Friday, 31 October 2014

Play IQ: Lebih dari Main!

Assalaamualaikum,

Hari Sabtu tanggal 25 Oktober lalu, saya mendapat undangan workshop dari Fisher-Price di Toys City, Lotte Shopping Avenue. Lokasinya berada di store mainan, jadi saya pikir pasti si Bebe bakal anteng bereksplorasi. Kebetulan Mama saya juga lagi datang jenguk cucunya, jadi mereka kan bisa bonding juga sambil bermain.

Main bareng sama Enin sebelum acara dimulai.

Menurut saya, aktivitas bermain itu memang penting buat anak. Apalagi di masa Golden Age (1-5 tahun) yang cuma sebentar. Kadang suka kaget, kok anak kita udah bisa begini, bisa begitu. Kids really are fast learners! Makanya sejak mendapat undangan saya sudah excited. Karena pasti saya ga cuma dapat informasi produk deh, pasti ada ilmu yang bisa kita ambil sebagai orang tua. 




Benar saja. Hari itu temanya Play IQ, Lebih dari Main! Narasumber yang dihadirkan adalah Meiyin Leong (Head of Marketing Mattel South-East Asia), Vera Itabilianan Hadiwidjojo (Psikolog) dan Cathy Sharon (Brand Ambassador Fisher-Price). 

Meiyin Leong, Cathy Sharon, dan Vera.
Ternyata, aktivitas bermain itu jangan hanya dianggap sekedar main. Waktu bermain adalah saat bayi belajar mengenai dunia sekitar mereka dan mengembangkan keterampilan. Karenanya, saat bermain adalah saat tepat bagi para orang tua untuk membantu anak-anak belajar mengenai dunia sekitar serta mengembangkan bakat mereka. 


Kita pasti sudah tahu dong Fisher-Price sebagai salah satu merk mainan anak yang terpercaya. Kali ini Fisher-Price memperkenalkan "Play IQ, Lebih dari Main!" sebagai sarana untuk membantu para orang tua memahami perkembangan Fisik, Kognitif, dan Sosial-Emosional (FKS) anak-anak mereka. 

Seiring pertumbuhannya, anak akan menunjukkan kekuatan di tiga pilar perkembangan FKS. Melalui Play IQ, orang tua dapat mengetahui dan memonitor perkembangan anak-anak sehingga mereka bisa mengetahui potensi, mengetahui pencapaian, dan juga memberikan stimulasi yang tepat bagi anak-anak.




Dengan menggunakan Play IQ, memonitor perkembangan anak menjadi lebih mudah. Kita cukup membuka link: http://fisher-price.com/playiq dan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan si kecil.  Lalu dengan mudah kita bisa mengetahui potensi anak kita (dengan usia antara 0-24 bulan), pencapaian yang diraihnya, serta stimulasi bermain yang tepat untuk usianya. 

Untuk memudahkan orang tua dalam mengukur perkembangan dan potensi anak, Fisher-Price mengkategorikan 7 Persona Play IQ berdasarkan bakat anak dalam perkembangan Fisik, Kognitif dan Sosial-Emosionalnya.

7 Persona Play IQ di http://fisher-price.com/playiq.
Kalau melihat dari 7 persona ini, tampaknya Si Bebe termasuk The Crowd Favorite. Karena dia senang belajar sesuatu yang baru dan bercerita. Kalau di rumah anaknya senang menggerakkan botol-botol bedak, lotion dan lain-lain sambil bercerita seakan botol-botol itu hidup. Kalau lagi bantu (baca: gangguin) Mamanya di dapur juga selalu dilakukan sambil bercerita. 

Misalnya pas mau mulai masukkin bahan-bahan pancake dia pasti bilang,"Now let's get started!" Lalu dia pun meneruskan menyebut bahan-bahan sambil mengisi mangkuk plastik besar,"Put some flour.... some milk." Dll. Terus dia minta whisker dan bilang "Now, we're gonna whisk, whisk, whisk." Hehehe... seru deh ngajak anak bermain sambil beraktivitas bersama.

