Wednesday, 22 November 2017

#MinumMilo : Bonding Time bersama Si Kakak Pertama



Assalaamualaikum,

Weekend lalu, kami akhirnya bisa jalan-jalan dan makan di luar bareng berempat. Maklum setelah melahirkan, sebulan terakhir ini saya lebih banyak di rumah untuk memulihkan diri, dan mengurus adek Alia yang masih newborn. Apalagi saya masih enggak bisa kemana-mana dan menjaga diri karena melahirkan dengan bedah caesar. Jadilah saya agak sedikit 'mengabaikan' kakak Aira. Di bulan pertama ini, saya enggak mengantar jemputnya ke sekolah, dan hampir setiap saat saya dalam keadaan menggendong adek Alia. Jadi saya senang sekali bisa jalan-jalan sekalian belanja groceries bersama. 

Kalau lagi belanja grocery gini, saya enggak melewatkan beli Milo buat di rumah. Milo ini biasanya selalu ada persediaan di kotak di dapur. Soalnya bisa bikin minuman enak dalam sekejap. Kalau mau tambah fancy dan seru, tinggal tambah ekstra krim, ekstra susu, atau ekstra saus cokelat. Enak πŸ˜‹. Jadi saya langsung kepikir pingin bikin MILO dingin berdua sama Aira di rumah. 




Sampe rumah, kebetulan si adek bobo. Jadi saya manfaatin waktu buat bikin iced Milo sama si kakak dan ngobrol bonding berdua. Dan saya tahu saya juga harus meluangkan waktu berdua saja dengannya every once in a while. Sebenarnya saya juga kangen ngobrol berdua gini sama Aira tanpa dialihkan perhatian sama adik bayi. 

Saya sama Aira sama-sama suka Milo dingin pakai es. Paling enak sih kalau seduh Milo-nya ekstra banyak, lalu dikocok pakai shaker. Sore itu gerah banget dan kami cape abis jalan-jalan. Jadi rasanya nyess.. seger. 

Kakak Aira lagi nunjukin giginya yang mulai goyang lagi.
Nah, kebetulan di supermarket kemarin saya lihat ada undian Consumer Promo Road to Barcelona 2017 dari Milo. Hadiahnya bikin ngiler karena kita #BisaKeBarcelona . Ada 3 (tiga) paket Family Trip ke Barcelona, 50 Koin emas @10 gram, Ratusan Voucher Belanja, dan Ribuan Merchandise Official Barcelona .

Caranya mudah. Kirimkan struk belanja asli produk MILO (Bubuk dan/atau cair) senilai Rp100.000 (tidak berlaku kelipatan) atau 30 sachet MILO Active-Go 18g dan atau MILO 3in1 35g beserta data diri ke PO BOX MILO JKT 10000 atau bisa masukkan langsung ke dropbox yang tersedia (info selengkapnya di Facebook MILO Indonesia). 

Saya juga langsung beli stok MILO lagi nih, buat dikirimkan. Saya satukan pembeliannya dalam satu struk. Oiya, pajak hadiah ditanggung pemenang ya.



Nah, tunggu apalagi? Yuk #MinumMilo dan kirim kemasan MILO sebanyak-banyaknya biar bisa terbang ke Barcelona! 


Wassalaamualaikum.

Friday, 29 September 2017

Cek Fetomaternal: Melahirkan Normal atau Caesar?

Assalaamualaikum,

Kali ini saya pengen share mengenai pengalaman cek fetomaternal pada kehamilan, manfaatnya, di mana, apa saja yang kita dapatkan,  dan lain-lain.

Seperti yang pernah saya ceritakan di post sebelumnya, saat memasuki trimester dua, dr. Nining, obgyn saya di RS Hermina Depok menemukan kondisi Placenta Previa di rahim saya. Kondisi dimana mulut rahim tertutup oleh placenta.

Karena saya bukan orang medis, saya akan menjelaskan dari sisi saya aja sebagai pasien ya.

Image: courtesy of babycenter.com


Menurut dokter, sebenarnya pada kasus saya letak placentanya tidak benar-benar menutupi jalan lahir, jadi hanya tertutup sedikit saja, atau Marginal Placenta Previa (lihat pada gambar). Tapi tetap saja bisa menimbulkan resiko pendarahan saat melahirkan.

Saat itu usia kehamilan saya masih sekitar 20 minggu. Menurut dr. Nining, placenta itu sifatnya tidak akan bergeser karena memang menempel di dinding rahim. Tidak ada yang bisa dilakukan agar bergeser. Hanya saja, seiring membesarnya janin, maka rahim juga akan mengembang, jadi selalu ada kemungkinan placenta tertarik ke samping seiring mengembangnya rahim. Menurutnya, jika sudah tidak menutup jalan lahir, ada harapan untuk melahirkan secara normal.

Memasuki usia kehamilan 28 minggu, dokter menemukan bahwa placenta letaknya sudah agak naik dan tidak menutupi lagi. Bahkan menurut dr. Nining sudah bukan Placenta previa lagi, tapi sudah jadi placenta letak rendah. Jadi saya dan suami masih berharap sekali saya bisa melahirkan secara normal. Apalagi Hubby cerita, ada salah satu temannya cerita, istrinya placenta previa namun pada saat terakhir ternyata placentanya sudah naik dan bisa melahirkan secara normal.

Di usia 28 minggu itu saya dan suami juga berkonsultasi apakah kami bisa USG 4D. Dokter mengusulkan untuk fetomaternal saja. Menurutnya, cek fetomaternal lebih komprehensif daripada 4 dimensi. Kita bisa mengetahui aliran darah janin, fungsi jantung dari janin, dan lain-lain.

Karena saya juga jadi galau karena ada kemungkinan harus Caesar, jadi kami pikir ga ada salahnya untuk cek fetomaternal supaya bisa memberikan insight tambahan untuk mengambil keputusan. Karena kelahiran sebelumnya saya melahirkan secara normal, just to picture myself melalui operasi itu sesuatu yang belum bisa saya bayangkan. Secara mental pun saya belum siap. Apalagi selalu ada komentar atau pertanyaan yang malah bikin saya tambah pusing. Mengenai kenapa harus caesar? Kenapa tidak melahirkan secara normal saja? Dan lain-lain. Padahal kalo bisa milih mah ya pastinya saya pengen lahiran normal dong yah.

Ada yang nyuruh posisi nungging atau senam hamil biar placentanya pindah dan lain-lain, padahal ini kan placenta, bukan bayi sungsang. Ini pertama kalinya saya ngerasain perasaan orang yang melahirkan secara caesar. Buat yang baca tulisan ini, please, menghadapi kenyataan harus caesar saja sudah berat, jadi janganlah ditambah-tambah dengan bertanya terlalu jauh mengenai keputusan yang pastinya sudah dipikirkan matang-matang. Apalagi nge-judge begini begitu. Karena percayalah, pertanyaan yang terlalu jauh itu bikin gusar dan sangat menganggu.

Okay, kembali ke topik. Jadi atas pertimbangan posisi placenta yang sudah agak naik ini, saya masih berharap bisa melahirkan secara normal. Tapi tentu saja saya enggak mau kemudian jadi gambling. We need to know the exact chances that we have. Jika harus mengambil resiko dengan melahirkan normal, sejauh apa resiko yang kami hadapi? Jika pun pada akhirnya harus caesar, maka saya harus mendapatkan fakta kuat sehingga saya bisa deal with it dan bisa menerima kenyataan itu tanpa dibuntuti trauma pasca melahirkan.

