Monday, 14 August 2017

Happy Bday To Me: A Reflection.





Assalaamualaikum,

Hari ini saya mau cerita ultah beberapa waktu lalu. Enggak kerasa tahun ini umur saya udah 33. Udah berkurang banyak jatahnya. Hehehe.. udah tua yak xD.

Karena pas ultah kemarin pas momen mudik, saya ga berharap gimana-gimana. Karena saya lagi sering lelah dan ga kemana-mana, lagian dari sebelum saya ultah saya uda sering bilang Hubby tentang umur saya yang uda nginjak 33. Jadi saya sih ga ngarep bakal terkejut juga xD.

Tengah malam saat saya ultah itu kami terbangun karena harus mempersiapkan diri buat mudik. Jam 00.30 kami jalan dari Depok menuju rumah di Cimahi untuk menghindari macet. Sekitar subuh kami sampai di Cimahi dan istirahat. Eh ternyata jam setengah 6 udah ada paket ini tergeletak di meja. Ga ngerti juga kenapa kotaknya dibungkus kayak begitu. 


Terrnyata itu semacam crossword puzzle yang dibikin Hubby. 


Saya kaget juga sih dikasi kado kejutan karena ga selalu dikasi kejutan kalo dikasi kado. Wkwkwkwk. Lagian saya lagi sering sakit jadi kita jarang kemana-mana alias di rumah aja. Jadinya terharu dikasi kejutan sama Hubby. Makasi ya, Hubby, Aira :*. Dan ngomong-ngomong maaf fotonya ga dipajang karena bumil bangun tidur dan masi pake daster xD.

Di usia ini, saya ngerasa mendapat kesempatan untuk lebih jauh mengemban tanggung jawab jadi istri dan ibu. Saya lebih banyak belajar mengenai hal-hal yang lebih ideal tentang hidup. Ciee gaya xD. 

I mean, really. Sekarang saya pikirkan segala keputusan dengan mempertimbangkan keluarga. Prioritas saya pun sudah lebih bergeser ke lingkaran yang lebih dalam. Bukannya dulu ga mikirin keluarga, tapi seiring anak yang tambah besar, tentu kebutuhannya juga lebih banyak. Saya merasa harus meluangkan lebih banyak waktu. Jika dulu saya masih banyak mikirin diri sendiri, masih mikirin rasanya balik lagi kerja kantoran, sekarang saya lebih mikirin kepentingan anak. Lebih sering mengingatkan diri sendiri, the reasons why I chose to be a stay at home mom in the first place. Saya merasa lebih bisa menerima diri saya apa adanya, dan tidak terlalu merasa perlu membuktikan banyak hal pada orang lain. Jika saya ingin membuktikan sesuatu, maka ya itu untuk membuktikan kepada diri sendiri. 

Di usia ini juga saya mulai belajar bahwa hidup adalah tentang memberi. Memberikan waktu, perhatian, dan menyusun prioritas. Waktu kita di dunia ini enggak banyak, jadi penting sekali menyusun prioritas. Apalagi sebagai ibu, jika prioritas kita terganggu, maka yang kena ga cuma kita sendiri, tapi juga keluarga. 

Saya juga lagi berusaha belajar jadi ibu yang lebih baik. Menyiapkan diri jadi ibu yang tangguh itu enggak mudah. Karena sebelum mengajarkan sesuatu sama anak, maka kita dulu yang harus siap, kita dulu yang harus belajar. Kalau dulu ngajarin anak disapih, kitanya dulu yang harus siap menyapih (cerita menyapih bisa dibaca di sini  dan di sini). Mengajarkan anak toilet training, kitanya dulu yang harus siap dengan konsekuensi toilet training (cerita toilet training, bisa dibaca di sini). Maka sekarang tanggung jawab kita lebih besar lagi. Mengajarkan anak baca quran atau baca buku, kitanya dulu yang harus konsisten dengan meluangkan waktu dan ngajarin terus menerus. Mengajarkan anak puasa? Kitanya dulu yang harus kuat melihat anak belajar lapar. Mengajarkan anak shalat 5 waktu? Kitanya dulu yang harus siap bangunin anak saat terlelap di subuh, saat kelamaan tidur siang, atau mengingatkan saat isya dia sudah terkantuk-kantuk.

Kita sedang menyiapkan anak-anak kita untuk hidup sebagai orang dewasa, kadang berat karena terbiasa memandangnya masih kecil. Kalau dulu ke mall masih ga maksa saat bocil ga shalat. Apalagi saat mall penuh-penuhnya. Kalau sekarang mau penuh gimana juga diajakin shalat. Karena tahun depan usianya menginjak 7 tahun, dan usia 7 tahun anak boleh dipukul kakinya, tapi tidak boleh menyakitkan, jika tidak mau shalat. Tapi ga adil dong ya mukul kakinya pas ga mau shalat, meski tidak menyakitkan, kalau sebelum itu kitanya ga ngajarin kenapa shalat itu perlu dilakukan, kenapa harus 5 waktu, dan tidak dibiasakan. 

Ke depannya lagi tantangan jadi ibu sepertinya akan tambah besar, dan buat menghadapi itu dibutuhkan kesadaran diri saya untuk mengutamakan si kecil di atas waktu-waktu buat saya sendiri. Sekarang saya ngerti kenapa Mamah saya terbiasa bangun jam 2 pagi. Shalat malam, qiyamul lail sambil menunggu nasi matang di atas kompor. Sambil ga henti mendoakan kami anaknya yang masih lelap tidur. Waktu yang diberikannya buat kami ga hanya kehadirannya, tapi bahkan hingga doa-doa panjangnya berisi kepentingan-kepentingan kami, anak-anaknya. 

Di usia ini saya berdoa semoga bisa jadi ibu yang lebih baik buat anak (-anak) dan jadi istri yang lebih baik lagi buat suami. Aamiin... 

Oiya, setelah masa lebaran, bocil mulai masuk SD dan beberapa waktu kemudian saya bisa bertemu dan halal bihalal sama Jameelah. Senangnya dibawain kue sama temen-temen. Manalah dikasi lilin yang susah mati itu, wkwkwkwk. Makasi ya temen-temen, I really had a good time with you all :*. Makasi juga kadonya :*.








Halal bihalal sambil tukar kado.


Wassalaamualaikum.

6 comments:

  1. Selamat ulang tahun Mbak Mia. Semoga sehat selalu, cita-citanya tercapai, dan berbahagia ya :)

    ReplyDelete
  2. Aw aw kertas kadonya lucuk amaaat! 😍😍😍

    ReplyDelete
  3. Ih seru eta dikasih kado bungkusnya gt. Happy selalu yah bumil sayang :*

    ReplyDelete
  4. HAPPY BIRTHDAAAAYYYY

    semoga makin bahagia, selamat dan penuh keberkahan dunia akherat yaa
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  5. Sehat selalu dan berkah usia mama Bebe.....^^

    ReplyDelete
  6. So sweet amaat bungkus kadonyaaa... Selamat ulang tahun ya Miii, semoga berkah, sehat, & bahagia selaluuu 😘

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...