Berikut beberapa contoh cara mengajak anak-anak bermain sesuai usianya,



Oiya, menurut Mba Vera, menemani anak bermain dan mengarahkan mereka memang penting. Tapi kita juga harus memberi anak-anak "me time" juga, lho. Me time pada anak penting agar anak bisa belajar menghibur dirinya sendiri dan juga me-release imajinasinya. Tentu saja sambil diarahkan oleh orang tua ya.

Hm... senang deh jika bisa mengetahui potensi anak dengan baik dari sejak awal usia pertumbuhannya. Untuk membantu lebih jauh lagi, Fisher Price telah memvisualisasikan 87 jenis pencapaian dalam perkembangan anak usia 0-24 bulan. Ikon-ikon dan informasinya begitu mudah untuk diikuti dan dimengerti.



Setelah talkshow, kami juga diajak melakukan workshop bersama anak-anak. 

Workshop bersama Mba Vera (Psikolog dan para Mommy Bloggers).

Dengan dipandu oleh Mba Vera, kami jadi tahu bagaimana caranya mengajak bermain anak sesuai usianya  Misalnya saja bayi yang merangkak cocok memainkan Infant Puppy Crawl Along Ball. Saat anak belajar merangkak ia akan senang mengejar bola bergerak yang ada mainan anjing lucunya ini. Anjingnya bergoyang-goyang dan ada bunyi musik serta lagu-lagu.


Infant Puppy Crawl Along Ball.
Sumber: Fisher-Price.

Cathy Sharon dan Jacob, Brand Ambassador Fisher-Price.

Setelah workshop, para Mommy bloggers pun foto bersama bersama para pembicara.





Photo courtesy of Yeye.

Seusai acara kami mendapat goodie bag berisi boneka Tobi dan Storybook Rhymes. Ah, si Bebe langsung jingkrak-jingkrak deh. Malam itu tidur maunya sama Tobi dan Tobi diajakin bantu pencet-pencet storybook rhymes. Buku elektronik ini memang bisa menyanyikan nursery songs, menyebutkan warna serta angka-angka. 


"The environment must be rich in motives which lend interest to activity 
and invite  the child to conduct his own experiences."   
 - Maria Montessori.

Nah, ternyata bermainnya anak-anak itu ga sekedar main ya. Yuk ah mulai sekarang kita biasakan menstimulus anak-anak agar selain bermain mereka juga bisa bertambah pengetahuannya. Pilih mainan yang cocok dengan usia dan bakatnya agar beli mainan bermanfaat dan juga nggak mubazir dong *emak irit* ;).

Yang ingin tahu lebih banyak mengenai Play IQ dan mengecek perkembangananaknya, kalian bisa langsung cuss ke Website, Facebook, Instagram, dan Twitter-nya. Atau bisa juga dicari dengan tagar #PlayIQID. 

Sampai jumpa di posting berikutnya. Wassalaamualaikum :).

Thursday, 30 October 2014

Mie Aceh Buzz: Delightful Chit Chat Over Delicious Food

Assalaamualaikum,

Hari ini saya mau cerita tentang kopdar bersama beberapa teman blogger di Bekasi. Lumayan jauh ya dari Depok? Iya, soalnya Bekasi kan akhir-akhir ini terkenal di social media, jadi saya juga pengen buktiin dong. Hahahaha... 

Enggak gitu, ding. Emang meeting pointnya aja di Bekasi xD. Kami janjian makan siang bareng dan memilih makan di Mie Aceh Buzz yang terletak di Foodwalk Mega Mall Bekasi. Keluar tol Bekasi Barat, belok kanan, langsung deh ketemu mallnya. Gampang juga sih aksesnya, secara saya kan bukan orang Bekasi. Jadi ngerasa terbantu juga kalau tempatnya gampang dicapai.

Jam 12 saya, sepaket sama Hubby dan Bebe udah sampe di Mie Aceh Buzz. Tidak berapa lama kemudian Ayu (dan rombongan), Yeye (dan rombongan), dan Mba Yani (juga beserta rombongan), Mumut (rombongan juga) dan Mba Orin (beserta rombongan, of course) juga dateng. Iya, emang temanya hari ini kopdar rombongan bareng keluarga, kok. Hahahaha... Enggak berapa lama kemudian menyusul Dani, Desi, dan Pungki. Masing-masing barengan sama keluarga juga. Aiiiih seruuu... Baru kali ini rasanya kopdar akbar begini bareng sama keluarga. Jadi kayak family gathering :P.

