Wednesday, 15 October 2014

Parenthood Style di Era Digital : The Dos and Don'ts

Assalaamualaikum,

Hari ini saya mau share cerita dari acara Talkshow "Parenthood Style di Era Digital" bersama Majalah Ayahbunda dan biskuit bayi Monde Boromon. Event yang digelar di Playparq, Kemang ini sudah beberapa waktu lalu, tapi temanya masih sangat relevan untuk diperbincangkan.

Jika ditarik ke 10 sampai 25 tahun terakhir, dunia anak-anak saat ini memang beda banget dengan dunia kita jaman dulu. Sekarang semua serba digital, bahkan bergaul pun lewat sosial media. Tapi bagaimana pun internet memiliki banyak manfaat juga selain mudharatnya. Layaknya kehidupan di dunia nyata, ada aturan-aturan yang harus kita terapkan agar tidak tersesat di dunia maya *tsaah bahasanya :p*. 

Mungkin dunia kita, para ibu muda sekarang ini, adalah termasuk generasi pertama yang berkenalan dengan internet dan sosial media. Jadi wajar sekali ya kalau kita masih harus banyak belajar mengenai cara menerapkan aturan berinternet pada anak-anak. Jujur aja deh, berapa banyak sih dari kita yang mulai mengenalkan Barney atau lagu-lagu anak muslim dengan video donlotan? hehehe... *nunjuk diri sendiri*.

Despite the badness about internet, of course there are goodness of it. Tapi gimana sih caranya mengukur apakah yang kita sudah terapkan di rumah sudah benar? Lalu apakah kita malah kebablasan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ada di benak saya saat mendapat undangan ke event ini.

Pagi itu pukul 9 kurang kami sudah sampai di venue. Wah bocil seneng banget... Dari cuma lihat-lihat sampai siangnya sudah bau acem karena main-main. Walhasil baju ganti yang dipersiapkan untuk sore malah akhirnya dipakai untuk siangnya. Hehehe...


Area basah di Playparq Kemang.

Area perosotan yang menantang buat anak-anak.

Sementara bocil-bocil bermain di playground diawasin Papa-Papanya, Mama-Mamanya ngikutin acara talkshow. Tentu saja anak-anak kadang mendatangi Mamanya karena bosan, minta makanan, atau sekedar merengek minta perhatian. Hahaha...

Akhirnya talkshow pun dimulai. Ada Mba Tenik Hartono (Editor In Chief Majalah Ayahbunda), Mba Anna Ariani (Psikolog), dan Mba Meni Phing (Brand Manager PT Monde Mahkota Biscuit).

Kiri ke kanan:
Tenik Hartono, Meni Phing, dan Anna Ariani.

Ada satu istilah yang diperkenalkan oleh Mba Anna Ariani atau biasa dipanggil Mba Nina, yaitu Digital Natives. Digital Natives adalah orang yang sejak kecil mengenal dan memanfaatkan kecepatan kerja gadget dan internet. Orang-orang ini mempelajari gadget dengan cepat dan seperti memiliki pemahaman instinktif terhadap internet. 

Digital natives memiliki dampak negatif. Mereka jadi kurang sabaran, maunya serba cepat, agak malas bergerak, kurang mampu menunda keinginan, dan yang paling parah mereka jadi kurang sensitif terhadap orang lain. Jika anak kita sudah termasuk digital natives, ada resiko anak menjadi malas bergerak, obesitas, koordinasi motorik kurang bagus, kecerdasan kurang optimal, emosi kurang berkembang, dan kesulitan untuk bersosialisasi. Wah, serem juga ya?

Masalahnya hari gini gitu, lho. Anak-anak sudah mengenal gadget dari orang tuanya. Bahkan seringkali orang tua juga aktif bermain gadget karena berjualan online, misalnya. Bagaimana caranya supaya anak terhindar dari dampak negatif internet? 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, biasakan anak berusia di bawah 2 tahun tidak dibiarkan memainkan perangkat berlayar. Dampingi jika anak bermain di dunia digital. Kedua, batasi penggunaan internet. Misalnya satu hari cukup setengah jam saja. Jika kita misalnya punya gadget yang lama yang tidak terlalu canggih, berikan saja gadget tersebut, jangan memberikannya perangkat terbaru.

