Wednesday, 17 January 2018

Review : Resik V Godokan Sirih, Antiseptik Alami




Assalaamualaikum,

Ibu kita biasanya sudah mengajarkan sejak dini mengenai kebersihan. Misalnya, Mamah saya, selalu membawa handuk bersih kecil setiap pergi keluar rumah agak lama. Handuk ini biasanya disimpan dengan baik di tas dan selalu dipakai untuk mengeringkan diri atau saat berwudhu. Mamah enggak pernah pakai tisu, selalu memakai handuk. Dulu saya enggak terlalu mengerti kenapa Mamah selalu membawa handuk bersih setiap pergi. Tapi kemudian beranjak dewasa, saya mengerti. 

Sebagai perempuan, kita tentu pernah ya mengalami keputihan. Beranjak dewasa, saat aktivitas banyak di luar rumah, keputihan rasanya sulit terhindarkan. Untuk menghindarkan diri dari keputihan, penting sekali membersihkan diri dengan air dan mengeringkannya dengan baik. Kita juga dianjurkan untuk sering mengganti baju dalam agar senantiasa kering. 

Nah, susahnya, kalau kita harus aktivitas di luar rumah atau travelling yang memang lama. Kadang berhari-hari sampai dua minggu di luar rumah. Kadang bawa persediaan baju dalam ganti juga terbatas jadi enggak memungkinkan ganti sampai lebih dari tiga kali. Kalau cuma mudik ke rumah orang tua biasanya kita masih bisa mencuci pakaian dan mengeringkannya. Tapi kalau travelling yang agak jauh kan berat juga ya kalau terlalu banyak baju ganti. Karena itu, kalau travelling jauh, untuk mengakalinya, saya biasanya beli disposable underwear satu sampai dua pack untuk berjaga-jaga. Tapi ya yang namanya travelling, ada capeklah, hormonlah, kita juga sering keringatan, ya biasanya tetap aja enggak terhindarkan namanya keputihan. 

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab keputihan. Di antaranya adalah jamur atau bakteri yang berkembang biak pada lingkungan yang lembab. Nah, masalahnya area kewanitaan itu kan memang secara alami lembab. Apalagi jika sudah waktunya datang bulan atau setelahnya. Sebenarnya normal jika masih berwarna bening. Namun jika terdapat cairan yang sudah berwarna seperti susu, kekuningan, ataupun kehijauan, maka sudah pasti itu keputihan. Apalagi jika terdapat keputihan yang menyebabkan gatal. Tidak boleh disepelekan dan harus di treatment agar warnanya kembali normal. 

Sama halnya saat selepas melahirkan. Banyak orang tua kita menyarankan ramuan tradisional rebusan daun sirih untuk membersihkan area kewanitaan. Daun sirih adalah tanaman asli Indonesia yang memiliki banyak manfaat. Yaitu sebagai anti oksidan, anti bakteri, dan antiseptik alami. Karena itu resep tradisional ini banyak dipakai secara turun temurun untuk mengatasi keputihan.

Kebetulan saya baru selesai melahirkan. Sebagai mamak-mamak jaman now yang pinginnya praktis-praktis aja, kalau mau bikin rebusan daun sirih tiap hari kok kayaknya repot amat ya.  Kabar baiknya, sekarang manfaat rebusan daun sirih ini ada di dalam produk Resik V Godokan Sirih. Jadi pengen tau produk ini manfaatnya seperti apa. Untuk membaca reviewnya, baca tulisan ini sampai selesai ya :).


Keterangan produk di bagian belakang botol:

Resik V Godokan Sirih merupakan antiseptik alami yang terbuat dari air rebusan daun sirih dan diperkaya dengan Ekstrak Rumput Fatimah. Produk ini berfungsi membersihkan dan memelihara kesehatan area kewanitaan, membantu mencegah & mengatasi keputihan, gatal-gatal, serta mengurangi bau tidak sedap. Teruji secara mikrobiologi membantu mengurangi jumlah jamur Candida Albicans penyebab keputihan.