Karena itulah, akhirnya kami mendaftar cek fetomaternal di dr. Novie Resistantie yang kebetulan praktek juga di RS Hermina Depok. Kami booking untuk minggu depannya. FYI, dr. Novi praktek di Hermina Depok pada hari Senin, Rabu, dan Jumat dari jam 16.00 sampai jam 22.00. Dan antrian berdasarkan jadwal kedatangan pada saat hari H.

Setelah googling sana-sini, kami jadi tahu bahwa fetomaternal adalah pengecekan kondisi janin yang komprehensif. Bedanya dengan USG 3D atau 4D biasa, ternyata fetomaternal harus dilakukan oleh dokter khusus fetomaternal, bukan obgyn yang biasa. Pengecekannya mencakup aliran darah, fungsi ginjal, jumlah ketuban, dan lain-lain. Karena mengecek banyak aspek, maka cek fetomaternal ini biasanya diidentikkan juga dengan pengecekan pada kehamilan yang beresiko.

Sebenarnya fetomaternal bisa dilakukan kapan saja. Hanya saja, jika ingin mendapatkan imaji wajah si adek bayi, sebaiknya dilakukan di usia 28-32 minggu kehamilan. Pertimbangannya di usia tersebut bayi sudah cukup besar namun masih aktif bergerak di dalam rahim ibu. Jadi besar kemungkinan kita bisa melihat wajah si kecil. Walopun ada juga yang ngalamin pas cek feto ternyata posisi adek bayinya lagi nggak menghadap depan.

Tapi ya balik lagi ke tujuan awalnya dari fetomaternal, yaitu mengecek si adek bayi secara komprehensif dan memastikan keadaannya di dalam rahim. Jadi bisa melihat wajahnya secara 3D atau 4D itu ya hanya bonus saja.

Minggu depannya saya mendaftar booking untuk hari Rabu. Tapi ternyata sebelum hari H saya ditelepon RS Hermina katanya dr. Novi kebetulan hari Rabu berhalangan. CS nya menawarkan apakah mau di reschedule lagi. Akhirnya saya setuju di hari Rabu minggu depannya. Saya pikir toh kan usia kehamilan saya masih 29 minggu saat itu. Jadi minggu depannya usia kehamilan saya masih 30 minggu.

Hari Rabu minggu depannya saya ternyata mendapat antrian no. 18. Saya pikir okelah ya, biasa kalo ke obgyn mah ngantri. Etapi ternyata saya baru tahu kalau fetomaternal itu karena pemeriksaannnya komprehensif, satu orang pasien bisa memakan waktu 30-45 menit xD. Waktu itu saya menunggu dari setelah maghrib, dan pukul 21.30 yang dipanggil baru nomor 12. Hubby yang memang baru pulang kerja dan lagi ga enak badan sudah kecapean. Dan bocil juga besoknya harus sekolah. Jadi saya putuskan reschedule saja lagi. Saya minta hari Jumat, tapi ternyata Jumat sudah penuh schedulenya, jadi saya minta Rabu depannya lagi saja.

Minggu depannya, Rabu saya pergi ke RS, dan di meja pendaftaran saya diberitahu bahwa jadwalnya terpaksa harus reschedule lagi karena dr. Novi tidak bisa hadir lagi. Kata petugasnya sebenarnya mereka sudah menelpon saya dua kali tapi tidak diangkat. Memang sih siang itu ada telepon masuk tapi saya sedang mengerjakan hal lain jadi enggak kedengaran nada panggilnya. Akhirnya saya reschedule lagi untuk minggu depannya.

Karena saat itu usia kehamilan saya sudah 31 mingguakhirnya saya dan Hubby cari info apakah bisa melakukan fetomaternal di rumah sakit yang lain. Saya khawatir nanti bayinya akan terlalu besar dan gerakannya tidak sebebas saat sebelum usia 32 minggu. Ternyata dr. Novi juga praktek di RS Bunda Margonda. Dan saya baru tahu ternyata dr fetomaternal itu jumlahnya tidak banyak, maka wajar saja kalau jadinya mengantri sekali. Kebetulan di RS Bunda Margonda ada jadwal hari Sabtu pagi, jadinya kami lebih santai.

Akhirnya setelah 3 kali reschedule kami berhasil juga cek fetomaternal. Ngantrinya cukup lama, tapi enaknya kalo di RS Bunda diurutnya berdasarkan nomor antrian dan ruang tunggunya tidak se-hectic di Hermina.

Kesan pertama sama dr. Novi, orangnya lembut banget, bahasanya halus dan pemeriksaan serta cara memberikan informasinya detail banget. Dari aliran darah, volume otak, fungsi jantung semuanya dicek. Alhamdulillah semuanya sehat dan normal.

Mengenai Placenta Previa, betul kata dr. Nining, placentanya sudah tidak menutupi jalan lahir, namun jaraknya masih sekitar 2 cm dari mulut rahim. Jadi memang masuk kategori placenta letak rendah.

Namun ada temuan lain yang ditemukan oleh dr. Novi, yaitu indikasi adanya Vasa Previa. Kami dijelaskan dengan ditunjukkan di usg lewat color doppler. Ternyata terdapat pembuluh-pembuluh darah besar di daerah mulut rahim, di bawah janin. Namun mengenai kondisi ini dr. Novi tidak memberikan pendapatnya lebih jauh. Menurutnya, dr. Nining lebih tahu mengenai riwayat kehamilan saya, jadi alangkah lebih baik jika dibicarakan lebih lanjut dengan dr. Nining.

Setelah Fetomaternal, laporan seperti inilah yang saya dapatkan,



Terdapat sekitar 30 lebih hasil usg 2D yang mencakup pengukuran-pengukuran fisik serta keadaan bayi. Ada juga foto 3D wajah adek bayi beserta print out laporannya. Kesemuanya ini juga disimpan di dalam satu CD.

Laporan USG Fetomaternal

Mengenai biaya untuk fetomaternal, dari awal di RS Hermina depok, kami diberitahu bahwa pemeriksaan fetomaternal ini kira-kira biayanya sekitar Rp 1.200.000 , sudah termasuk jasa dokter. Di RS Bunda Margonda ternyata biayanya tidak terlalu jauh dari perkiraan tersebut. Tindakan USG 4D (Rp 500.000), Alat Ultrasonograph (Rp 537.000), lainnya ada komponen biaya umum rumah sakit, film usg warna, dan lain-lain, jumlahnya jadi Rp 1.139.400. Ini biaya tanpa obat yang diresepkan.

Oiya, lebih lanjut mengenai Vasa Previa ini sepertinya akan saya bahas di post yang lain. Karena ternyata banyak hal yang kami temukan selanjutnya. Pada hari itu at least saya dan Hubby merasa tenang adek bayi baik-baik saja. Dan kami pun merasa cukup lega mengetahui kondisi Vasa Previa ini dari awal. Karena katanya memang kasusnya jarang terjadi dan sulit diketahui dengan USG biasa. Kami masih galau apakah masih ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal. Hari itu kami menghabiskan waktu mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Vasa Previa. Insya Allah bersambung di post berikutnya.