Ketiga, ajari anak internet safety. Misalnya, kita sebagai orang tua mendampingi. Tapi kadang kelepasan juga misalnya anak bermain game atau nonton Youtube. Beritahukan pada anak apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilihat. Jika ada iklan pop-up saat bermain game, ajarkan dia untuk menutupnya dan bahwa apa yang tergambar di situ adalah hal buruk. Beritahu dia apa yang boleh diklik dan apa yang tidak boleh diklik. Ajarkan pula agar anak tidak sembarang menuliskan data pribadi di internet dan berkenalan dengan sembarang orang. Beritahu password kepada orang tua.

Ada beberapa cara agar anak tidak sering bermain di dunia digital. Hal paling mudah adalah dengan melakukan kegiatan bersama di dunia nyata. Misalnya melakukan aktivitas bersama membuat kue di dapur. Saya suka ide ini. I think most kids love to get messy in the kitchen! Hahahaha... 

Hari itu para Mama mendapat resep praktis membuat cupcake dengan menggunakan biskuit bayi Monde Boromon. Kita semua tahu ya, biskuit bayi itu bagus untuk melatih motorik halus anak. Motorik halus adalah kemampuan berkoordinasi yang melibatkan otot kecil, koordinasi mata, tangan, dan kemampuan kognitif yang berkaitan dengan kreatifitas dan kecerdasan otak. 

Ukuran Monde Boromon ini kecil seperti biji tasbih dan langsung lumat ketika masuk ke mulut. Dikemas dalam 6 sachet terpisah dalam kemasan kecil, jadi cocok buat bayi di bawah 2 tahun. Oiya, biskuit ini juga gluten free alias bebas gluten.


Demo masak bersama Chef dari Dapur Uji Ayahbunda.

Monde Boromon Cupcake

Selain memasak bersama, tentu banyak aktivitas yanng bisa dilakukan agar anak lebih banyak terlibat di dunia nyata. Ajak si kecil berkenalan dengan orang lain yang kita percaya, atau bersama teman-teman sebayanya. Ini akan menambah kemampuannya bersosialisasi. Berjalan-jalan di sekeliling komplek juga bisa memperkenalkannya pada bahaya. Misalnya saat mendengar suara kendaraan yang mendekat, maka ia harus minggir agar tidak tertabrak kendaraan.

Dan satu hal yang paling saya ingat sih tipsnya: Make them busy! Buat anak-anak kita supaya sibuk. Biarkan dia melakukan kegiatan sehari-hari sendiri. Biarkan dia belajar makan sendiri (tentu sambil didampingi). Ajarkan dia mandi sendiri, melepas dan memakai pakaian sendiri, menggunakan sabun dan lain-lain. Biasakan anak ikut terlibat dalam aktivitas di rumah seperti jika ada yang tumpah ikut membersihkan, atau membereskan mainannya sendiri. 

Wah banyak banget ya ilmu parenting yang saya dapetin. Selama ini saya baru membatasi internet dengan menggunakan fasilitas "hide" pada android. Saya juga biasanya mendonlot materi video terlebih dahulu, berusaha menghindarkan anak dari nonton Youtube. Pernah juga sih nonton bareng bersamanya film anak-anak di aplikasi nonton.com. Tapi apa yang dia tonton pokoknya saya harus liat dulu dan saya mengakali penggunaan youtube yang saya pikir terlalu lama (misalnya di atas 20 menit) dengan mencabut kabel wifi di rumah. Hahahaha *oops xD.

Saya juga berusaha membikin anak sibuk dengan segala mainan kreatif macam play doh atau kitchen set masak-masakan. Ide-ide kreatifnya bisa kita donlot dari youtube, lho. Saya juga membiarkannya memecahkan telur saat memasak. Ia senang menuang terigu, menuang susu dan mengocok pancake memakai whisker. 