Namanya pun blogger yah, jadi perbicangan langsung mengalir deh berhubung rata-rata kami sudah saling tahu walaupun belum pernah bertemu di dunia nyata. Ada yang udah follow-followan di instagram juga. Lagi seru-serunya ngobrol, datanglah makanan pertama yaitu Martabak Aceh. 

Tapi dasar blogger ya, kedatangan beberapa martabak Aceh ini yang ada disambut dulu oleh kamera-kamera dan gadget. Secara penampilannya kan bikin ngiler, lumayan dong buat update instagram. Biar eksis begitu, hahaha... Liat deh penampakannya berikut ini.

Martabak Aceh ini bisa dinikmati bareng acar dan juga bisa dicocol dengan kari.
Endess... yang ngetik pun ngiler pengen lagih.

Setelah Martabak sebagai makanan pembuka, datanglah jagoan utamanya yang best seller: Mia Aceh ala Mie Aceh Buzz.

Mie Aceh Buzz.

Mie Aceh Buzz ini emang beda sih kalo menurut saya. Rempahnya terasa khas Aceh tapi rasanya lebih mild, enggak terlalu kuat seperti Mie Aceh lainnya. Jadi rasanya cocok banget buat lidah USA (Urang Sunda Asli) macem saya. 

Beda sama saya, Hubby makannya Nasi Goreng Aceh,

Ngiler nggak sih? :P

Nggak cukup sampai di situ dong. Nongkrong di Mie Aceh Buzz enggak lengkap tanpa Roti cane gulung cokelat keju. Ini si Bebe suka banget deh. Hihihi...

Roti Cane Gulung Cokelat Keju.

Menariknya, Mie Aceh Buzz punya konsep open kitchen, jadi pengunjung bisa lihat bagaimana menu makanannya dibuat. Seperti Mbak yang lagi meracik Teh Tarik ini nih,


Kok bisa ya tehnya enggak tumpah?


Mari... teh tariknya...

Melengkapi keseruan makan dan kopdar siang itu, kami juga kenalan sama Pak Baskoro, pemilik gerai Mie Aceh Buzz ini. Lagi-lagi karena kebiasaan para blogger, kita jadi ngajak beliau ini ngobrol-ngobrol bareng juga. Di sini saya nulisnya Pak Baskoro yah, padahal orangnya masih lebih muda 2 tahun daripada saya. Masih muda tapi sudah punya 3 gerai Mie Aceh Buzz, lho. Padahal Mie Aceh Buzz dulu hanya berupa tempat makan biasa dan dibuat karena Pak Baskoro pengen ngasih kerjaan sama mantan karyawannya dulu. Hebat yah.

Mie Aceh Buzz sendiri diambil dari nama depannya sendiri, Baskoro. Menurutnya, Mie Aceh Buzz berbeda dengan produk mie aceh lain karena made by order. Artinya, semua makanan dibuat dari bahan-bahan yang fresh setiap hari tanpa bahan pengawet. 

Range harga makanan di sini menurut saya sih cukup masuk akal di kantong. Misalnya Martabak aceh biasa harganya Rp 18.500, Roti Cane Susu Cokelat Rp 18.000, Cane Gulung Susu Cokelat Keju Rp 25.000, Mie Aceh/Nasi Goreng Ayam Rp 26.500 sampai paling mahal Mie Aceh/Nasi Goreng Istimewa dengan toping paling lengkap  Rp 38.500. 

Mumpung ada orangnya, kita minta deh orangnya buat buat difoto :P.


Baskoro, pemilik Mie Aceh Buzz.

Yang namanya kopdar, ga lengkap ya kalo enggak foto-foto,

Look at our Happy-tummies faces :D.
Atas: Desi, Yeye, Ayu, Dani
Bawah: Pungky, Mumut, Mba Yani, sama Orin.