Wassalaamualaikum.

Monday, 25 September 2017

Mempersiapkan Masa Menyusui: Review Produk Mooimom Indonesia (Maternity Belt, Maternity & Nursing Bra, Nursing Top, & Corset)


Assalaamualaikum,

Berbicara tentang produk-produk kehamilan dan menyusui, sebenarnya dulu di awal kehamilan saya termasuk orang yang skeptis. Ya walopun saya memang orang yang biasanya skeptis terhadap banyak hal juga sih. Hahahaha. 

Saya dulu enggak terlalu mempermasalahkan kenyamanan selama kehamilan. Mengenai pemilihan maternity bra, baju tidur, maternity undies, apalagi korset-korsetan xD. Saya orangnya enggak suka ribet dan lebih suka apa yang bisa saya pakai, ya saya pakai saja. Kalo misalnya ga muat, ya ga muat saja. Habis perkara. 

Semuanya berubah saat kehamilan pertama saya masuk usia 6 bulan. Saya mulai lelah memakai sepatu wedges, dan kemudian beralih ke sepatu gladiator yang empuk. Saat badan tambah besar, rupanya beban di kaki juga tambah berat. Mulai saat itu saya mulai menghargai sepatu bagus. Lepas dari kehamilan, saya masih keranjingan sepatu yang nyaman sampe sekarang. Karena percuma kalo beli yang ga nyaman biasanya saya ga suka makenya. Wkwkwkwk. Selain perubahan pada sepatu, saya juga mulai merasakan engap/sesaknya pake bra berkawat. Apalagi dipakai selama bekerja seharian. Rasanya menyiksa sekali. Saat itu pertama kalinya saya beli bra yang seamless. Dan habis itu langsung ketagihan. Bra seamless-nya masih selalu saya pakai sampai masa menyusui.

Dulu kehamilan pertama juga ga keranjingan pengen beli undies khusus ibu hamil. Karena emang undies buat ibu hamil itu kalo mau yang nyaman kan rada mahal, yes? Tapi di bulan ke enam itu juga saya beralih ke undies khusus ibu hamil yang juga seamless.

Oiya, saya juga dulu ga suka banget pake daster buat di rumah. Saya prefer celana pendek dan kaos. Tapi ternyata yaa pas hamil itu emang paling enak pake daster. Selain lebih adem, pake daster itu praktis banget karena pasti muat di bagian perut. Hahahaha.

Yes. Berdasarkan segala ke-skeptisan saya dulu, akhirnya di kehamilan ke dua ini saya udah ga se-sceptical dulu. Saya bener-bener menghargai produk-produk maternity dan nursing yang memang dirancang khusus buat kenyamanan ibu hamil.

Jadi dari trimester dua, saya mulai beli setengah lusin daster, 3 jegging ukuran 6L yang saya modifikasi sendiri supaya pas di perut dan di kaki, dress-dress dan abaya, dan 10 undies khusus ibu hamil.

Kesimpulannya, ternyata kenyamanan buat si ibu sendiri saat hamil dan menyusui itu ga kalah penting. Karena proses ini adalah proses yang panjang dan kadang melelahkan. Jadi penting banget si ibu merasa nyaman dalam melalui prosesnya.

Sekarang, menghadapi kelahiran si adek, selain saya menyiapkan keperluan dedek bayi, saya juga menyiapkan beberapa nursing stuffs yang sepertinya akan saya butuhkan sendiri nanti. Karena sudah pernah pengalaman, bedanya kehamilan sekarang dan sebelumnya, kali ini saya juga mikirin kebutuhan diri saya sendiri juga selain kebutuhan si adek.

Seperti pakaian yang saya pikir akan nyaman saat saya memulihkan diri pasca melahirkan, bra yang nyaman untuk menyusui, baju menyusui, hingga pompa ASI. Tapi dari semuanya itu, kali ini saya pengen bahas beberapa produk maternity & nursing yang saya siapkan. Kebetulan beberapa produk ini saya dapat dari Mooimom Indonesia.

Saya mengenal Mooimom pertama kali dari instagram, dan produk pertama yang bikin saya kepengen beli adalah bra seamless-nya. Karena melihatnya saja mengingatkan saya sama bra seamless yang saya pakai waktu hamil pertama dulu (sekitar 5-6 tahun lalu). Saya ingat banget gimana nyamannya pakai bra seamless. Kebetulan saat mulai membeli perlengkapan bayi di salah satu baby shop di Bogor, saya menemukan produk Mooimom.

Di sana saya bisa langsung melihat produknya sendiri dan melihat kualitasnya serta melihat ukurannya tanpa menerka-nerka. Saya juga membeli korsetnya yang menurut review di internet bagus buat yang baru saja melahirkan namun nyaman.


Seamless Maternity/Nursing Bra

Bukan rahasia lagi kalau saat hamil PD membesar karena tubuh menyiapkan diri untuk memberikan ASI. Seiring dengan bertambah besarnya ukuran perut, ukuran bayi, maka seringkali proses ini diiringi dengan rasa engap di dada, dan kadang-kadang juga back pain.

Pertama kali saya lihat seamless bra dari Mooimom ini saya langsung suka. Bahannya stretchy tapi lembut dan menyerap keringat.



Nah, yang berbeda dari bra seamless saya jaman hamil dulu adalah, bra yang ini adalah nursing bra juga, jadi terdapat kaitan untuk akses menyusui. Kaitnya terbuat dari bahan yang bagus dan mudah dilepas dan dikait.



Bra ini juga dilengkapi pad di dalamnya yang bisa dengan mudah dilepas-pasang. Tergantung kita nyamannya bagaimana. 



Karet di bagian bawahnya ini nyaman banget dan menyerap keringat.



Breathable Corset 25 cm

Selain seamless bra, ini juga produk lain yang saya beli. Saya membaca beberapa review kalau breathable corset ini bagus namun nyaman. Bukan apa-apa, jaman lahiran anak pertama dulu, korset-korset yang saya punya terasa kurang nyaman. Korset yang pakai tali banyak alias gurita itu memang mantap banget, tapi enggak enak dipake aktivitas. Selain itu, kurang praktis dengan aktivitas setelah melahirkan yang bejibun. Dari terjaga karena tangisan bayi, bulak-balik ganti popok kain, sampai rasanya susah banget menemukan waktu mengurus diri sendiri. 

Korset lainnya yang saya punya adalah model korset yang pakai velcro. Korsetnya lumayan enak tapi cepet banget longgar kalau lagi aktivitas xD. Nah, yang ini saya belum cobain. Ya iyalah, orang lahirannya aja belum kan. Wkwkwkwk... saya cuma siapin ini sebagai salah satu perlengkapan yang saya masukin ke koper untuk persiapan melahirkan. Tapi kalau lihat bahan dan kualitasnya sih kayaknya bagus.






Maternity Support Belt

Maternity belt ini adalah salah satu perlengkapan maternity yang saya rasakan kegunaannya, terutama di trimester tiga kehamilan. 


Seiring bertambah besarnya perut, kadang suka kerasa sakit pinggang. Berjalan pun udah susah mempertahankan postur yang benar. Pokonya jalan ajalah gitu.

