Tuesday, 23 April 2013

Bebe's Weaning Diary (Part 2-end)

Hello, it's been a while since I published the first part of this weaning diary. Hm.. My Hubby worked overtime for about 3 weeks now so I don't have too much time to write a long post. 

So, here it is, the second part of my Bebe's weaning diary


DAY 1: TAMAN MINI INDONESIA INDAH (TMII)

On the first day, I brestfed my Bebe at 02.00 am. Then, she fell asleep again. I woke up very early that day because I needed to prepare some food. Baru kemarinnya dapet resep nasi goreng terasi dari temen kuliah saya, Angela Wika. Kayaknya kok enak gitu ya nasi goreng terasi pake ampela, ayam, kemiri, bawang, lada, ehm... enak lah pokoknya. Hehehe.... Makasih ya Wika resepnya :*.

Bukan apa-apa, saya memang harus pastikan si Bebe cukup makan supaya lupa mimi dan tidak sakit karena pasti kecapaian. Hari pertama saya dan hubby memang berencana mengajaknya jalan-jalan naik kereta gantung di taman mini. Main sampai sore, lalu lanjut ke mall sampai malam. Tujuannya sih satu, supaya si Bebe lupa mimi dan cukup lelah sehingga mengantuk.

Kami berangkat sekitar jam 9 pagi dari rumah. Bebe sempat minta mimi di jalan, tapi berhasil dialihkan perhatiannya. Dan karena jam segitu memang jadwal tidurnya, jadilah dia tidur sepanjang jalan.

Sampai sana, kami langsung makan. Bebe juga makannya lumayan lahap, mungkin karena engga mimi dari pagi. Sambil makan, dia nunjuk-nunjuk ke arah kereta gantung-kereta gantung yang berseliweran,"Choo-choo train! Choo-choo train! Aia (Aira) mau!"

"Itu namanya kereta gantung, atau cable car, bukan choo-choo train. Yuk, Naik yuk!"Kata Papa. Waa... Seru juga. Berhubung udah lama banget ga naik kereta gantung, ternyata deg-degan lho. Norak ya? Hihihi... Lihat saja foto yang saya pasang di sini foto Papa dan Bebe, karena foto saya hampir semua mukanya tegang-gugup gitu. :P



1. Di anjungan Sumatera Barat. Bagus deh rumahnya warna-warni. Sampai si Papa jadi korban disuruh keluar buat motret kita yang ada di atas. hehehe... Rumahnya panjang sekali dan jendelanya besar-besar :).
2. Ini Papa dan Bebe di kereta gantung. Bebe wajahnya tegang karena baru pengalaman pertama. hehehe... Tapi pas di bawah dia teriak-teriak excited dan pingin naik lagi :)

Nah, ini di museum transportasi. Seru sekali di museum ini, kita bisa foto-foto sepuasnya.
Ada berbagai moda transportasi kuno dan jadi punya nilai eksotis dipajang di sini :)

Nah, di bawah ini, kereta tua bekas jaman perjuangan dulu. Bodinya dari kayu dan masih sangat sederhana. Di dalamnya hanya ada dua bangku panjang yang ditata berhadapan,  mirip seperti interior angkutan kota sekarang ini.

Berhubung si Bebe suka banget choo-choo train, jadi kami agak lama nongkrong di sini dan berfoto-foto. Lihat, si Bebe seneng banget bisa naik choo-choo train gede :D.

Di gerbongnya ada tulisan "Merdeka atau Mati". 


I Looooove these photos :*.



Nih, ternyata di Jakarta juga dulu ada Double Decker lho :)

Seru ya museum transportasi? di sini lokasi yang bagus juga lho buat foto pre wedding. Waktu kita foto-foto bahkan ada yang tampaknya sedang menyiapkan photo shoot untuk pre wedding :).

Sorenya, kami pulang ke Depok. Sampai waktu Maghrib di Margo City, kami makan dan lagi-lagi mengajak si Bebe main di Jungle Jump sampai sekitar jam 8.30 malam. 






I couldn't believe how good she is in taking the idea of weaning. She's such a good girl. Seharian itu si Bebe hanya minta mimi sekali saat kami berangkat pagi-pagi dan langsung saya jelaskan bahwa Bebe sudah besar dan tidak boleh mimi lagi karena sudah Hepe Cucu (Hepi Birthday to You). Tidak ada tangisan panjang atau rengekan minta mimi yang saya takutkan.


Setelah itu, akhirnya kami pulang. Seperti yang sudah kami duga, si Bebe ketiduran di Mobil. Dan dia terus masih tertidur sampai jeng jeng jeng..... si Bebe bangun jam 2 pagi.... 