Foto ini diambil sama Hubby. Pengarah gayanya mas Ipong-nya Mumut yang juga motret.
Pak Baskoro-nya ikut difoto bareng kita juga dikerjain sama Mas Ipong. Hahaha...
Behind the scene by my Hubby. Mas Ipong semangat banget deh poto-poto dan ngatur gaya.
Seneng banget bisa ketemu kaliaan, Teman-Teman! ^^ Kapan-kapan kita nge-Mie Aceh lagi yuk? Mudah-mudahan Mie Aceh Buzz-nya segera buka gerai ya di Depok biar deket. Hehehe...

Wassalaamualaikum.


Mie Aceh Buzz
Website : http://mieacehbuzz.com
Gerai      :
- Foodwalk Mega Bekasi Hypermall Lt. 3
- Foodcourt Bekasi Square Lt. 2
- Cyberfood Bekasi Cyber Park Lt. 2

Wednesday, 29 October 2014

Understanding The Art of Confidence

Assalaamualaikum,

Hari ini judul postingannya kece banget yah? Hahahaha... xD. I think we've been told about confidence over and over again since we were young. Saya Inget banget dulu nggak ada tuh yang namanya frase "Pede" alias percaya diri. Frase pede baru saya kenal saat saya ABG banget sejak munculnya iklan deodoran stik yang juga memopulerkan kata "Burket". Hahahaha.. ini seingat saya lho.

Beranjak remaja, lalu dewasa, saya baru deh sering membaca tulisan atau coaching tentang kepercayaan diri. Masa SMA, kuliah, masa kerja, udah berapa kali kalian coaching tentang percaya diri? Udah ga keitung kali yah. 

Kenapa sih, Mi? Kok tiba-tiba ngomongin percaya diri? Begini. Minggu lalu saya mendapat undangan sebuah event yang diadakan Bio-Oil dan Cosmopolitan. Acara yang bertajuk "Skin Secrets for The Best Confidence" ini diadakan di Diponegoro Ballroom Mandarin-Oriental Hotel, Jl. MH. Thamrin, Jakarta.

Yang paling berkesan dari acara ini adalah bagaimana Kepercayaan Diri ini dikupas tuntas di antara sesama perempuan. Maklumlah, ballroom dipenuhi para undangan yang isinya perempuan semua, laki-lakinya bisa dihitung jari, itu juga tampaknya fotografer aja, hehehe.... Ini benar-benar event buat para perempuan, jadi rasanya nyaman sekali. Kalau ngomong ga pede karena bentuk badan atau bekas luka misalnya, kok kayaknya para perempuan yang lain tuh ngerti banget, sama-sama tau rasanya begitu, lebih terasa blak-blakan dibanding kalau audiensnya ada para cowok. Hehehe....

The Invitation

Di acara ini ada sesi coaching mengenai Kepercayaan Diri oleh Ayu Diah Pasha. Teman-teman sudah pada tahu dong ya sama beliau ini. Ayu Diah Pasha adalah seorang Artis, Speaker, dan Coach dari lembaga Dale Carnegie. 

Mba Ayu membuka sesi ini dengan pertanyaan yang sangat mendasar, namun membikin ruangan yang tadinya riuh menjadi hening: Apa itu Percaya Diri? *nah, lho :P* 

Ayu kemudian mengajak kita untuk melihat sebuah berita mengenai seseorang bernama Ryan Tumiwa. Apakah teman-teman tahu siapa Ryan tumiwa? Ryan adalah seorang lulusan S2 Universitas Indonesia. Ryan hanyalah orang biasa, namun yang membuatnya terkenal adalah saat ia mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi agar mengubah pasal 344 KUHP yang dianggapnya menghalangi tindakan euthanasia (tindakan medis untuk mematikan seseorang karena alasan tertentu). Dikatakan bahwa Ryan sempat bekerja namun kemudian menjadi jobless sejak 1998. Ia menderita depresi sejak orang tuanya meninggal, dan berniat melakukan euthanasia.

Apa yang membuat seseorang yang tampaknya very eligible, seorang lulusan S2 universitas ternama dengan IPK 3,3 bisa merasa tidak percaya diri? Padahal di luar sana banyak lulusan universitas biasa-biasa saja bisa mendapatkan pekerjaan.