Paling terasa sih kalo pas lagi duduk di mobil. Entah saat menyetir atau saat jadi penumpang doang. Perut kadang rasanya terguncang-guncang. Makanya sejak usia 30 minggu kehamilan saya malah balik lagi pakai celana. Karena saya merasa celana bisa memberikan support lebih di bagian perut daripada baju dress. Padahal sebelumnya saya keranjingan banget pake dress dan abaya.

Saat memakai maternity belt ini, awalnya saya pikir saya akan merasakan support lebih banyak di bagian perut. Tapi saat dipakai, ternyata the best part-nya bukan di situ. Tapi di bagian pinggang belakang. Kalau kata urang sunda mah paling enak dipake kalo pas nyeri cangkΓ©ng. 

Jadi si maternity belt ini kan pakai velcro di bagian depan perut, nah terus ada velcro lagi di bagian pinggang kiri dan kanan. Nah si velcro di pinggang ini yang bikin perut jadi terasa tersangga dengan baik. Terus pinggang bagian belakang ketarik ke depan juga jadi rasanya enak.




Bagian velcro-nya lembut banget kayak gini. Kualitas bahannya juga bagus.

Karena pakai velcro, kita jadi bisa lebih mudah melepas dan menyesuaikan kembali maternity beltnya. Karena biasanya posisi duduk dan posisi berdiri/berjalan, biasanya ukurannya berbeda. Kita biasanya butuh rasa "ditopang" yang lebih tinggi saat berjalan. Sementara saat duduk, kita biasanya membutuhkan rasa yang lebih "longgar".

Kadang belt-nya saya pakai di luar seperti ini,



Tapi kadang saya pakai dibawah baju seperti ini.


Lalu apa worthed membeli maternity belt ini padahal kepakenya cuma selama hamil? 

Eits. No worries, setelah melahirkan, maternity belt ini bisa dipakai sebagai korset. Jadi cucok banget kan? Menopang selama kehamilan, dan bisa bantu kita get back in shape setelah melahirkan. 


Super Soft Crossover Maternity & Nursing Bra

Produk lain yang saya coba adalah Super soft Crossover Maternity & Nursing Bra. Seperti Seamless Nursing Bra, bra ini juga tanpa kawat. Bahannya sama-sama stretchy, dan sama-sama nyaman. Tapi yang ini bahannya lebih seperti kaus.



Bra ini juga memiliki kaitan di bagian atas yang bisa dengan mudah dilepas-pasang untuk akses menyusui. 



Ini bagian bawah bra-nya. Bahannya nyaman banget dan enggak panas.




Seamless Maternity & Nursing Top

Produk ini adalah produk yang saya paling excited buat cobain. Karena saya tahu seamless bra-nya enakeun, jadi saya penasaran apakah seamless nursing top ini sebagus bra-nya.

Gambar dari www.mooimom.id

Saat saya menyusui bocil pertama kali dulu, which is 6,5 tahun lalu, baju breast feeding friendly enggak sebanyak sekarang. Nursing apron juga belum menjadi sesuatu yang populer. Orang-orang tua biasanya ngasi tau supaya pakai baju bukaan depan supaya memudahkan saat menyusui. Realitanya, baju bukaan depan itu sama sekali ga nyaman karena kita kan ga bisa bebas buka baju setiap bocah nangis karena bakal kebuka kemana-mana. What worked for me, saat itu adalah, wearing tank top over my bra. Lalu pakai baju yang loose. Jadi saat menyusui, saya tinggal angkat baju loose dari bawah, tanpa takut keliatan perut atau pinggang karena di bawahnya saya pakai baju lagi. Di bagian atas juga jadinya enggak terbuka kemana-mana. Pokoknya paling aman lah.

Nah, saat tahu bahwa nursing top ini menggabungkan fungsi nursing bra dan tanktop, tentu saja saya seneng banget. Karena semuanya jadi lebih mudah. Bahan dan kualitasnya pun sama banget dengan seamless nursing bra-nya.




Seamless top ini juga memiliki kaitan untuk akses menyusui, serta pad yang bisa dilepas pasang.



Ini adalah bagian belakangnya. Walaupun seperti tank top, tapi enggak usah khawatir karena fungsi bra-nya bisa menyangga dengan baik. Bahannya bisa menyesuaikan dengan tubuh kita. Tapi masih sangat nyaman dipakai. Nursing top ini bahkan bisa saya pakai dengan nyaman sekarang, walaupun saya sedang hamil 37 minggu. 



Buat yang penasaran dengan rangkaian produk kehamilan dan menyusui dari mooimom, bisa langsung cek ke websitenya MOOIMOM INDONESIA di www.mooimom.id  atau bisa juga like Facebook Fanpage-nya di https://www.facebook.com/mooimomid/



Setelah mencoba produk-produknya mooimom ini, saya juga jadi penasaran sama produknya yang lain. Baru-baru ini saya memesan Manual Breast Pump-nya dan baru saja sampai hari ini. Tapi berhubung saya belum melahirkan, saya reviewnya nanti ya kalau sudah saya coba setelah mulai menyusui. Hehehehe.

Wassalaamualaikum.

Friday, 15 September 2017

Cerita Trimester Tiga: Pilih-Pilih Rumah Sakit (Biaya Melahirkan di Hermina Depok & Bunda Margonda)

Assalaamualaikum,

Bulan ini usia kehamilan saya sudah memasuki 36 minggu. Tidak terasa ya, kata beberapa orang. Tapi buat saya mah kerasa banget xD. Hahahaha.

Ada rasa lega ketika menginjak masa-masa akhir kehamilan. Rasa syukur ketika akhirnya trimester pertama dan kedua sudah terlewati. Kehamilan kedua ini memang istimewa. Sempet ngalamin yang namanya bedrest, bolak-balik cek ke dokter, dan rasa lelahnya luar biasa. Padahal jaman hamil pertama dulu mah saya masih pake sepatu tinggi sampai usia 6 bulan kehamilan. Sampai usia 9 bulan masih kuat jalan-jalan naik motor.

Sekarang? Boro-boro xD. Jalan setengah jam aja udah engap. Apalagi masuk trimester 3 ini. Perut rasanya sering menekan dan engap. Walaupun ternyata memang ini salah satunya disebabkan oleh placenta previa dan beberapa kondisi medis yang baru ketahuan setelah saya cek fetomaternal (mengenai cek fetomaternal ini insya Allah akan saya bahas di post yang lain).

Satu lagi yang saya alami di trimester ini, seperti kehamilan sebelumnya, rasa gerah yang luar biasa. Hahahaha. Ini mah kayaknya semua ibu hamil besar ngalamin ya. Apalagi akhir-akhir ini cuaca panas banget. Tiap siang biasanya mampir indomaret cuma buat beli minuman dingin. Favorit saya susu Frisian Flag yang Coconut Delight. Kadang malamnya masih seduh Milo pake shaker dan es.

Selain mengalami kondisi badan yang berubah, tentunya beberapa hal lain yang dipikirkan. Menyiapkan perlengkapan bayi dari mulai baju sampai bak mandi dll, menyiapkan nama, dan enggak ketinggalan, menyiapkan biayanya.