Cara Pemakaian:
Kocok terlebih dahulu sebelum digunakan. Tuangkan secukupnya ke telapak tangan, usapkan ke area kewanitaan dan bilas hingga bersih. Hanya digunakan untuk pemakaian luar.


REVIEW



Yang pertama kali bikin saya happy saat saya melihat botolnya, sih, produk ini sudah ada label HALAL-nya. Ini penting banget dong ya buat yang muslim. Karena yang namanya produk pembersih itu kan untuk membersihkan tubuh (Thaharah), tentu harus memakai bahan-bahan yang halal.

Resik V Godokan Sirih dikemas dalam botol ukuran 100 ml dengan tutup flip top. Botolnya tidak terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Ukurannya cukup pas untuk dimasukkan ke dalam tas wanita dan dibawa travelling.

Produknya sendiri berbentuk cairan berwarna kuning tua kehijauan seperti warna air teh hijau. Aromanya seperti wangi daun sirih, terkesan tradisional seperti wangi jamu dan meninggalkan wangi sirih yang cukup enak. Teksturnya ringan dan tidak terkesan soapy seperti sabun biasa.

Teksturnya cair.

Jika digosokkan di tangan, akan ada sedikit busa yang ringan Busanya tidak sebanyak sabun jadi sepertinya kandungan sabunnya juga tidak banyak. Setelah dibilas, anehnya rasanya seperti kesat dan wangi sirihnya masih tercium. Tidak ada rasa lengket. Saat saya coba di tangan, wangi yang tertinggal cukup tahan lama.

Tekstur busanya cukup ringan.
Overall, menurut saya, Resik V Godokan sirih ini cocok dipakai untuk mengatasi keputihan. Juga pada saat area kewanitaan lembab terutama menjelang menstruasi, saat menstruasi, setelah menstruasi, dan saat masa nifas. 

Saya suka dengan wangi sirihnya yang tertinggal. Aromanya segar dan cukup tahan lama. Botolnya cukup kecil untuk dibawa-bawa tapi cukup besar sehingga bisa menampung cukup banyak produk. Produk ini juga bisa didapatkan dengan mudah di supermarket-supermarket terdekat. Harganya juga cukup terjangkau, sekitar Rp 18.000 - Rp 20.000.  Kelebihan lainnya, produk ini sudah ada label HALAL-nya. 

Resik V godokan sirih praktis bagi yang menginginkan manfaat daun sirih tapi tidak punya waktu untuk merebus daun sirih. Misalnya saya yang setelah melahirkan masih harus merawat bayi jadi memang tidak punya banyak waktu. 

Oia, sebagai perempuan tentu kita tidak boleh melulu mengandalkan feminine hygine saja untuk mengatasi keputihan. Tapi harus diusahakan agar dijaga dengan cara lain, diantaranya:
- Ganti baju dalam saat terasa lembab. Sering-sering ganti baju dalam. Ganti baju dalam lebih baik daripada memakai pantyliner.
- Saat datang bulan, ganti pembalut 3-4 jam sekali.
- Pilih baju dalam yang bahannya katun sehingga lebih menyerap keringat.
- Jangan terlalu sering memakai celana legging atau jeans yang ketat. Sekali-kali boleh memakai rok, gamis, atau yang paling mudah dan praktis, celana palazzo. 
- Selalu keringkan diri menggunakan handuk setelah buang air kecil, jika memungkinkan, selalu sediakan handuk kecil atau tissue kering saat traveling.


Yang ingin tahu lebih banyak mengenai produk ini, boleh dilihat di website officialnya ya http://www.kino.co.id/brands/personal-home-care/resik-v-godokan-sirih/

Wassalaamualaikum.

Tuesday, 9 January 2018

Cerita Kelahiran Adek : Pengalaman Melahirkan Caesar di RS Bunda Margonda


Assalaamualaikum,

Sebelum saya cerita, saya harus bilang dulu. This is gonna be a long post :D.

Akhirnya bisa menulis cerita tentang kelahiran Adek. Namanya juga baru melahirkan ya, jadi beberapa bulan terakhir ini memang kecapean banget. Oke saya mulai aja ya ceritanya.