Anak saya pun sekarang sudah pintar membuang sampah sendiri. Setelah makan, alat makan ditaruh di sink sendiri. Saat mau makan Mama ambilkan nasi dan lauk, tapi alat makan diambilnya sendiri dari tempatnya. Pokoknya membiarkan dia sibuk deh. Tujuannya sih bukan hanya membikin sibuk, tapi mengajarkan anak supaya mandiri. Hehehe... 

Selesai acara, kami foto bareng dulu.

Setelah mendengar tips parenting dari acara ini jadi makin semangat deh. Yuk, mulai perkenalkan aturan bermain dunia maya pada anak kita! ^^

Wassalaamualaikum.


16 comments:

  1. Buat sibuk #noted

    makasii sharingnya makk... aku jdi pengen nyobain monde itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Chaa... ayo bikin anak kita sibuk yak. Wkwkwkwk

      Delete
  2. Hm, serem juga digital natives ini, ya. Anak-anakku senang banget kalau diajak masak bareng di dapur, terutama Shafiyya. Kalau masakan dah jadi, dengan bangganya dia ngomong ke Aba-nya, "Ini aku yang bikin. Pake wortel, brokoli, jagung, dan adonan gitu, deh." Wkwkwkw. Makasih infonya, Mia. Bermanfaat dan 'ngejewer' aku spy lebih aware. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah masaknya udah ahli ya mak Haya udah pakai sayuran. Keren, Shafiyya! ^^
      Wkwkkwk... aku pun brasa ditonjok juga xD

      Delete
  3. iya sik, jangankan orang tua, yang belom jadi ortu aja kudu prepare banget untuk urusan ini, nantinya. Jadi inget suka ngemut-ngemut monde yang warna ijo dan oranye bungkusnya *salahfokus*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangeeet Ratri!^^
      Lah samaa.. aku juga suka makan yg boro-boro warna ijo yang diikat kawat emas itu :D

      Delete
  4. ini nih salah satu idealisme punya anak yang entah bakal bubar jalan atau nggak. pengennya nggak ngasih gadget ke anak biar anteng, jadi sampai sekarang dikasihnya mainan-mainan yang merangsang motorik *alah*.. tapi gimana dong, emaknya aja suka main henpon sambil jagain anak. hahahah *gagal*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... nah justru itu Mba. Sama kitaa xD... makanya gadget kubatasi dengan video donlotan aja sama games Marbel (Mari Belajar).

      Delete
    2. sama mak... jav jg saya batesin berhadapan dgn gadget itu utk main marbel sm nonton video syamil & dodo :)

      Delete
  5. seru banget ya mbak,,nih mbak mia aktif bget ikutan acara ini itu,,,

    ReplyDelete
  6. Aku ga punya gajet. Ada jg android murah yg eror mulu, hehe.
    Untunglah ma boyz jg udh sibuk sendiri. Tuh lagi pada sepedahan (emaknya jd bisa me time) :D
    Aih kuehnya menggiurkan...

    ReplyDelete
  7. acara yg seperti ini nih, dpt ilmunya langsung nempel :)

    ReplyDelete
  8. wah,dapet ilmu baru nih...digital natives,thanks mak sharingnya ^^

    ReplyDelete
  9. seru bgt acaranya ya ...aku awalnya membiarkan dengan memberi kepercayaan, tadi sejak mulai keliatan tanda 2 dampak negatif digital natives..jadi sudah mulai membatasi nih...dan kalau udah gadget atau TV,anak2ku nampaknya masih blum bs dikasi kepercayaan deh..he he he

    ReplyDelete
  10. Berhubung aku belum punya anak (hihihi) aku keep dulu tipsnya. Paling sering sih aku tuh lappy dibajak ponakan yang pengen liat upin ipin, marsha, sponge bob atau aneka gambar barby dan mainan. Jebol dah kuotaku :D Tapi sejak dia masuk TK udah jarang banget bajak lappy. Lebih sibuk sama PR atau nsama tetangga

    ReplyDelete
  11. Waaaaa banyak banget yang bisa dirampok dr postingan ini...
    Aku selama ini nyibukin anak cuma sama mainan dan tanah. Karena anakku suka banget berkebun. Ngorek-ngorek tanah hihihihihi
    makasih yaaa ini beneran bermanfaat banget ilmunyaaaa

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...