Menyambut kelahiran bayi kedua ini sejujurnya lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding kehamilan pertama dulu. Di kehamilan pertama, we didn't really know what to expect. Banyak hal yang kayaknya kami nggak tahu. Semua bermodalkan searching di internet dan kata orang tua dan kata dokter. Kalau sekarang, kami sudah mulai punya "sense" untuk memutuskan sendiri berdasarkan pengalaman. Sudah mulai bisa memilih berdasarkan rasa tenang dan nyaman di hati.

Tapi tentu saja enggak membuat semuanya serta-merta jadi lebih mudah. Termasuk dalam memilih rumah sakit dimana saya akan bersalin nantinya. Sementara ini baru 2 rumah sakit di Depok yang kami pertimbangkan, yaitu RS Hermina Depok dan RS Bunda Margonda.

Hermina karena lokasinya sangat dekat dari rumah, jadi cukup convinient karena walaupun sering ngantri lama, tapi saya bisa bolak-balik ke rumah daripada nunggu di ruang tunggu. Sementara RS Bunda Margonda, karena bentuknya RS Ibu & Anak, jadinya tidak terlalu hectic seperti di Hermina. Menunggu terasa lebih tenang.

Sampai saat ini kami belum memutuskan saya mau melahirkan di RS mana. Baru survey perkiraan biaya persalinan dan cari tahu pengalaman teman-teman saya atau istri temannya Hubby yang pernah melahirkan di rumah sakit-rumah sakit tersebut.

Untuk biaya persalinan tahun 2017 di RS Hermina dan RS Bunda Margonda, perkiraannya seperti di bawah ini ya.

Perkiraan biaya melahirkan 2017 di RS Hermina Depok (Normal & Caesar).

Perkiraan biaya melahirkan normal di RS Bunda Margonda.

Perkiraan biaya melahirkan secara Sectio Caesaria di RS Bunda Margonda.

Overall sih sepertinya perkiraan biayanya mirip-mirip dari segi harga. Untuk operasi SC, RS Bunda Margonda tampak lebih rendah harganya, namun ternyata itu untuk perawatan selama 4 hari, sementara di Hermina untuk perawatan selama 5 hari. Jadi jatuhnya sih biayanya kayaknya sama saja.

Oiya, harga di atas belum termasuk jasa visit dokter, pemeriksaan penunjang, obat yang dipakai di ruang perawatan, dll. Menurut petugas dari rumah sakit-rumah sakit tsb, biasanya jumlah biaya keseluruhan bertambah sekitar 20% hingga 30% dari biaya perkiraan.

Kalau melihat harganya yang mirip-mirip, jadinya tinggal dipikirkan dari faktor kenyamanan saya dan suami saja mau melahirkan di mana. Dari sisi kenyamanan dengan dokter, jarak, lokasi, dll. Pfiuh... masih galau mau di mana. Bismillaahirrohmaanirrohiim.. semoga mendapatkan pilihan yang terbaik nanti. Aamiin... 

Wassalaamualaikum.

Wednesday, 13 September 2017

Catatan Ramadhan Bocil: Puasa Full Satu Bulan

A post shared by Mia Fauzia (@miafauziablog) on


Assalaamualaikum

Ramadhan lalu adalah salah satu milestone yang ingin saya tuliskan di blog. Pertama kalinya bocil puasa full satu bulan. Rasanya sulit buat diungkapkan. Ada bangga, bahagia, dan sedikit tidak percaya. 

Hari pertama terasa berat sekali. Ini sedikit curhat saya waktu itu.

Percakapan hari pertama Ramadhan; pertama kalinya bocil puasa full dari sahur sampe maghrib. Setengah jam menjelang buka puasa. Bocil uda lemes sambil nonton tv. Mamanya berusaha ngehibur. Soalnya setengah jam lagi uda mau adzan. Bocil nempel terus bobo-an di kaki. Mama : Aira mau donlot games? Apa mau tempel sticker? Bocil : Aira tu maunya tempe goreng Maa!! . Wkwkwkwk πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™ˆ. Emaknya cuma bisa ngusap2in kepalanya aja sambil ngajakin ngitung jarum jam. Setengah jam rasanya lama banget. Pas buka puasa bocil sumringah banget. Makan hello panda sampe 3 bungkus, makan coklat, makan es buah, minum yogurt, makan nasi sepiring pun gapake lama. Mama : Aira hebat puasanya full. Alhamdulillah. Insya Allah dapat pahala. Bocil : Pahala itu apa ma? Mama : Pahala itu kebaikan yg diberikan Allah sama Aira. Nanti mainan Aira bertambah di surga. Bocil : Kalau puasa mainan Aira bertambah ya Ma di surga? Mama : Iya insya Allah. Besok puasa lagi ya. Besok makan sahurnya yang banyak. Minum susu. Supaya kuat puasa seharian. Td Aira makan sahurnya kurang banyak makanya lemes. Besoknya sampai hari ini bocil ga pernah ngeluh kelaperan lagi. Hari kedua lapar dia cuma bilang, "Ma tadi kayaknya Aira makan sahurnya kurang." Tapi sampe hari ini enggak pernah minta makan lagi sampai berbuka. Semoga Aira sehat terus dan semangat ya puasanya sampai selesai bulan Ramadhan. Mama bangga sama Aira 😘😘😘. #milestoneramadhan #mybebeaia #mamaandaira
A post shared by Mia Fauzia (@miafauziablog) on


Sejujurnya, membiasakan bocil puasa full satu bulan layaknya kita, mengingatkan saya pada saat-saat menyapihnya dulu (ceritanya di sini). Pun juga mengingatkan saya pada nasihat Mamah pada saat menyapih waktu itu.. Menyapih itu berat, tapi yang pertama harus dilakukan adalah kitanya dulu yang harus ikhlas. Meski berat melihat anak yang ingin ASI, tapi kita harus ingat bahwa penyapihan adalah step yang harus dilaluinya untuk mandiri dan belajar menjadi dewasa. 

Untuk menyiapkan anak puasa full, terlebih dahulu kami sebagai orangtuanya yang harus siap. Siap menghadapi anak yang mungkin struggling dengan rasa lapar, siap dengan kekalutan pikiran sendiri karena kasian (ini mah saya xD). Dan siap untuk persistent meng-encourage anak hingga finish. Enggak cuma saya, tapi Hubby juga harus mendukung. Kalau perlu sahur digendong sama Papanya sementara saya nyiapin makanan. Kadang gantian nyuapin sahur bocil yang masih merem aja.

Mengajak puasa full itu ternyata susah-susah gampang. Awalnya sulit sekali mengalihkan pikirannya dari rasa lapar. Persoalan yang lebih berat lagi, bagaimana kami sebagai orangtua juga harus berusaha menahan diri dan mendorongnya bersemangat puasa padahal kasian. 

Hari pertama puasa itu paling berat, karena saya harus berjuang ngalahin rasa kasian. Demi ngeliat wajahnya yang memelas dan berkali-kali bilang lapar. Berkali-kali pula dipelukin dan ditenangin. Diusapin kepalanya sambil ngomongin pahala puasa. Sedih deh sebenernya. Apalagi pas jam setengah 6 itu bocil uda ga bilang lapar tapi cuma diem aja nonton tv sambil saya usapin kepalanya di pangkuan. 

