Wednesday, 18 November 2015

Cerita Bapak Tua dan Internet

Assalaamualaikum,

Hari ini saya tiba-tiba teringat peristiwa beberapa bulan lalu saat saya bersama beberapa teman berburu barang pecah belah di sebuah toko di Depok. Kami sudah mendapatkan apa yang kami mau dan baru saja keluar toko untuk menuju parkiran saat seorang Bapak tua penjual pisang menarik perhatian saya. Usianya mungkin sudah di atas 60. 

Bapak tua ini bersemangat sekali. Ia menggelar dagangannya di depan sebuah toko mainan. Ada berbagai jenis pisang dan beberapa buah hasil kebun yang lain. Pembawaannya ramah dan bicaranya cepat. Ada rasa kagum melihatnya. Di usianya yang sudah tua beliau masih semangat mencari rezeki. Namun ada sedikit rasa iba. Mungkin Bapak tua ini masih punya tanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga, pikir saya. 

Sebenarnya saya enggak terlalu berniat membeli pisang. Hanya saja tiba-tiba teringat anjuran seorang teman. Katanya, "Kalau beli barang atau makanan itu lebih baik di pedagang atau di pasar. Kalau kita beli langsung pada mereka, walaupun dengan perbedaan harga Rp1.000 atau Rp 2.000 lebih mahal, tapi uangnya langsung terserap. Selain membantu membuat dagangannya laku, kita juga telah membantu pemerataan ekonomi sampai ke bawah."

Akhirnya saya ajak teman-teman mampir di situ. Bapak tua itu bilang harganya enggak bisa ditawar. Memang saat itu sedang musim kering dan lagi jarang sekali hujan. Lalu kami pun masing-masing sudah membawa satu sisir pisang. 

"Kadang gue suka kasian kalau lihat orang yang sudah tua tapi masih harus mencari nafkah." Ujar saya. Lalu teman saya menjawab, "Gue juga begitu. Terus kadang gue juga berpikir, pas muda Bapaknya ini kerja apa ya? Kok sampai setua ini masih jualan aja."

Saya terhenyak sedikit. Kita memang tidak pernah bisa menyalahkan kemiskinan, bukan? Lalu saya pun berkata, "Entah juga. Tapi kalau kita tinggal di ibukota dan mengandalkan berjualan pisang dengan cara seperti itu-itu saja, kita bakalan sulit maju, Mba."

Dari pembicaraan itu tiba-tiba saya jadi tersadarkan. Di jaman yang serba modern, perkembangan teknologi, dan arus informasi yang semakin cepat, sebagian masyarakat kita masih hidup dan mencari nafkah dengan cara itu-itu saja. Padahal mereka bersaing dengan merk-merk besar nasional dan internasional. Kita pun tahu dengan banyaknya gerai-gerai makanan merk internasional, jaringan supermarket-supermarket besar, cara manusia menikmati hidup pun sudah jauh berbeda. Lifestyle, katanya.

Sementara di sisi lain banyak masyarakat kecil yang harus bekerja hari demi hari, tanpa sistem yang jelas. Kalau tidak laku ya tidak ada uang. Kalau tidak kerja ya tidak ada uang. Kalau sakit, ya tidak ada uang. Saya jadi kepikiran, kalau ini terus terjadi dalam dunia yang semakin berkembang cepat, bagaimana nasib mereka nanti? 

Enggak bisa dipungkiri, arus informasi yang cepat lewat adanya internet sekarang sudah mengakibatkan perbedaan dalam perputaran barang dan jasa. Jika kita sekarang lagi nyari barang, dari buah-buahan langka sampai pakaian semuanya ada di internet. Mudah sekali mengetik berbagai barang yang kita inginkan di Google atau instagram. 



Menurut data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) bekerjasama dengan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) FISIP Universitas Indonesia, disebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia kini mencapai angka 88,1 juta. (Sumber-liputan6.com)


Jumlah yang tidak sedikit ini adalah pasar yang sangat besar untuk para produsen barang dan jasa. Internet telah memungkinkan banyak orang membuka toko di mana saja dan mengirim barangnya ke mana saja. 

