Wednesday, 10 June 2015

Kuliner di Tasik: Dari Bakso sampai Surabi Oncom

Pagi itu waktu sudah menunjukkan pukul 04.40. Adzan Shubuh baru saja berkumandang saat kami selesai memasukkan koper beserta sedikit makanan dan minuman ke dalam mobil. Saya, Hubby dan si Bebe bersiap mudik ke kampung halaman saya, Tasikmalaya.

Tulisan ini adalah cerita kami mudik setiap bulan sekali ke Tasikmalaya. Sebelum mudik, sehari sebelumnya, saya biasanya nyetir dari rumah, jemput Hubby di kantor. Lalu gantian Hubby yang nyetir dari Jakarta menuju Bandung. Biasanya sekitar pukul 19.30 kami sudah sampai di Bandung kalau jalanannya cukup lancar. Lalu kami mampir di rumah Orang Tua Hubby dulu di Bandung sekalian makan malam. 

Setelah istirahat sebentar dan lepas rindu sama orang tua, sekitar pukul 21.00 kami menuju rumah kami di Cimahi untuk tidur dan istirahat. Baru esok paginya kami siap-siap pergi ke Tasik. 

Biasanya kami pergi tidak lama setelah Shubuh. Saya suka wangi udara pagi hari. Segar. Sepanjang jalan pun masih bisa buka kaca jendela dan merasakan hawa yang dingin. Maklumlah kalau di Jakarta kan mandi subuh aja kayaknya enggak ada dingin-dinginnya. Hahahaha :P.

Berangkat pagi juga salah satu antisipasi kemacetan di daerah Rancaekek yang terdapat pabrik-pabrik tekstil dan biasanya ada pasar tumpah. Kalau pergi terlalu siang, daerah ini macet luar biasa. 

Sekitar pukul enam biasanya kami sudah sampai di turunan Nagrek. Dan kami akan memilih jalur lewat Garut, bukan lewat Ciawi. Kalau masih pagi begini, banyak pemandangan cantik yang bisa dilihat.

Selamat Pagi! :)

Jalanan pun masih lengang. 

Mataharinya baru saja muncul.

Sejak tinggal di Jakarta, saya jadi kangen banget ngeliat pemandangan sawah yang cantik begini. Maklumlah di belakang rumah di Tasik terbentang sawah yang luas sekali sampai ujung bukit. Di Jakarta pemandangan begini jarang banget bisa saya nikmati.







Sekitar pukul 8 atau 9 pagi, biasanya kami sudah sampai di Tasik. Dan yang paling saya suka tentu saja nongkrong di atas kolam belakang rumah sambil ngobrol. Hahahaha :D. 

So happy to be home :).
Di atas kolam, kami punya sebentuk platform yang cukup luas terbuat dari bambu. Orang Sunda menyebutnya bagbagan. Bagbagan ini yang biasanya kami duduki di atas kolam. Kalau masih pagi, biasanya bagbagannya basah.


Kerap kali orang bertanya pada saya, "Mi, kalau di Tasik makanan khasnya apa?" Lalu saya biasanya otomatis menjawab, "Baso Tasik!" Hahaha :D.

Sebagai orang yang dibesarkan di Tasik, saya bisa bilang Mie Baso Tasik itu paling enak yang pernah saya cobain. Selama 5 tahun tinggal di Bandung, dan 7 tahun tinggal di Jakarta, kayaknya saya belum pernah menemukan rasa mie bakso seenak di Tasik. Ada sih satu yang enak yang saya cobain di Bandung di salah satu kafe. Tapi nama menunya Bakmi Tasik xD. Bahkan Hubby yang asli orang Bandung aja mengakui lho kalo baso tasik itu memang enak dan berbeda.

Saya bersyukur saya besar di era 90-an. Meskipun Tasik saat itu sudah termasuk kota administratif yang dikenal, namun kami tidak mengenal yang namanya mall. Pertokoan yang cukup besar letaknya di Jl. K.H. Zainal Mustofa, termasuk salah satu ritel terbesar di Jawa Barat. Tapi yang namanya mall itu tidak ada. Mungkin karena itu pula kami lebih menikmati makanan di luar pertokoan besar. 

Kami menikmati makan bakso di toko-toko kecil penjual bakso, antri berdiri untuk mendapatkan semangkuk bubur ayam enak, antri untuk membeli martabak favorit, dan menghapal tempat atau jam mangkal tukang jajanan. 

Iya, saya sama adik sampai hapal jam berapa tukang cilok Popeye lewat. Kadang sampai ditungguin di depan rumah. Kami juga suka nungguin Baso Aci Mang Iding lewat. Namun sayangnya Mang Iding sudah tutup usia sekarang. Jadi kami enggak bisa nikmatin basonya lagi.