Pas adzan maghrib, rasanya semuanya terbayar sudah. Bocil pun sumringah dan dia bangga bisa selesai puasanya. "Ma, kalau Aira puasa Aira dapat pahala ya. Bertambah ya mainan Aira di surga." Katanya. Wajahnya berseri-seri dan semangat buat puasa lagi keesokan harinya. Saya sampe terharu kayaknya sampai di adzan maghrib. Sampe pelukin bocil dan bilang, "Selamat ya, Aira hebat puasanya. Mama bangga Aira tamat puasanya." 

Saya ingatin terus, "Besok makan sahur yang banyak ya, supaya kuat menahan lapar." Besok-besoknya bocil uda ngga pernah bilang lapar. Paling cuma bilang, "Kayaknya Aira kurang ni makan sahurnya." XD.

Lucunya, sejak bulan puasa entah kenapa bocil rada suka minta nonton video masak di Youtube. Sebenernya mamanya yang nonton tapi dia suka nimbrung. Trus kalo uda deket maghrib kan biasanya tv dipindah ke tv lokal, nah tau sendiri kan sekitar adzan itu ratingnya tinggi banget kayaknya kalo bulan puasa. Iklan makanan dan minumannya banyak banget xD. Ga sabaran banget kayaknya pengen minum atau jajan yang ada di tv. Hahahaha. Akhirnya kami suka nanya, "Aira nanti mau makan apa buat buka?" Pokoknya apa pun yang dia minta pasti kita beliin buat berbuka. Alhamdulillah lama-lama bocil mulai teralihkan pikirannya dari rasa lapar.

Setelah mengalihkan dari rasa lapar, ternyata masih ada pe-er lainnya. Bocil jadinya sering bilang bosen bosen xD. Main ini bosan, main itu bosan. Mungkin karena perutnya lapar jadi enggak bisa menikmati bermain. Apalagi sejak sekolah libur. Hahahaha. Jadilah kadang kita beliin mainan-mainan kecil kalo pas lagi jalan keluar. Entahlah beli gelembung sabunlah, slime-lah, squishy-lah. Padahal sebelumnya kami termasuk rada strict kalo beliin mainan. Saya sih terutama. Soalnya bocil kalo dibeliin mainan gitu kan suka ketagihan. Tiap mampir mini market bisa minta terus kan emaknya bete juga. Hueehehehhe. Tapi demi puasa ya udalah ya. Kadang papanya beliin stiker, puzzle, dll juga. Apalagi saya lagi hamil muda dan sempet bed rest, dan berpuasa juga. Jadinya kadang saya terlalu lelah untuk nemenin bermain dan jadinya kasian main sendiri.

Kadang saya donlotin videonya Charly's Crafty Kitchen dari yutub. Jadi ini channelnya kakak-adik gitu, mereka suka bikin DIY makanan, ngereview mainan, bikin kegiatan di rumah, atau jalan-jalan. Sebenernya dari dulu suka nonton si Charly dan Ashley ini, tapi sejak puasa bocil jadi ngefans, sampe bilang pengen ke ostrali buat ketemu Charly and Ashley. Hahahaha.

Mendekati minggu terakhir udah ga begitu berat lagi. Bocil sudah menikmati puasanya. Apalagi kami mulai mudik dan kalau mudik itu kan biasanya ada aja kegiatan. Sahur di mobil sambil disuapin juga berapa kali. Cape sih, tapi enak juga bocil ga bilang bosan bosan lagi. Mungkin karena sudah biasa dan kalo pulang mudik kan banyak orang. 

Sampai akhirnya malam takbiran, bocil enggak percaya gitu kalo besokannya udah nggak puasa, dan sudah lebaran. Dia kayaknya setengah percaya juga kalo ternyata dia mampu berpuasa full selama satu bulan. Dia seneng banget, terlebih kami, mama-papanya. Alhamdulillah satu milestone terlewati. Semoga tambah solehah, tabah pintar, dan tambah kuat ya, Aira. Aamiin.. allahumma aamiin... 

Ini telat banget sih ya buat ngucapin selamat idul fitri. Secara kemaren udah Idul Adha. Hahahaha. Saya cuma pajang foto dari socmed saya aja waktu Idul Fitri kemarin. Sekalian mau mengucapkan mohon maaf lahir batin ya, teman-teman. Jika ada kesalahan, mohon dimaafkan.

Wassalaamualaikum.
















Monday, 11 September 2017

[Sharing] : Pelunasan Dipercepat KPR CIMB Niaga

Assalaamualaikum,






Kali ini saya pengen sharing mengenai cerita pelunasan dipercepat untuk KPR di Bank CIMB Niaga. Pada awal tahun 2015 lalu kami melakukan pelunasan dipercepat KPR rumah kami di Cimahi, dan baru-baru ini alhamdulillah bisa melakukan pelunasan dipercepat KPR rumah kami di Depok.

Ternyata Allah memberikan kami jalan untuk bisa mempercepat pelunasan KPR rumah lagi di tahun ini. Siang itu, sepulang dari mengambil dokumen rumah, kami senyum-senyum saja sepanjang jalan. Rasanya lega luar biasa. Tak henti-hentinya rasanya bersyukur. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah Maha Baik.

Di post ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman kami melakukan pelunasan dipercepat KPR di Bank CIMB Niaga. Karena kami dua kali melakukan pelunasan dipercepat KPR di bank yang sama, dan untuk mencari informasi pelunasan dipercepat ini agak sulit mencari prosedur di website resminya CIMB Niaga. Biasanya kita diarahkan untuk menghubungi Call Center / Phone Banking 14041, tapi call center ini biasanya juga tidak memberi informasi yang lengkap. Mereka biasanya mengarahkan ke cabang untuk pertanyaan mengenai pelunasan dan lain-lain ini. Padahal pengalaman saya waktu kerja di Bank, biasanya orang cabang kurang begitu mengerti mengenai produk bank yang tidak dilayani di cabang langsung seperti KPR atau kartu kredit. Hal seperti ini biasanya diselesaikan antara nasabah dengan bagian yang bersangkutan. Untungnya, kami menemukan beberapa orang yang sharing mengenai pengalaman pelunasan dipercepat KPR Bank CIMB Niaga di blog. Dan kami merasa terbantu sekali. Karena itu saya pikir tidak ada salahnya berbagi di sini. 

Sekitar tahun 2015 lalu sebelum melunasi rumah di Cimahi, kebetulan kami sempat mampir ke CIMB Niaga di daerah Simpang Lima Bandung, saya lupa nama gedungnya apa. Saat itu ada beberapa hal yang kami tanyakan terkait dengan KPR. Waktu itu kami diberitahu, untuk pelunasan rumah di Cimahi (tahun 2015 termasuk pelayanan wilayah Bandung, Jawa Barat)  kami harus kirim permohonan pelunasan KPR dipercepat ke alamat e-mail : ccl.jabar@cimbniaga.co.id

Waktu pelunasan rumah Cimahi tahun 2015 lalu itu sempat ada salah info juga sih. Katanya karena kami di wilayah jabodetabek, jadi kami bisa ambil dokumen di kantor CIMB Niaga Jl. Faletehan, Jakarta. Tapi ternyata orang CIMB Niaga di jl. Faletehan ngiranya kita mau pelunasan KPR yang di Depok. Padahal ternyata kalau rumah di cimahi memang bisa pelunasan di Jakarta, tapi setelah pelunasan, dokumen-dokumen rumah tetap diambil di kantor CIMB Niaga ditunjuk yang ada di Bandung. Saat itu kami harus janji temu dulu dengan orang CIMB Niaga di salah satu gedung Niaga di Jl. Lembong, Bandung, sebelum datang. Dan baru kemudian dokumen-dokumen diserahkan.