Jadi di post sebelumnya, saya sudah bilang kan ya, saya cek kehamilan sama dr Nining di RS Hermina Depok. Saya sudah merasa cocok sama beliau. Saat ada pendarahan di kehamilan 20 minggu itu pun dr Nining lah yang malah diagnosanya menurut saya benar dan pengobatannya benar dibanding dokter sebelumnya. Makanya walopun sering ngantri parah saya setia sama beliau ini.

Mendekati masa melahirkan, usia kandungan saya 36 minggu, sudah diputuskan bahwa saya bakal lahiran secara caesar karena ada indikasi Vasa Previa dan Placenta Previa yang saya ceritakan di post sebelumnya waktu cek fetomaternal di dr Novi. 

Baca

Placenta Previa ini kondisi di mana placenta menghalangi jalan lahir. Waktu itu posisinya sekitar 2 cm dari mulut rahim. Sementara Vasa Previa adalah kondisi di mana ada pembuluh darah besar yang seharusnya terlindung di dalam placenta dan tali pusat, tapi nyatanya tidak terlindung. Pembuluh darah ini letaknya di bawah janin, jadi kalau sampai pecah atau terdorong oleh kontraksi maka kemungkinan besar terjadi pendarahan, dan efeknya lebih besar kepada bayinya ketimbang ibunya.

Karena sudah menemui 2 dokter, maka ya sudah tidak ada jalan lain, saya akan melahirkan dengan bedah caesar. Saya mulai bersiap-siap dengan mencari informasi apa pun yang bisa saya dapat mengenai melahirkan dengan cara caesar. Bukan apa-apa, saya orangnya kudu well prepared. Saya harus tahu apa yang saya hadapi karena saya nggak mau nanti jadi baby blues atau trauma. Saya ingin melahirkan dengan nyaman dan mengenang proses kelahiran ini dengan pikiran yang baik dan bersyukur, walaupun tentu kalau sakit sih pasti ya. 

Setelah tanya dan ngobrol ke banyak teman yang sudah pernah melahirkan secara caesar, akhirnya saya ikhlas kalau harus melahirkan secara caesar. Karena itu, saat usia 36 minggu saya konsul dengan dr Nining saya katakan saya sudah siap untuk caesar. Tapi ternyata eh ternyata saya baru tahu kalau di RS Hermina Depok melahirkan SC itu suami tidak boleh masuk ke ruang operasi. Saya sudah siap mental banget mau SC tapi saya nggak tahu kalo banyak kebijakan di RS kehadiran suami di ruang operasi itu tidak diperbolehkan. Karena saya sering lihat di youtube, atau di program One Born Every Minute, atau di instagram yang melahirkan dan suami masuk ke ruang operasi.  I seriously panicked! Ahahahah. Selama ini suka ngobrol aja tentang caesar tapi ga pernah cari tahu apa suami bisa masuk ruang operasi atau engga. Karena pikirin saya defaultnya suami nemenin istri dong xD. Saya yang tadinya udah yakin jadi gamang lagi. 

Mendekati usia 37 minggu, di mana saya sudah harus menjadwalkan operasi, saya makin gamang. Pikiran bahwa saya kemungkinan harus SC tanpa didampingi suami enggak bisa saya ikhlaskan. Saya sudah menerima harus SC, tapi pengen didampingi suami. Padahal bayi saya harus dilahirkan pada usia 38 minggu karena indikasi vasa previa. Kontraksi melahirkan normal bisa memicu pendarahan, karena itu SC dijadwalkan pada usia 38 minggu ini. Saya jadi stress sendiri. Mana si kakak juga lagi persiapan menghadapi PTS (Penilaian Tengah Semester). 

Akhirnya dengan pikiran yang masih galau saya banyak bertanya lagi sama beberapa teman yang pernah SC, apakah mereka ditemani suaminya atau tidak. Kebanyakan ternyata tidak ditemani suami di ruang operasi. Yang ditemani suami di ruang operasi cuma satu orang teman saya, dan satu orang teman suami. Satu di RS Bunda Menteng, dan satu lagi di RS Bunda Margonda Depok.