Selain enak, harga makanan-makanan ini ramah banget di kantong. Sisi positifnya lagi,  distribusi uang pun langsung masuk ke pengusaha-pengusaha makanan lokal. Kita bisa ikut serta memajukan industri makanan di tingkat daerah. Oke kan?

Seperti biasa, kalau mudik saya punya segambreng wishlist untuk wisata kuliner. 


Mie Baso Golosor Haji Oding



Mie Baso ini letaknya di Pasar Pancasila. Basonya termasuk unik karena mie-nya dicampur dengan mie golosor. Mie golosor itu mie yang dijadikan bahan pembuatan kerupuk kuning, jadi rasanya seperti kerupuk basah :D. Baksonya bisa pilih yang kecil atau besar. Tapi saya lebih suka bakso yang berukuran kecil.

Semangkuk bakso campur harganya hanya Rp 12.000 saja. Bisa ditambah babat atau ceker ayam dan paling nambah sekitar Rp 2.000 sampai 5.000. 

Mie Baso Haji Oding ini yang paling enak bakso dan kuahnya. Untuk penggemar bakso yang tidak terlalu suka bau gajih dari daging sapi, ini pilihannya tepat. Kuahnya ringan dan lebih segar karena ditambahkan potongan ketimun. 

Yang paling istimewa kalau makan bakso Tasik adalah saos bawang yang jarang sekali ditemukan di kota lain. Aromanya khas dan rasanya pedas. Jadi kalau makan bakso tasik, jangan lupa saosnya juga dicoba yah.

Oiya, yang paling istimewa kalau makan bakso Tasik, kita duduk langsung disediakan minum teh panas. Gratis! Di mana pun sama gratis. Makan bakso di Tasik itu enggak lengkap lho tanpa teh panas. Kita bisa makan bakso sampai kepedesan banget, tapi pas minum teh panas, rasa pedas di mulut itu lebih cepat menghilang ketimbang minum air es. Cobain deh! :D


Mie Baso Mas Jaro




Mie Baso Mas Jaro ini sudah lama banget ada di Tasik. Walaupun Tasik terletak di Pasundan, ada beberapa tempat makan bakso yang menggunakan kata "Mas" karena memang penjualnya orang Jawa. Baksonya juga enak lho. Salah satu yang saya suka adalah Baso Mas Jaro ini. Letaknya di arah Pasar Pancasila juga. Harganya pun sama, Rp 12.000 saja semangkuk.

Kalau kita makan bakso di Tasik, kita bisa pilih dua cara makan. Pakai kuah atau yamin. Yamin adalah cara makan bakso yang bumbunya langsung diracik dan dicampur dengan mie. Kadang kuahnya dipisah di mangkuk lain, tapi kadang tidak pakai kuah sama sekali. Jadi mau makan di tempat jual bakso manapun di Tasik, kedua menu ini selalu tersedia. 

Khusus untuk bakso Mas Jaro ini saya lebih suka mie yamin. Mie-nya enak. Kalau makan di sini, si Bebe biasanya makan mie-nya aja sama kecap karena rasanya memang enak. :D . Untuk basonya saya lebih suka baso yang kecil karena isinya banyak. 

Ada satu hal lagi yang istimewa dari Baso Tasik. Dimana pun kita beli baso, kita bisa pilih mau satu porsi atau setengah porsi saja. Jadi kalau kita enggak begitu lapar, atau ajak anak-anak kita bisa pilih untuk memesan setengah porsi saja. 

Selain dua tempat ini, masih ada bakso Sari Rasa di Jl. Empang, Bakso Sari Raos di Jl. Siliwangi, Bakso Mang Komar di dekat Kantor Pos, dan ada beberapa bakso lain yang letaknya agak masuk ke dalam daerah pemukiman jadi sulit dijelaskan xD. 

Pokoknya, kalo Teman-Teman lagi lewat kota ini, cobalah mampir di tempat baksonya yang recommended. Baksonya enak-enak! Hehehe.


Surabi Oncom

Kalau makanan ini sih enggak perlu jauh-jauh nyarinya. Di depan rumah di Tasik tetangga kami jualan surabi oncom setiap pagi. Surabi adalah makanan tradisional yang adonannya dibuat dari campuran tepung beras dan kelapa. Campurannya kemudian dibakar di atas pinggan kecil khusus dari tanah liat dan dibakar di atas bara api.

Jadi kalau subuh biasanya Papap (Ayah saya) solat di mesjid dekat rumah. Pulangnya sambil lewat suka beliin Surabi oncom ini. Surabinya masih hangat dibungkus kertas koran.

