pastinya saya pengen lahiran normal dong yah.

Ada yang nyuruh posisi nungging atau senam hamil biar placentanya pindah dan lain-lain, padahal ini kan placenta, bukan bayi sungsang. Ini pertama kalinya saya ngerasain perasaan orang yang melahirkan secara caesar. Buat yang baca tulisan ini, please, menghadapi kenyataan harus caesar saja sudah berat, jadi janganlah ditambah-tambah dengan bertanya terlalu jauh mengenai keputusan yang pastinya sudah dipikirkan matang-matang. Apalagi nge-judge begini begitu. Karena percayalah, pertanyaan yang terlalu jauh itu bikin gusar dan sangat menganggu.

Okay, kembali ke topik. Jadi atas pertimbangan posisi placenta yang sudah agak naik ini, saya masih berharap bisa melahirkan secara normal. Tapi tentu saja saya enggak mau kemudian jadi gambling. We need to know the exact chances that we have. Jika harus mengambil resiko dengan melahirkan normal, sejauh apa resiko yang kami hadapi? Jika pun pada akhirnya harus caesar, maka saya harus mendapatkan fakta kuat sehingga saya bisa deal with it dan bisa menerima kenyataan itu tanpa dibuntuti trauma pasca melahirkan.

Karena itulah, akhirnya kami mendaftar cek fetomaternal di dr. Novie Resistantie yang kebetulan praktek juga di RS Hermina Depok. Kami booking untuk minggu depannya. FYI, dr. Novi praktek di Hermina Depok pada hari Senin, Rabu, dan Jumat dari jam 16.00 sampai jam 22.00. Dan antrian berdasarkan jadwal kedatangan pada saat hari H.

Setelah googling sana-sini, kami jadi tahu bahwa fetomaternal adalah pengecekan kondisi janin yang komprehensif. Bedanya dengan USG 3D atau 4D biasa, ternyata fetomaternal harus dilakukan oleh dokter khusus fetomaternal, bukan obgyn yang biasa. Pengecekannya mencakup aliran darah, fungsi ginjal, jumlah ketuban, dan lain-lain. Karena mengecek banyak aspek, maka cek fetomaternal ini biasanya diidentikkan juga dengan pengecekan pada kehamilan yang beresiko.

Sebenarnya fetomaternal bisa dilakukan kapan saja. Hanya saja, jika ingin mendapatkan imaji wajah si adek bayi, sebaiknya dilakukan di usia 28-32 minggu kehamilan. Pertimbangannya di usia tersebut bayi sudah cukup besar namun masih aktif bergerak di dalam rahim ibu. Jadi besar kemungkinan kita bisa melihat wajah si kecil. Walopun ada juga yang ngalamin pas cek feto ternyata posisi adek bayinya lagi nggak menghadap depan.

Tapi ya balik lagi ke tujuan awalnya dari fetomaternal, yaitu mengecek si adek bayi secara komprehensif dan memastikan keadaannya di dalam rahim. Jadi bisa melihat wajahnya secara 3D atau 4D itu ya hanya bonus saja.

Minggu depannya saya mendaftar booking untuk hari Rabu. Tapi ternyata sebelum hari H saya ditelepon RS Hermina katanya dr. Novi kebetulan hari Rabu berhalangan. CS nya menawarkan apakah mau di reschedule lagi. Akhirnya saya setuju di hari Rabu minggu depannya. Saya pikir toh kan usia kehamilan saya masih 29 minggu saat itu. Jadi minggu depannya usia kehamilan saya masih 30 minggu.

Hari Rabu minggu depannya saya ternyata mendapat antrian no. 18. Saya pikir okelah ya, biasa kalo ke obgyn mah ngantri. Etapi ternyata saya baru tahu kalau fetomaternal itu karena pemeriksaannnya komprehensif, satu orang pasien bisa memakan waktu 30-45 menit xD. Waktu itu saya menunggu dari setelah maghrib, dan pukul 21.30 yang dipanggil baru nomor 12. Hubby yang memang baru pulang kerja dan lagi ga enak badan sudah kecapean. Dan bocil juga besoknya harus sekolah. Jadi saya putuskan reschedule saja lagi. Saya minta hari Jumat, tapi ternyata Jumat sudah penuh schedulenya, jadi saya minta Rabu depannya lagi saja.