Ini rupanya yang sering dibicarakan banyak orang tentang penyapihan. Ia menangis keras. Menangisnya bukan karena minta mimi, tidak. Si Bebe tampaknya masih mengantuk, tapi dia belum bisa membuat dirinya sendiri tertidur tanpa mimi. Akhirnya si Bebe menangis keras karena ingin kembali tidur dan dia terbiasa ditenangkan oleh menyusu. Rasanya menangisnya lama sekali. Papa lah yang turun tangan menenangkannya. Papa memangku si Bebe selama dia menangis sambil terus berkata,"Aira yang sabar ya... Sabar ya sayang..." 

Huhuhu... sedih deh kalo inget itu. I'm so lucky to have my Hubby there with me during the process of weaning. Papa sabar banget sampe akhirnya Bebe bisa tidur lagi sekitar jam 4 pagi.



DAY 2: RAGUNAN ZOO

Hari kedua penyapihan, kami pergi ke Ragunan. Hal kedua yang disukai Bebe adalah: Gajah. Hehehe... itu kayaknya binatang pertama yang suka disebutnya dengan baik. Bahkan kalo lihat kemasan susu Ul*ra rasa vanila yang kecil, si Bebe bilangnya susu gajah (karena gambarnya gajah). Nah, kalo yang besar biru, Bebe bilangnya itu susu sapi (karena gambarnya sapi). 

Waa ternyata tiket masuknya super murah ya cuma Rp 9.000 kalau tidak salah, dan lucunya, si Bebe tidak dihitung. Jadi kami cuma beli dua tiket. 

Ragunan itu ternyata luaaaaaaas yah. Sampai pegal sekali kaki. Hihihi... Kalau di Ragunan ini tempatnya banyak tumbuhan dan lembab, jadi foto-fotonya banyak yang kurang bagus karena kurang cahaya. Selain itu, cuaca juga sedang tidak mendukung. Jadilah fotonya cuma dua yang dipajang di sini :).


Hari itu kami pulang sore karena sudah terlalu lelah. Sampai rumah kami sudah sama-sama tepar. Si Bebe pun dengan suksesnya tertidur. Tapi ritual malam kemarin terjadi lagi. Sekitar jam 1.30 pagi ia terbangun dan menangis. Kali ini Bebe nggak mau digendong emaknya. Begitu terbangun ia langsung membangunkan Papanya sambil menangis minta ke ruang tengah dan nonton baby tv. 

Emosi saya pun mulai keluar di hari kedua. Ada perasaan sedih sekali si Bebe nggak mau saya gendong. Hiks.... Mulai ada perasaan ingin menyusuinya lagi dan nggak mau dia marah sama say. Tapi sudah hari kedua. Mama saya bilang, kalau menyapih jangan maju-mundur. Jika sudah siap, maka lakukan. Jika kita ragu dan mulai menyusui lagi, akan lebih sulit menyapihnya untuk kali yang kedua. Hm... Sabar.. sabar... Malam itu Papa juga kembali dengan sabarnya menemani Bebe sampai dua-duanya tertidur di sofa.


DAY 3: INDONESIA FASHION WEEK 2013! :)

Hari ke tiga penyapihan giliran Emaknya yang gembira ria di Indonesia Fashion Week. hehehe... Saya mendapat undangan untuk fashion show Shafira bertajuk "Jardin de la Sultana". Posting lengkapnya bisa baca di sini.

Kami berangkat jam 10 pagi karena Papa mengejar waktu Shalat Jumat. Sampai Jakarta, sambil menunggu Papa Shalat Jumat, saya dan Bebe nongkrong di J.co. Salah satu cara menyuap Bebe supaya mau disapih adalah menyediakan makanan-makanan kesukaannya dan salah satunya adalah donat. Hehehe...

Sampai di JCC, kami langsung menuju plennary hall karena fashion show akan dimulai pada pukul 15.30. Namun rupa-rupanya acaranya molor lama sekali untuk waktu yang tidak dapat ditentukan panitia karena menurut mereka, di dalam masih berlangsung fashion show lain. Ah, menyebalkan. Saya udah ketar-ketir karena Bebe mulai gusar karena menunggu dan mengantuk. Akhirnya, setelah satu jam menunggu kami bisa masuk. Dan alhamdulillaah... si Bebe tertidur selama Fashion show sehingga saya bebas memotret :).


Mama dan Bebe di IFW 2013.


Kami sampai rumah sudah larut malam sekali dan si Bebe kecapaian. Esoknya si Bebe terbangun pukul 4.30 pagi. Alhamdulillah... Kami cukup istirahat sehingga bisa dengan mudah mengalihkan perhatian si Bebe agar tidak menangis.

Hari-hari berikutnya, Bebe sudah mulai terbiasa dengan kenyataan bahwa ia tidak bisa mimi lagi. Namun masih sering terbangun dini hari dan kadang menangis meski tidak sedramatis yang pertama dan biasanya hanya sebentar. Bagi saya hari ke-7 sampai ke-14 adalah yang paling berat. Selama beberapa hari badan saya mulai panas dingin meriang karena berhenti menyusui dan Bebe mulai menunjukkan tanda-tanda agak cepat rewel jika mamanya sedang bekerja di rumah dan kurang terperhatikan. 