Nah, untuk pelunasan KPR rumah di Depok ini sebenarnya hampir sama. Kita tinggal mengirimkan surat permohonan pelunasan dipercepat melalaui e-mail. Namun, alamat e-mail yang ditujunya berbeda.  

Untuk pelunasan dipercepat rumah kami yang di Depok, kami mengirimkan permohonan pelunasan KPR dipercepat ke e-mail : admin.antiattrition@cimbniaga.co.id .  SLA (Service Level Agreement)-nya 5 hari kerja. Jadi tunggu 5 hari kerja nanti bagian yang bersangkutan akan menelepon untuk mengkonfirmasi kita mengenai pelunasannya. Berikut form lengkap yang harus diisi dan detail lain-lainnya. 

Setelah mengirim email dengan format yang harus diisi, tidak sampai 5 hari kerja, bagian pelunasan menelepon kami mengenai prosedurnya serta mengirim email resmi mengenai detail dan kelengkapan prosedurnya. 

Perlu diketahui, untuk pelunasan di CIMB Niaga, prosedur pelunasan dilayani pada tanggal 1-20 pada bulan yang sama. Jika lewat dari tanggal 20, maka pelunasannya akan dihitung untuk jatuh pada bulan berikutnya. Saran saya sih kalau mau pelunasan dihitung dulu tanggalnya dan dikira-kira juga dengan waktu yang diperlukan buat melengkapi prosedurnya supaya enggak kena tambahan bunga berjalan atau kena bayar tagihan KPR pada bulan tersebut. Jadi kita bisa nyiapin diri dan dananya. Selain itu, pihak bank juga ada cukup waktu buat melengkapi prosedurnya. Jadi kitanya ga mencak-mencak kalo enggak kekejar bayar di bulan yang diinginkan karena sudah memberikan spare waktu yang cukup.

Di hari pendebetan, sorenya kami cek di internet banking loan-nya sudah di angka Rp 0.00. Alhamdulillah wa syukurillah... tanggal 16 Agustus 2017 kesampaian juga kami merdeka dari KPR. Wkwkwk.. Pihak bank menginformasikan, kami bisa datang ke kantor Bank CIMB Niaga di Griya Niaga Bintaro untuk mendapatkan surat keterangan pelunasan beserta dokumen-dokumen rumah. 

Minggu depannya kami langsung datang ke Griya Niaga lantai 2. Ternyata prosedurnya sama sekali tidak ribet walaupun antriannya cukup panjang. Kami mengambil antrian dan menunggu dipanggil Customer Service. Prosesnya juga tidak memakan waktu lama. Sampai di lokasi pukul 10.00, dapat antrian no. 17, tapi prosesnya cepat jadi pukul 11.00 sudah selesai.

Nah, itulah pengalaman kami melakukan pelunasan KPR dipercepat di Bank CIMB Niaga. Perlu diketahui, tulisan ini sifatnya hanya sharing pengalaman. Selalu ingat untuk cek dan ricek kembali semua transaksi keuangan dan informasi resmi serta detail dari bank untuk mencegah tindakan penipuan. 

Semoga bermanfaat :).

Wassalaamualaikum.


Monday, 14 August 2017

Happy Bday To Me: A Reflection.





Assalaamualaikum,

Hari ini saya mau cerita ultah beberapa waktu lalu. Enggak kerasa tahun ini umur saya udah 33. Udah berkurang banyak jatahnya. Hehehe.. udah tua yak xD.

Karena pas ultah kemarin pas momen mudik, saya ga berharap gimana-gimana. Karena saya lagi sering lelah dan ga kemana-mana, lagian dari sebelum saya ultah saya uda sering bilang Hubby tentang umur saya yang uda nginjak 33. Jadi saya sih ga ngarep bakal terkejut juga xD.

Tengah malam saat saya ultah itu kami terbangun karena harus mempersiapkan diri buat mudik. Jam 00.30 kami jalan dari Depok menuju rumah di Cimahi untuk menghindari macet. Sekitar subuh kami sampai di Cimahi dan istirahat. Eh ternyata jam setengah 6 udah ada paket ini tergeletak di meja. Ga ngerti juga kenapa kotaknya dibungkus kayak begitu. 


Terrnyata itu semacam crossword puzzle yang dibikin Hubby. 


Saya kaget juga sih dikasi kado kejutan karena ga selalu dikasi kejutan kalo dikasi kado. Wkwkwkwk. Lagian saya lagi sering sakit jadi kita jarang kemana-mana alias di rumah aja. Jadinya terharu dikasi kejutan sama Hubby. Makasi ya, Hubby, Aira :*. Dan ngomong-ngomong maaf fotonya ga dipajang karena bumil bangun tidur dan masi pake daster xD.

Di usia ini, saya ngerasa mendapat kesempatan untuk lebih jauh mengemban tanggung jawab jadi istri dan ibu. Saya lebih banyak belajar mengenai hal-hal yang lebih ideal tentang hidup. Ciee gaya xD. 

I mean, really. Sekarang saya pikirkan segala keputusan dengan mempertimbangkan keluarga. Prioritas saya pun sudah lebih bergeser ke lingkaran yang lebih dalam. Bukannya dulu ga mikirin keluarga, tapi seiring anak yang tambah besar, tentu kebutuhannya juga lebih banyak. Saya merasa harus meluangkan lebih banyak waktu. Jika dulu saya masih banyak mikirin diri sendiri, masih mikirin rasanya balik lagi kerja kantoran, sekarang saya lebih mikirin kepentingan anak. Lebih sering mengingatkan diri sendiri, the reasons why I chose to be a stay at home mom in the first place. Saya merasa lebih bisa menerima diri saya apa adanya, dan tidak terlalu merasa perlu membuktikan banyak hal pada orang lain. Jika saya ingin membuktikan sesuatu, maka ya itu untuk membuktikan kepada diri sendiri. 

Di usia ini juga saya mulai belajar bahwa hidup adalah tentang memberi. Memberikan waktu, perhatian, dan menyusun prioritas. Waktu kita di dunia ini enggak banyak, jadi penting sekali menyusun prioritas. Apalagi sebagai ibu, jika prioritas kita terganggu, maka yang kena ga cuma kita sendiri, tapi juga keluarga. 

Saya juga lagi berusaha belajar jadi ibu yang lebih baik. Menyiapkan diri jadi ibu yang tangguh itu enggak mudah. Karena sebelum mengajarkan sesuatu sama anak, maka kita dulu yang harus siap, kita dulu yang harus belajar. Kalau dulu ngajarin anak disapih, kitanya dulu yang harus siap menyapih (cerita menyapih bisa dibaca di sini  dan di sini). Mengajarkan anak toilet training, kitanya dulu yang harus siap dengan konsekuensi toilet training (cerita toilet training, bisa dibaca di sini). Maka sekarang tanggung jawab kita lebih besar lagi. Mengajarkan anak baca quran atau baca buku, kitanya dulu yang harus konsisten dengan meluangkan waktu dan ngajarin terus menerus. Mengajarkan anak puasa? Kitanya dulu yang harus kuat melihat anak belajar lapar. Mengajarkan anak shalat 5 waktu? Kitanya dulu yang harus siap bangunin anak saat terlelap di subuh, saat kelamaan tidur siang, atau mengingatkan saat isya dia sudah terkantuk-kantuk.