Minggu depannya, Rabu saya pergi ke RS, dan di meja pendaftaran saya diberitahu bahwa jadwalnya terpaksa harus reschedule lagi karena dr. Novi tidak bisa hadir lagi. Kata petugasnya sebenarnya mereka sudah menelpon saya dua kali tapi tidak diangkat. Memang sih siang itu ada telepon masuk tapi saya sedang mengerjakan hal lain jadi enggak kedengaran nada panggilnya. Akhirnya saya reschedule lagi untuk minggu depannya.

Karena saat itu usia kehamilan saya sudah 31 mingguakhirnya saya dan Hubby cari info apakah bisa melakukan fetomaternal di rumah sakit yang lain. Saya khawatir nanti bayinya akan terlalu besar dan gerakannya tidak sebebas saat sebelum usia 32 minggu. Ternyata dr. Novi juga praktek di RS Bunda Margonda. Dan saya baru tahu ternyata dr fetomaternal itu jumlahnya tidak banyak, maka wajar saja kalau jadinya mengantri sekali. Kebetulan di RS Bunda Margonda ada jadwal hari Sabtu pagi, jadinya kami lebih santai.

Akhirnya setelah 3 kali reschedule kami berhasil juga cek fetomaternal. Ngantrinya cukup lama, tapi enaknya kalo di RS Bunda diurutnya berdasarkan nomor antrian dan ruang tunggunya tidak se-hectic di Hermina.

Kesan pertama sama dr. Novi, orangnya lembut banget, bahasanya halus dan pemeriksaan serta cara memberikan informasinya detail banget. Dari aliran darah, volume otak, fungsi jantung semuanya dicek. Alhamdulillah semuanya sehat dan normal.

Mengenai Placenta Previa, betul kata dr. Nining, placentanya sudah tidak menutupi jalan lahir, namun jaraknya masih sekitar 2 cm dari mulut rahim. Jadi memang masuk kategori placenta letak rendah.

Namun ada temuan lain yang ditemukan oleh dr. Novi, yaitu indikasi adanya Vasa Previa. Kami dijelaskan dengan ditunjukkan di usg lewat color doppler. Ternyata terdapat pembuluh-pembuluh darah besar di daerah mulut rahim, di bawah janin. Namun mengenai kondisi ini dr. Novi tidak memberikan pendapatnya lebih jauh. Menurutnya, dr. Nining lebih tahu mengenai riwayat kehamilan saya, jadi alangkah lebih baik jika dibicarakan lebih lanjut dengan dr. Nining.

Setelah Fetomaternal, laporan seperti inilah yang saya dapatkan,



Terdapat sekitar 30 lebih hasil usg 2D yang mencakup pengukuran-pengukuran fisik serta keadaan bayi. Ada juga foto 3D wajah adek bayi beserta print out laporannya. Kesemuanya ini juga disimpan di dalam satu CD.

Laporan USG Fetomaternal

Mengenai biaya untuk fetomaternal, dari awal di RS Hermina depok, kami diberitahu bahwa pemeriksaan fetomaternal ini kira-kira biayanya sekitar Rp 1.200.000 , sudah termasuk jasa dokter. Di RS Bunda Margonda ternyata biayanya tidak terlalu jauh dari perkiraan tersebut. Tindakan USG 4D (Rp 500.000), Alat Ultrasonograph (Rp 537.000), lainnya ada komponen biaya umum rumah sakit, film usg warna, dan lain-lain, jumlahnya jadi Rp 1.139.400. Ini biaya tanpa obat yang diresepkan.

Oiya, lebih lanjut mengenai Vasa Previa ini sepertinya akan saya bahas di post yang lain. Karena ternyata banyak hal yang kami temukan selanjutnya. Pada hari itu at least saya dan Hubby merasa tenang adek bayi baik-baik saja. Dan kami pun merasa cukup lega mengetahui kondisi Vasa Previa ini dari awal. Karena katanya memang kasusnya jarang terjadi dan sulit diketahui dengan USG biasa. Kami masih galau apakah masih ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal. Hari itu kami menghabiskan waktu mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Vasa Previa. Insya Allah bersambung di post berikutnya.

Wassalaamualaikum.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...