Saya berada pada stage dimana kesabaran saya mulai habis dan mungkin Bebe pun ada pada stage yang sama saat merasa kurang mendapat cukup perhatian dari saya. Kami sama-sama lelah.

Di stage antara 7-14 hari ini juga mulai terlihat berat badan si Bebe mulai turun dan tambah kurus. Hm... kasiannya...  Tapi lewat dua minggu pelan-pelan berat badannya bertambah dan makannya mulai banyak. Akhirnya ritual bangun pagi lalu nangis sebentar pun berlalu. Bebe mulai mau kembali tidur dengan digendong atau dipeluk mamanya. 

Mungkin kami sama-sama mempelajari kebiasaan yang baru. Memang saat menyapih, tidak hanya anak, tapi ibu juga harus siap. Kalau istilah mama saya, harus ikhlas. Sekarang saya pun meluangkan lebih banyak waktu buat Bebe dan tahu kapan dia minta perhatian. Mungkin baru sekitar sebulan masa penyesuaian sampai semuanya sudah berada di titik kesetimbangan yang baru. Sekarang kami sudah sama-sama bisa menyesuaikan diri satu sama lain :). 

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya di postingan bagian pertama, ini bukanlah WWL (weaning with love) yang bisa membuat anak melakukan self-weaning dan berhenti sendiri atau penyapihan yang bertahap. Tapi saya memang agak terpengaruh dengan ide WWL bahwa penyapihan itu tidak harus menyakitkan. 

Sejak hari pertama penyapihan, Bebe sudah mengerti ini adalah saatnya. Karena, sudah sejak 6 bulan sebelumnya sering diajak mengobrol tentang berhenti mimi setelah ultah yang ke-2. Ini memang membuatnya terasa lebih mudah.

Kemudian, kami membuat konsep "berlibur" pada beberapa hari di awal untuk menyingkirkan drama-drama dan kesedihan yang sering saya dengar tentang penyapihan.

Saya juga tidak memberikan aneka macam hal untuk mencegah anak mimi seperti obat merah, daun brotowali, dan sebagainya. Menurut saya, cara seperti ini hanya akan melukai perasaan anak. Seakan-akan dia harus berhenti karena pahit, bukan karena dia memang harus berhenti. 

Yang terakhir, saya tidak memberikan pengganti ASI seperti susu dengan merk tertentu. Karena saya takut menggantikan ASI pada susu hanya akan membuatnya mengkonsumsi susu secara berlebihan. Saya ingin Bebe minum susu namun masih pada batas yang wajar.

Nah, dari pengalaman saya, ada beberapa catatan mengenai penyapihan yang ingin saya tuliskan di sini.

Pertama, siapkan anak dan siapkan diri Anda. Komunikasikanlah pada anak bahwa Anda akan menyapihnya dari beberapa bulan sebelumnya. Ini berguna untuk menyiapkan sang anak dan juga mental Anda sendiri.

Kedua, Ikhlas. Lagi-lagi kata mama saya. Setelah Anda 'mengedukasi' diri Anda dan anak Anda mengenai penyapihan, maka mulailah untuk ikhlas. Ikhlas adalah saat anda merasa siap untuk menerima perbedaan antara saat menyusui dan tidak menyusui. Misalnya saat anak menangis lebih gampang mendiamkannya dengan menyusui, namun Anda tidak bisa begitu saat anak sudah disapih. Atau jika anak Anda mulai mandiri dan pada beberapa hal kecil dia tidak membutuhkan bantuan Anda (seperti tidur siang sendiri, misalnya). Dan ketakutan yang paling besar yang seperti saya alami, Anda takut tidak bisa menunjukkan atau mengekspresikan kasih sayang Anda pada anak Anda seperti saat menyusui.

Ketiga, menyapih terasa lebih mudah jika pasangan ikut mendukung supaya penyapihan berhasil. Selain itu, dukungan pasangan diperlukan sekali saat anak 'marah' sehingga sang anak tidak merasa 'diabaikan' oleh ibunya dan pada saat yang sama, memberikan keyakinan pada si anak bahwa ibunya tetaplah ibunya walaupun sudah tidak menyusui lagi.

Keempat, lakukanlah hal-hal menyenangkan bersama keluarga agar situasi penyapihan tidak 'stressful'. Dalam hal ini, bagi orang tua dan anak penyapihan dianggap seperti berlibur.

Kelima, siapkanlah makanan-makanan pengganti yang disukai oleh anak selama penyapihan. Dalam kasus saya, saya menyiapkan Yoghurt, pisang, susu, mi goreng, dll.

