Saturday, 6 October 2012

Pak Aziz, Guruku

Kalau sudah bicara tentang jaman SMA, memang enggak ada matinya ya? Siapa sih yang ga inget serunya, bodohnya, ngecengin seniornya, pertemanan, sampai hal-hal yang bikin pusing seperti PR yang menumpuk setiap hari atau les ini itu.

Dari semua kenangan itu, kita akan selalu mengingat orang yang pernah menginspirasi atau bahkan mengubah hidup kita. Buat saya, orang itu adalah Pak Aziz.

Pak Aziz adalah guru les bahasa Inggris saya dari tahun pertama SMA sampai lulus SMA. Lucunya, beliau adalah guru dari paman-paman saya (adik-adik Papa).

Ceritanya, saat masuk SMA, saya dan dan seorang teman SMP hunting tempat les bahasa Inggris yang bagus. Kami bahkan pernah 'mencicip' salah satu tempat les tapi karena tidak puas akhirnya tak sampai satu bulan kami keluar.

Lalu dibawalah saya oleh Papa ke rumah Pak Aziz. Di depan rumahnya terpampang plang besar bertuliskan "BUKOM Private English Course". Saat pertama datang, kesan pertama saya adalah beliau galak. Hehehe... Pak Aziz punya satu bagian rumah yang dijadikannya tempat untuk mengajar. Kok, ga ada gedungnya ya? Pikir saya waktu itu. 

Beliau bilang, untuk belajar di situ saya harus mengumpulkan maksimal sekitar lima orang lagi. Sebenarnya sih, saya boleh belajar sendiri, tapi uang les satu kelas berarti saya tanggung sendiri. Wah, Papa langsung ngasih syarat deh. Kalau mau belajar di situ saya harus mengumpulkan lima teman supaya bayar kursusnya jadi lebih murah.

Kembali ke sekolah keesokan harinya, saya memutar otak, siapa yang bisa saya ajak belajar bahasa Inggris? Yang pasti mereka harus cukup menginginkan kepandaian dalam bahasa Inggris. Selain itu, mereka harus percaya pada saya bahwa Pak Aziz memang bagus cara mengajarnya. Karena jika dibandingkan dengan kursus bahasa yang lain, kursus di tempat Pak Aziz ini terbilang cukup mahal saat itu.

Kemudian saya teringat Palupi, teman yang dikenalkan oleh Anita, teman SMP saya. Dalam sekejap, tidak sampai satu minggu, rupanya persuasi dari Palupi meyakinkan teman lainnya untuk mulai kursus di Pak Aziz. Hehehe.... Belakangan saya mengetahui hasrat Palupi terhadap Bahasa sama menggebunya seperti saya dan kami jadi teman baik.

Hari pertama kami sudah mendapatkan dua buku diktat. Yang satu English Grammar in Use dengan jilid berwarna hijau tua dan satu lagi Communicating in English dengan jilid berwarna biru.


Ini salah satu buku yang disusun Pak Aziz. Sampai saya kuliah,
bekerja, dan pindah rumah pun bukunya masih saya bawa :)


Kedua buku ini ditulis oleh Pak Aziz pada tahun 1993 dan diketiknya sendiri. Buku-buku tersebut difotokopi enam kali, sesuai jumlah kami. Sebenarnya saat itu sudah tahun 1998 dan ada teknologi komputer, tapi kata Pak Aziz, Pak Aziz tidak sempat mengetiknya kembali di komputer. Wow, ketikannya begitu rapi. Bahkan di beberapa bagian diketiknya sendiri tanda untuk memberikan tabel. 



Salah satu halaman di buku. Lihat! Pak Aziz mengetik tabel-tabelnya
sendiri. Tapi tetap rapi ya hasilnya? :D Oia, maaf kalau ada coretan
tangan saya. Buku saya penuh coretan tangan karena saya terbiasa
mencoret-coret buku saat belajar. Hehehe....

Hari pertama membuktikan bahwa pendapat saya saat pertama kali bertemu Pak Aziz adalah benar: Beliau memang galak. Hehehe....

Yang pertama kali kami pelajari hari itu adalah grammar. Dan seperti kebanyakan pelajaran tentang grammar, kami mengantuk. Dan jeng... jeng... jeng... ternyata di akhir segmen itu beliau memberikan tes. Bukan tes yang ditulis, tapi kami berenam bergiliran menjawab pertanyaan untuk mengisi titik-titik yang kosong di buku. 

Saya kaget benar! Pertanyaan yang telah disusun beliau tersebut ternyata begitu banyaknya dan kami diharuskan langsung menjawab saat itu juga dengan jawaban yang spontan. Dan jika salah satu dari kami tidak bisa, beliau akan mengacungkan tangannya dan menunjuk ke murid tersebut. "Tidak bisa begitu dong, Mia! Coba dilihat lagi" Jika setelah diberi waktu berpikir kami masih tidak menemukan jawabannya, barulah dia akan memberi tahu jawabannya dan mengapa jawabannya seperti itu.