Adalah pekerjaan rumah besar untuk memperkenalkan pasar yang besar ini kepada orang-orang seperti Bapak tua tersebut agar hidupnya bisa jadi lebih baik. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau provider, tapi kita juga bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya internet juga. 

Mungkin kita punya teman-teman yang menggunakan media sosial dan Google, namun hanya menggunakannya sebatas itu saja. Bagaimana jika kita menginspirasi orang lain untuk menggunakan internet untuk mendapatkan kebaikan dari situ. Kita bisa sharing informasi mengenai parenting, mengenai cara menyimpan ASI, mengenai survey sekolah,  saling merekomendasikan make-up, sampai sharing olshop yang terpercaya. Lebih jauh lagi, kita bisa merekomendasikan diri kita atau jasa kita di internet. Dari jasa titip beli barang sampai ojek online. Dan dengan internet, mungkin Bapak tua tidak perlu duduk di emper toko seharian untuk berdagang, bukan? Bapak tua mungkin bisa mulai menerima order lewat whatsapp atau BBM.

Coba kita simak video pendapat pedagang makanan berdurasi 58 detik ini mengenai internet,



Video di atas adalah salah satu video kampanye #IndonesiaDigitalNation . #IndonesiaDigitalNation adalah sebuah kampanye untuk mewadahi aspirasi masyarakat mengenai sejauh mana keterlibatan internet dan dunia digital dalam meningkatkan kualitas hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dunia digital memberikan banyak harapan. Yuk berpartisipasi dalam kampanye #IndonesiaDigitalNation ini untuk menginspirasi sekitar kita agar mendapatkan banyak kebaikan dari internet. Caranya gampang banget,
1. Buat video 15 detik mengenai aspirasi dan harapan yang bisa dicapai dengan koneksi internet yang bisa diandalkan.
2. Unggah di twitter atau instagram dengan hashtag #IndonesiaDigitalNation.
3. Konten tidak boleh berbau SARA, pornografi, atau menyinggung pihak dan dan golongan tertentu.

Wassalaamualaikum.

9 comments:

  1. saya juga kadang kalo beli sesuatu bukan karena butuh atau pengen, tapi karena kasihan. Ya... semoga membantu pedagang yg saya beli itu, walaupun mungkin bantuan yg cuma sedikit

    ReplyDelete
  2. hikss, aku paling ga tega Mia kalo liat pedagang apalagi bapak2 tua.
    Meski ga butuh dan mau, rasa iba lebih besar hasrat untuk membelinya.
    Mudah2 an selalu dapet rezekinyaa yaa :D

    ReplyDelete
  3. emang kadang suka kasihan jug angeliat orang udah berusia tapi masih tetep harus kerja demi mencari nafkah. di kot abesar kejadian macam itu nggak jarang dijumpai. tapi, ya begitulah. tak banyak yang bisa kita lakukan..

    ReplyDelete
  4. Sama Mbak, saya suka kasihan kalau lihat pedagang, seringnya emang pedagang pisang. Biasanya udah tua harus pikul yang berat-berat. Suka sedih lihatnya.

    ReplyDelete
  5. iya kadang kasihan melihat mereka yg sudah tua masih bekerja seharusnya mereka menikmati hidup

    ReplyDelete
  6. mak Miaa...bagus banget ini tulisannya...
    aku pun suka kasian ama pedagang kayak si bapak yang diceritakan itu. Ga apa lebih mahal, dan ga bisa nawar, aku lebih suka beli barang dari yang jual langsung kayak si bapak itu, apalagi kalo udah renta.. :,(

    ReplyDelete
  7. yah era semakiin cepat akan datang mbak hehe.,.... keren dah promo ini... kayaknya bakal makin kenceng mbak promo digital nation itu mbak

    ReplyDelete
  8. ojeg sekarang jadi 'naik kelas' karena teknologi, so pasti banyak banget manfaat kalau promosi lewat internet. aku mendukung digital nation.. ;)

    ReplyDelete
  9. Kalau punya anak, mungkin anak bisa bantu promosi dagangan ortu via WA tau BBM, ya. :)

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...