Keenam, tetaplah bersabar. Hehehe... better said then done yah :P.

Begitulah pengalaman saya menyapih anak saya. Semoga bermanfaat ya teman-teman :).





Sunday, 21 April 2013

A One Day Hijab Tutor


Me in action, as one day hijab tutor :P.

A few months ago, the Islamic studies in our neighborhood held a hijab class. Hijab class is where we can share and learn the new hijab style. I love this kind of event, because we learn how to wrap a hijab so we will be seen more attractive.

We had three tutors that day and I was one of them. Some women who wear hijab think that wearing this kind of hijab can be troublesome. Especially young married women who have babies and toddlers (like many of us in our Islamic studies group). We have not much time to dress up and many times, we are in the condition when we need to carry our little children, breastfeed them, or take them to the bathroom at the mall :D.

True, that some of the styles are complicated. But there are simple styles that are easy to be done and if you can make a neat finish, it will not be ruined by your little children easily. I'm not very good in wrapping my hijab, but it really feels good to share :D.

Oia, buat para wanita Indonesia, selamat Hari Kartini ya! Semoga makin hari kita makin bisa berperan banyak dan bermanfaat dalam keluarga dan masyarakat. Aamiin....



Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: 



Sunday, 14 April 2013

Mood Killer

Are you one of the girls that decide or prepare their outfit in the morning or even the day before? or are you one of the girls who stand in front of their closet and then decide what to wear?

Many times, I am the first kind. I love it when I decided what to wear in the morning so it doesn't take me too long to prepare myself because I need to prepare my daughter's outfit too. 

But sometimes I wear the particular outfit in front of the mirror (that I've prepared in the morning), then I don't like me wearing it -_-'. In the end, I end up standing in front of my closet for a long time trying to figure out what to wear. 

This was happened to me this morning. I prepared a skirt, a top and a veil. But then, I decided that I didn't like it. I changed the top, I didn't like it. I changed the top to another top, I still didn't like it. 

This is what I called a mood killer.

In this kind of situation, I usually go with my favorite stuffs. I regularly have favorite pants and favorite tops to wear when I really have no idea what to wear. I called it "Baju Aman". "Baju Aman" is the kind of outfit that always look good on you and at the same time, you always feel comfortable wearing it. 

So today I wore my electric blue pants. You may have seen this  pants herehere and hereWell, yes the pants is one of my "Baju Aman". It never failed me I guess :). I wore it with my black shirt, and my grey chiffon shawl. I tried to make a new hijab style just to make the veil look different a little.

The outfit is not anything new I guess, but I love this new hijab style. So I asked my Hubby to take the camera and capture my pictures ^^.


Chiffon Shawl - Mocca
Eyewear - Ted Baker

Monday, 8 April 2013

Going Maxi


Hello everyone! How are you? Well, I am now feeling a little excited about maxi skirt and maxi dress. 

It was actually started when I followed KIVITZ blog a few months ago. But before I begin, I will tell you my feeling about this maxi skirt first.

My friends used to call me a tomboy girl since I was in high school. I loved sneakers, shorts, t-shirt, short hair, and going everywhere cycling my bike. Even when I wore my first hijab on 2003 (I was a university student majoring Journalism), some of my friends still call me a tomboy. I think I loved being a tomboy because it was very practical and support my mobility very much. 

Back then, my days as a Journalism student made me needed to go to many places. Many times, I needed to go to places I'd never been and went home by night. 

I used public transportations very often so it was important for me to wear easy-to-wear clothes. I needed to be seen tomboy too, because I found out that in this way, I could prevent myself from being seen by men. They saw me as a tomboy so they wouldn't give me too much attentions that I don't want them to make. 

It was many years ago. But even with those thoughts of security issue, something inside of me still believe that I couldn't wear skirt only because I thought I was a tomboy and no skirts would fit me. I know it's only in my mind and it's just a mental block. But still, I thought I was too short and I looked ugly in them.

Until one day I found KIVITZ blog and follow it. I wasn't really sure at first but then I saw her posts and see how she can maintain being modest by wearing maxi skirts and look good too! :D

Somehow those posts of her blog moved me to buy my first maxi skirt. I think as a moslem woman, I still have that desire to wear clothes that cover the awrah properly

The first time I bought a maxi skirt, my first thought was: "Will I wear it?". But I thought, "Yeah, whatever. One skirt will not hurt me, so why not?"

I think I've beaten my mental block. Now, I have two maxi skirts and two maxi dresses in my closet. Hehehe... I'm not saying that I am now gonna wear maxi skirts all the time, but I am now considering to wear them. Hopefully I can wear them more often :)

So, this is me wearing maxi dress. I'm not very confident with the result, but I think I look alright. Hahaha... :P


Veil - Unbranded
Maxi Dress - et cetera

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...