Jika salah satu dari kami ternyata menjawab dengan benar, jangan salah lho, beliau pun akan menjawab "Benar" tapi diikuti dengan pertanyaan "Mengapa" juga. Bagi Pak Aziz, penting sekali anak murid mengerti apa yang diajarkan olehnya. Beliau tidak suka jawaban yang menebak-nebak. Jawaban yang salah ataupun benar, dia menginginkan penjelasan dari jawaban kita tersebut.

Jujur, sepulang les waktu itu, saya sedikit merasa rendah diri. Padahal selama ini saya merasa bahasa Inggris saya sudah cukup baik. Bahkan saya keluar dari tempat les yang lama karena saya merasa tidak mendapatkan apa-apa. Waktu dikelas hari itu, saya mendapatkan tunjukan tangan berkali-kali dari Pak Aziz yang berarti jawaban saya salah. 

Begitulah cara Pak Aziz mengajar. Lama-kelamaan kami menjadi terbiasa. Setiap ada tes di akhir segmen, malah kami sering berebutan menjawab. Semacam kesenangan sendiri bagi kami untuk menjawab pertanyaan yang benar. Lalu kami bisa bilang "Yes!" atau sekedar senang karena seakan-akan sudah memenangkan pertarungan. Hahaha...

Sekitar satu tahun berikutnya, kedua buku tersebut sudah kami rampungkan. Tahun kedua kami meminta kelas percakapan kepada beliau. Kami pun disuruhnya mencari buku sendiri: English 900 terbitan Collier McMillan. Buku ini tersedia dari jilid satu sampai enam.



English 900 jilid ke lima dari Collier Mc Millan International

Cerita yang ada di buku benar-benar cerita yang sangat sederhana. Saat pertama kali membacanya, saya pikir buku itu terlalu mudah buat level kami. Hehehe... kepedean ya saya. Serius, menurut saya cerita di buku pelajaran sekolah malah lebih sulit daripada cerita di buku tersebut.

Tapi namanya bukan Pak Aziz kalau tidak bisa mengajari kami hal baru. Bayangkan saja, dari sekitar lima sampai enam paragraf bacaan, kami harus membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya. Syaratnya, jawaban dari pertanyaan itu harus tersedia di bacaan. 


Dari tulisan yang sependek ini kami harus mencari pertanyaan
sebanyak-banyaknya namun syaratnya, jawabannya harus tertera
di bacaan. (Gambar adalah salah satu halaman di English 900 halaman 19)

Ternyata mencari pertanyaan bukanlah perkara mudah. Karena seperti biasa, pertanyaan kami sering tersendat di tengah jalan karena cara kami mengungkapkan pertanyaan tersebut dalam bahasa Inggris salah. Lagi-lagi kami sering kena tunjuk dan ucapan, "Tidak begitu dong. Setelah why tidak bisa langsung kata kerja, pasti ada penghubungnya dulu! Coba betulkan."

Akhirnya aktivitas ini pun menjadi menyenangkan. Kami berlomba-lomba membuat pertanyaan. Bahkan kadang satu kalimat jawaban di buku bisa kami buatkan dua sampai tiga pertanyaan. Puas rasanya mendapatkan keberhasilan dari iklim persaingan yang sehat. hehehe 

Ternyata, alih-alih dibiarkan melakukan percakapan secara bebas mengenai satu topik sebagaimana dilakukan banyak kursus yang lain, Pak Aziz lebih memilih untuk mengajarkan bagaimana berbicara yang benar. Dengan mengajukan pertanyaan, siswa diminta secara spesifik untuk mengatakan hal-hal tertentu sehingga siswa yang lain bisa mempelajari bagaimana satu hal seharusnya diungkapkan dalam kalimat.


Selain cara belajarnya, yang saya kagumi dari Pak Aziz adalah beliau tidak terpaku pada gaya berbicara. Beliau tidak pernah mengkritik bagaimana kami mengucapkan sesuatu asal pengucapannya benar. Beliau tidak suka memperdebatkan american english atau british english. Beliau pernah bercerita salah satu temannya pernah diolok teman yang lain karena cara bicara bahasa Inggrisnya yang menggunakan dialek bahasa sunda. Lalu temannya tersebut menjawab,"Saya sudah pergi ke banyak negara dan bertemu banyak orang. Saya berbicara bahasa inggris ya sepert ini. Tidak pernah ada yang mengkritik saya seperti Anda."katanya.

"Hahaha...." Kami semua tergelak karena geli. 
"Jangan pernah malu terhadap dialek. Orang Italia, orang Singapura, mereka berbicara bahasa Inggris dengan dialek masing-masing kok. Ngapain kita malu berbicara bahasa inggris dengan dialek bahasa kita."

Wah, ternyata walaupun mengajarkan bahasa Inggris, Pak Aziz lebih senang kita jadi diri sendiri. Kalau tidak bisa, berbicara bahasa Inggris tidak usah mengikuti gaya orang Inggris atau Amerika berbicara. Yang penting yang kita ucapkan itu benar. Jadi tidak usah merasa rendah diri karena dialek bahasa kita terbawa saat kita bicara bahasa Inggris ya. Hehehe....