Selain rasanya memang enak, saya seneng dibeliin makanan sama Papap. Jadi inget masa kecil :').

Mangga surabinya... :D.

Cilok

Cilok adalah makanan tradisional sunda. Cilok adalah kependekan dari aci dicolok. Makanan ini memang terbuat dari adonan aci (tepung sagu) dan sedikit terigu. Di tengahnya biasanya diisi daging sapi atau abon. 

Cilok bisa dinikmati dengan saus kacang atau saus sambal. Kalau saya sih senengnya saus sambal plus kecap. Pedas dan enak. Cilok ini paling enak saya temukan di Tasik dan di Bandung. Cilok biasanya dijual abang-abang dengan gerobak dorong. 


Jajanan masa kecil :p.

Di mana mencari cilok yang enak? Jawabannya, di depan sekolah. Hahahaha. Hampir di setiap sekolah selalu ada penjual cilok. Selain itu, cilok juga biasanya ada di keramaian di depan pertokoan Jl. K.H. Zainal Mustofa.


Pepes Nasi Ayam Bikinan Mamah

Pepes nasi bikinan Mamah.

Terakhir dan paling saya kangenin adalah pepes nasi bikinan Mamah di rumah. Sehari sebelum kami pulang ke Jakarta, Mamah biasanya bikin kami Pepes Nasi Ayam buat bekal di jalan dan untuk buah tangan buat orangtua Hubby di Bandung.

Pepes nasi ini rasanya kayak cinta. Hahahaha :D. Iya, karena dibekalin makanan sama orang tua itu rasanya ga bisa diceritain. Rasa spesial yang dibikin khusus sama orang tua buat kita anaknya. Memang enggak ada yang bisa ngalahin makanan yang dibikin sama ibu sendiri, bukan? And that is what I called, The Taste of Home :).

Wassalaamualaikum.

22 comments:

  1. mie bakso haji oding enak banget mba

    ReplyDelete
  2. Duh ngiler sangat! Aku mauuuuuuu dong kuliner di Tasik, yuks ajak akuh #lho?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo mampir atuh Ye. Kita makan baso tasik sampe kekenyangan xD. Mie kocoknya juga enak lho

      Delete
  3. tetep yaaa... kemana2 yg dicari basoo.. aku doooong.. iyaaa :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahaha.. baso tasik emang bedaa soalnya mba. Tak bisa lupa aku sama rasanya xD

      Delete
  4. Bagus pemandangannya :) Di Jakarta udah susah nemu suasana yang rindang kayak gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Liaa.. pas mudik yg dicari gacuma makanan ya tapi suasananya ituu beda sama Jakarta

      Delete
  5. Suka banget sama foto-foto panoramanya Mbak Mia... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasii Sofii :). Iya sayang pas ngambil selalu lupa bawa kamera, jd cm difoto pake handphone

      Delete
  6. Mbaaaa.... itu coba baksonya dibungkusin buat ke Depok. Babat dan kikilnya bikin mewek sama ukuran pinggang yaaa :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuh pinginnya sih gitu Meez... yg bisa dibungkus cuma baso ciloknya H. Oding aja nih. Coba nanti ekke tanya yah

      Delete
  7. aku pingin ciloknya Mia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. samaa Mba Lidya. Yuk bikin aja yuk :D

      Delete
  8. Penasaran rasa dan resepnya pepes nasi ayamnya mbaaa pasti nagih yaaa,
    Amin amin semoga segera terwujud ya wishlistnya :)

    ReplyDelete
  9. Ewwww...itu babatnya bikin ngeriiiyy Mia, tengkukku lgs pegel rasanya cenat cenut hehehe...
    Aku sekarang jg jadi penggemar bakso setelah berkeluarga. Lha suamiku penggemar berat bakso, ngajak kulineran kemana2 yg dicari pasti bakso mulu ;)

    ReplyDelete
  10. Ah baca post ini disaat macett..aku mau baksoooo :")

    ReplyDelete
  11. aku ngilllerrrr, mau semuanya :D

    ReplyDelete
  12. Aduuuhh miaaaa.. Kabitaaaa.. Eta baso, cilok, surabi, gustiiii.... Laper..

    Aku belum pernah ih ke tasik, padahal mah deket yah dari bandung/sumedang... Pengen iih kapan2 kesana...

    ReplyDelete
  13. Suka banget nyicip2 kuliner dan Tasik ada menjadi salah satu wish list, amin2

    Mobilnya bikin mupeng :D

    ReplyDelete
  14. Itu baksonya bikin ngiler mak :D OMG, malah ditambahin babat :D

    ReplyDelete
  15. Unik namanya, Cilok Popeye. Kira2, apanya yg mirip sama popay, ya. :D

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...