"Orang yang punya potensi luar biasa, tapi karena belum atau tidak percaya diri, 
akan kalah dengan orang biasa yang punya kepercayaan diri yang tinggi."
- Ayu Dyah Pasha.


Sesi coaching seru tentang Confidence bersama Ayu Dyah Pasha.

Jadi apa itu percaya diri? 

Confidence is control. Kontrol terhadap kekuatan keyakinan pada apa yang kita miliki. Jika kamu ingin percaya diri, maka mulailah memegang kontrol terhadap dirimu. Lalu bagaimana jika kita sudah terlanjur percaya bahwa kita adalah orang yang tidak menarik atau tidak berkompetensi? 


Control Your Mind

Di dalam hidup ini, akan selalu ada bagian dari diri kita yang kita rasa kurang. Remember, confidence is control. So, control your mind. Jika kita sedang merasa tidak percaya diri, baliklah perasaan itu. Confidence is something you make up from the inside. Percaya diri itu kitalah yang menciptakannya sendiri. 

Ini catatan buat saya sih. Selama ini saya pikir confidence itu sesuatu yang muncul setelah kita punya karya atau setelah membuktikan bahwa kita mampu melakukan sesuatu. I mean, come on! In order to be confident, we should have something to be confident for in the first place, right? Well, that was my idea of confident before I hear this idea. 

Ayu Dyah Pasha mencontohkan salah satu kasus. Ada yang bilang bahwa ia merasa tidak percaya diri karena punya bekas luka di kaki. "Katanya punya bekas luka di kaki, jadi tidak bisa pakai celana pendek. Lalu kalau tidak bisa pakai celana pendek, memangnya kenapa?  Balik pikiran kita yang jelek itu. Kita masih bisa pakai celana bermuda, misalnya. Jangan sedih. Kita masih bisa kelihatan cantik kok walaupun enggak pakai celana pendek." 

Jadi jika kita punya sebuah rasa tidak percaya diri tentang diri kita, kita harus bisa membaliknya. #noted.



Control your attitude 

Ayu Dyah Pasha membacakan salah satu catatan dari sejumlah catatan yang ditulis peserta mengenai ketidak percayaan diri mereka. Ada yang menulis: tidak percaya diri karena belum kurus. 

Di sini Ayu kemudian menekankan bahwa Confidence is the way you control your attitude too. Lagi-lagi mengenai kontrol ya. Kali ini kepercayaan diri diartikan sebagai kontrol terhadap tingkah laku. 

Bertanyalah kepada diri sendiri, "Jangan-jangan kita tidak bisa turun berat badan karena kita hanya bisa mengeluh dan tidak memulai berusaha, tidak bisa mengontrol tingkah laku kita." 

Aduh, ini bahasannya kok nonjok banget yang lagi ngetik yah xD. Jadi kalau menginginkan turun berat badan harus bisa mengontrol diri sendiri. Harus maksa diri sendiri buat olahraga, maksa diri sendiri buat ngurangin makan. Hahaha... Olahraganya masih nol besar nih kayaknya :P. Ayu Dyah Pasha itu usianya sudah 50an, tapi dengan dorongan personal trainernya bisa sit up sampe ratusan kali. *uhuk, keselek*

Makanya, agar kita bisa lebih percaya diri, kita juga harus membuat diri kita dikelilingi orang-orang yang bisa membuat kita merasa lebih pede. Kadang soulmate itu tidak berupa pasangan hidup atau orang tua, tapi bisa siapa saja yang bisa membuat kita lebih percaya diri setiap harinya.

Dan jangan lupa, bahasa tubuhmu memperlihatkan pada orang lain apakah kamu percaya diri atau tidak. Bahasa tubuh yang menunduk, tidak berani melihat orang lain, mengambil posisi tersembunyi di dalam suatu ruangan, tidak berani mengungkapkan pendapat, adalah beberapa contoh sikap orang yang tidak percaya diri. 