Pada Tahun ketiga, buku-buku tersebut sudah rampung dan kami mulai menginjak TOEFL. Wah, kalau yang paling saya ingat dari pelajarannya Pak Aziz adalah cara menganalisis soal. Lagi-lagi setiap jawaban kita harus diketahui alasannya. Belakangan, dengan seringnya berlatih, hal ini menjadi sesuatu yang secara otomatis bisa kita lakukan dengan lebih cepat.

Hal lain yang saya kagumi dari Pak Aziz adalah hasratnya yang besar pada bahasa Inggris ini tetap ada meskipun beliau sering bercerita bagaimana sulitnya menjadi guru di sekolah tempatnya mengajar. Maklumlah, beliau mengajar di sekolah kejuruan yang kadang dicap sebagai 'sekolahnya anak yang kurang pintar'. Banyak di antara mereka yang bahkan tidak bisa mengucapkan kata "father" atau "mother". Walhasil, sulit untuk mengajarkan materi pelajaran sehingga beliau sebisa mungkin mengajar dasar-dasar bahasa Inggris lagi pada mereka. 

Jaman sekarang, susah sekali ya menemukan guru yang seperti itu? Guru yang mau mengajarkan kembali ketertinggalan muridnya. Guru yang peduli dan berusaha mengetahui kemampuan muridnya dengan mengetahui cara berpikir mereka dalam menjawab pertanyaan dengan bertanya, "Kenapa jawabanmu begitu?"

Menurut saya, ini adalah poin penting yang harusnya ditanamkan dalam pendidikan kita. Alih-alih memusatkan murid pada menjawab soal dengan benar saja, kita harus membalik cara mengajar dengan memusatkan murid pada bagaimana ia mendapatkan jawaban? Bagaimana ia menganalisa suatu masalah? Apa akar dari masalah? Apa yang salah? Bagaimana sesuatu itu menjadi benar dan bagaimana sesuatu yang lain menjadi salah? Bukan hanya jawabannya yang harus benar, tapi bagaimana dia bisa sampai pada jawaban yang benar tersebut itu juga harus diperhatikan. 

Buat saya, belajar bersama teman-teman di tempat les Pak Aziz itu malah seperti tempat melepaskan penat belajar. Pak Aziz mampu menularkan passion-nya kepada kami dan kami juga menjadi lebih percaya diri berbahasa Inggris. Saya sendiri belum tentu bisa meraih banyak impian saya tanpa keterampilan bahasa yang beliau ajarkan.

Semua tes kerja, buku-buku teks, film-film dari novel Jane Austen yang saya sukai, bahkan blog yang saya tulis sekarang dan mungkin yang paling besar: kepercayaan diri saya sekarang.

Terima kasih ya, Pak. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Saya beruntung pernah belajar pada guru yang sangat berdedikasi seperti Bapak. Hanya Allah SWT yang dapat membalas semua yang Bapak telah berikan pada kami. Semoga ilmu yang sudah Bapak ajarkan pada semua murid Bapak akan selalu bertambah manfaatnya. Amiiin...  

Masih terngiang di kepala saya ucapan Pak Aziz yang masih membuat saya tersenyum sampai sekarang.

"Tidak usah malu karena dialek kurang British atau kurang American. Orang Italia, orang Singapura, semua berbicara bahasa Inggris dengan dialek mereka. Kenapa kita harus malu?"

Yang penting itu bukan dialeknya tapi bahasanya yang benar ya, Pak? Jadi berani itu karena benar, lho. Bukan karena kurang gaya. Hehehe.... Nah, kalau kita sudah benar bicaranya, mengapa kita harus malu?

 



8 comments:

  1. "Guru yang mau mengajarkan kembali ketertinggalan muridnya. Guru yang peduli dan berusaha mengetahui kemampuan muridnya dengan mengetahui cara berpikir mereka." Saluttttt

    ReplyDelete
  2. Iya mba Oliv. beruntung banget pernah belajar pada orang yg dedicated seperti guruku ini :')

    ReplyDelete
  3. belajar bahasa memang hrs nekat ya, jangan kebanyakan malu2nya :)

    ReplyDelete
  4. hahaha.. iya mba kalo ga nekat ga bisa-bisa. kita tau darimana kita mampu ato engga kalo kitanya ga jalan2 cuma karena mikirin malu :)

    ReplyDelete
  5. heh...aku tak rela namaku disebut2 tanpa kau beri royalti!!! hahaha..ternyata ane sebenernya berbakat jadi marketing officer kali yee :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... mungkin trustworthiness dirimu dl bidang itu pi yg meyakinkan.btw, si neng udah mulai les lho di pak aziz :D

      Delete
  6. ane masih punya bukti "chat" kita di buku TOEFL-nya Cliffs lho..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... iya buku kita berantakan banget dan penuh coretan ya. coretan2 penting dan ga penting :P

      Delete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...