Kita sedang menyiapkan anak-anak kita untuk hidup sebagai orang dewasa, kadang berat karena terbiasa memandangnya masih kecil. Kalau dulu ke mall masih ga maksa saat bocil ga shalat. Apalagi saat mall penuh-penuhnya. Kalau sekarang mau penuh gimana juga diajakin shalat. Karena tahun depan usianya menginjak 7 tahun, dan usia 7 tahun anak boleh dipukul kakinya, tapi tidak boleh menyakitkan, jika tidak mau shalat. Tapi ga adil dong ya mukul kakinya pas ga mau shalat, meski tidak menyakitkan, kalau sebelum itu kitanya ga ngajarin kenapa shalat itu perlu dilakukan, kenapa harus 5 waktu, dan tidak dibiasakan. 

Ke depannya lagi tantangan jadi ibu sepertinya akan tambah besar, dan buat menghadapi itu dibutuhkan kesadaran diri saya untuk mengutamakan si kecil di atas waktu-waktu buat saya sendiri. Sekarang saya ngerti kenapa Mamah saya terbiasa bangun jam 2 pagi. Shalat malam, qiyamul lail sambil menunggu nasi matang di atas kompor. Sambil ga henti mendoakan kami anaknya yang masih lelap tidur. Waktu yang diberikannya buat kami ga hanya kehadirannya, tapi bahkan hingga doa-doa panjangnya berisi kepentingan-kepentingan kami, anak-anaknya. 

Di usia ini saya berdoa semoga bisa jadi ibu yang lebih baik buat anak (-anak) dan jadi istri yang lebih baik lagi buat suami. Aamiin... 

Oiya, setelah masa lebaran, bocil mulai masuk SD dan beberapa waktu kemudian saya bisa bertemu dan halal bihalal sama Jameelah. Senangnya dibawain kue sama temen-temen. Manalah dikasi lilin yang susah mati itu, wkwkwkwk. Makasi ya temen-temen, I really had a good time with you all :*. Makasi juga kadonya :*.








Halal bihalal sambil tukar kado.


Wassalaamualaikum.

Friday, 11 August 2017

Jadi Jameelah



Assalaamualaikum,

Beberapa waktu terakhir ini saya disibukkan dengan masa adaptasi si Bebe di sekolah dasar. Karena ga cuma anaknya, orang tuanya tentu harus beradaptasi juga. Meski demikian, ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan dari masa-masa TK nya si Bebe yang cukup berkesan buat saya. Salah satunya adalah menjadi salah satu anggota jamiyyah di TK.

Jamiyyah adalah sebutan untuk anggota komite sekolah yang dibentuk oleh sekolah Al-Azhar. Lama-lama panggilan ini kami plesetin jadi Jameelah, untuk mengurangi keseriusannya, dan supaya kesannya fun. Di awal penunjukkan, sebenarnya saya enggak terlalu berminat jadi anggota jamiyyah. Karena saya bayangkan mengurus kegiatan anak-anak itu tentunya melelahkan. Karena yang diurus tentu bukan anak kita saja. Hanya saja waktu itu anggota jamiyyah lain di kelas bocil mengundurkan diri, dan saya pikir kasihan juga kalau sampai ga ada wakilnya di kelas. Kalau ada kegiatan atau apa jadi tidak ada yang mewakili. Lagian saya pikir saya bisa ngundurin diri kapan pun kalau memang ternyata saya merasa kurang sreg atau capek dengan kegiatannya. Jadi ya sudah saya beranikan diri aja mutusin jadi jamiyyah. 

Walaupun saya termasuk orang yang senang ngobrol dan terbuka, deep down saya sebenernya orang yang cukup introvert. Saya senang menghabiskan waktu sendirian dan tidak suka diatur. Bertemu dengan banyak orang kadang bisa bikin saya kehilangan banyak energi. Don't get me wrong, I love meeting people. I love to talk to people. Tapi untuk commit pada satu kelompok dalam waktu yang lama dan berketerusan can run out my energy. Namun sebaliknya, dalam lingkungan tertentu yang sangat mendukung dan nyaman, saya malah bisa lebih kreatif dan bersemangat. 

Tapi saya pikir, saya mungkin akan menemukan banyak hal baru di sini. Jadi enggak ada ruginya kalau saya coba. It turned out, saya menemukan sekumpulan teman yang enggak cuma bisa diajak fun bareng, tapi juga setiap kegiatannya bisa memberikan experience dan challenge yang positif. Di luar itu, saya juga merasa bisa berkembang dan berkontribusi sesuai dengan minat saya.

Kebersamaan kami dimulai pada suatu pagi saat kami semua dilantik bersama jamiyyah dari Al Azhar lain sejabodetabek. Saya inget banget saya harus nyetir jam 3 pagi ke rumah Mak Dian, salah satu jamiyyah yang memang profesinya Make Up Artist, untuk didandanin.

Dandan pagi-pagi sebelum pelantikan.









Setelah pelantikan itu, banyak event yang kami lalui bersama. Di sini saya ngerasain rempongnya ngurusin makan, nyiapin goodibag, dan kadang ikut ngejagain 250 anak. Selain itu kami terbiasa mengambil tempat sendiri saat dibutuhkan. Ada yang bisanya pegang uang, masak, belanja, motret, bikin proposal, ngemsi, tilawah, bikin poster, dan lain-lain. 

Event-event sekolah inilah yang akhirnya bisa bikin kita dekat dan bisa diandalkan satu sama lain. Kami bisa ngumpul karena alasan besar kayak jagain posko bantuan untuk anak yatim, mendatangi panti-panti, harus ngurus goodiebag, atau ada yang ulang tahun, atau simply hanya karena ada yang ngajakin makan soto ato kepiting di rumahnya xD. 


Kartinian di sekolah. Temanya warna-warni.

Sortir bahan makanan di posko bantuan.

Sambil foto-foto tentu saja xP.
Event Muharram di sekolah. Belajar berbagi bersama teman-teman dari panti asuhan.


Di panti asuhan Asuwain Timor


Bikin goodiebag sambil bikin video kejutan buat Emak.



Event Hari Guru.

Nyari Dresscode di Cibinong City Mall sambil sarapan.


Foto bersama setelah acara muharram.

Seminar Parenting perdana.

Bergabung di jameelah ternyata ga cuma punya temen buat seru-seruan. Saya beneran merasa nyaman. Sama mereka saya bisa jadi diri sendiri dan bekerja dalam komunitas yang saling mendukung. Saat saya sakit mereka ada buat back up saya, saya juga bisa nebeng mobil kemana-mana. Wkwkwkwk.

Dan saya juga bisa bilang tidak, ketika saya nggak mau atau nggak bisa,  dan mereka akan menghormati keputusan saya. Pokonya senanglah bergabung di jameelah selama setahun. Walopun cape, tapi punya temen-temen yang bisa diandalkan kan ga tergantikan. Tul, ga?

Semoga walaupun cuma setahun kami masih bisa berteman dan silaturahmi ya. Aamiin...

Wassalaamualaikum

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...