Confidence Doesn't Mean You Always Have to Win The Game

Saya inget banget saat Ayu Dyah Pasha melemparan pertanyaan (atau pernyataan) seperti ini. "Saat saya bertanya, apakah ada yang ingin bertanya? Kebanyakan orang di sini terdiam. Apakah Anda berpikir di dalam pikiran Anda bahwa Anda takut pertanyaannya dianggap bodoh? Atau saat menjawab pertanyaan Anda takut jawaban Anda tidak bagus?"

Confidence doesn't mean you always have to win the game. Orang yang gagal itu adalah orang yang percaya diri karena dia berani mengambil keputusan walaupun itu salah. Ayu Dyah Pasha mencontohkan  Regina, pemenang Indonesian Idol yang mengikuti 7 kali audisi untuk mengikuti kontes bakat tersebut.

Coba bayangkan Regina mengantri untuk diaudisi sebanyak 7 kali dan gagal. Sementara kalau ngelihat di TV aja antriaannya panjang dan pasti harus seharian demi menyanyi yang cuma berapa menit di hadapan juri. Tapi dia percaya diri dan kemudian lolos sebagai pemenang.

Saya mencatat bahwa kepercayaan diri itu enggak langsung berbanding lurus dengan keberhasilan. Kerasa sih kadang enggak pedean terutama pada hal yang benar-benar dipengenin. Pas kesempatannya di hadapan mata banget malah gemeter. Hahahaha xD. Tapi percaya diri itu tidak berarti kita harus memenangkan permainan. Percaya diri adalah tentang bagaimana kita tetap percaya dengan kekuatan yang kita punya walaupun gagal, dan terus maju sampai berhasil.

Kepercayaan diri diperlukan karena bisa memberi kita kekuatan untuk berkarya, dan kemudian mendorong kita memiliki kekuatan untuk berprestasi. Karena itu kepercayaan diri juga berpengaruh pada kompetensi, ketangkasan dalam menghadapi masalah dan juga perilaku. 

Jadi gimana? Masih mau jadi orang yang enggak percaya diri? *ditoyor berjamaah*



Skin Secrets for The Best Confidence

Di sesi ini, ada talkshow yang menghadirkan Fira Basuki (Editor In Chief Cosmopolitan dan Penulis), Dr. Lilik Norawati (Dermatologist) dan Nurhayatini (Product Manager Bio-Oil).




Bio Oil digadang-gadang sebagai produk yang bisa menghilangkan bekas luka (scar) dan stretch mark. Fira Basuki berbagi cerita bahwa beberapa tahun yang lalu di New York, dirinya mengalami kecelakaan mobil yang parah. Wajahnya terkena pecahan kaca dan membuatnya mendapatkan 20 jahitan termasuk jahitan di hidung. 

Saat itu Fira mulai memakai produk Bio Oil yang didapatnya di New York. Setelah pemakaian sekitar 1 tahun, lukanya memudar dan setelah 5 tahun sudah hampir tidak kelihatan bekasnya.

Dr. Lilik Norawati menjelaskan mengenai perihal bekas luka dan stretch mark.

Selain bisa menghilangkan bekas luka, produk yang sudah hadir di 17 negara sejak 2002 ini juga bisa menghilangkan stretchmark. Hm, kayaknya jadi tertarik buat nyobain deh. Kebetulan di kaki ada bekas luka kena knalpot dari jaman kuliah dulu. Katanya produk ini bisa menghilangkan bekas luka walaupun lukanya sudah lama. 


Ini dia kemasan Bio-Oil.

Di sesi ini ada Mba Nurhayatini, Product Manager Bio-Oil yang mendemonstrasikan cara pemakaian produk. Caranya dengan meneteskan Bio-Oil pada punggung tangan secukupnya, lalu baru dioleskan pada kulit yang ada bekas luka dengan cara diputar-putar oleh 3 ujung jari hingga minyak terserap. Bio Oil bisa dipakai untuk menghilangkan luka bekas jerawat, menghilangkan stretch mark, dan mencegah timbulnya stretch mark pada ibu hamil jika dipakai selama kehamilan. 

Para peserta juga diajak mencoba dengan produk sampel. Bio Oil memang produknya agak seperti minyak namun lebih ringan di kulit. Yang penting sih produk ini tidak melakukan percobaan terhadap hewan dan sudah mendapatakan 191 penghargaan secara internasional. 

Demo cara pemakaian Bio-Oil.

Setelah acara, seperti biasa kami berfoto dulu.

Yeye, saya, Mba Yani, Ayu, dan Mumut.
Courtesy of Yeye.

Alhamdulillah, dapat ilmu baru lagi. Terima kasih ya Cosmopolitan dan Bio-Oil, eventnya keren. Besoknya masih sempat-sempatnya bahas catatan ini sama suami. Berusaha  terus mengingatkan diri kita bahwa kepercayaan diri itu adalah kontrol kita terhadap pikiran dan perilaku. Confidence is something we make up, even before we start.

Thanks for the photograph, Yeye

Thanks for reading this post, guys! ^^
Wassalaamualaikum.


Thursday, 23 October 2014

Colours of India at Signatures Restaurant, Hotel Indonesia Kempinski

Assalaamualaikum,

Pada tanggal 12 Oktober lalu, saya dan beberapa teman blogger mendapat kesempatan untuk merasakan dining experience "The Colours of India" di Signatures Restaurant Hotel Indonesia Kempinski. Di restoran yang terletak di Ground Floor ini, kita bisa menikmati makanan India dalam menu buffet dari tanggal 2 hingga 17 Oktober 2014. Untuk menyajikan rasa yang otentik, Kempinski Jakarta mendatangkan langsung Chef De Cuisine  dari Kempinski Ambience Hotel Delhi, India.

Pengalaman saya dengan makanan India baru sekali saja, beberapa tahun lalu di suatu resto di kompleks pertokoan Sarinah. Saya pun sudah lupa bagaimana rasanya. Seiring dengan populernya acara masak-memasak di televisi, makanan India pun menjadi cukup populer dan saya juga tertarik buat mencoba lagi.

Makanan India dikenal memiliki citarasa khas yang kaya dengan rempah-rempah, sayuran, dan juga beragam hidangan vegetarian. Hidangannya identik dengan nasi, roti-rotian, serta warna khas yang kemerahan atau kekuningan. Selain itu, menikmati makanan India terasa berbeda karena penyajian yang bermacam-macam dalam satu hidangan. Ditambah lagi jika dinikmati dengan menggunakan tangan, tanpa sendok dan garpu.

Tentunya saya senang sekali mendapat undangan ini. Apalagi "Colours of India" digelar untuk menyambut Festival Diwali yang jatuh pada tanggal 23 Oktober 2014. Saya pikir timing-nya pas sekali ya. Kita bisa merasakan suasana perayaan Festival Diwali sambil  mengenal budaya India melalui makanannya. 

Festival Diwali atau Deepavali  sendiri diartikan sebagai "Festival Cahaya" atau "The Festival of Lights". Deepavali berarti barisan cahaya yang menandakan kemenangan atas kegelapan. Dalam agama Hindu, festival ini melambangkan kemenangan yang baik atas yang buruk, dan lampu dinyalakan sebagai tanda perayaan dan harapan umat manusia. Diwali merayakan kembalinya Rama, Sang Raja Ayodhya, beserta istrinya, Sita, dan adiknya Laksmana dari sebuah perang di mana Rama membunuh Rahwana. Maka penyalaan lampu pada festival Diwali melambangkan jalan cahaya yang membimbing mereka dalam kegelapan (sumber: wikipedia).

Signature Restaurant, Hotel Indonesia Kempinski.
Dari depan, restonya sudah dihias dengan ornamen-ornamen India.

Sampai di pintu depan, saya sudah mendengar musik khas India diputar. Bendera India dipasang berdampingan dengan bendera Indonesia di dekat pintu masuk, mencerminkan persahabatan antara kedua negara. Rempah-rempah seperti garam masala dan bubuk kari pun ditata apik bersama patung-patung para dewa khas India.

Seekor gajah menyambut kami di meja depan.

Setelah diantar ke meja, kami pun mulai menikmati ambience restoran yang saat itu dipenuhi tamu. Sampai di Indian food section, saya bertemu dengan seorang Junior Sous Chef yang ramah, Hindro Irawan. Chef Hindro sedang membuat roti paratha dan saya langsung tertarik mencobanya untuk makanan pembuka. Roti paratha ini disajikan masih hangat dengan beberapa saus yang bisa dipilih sendiri. 

Sambil memilih makanan, kita bisa menyaksikan chef memanggang roti paratha.

Beberapa saus yang bisa dipilih untuk menemani makan roti paratha.
Ada Dhaal dengan lentil kuning, pickles (acar), sesame seeds (wijen) juga ada saus yoghurt.

Roti Paratha untuk makanan pembuka.

Roti paratha ini rasanya enak, terutama jika dimakan dengan dhaal. Saus wijennya lebih spicy dan saus yoghurt rasanya lebih segar. Rotinya sendiri empuk, ketebalannya pas dan tidak berminyak. Membangkitkan selera untuk berlanjut ke main dish-nya. 

Menu main dish-nya ditata baik dan menarik,

Deretan makanan yang disajikan dalam wadah-wadah gerabah dari tanah liat.
Ada juga alat musik sitar yang membuat susana India-nya tambah terasa.

Aneka ragam rempah khas India.



Narag Charu (Lemon Rice).

Di antara Indian buffet ini, kami bertemu dengan Ashwani Kumar Singh, Chef De Cuisine Dilli32 Restaurant, Kempinski Ambience Hotel Delhi. Chef yang sudah memiliki pengalaman selama 16 tahun inilah yang memasak makanan India yang disajikan selama Colours of India berlangsung.

Menurut Chef Ashwani, setiap daerah di India (barat, timur, utara dan selatan) memiliki ciri khas makanan masing-masing. Dan dari 17 hari berlangsungnya Colours of India, Signatures Restaurant menyajikan 17 tema yang berbeda setiap harinya. Wow! 

"Makanan yang disajikan hari ini temanya Western Coastal (daerah pantai bagian barat India)," katanya bercerita. Hm, pantas saja saya tidak menemukan ayam, ternyata hari itu temanya seafood. Hehehe... 

Sangat menyenangkan bisa bertemu dengan sang chef di sela-sela waktu kerjanya. Sebagai kenang-kenangan, kami pun berfoto bersama :).

Yeye, Ayu, Chef Ashwani, saya, dan Mumut.

Sambil memilih-milih hidangan, saya pun sempat berkeliling menikmati suasana restaurant siang itu.

Suasana restoran yang dipenuhi tamu.
Di sisi kanan kita bisa melihat foto Soekarno dan J.F. Kennedy, ciri khas dari Signatures Restaurant.

Di sudut belakang, kita bisa meminta dipakaikan henna lho. 
Anak ini meminta digambar di bagian lengannya :).

Suasana makan di bagian outdoor. Sekat-sekat logamnya cantik sekali.


Menikmati tarian India sambil makan siang.

Inilah menu utama saya siang itu, 


Narag Charu (Lemon Rice), Meen Porichathu (Marinated fillet of Fish, shallow fried), Aloo Bonda (Batter fried potato dumplings) dan Aloo Podimas (Stir fried potato with cashew nuts).

Me, enjoying my lunch. Can you see that happy-tummy face? :D
Lemon rice rasanya sedikit asam, namun tampaknya memang cocok dipadukan dengan makanan laut agar rasanya segar. I looove the marinated fish! Dagingnya lembut dan baunya enak. Padahal saya enggak suka makan ikan, lho. Potato dumplingsnya mirip perkedel namun lebih spicy. Dan udangnya pun enaaak... sayang udangnya lupa saya foto. Hehehehe...

Selain menikmati masakan India, tentu kita juga bisa menikmati menu lainnya. Saya memilih beberapa makanan penutup,

Tiramisu, Chocolate Mousse, Mango Pudding, dan Matcha.

Our last welfie @ Signatures Restaurant.
Photo courtesy of Yeye.

Thank you, Signatures Restaurant for having us! :) Senang sekali bisa menikmati makan siang dengan nuansa India. I really love the idea that we can enjoy our food while learning about cultures too! 

Namaste! :)


Signatures Restaurant
Hotel Indonesia Kempinski
Jl. MH. Thamrin 1, Jakarta.
+62 21 2358 3839

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...