Saya mulai stress lagi mikirin apakah saya ini lembek atau kurang ikhlas pake pingin ditemenin suami segala. Kenyataannya banyak yang SC tanpa ditemani suami. Sebenernya katanya melahirkan secara SC itu cepat sekali. Ga sampe 7-10 menit bayi lahir. Jadi kalau suami nemenin di ruang operasi hanya sampai bayi keluar, lalu papanya akan ngikut keluar menuju ruang observasi bayi, sementara perut kita dijahit kembali. Proses menjahit ini sebenernya yang lama.

Saya bersyukur saat melahirkan kakak Aira dulu. Saya sehat, bayinya pun sehat. Tapi jika diingat lagi, banyak rasanya hal yang ingin saya rubah supaya pada akhirnya saya merasa nyaman. Maklumlah ya namanya juga pengalaman pertama melahirkan. Ada beberapa hal yang saya pikir akan biasa saja tapi ternyata bikin saya merasakan ketidaknyamanan dan saya tidak mau hal seperti itu terjadi kembali. Sebagian besar terjadi setelah melahirkan. Sebagian karena ketidaktahuan, ketidaksiapan, dan yah namanya juga pengalaman pertama. Melahirkan itu kan pengalaman yang luar biasa, dan mungkin kita memang ga akan bisa membuatnya sesempurna mungkin. Da ya pasti sakit atuh ya namanya melahirkan mah. Tapi rasanya manusiawi kalau saya ingin pengalaman melahirkan kedua ini ketidaknyamanannya diminimalisir. 

Untuk kelahiran kedua ini, saya ingin lebih mendengarkan diri saya sendiri. Saya  pikir, saya yang mengandung, saya yang melahirkan, jadi saya mau saya yang merasa nyaman. Saya minta suami  mempercayai yang saya rasakan dan mendengarkan apa pun yang saya keluhkan saat menjelang kelahiran.  Mengenai dokter, mengenai prosedur, tentu tanpa mengesampingkan sisi keselamatan ya.  Dan saya berulang-ulang mengatakan kepada diri sendiri, "Ini tubuh saya, jadi saya berhak memutuskan apakah saya merasa  nyaman atau saya tidak merasa nyaman." Saya enggak peduli saya mungkin dibilang cerewet. Ini badan badan saya kok. Yang ngelahirin juga saya xD. 

Jujur, sejak cek fetomaternal saya masih belum bisa menerima bahwa saya harus melahirkan secara SC. Saya masih memiliki harapan untuk melahirkan secara normal. Tapi jika pun harus SC, saya sudah ikhlas. Tapi SC tanpa suami? Saya masih enggak bisa ngebayangin. 

Tapi hubby kayaknya emang paling tau watak istrinya. Dia tahu saya bisa-bisa aja melahirkan SC tanpa ditemani sama dia. Tapi setelah dijalani dan selesai prosesnya, saya belum tentu bisa cope with that experience. Apalagi kalo ternyata prosesnya enggak nyaman buat saya. Hubby bilang dia akan menyesal sekali kalau sampai nanti malah saya jadi baby blues atau trauma karena tidak bisa melahirkan sesuai dengan yang keadaan yang saya harapkan. Hubby juga pingin mendampingi saat SC. Jadi daripada stress, mendingan cari dokter yang membolehkan suami untuk masuk ke ruang operasi. 

Beberapa hari sebelum usia kehamilan saya 37 minggu, berdasarkan riset internet dan pengalaman teman, akhirnya saya menemukan nama dr. Chandra dan dr. Dian Indah Purnama yang praktek di RS Bunda Margonda. Tapi karena saya lebih nyaman dengan dokter perempuan, saya akhirnya coba periksa di dr. Dian.

dr. Dian ini ternyata orangnya ramah dan informatif. Ia bisa menceritakan keadaan saya dengan simpel dan gamblang, tapi enggak bikin stress. Bawaannya santai begitu. Waktu ia melihat buku medik saya langsung bilang, "Wah, ini ada indikasi placenta previa, vasa previa juga ya." Lalu saya di cek USG dan color doppler. Benar, di bawah janin ada pembuluh-pembuluh darah besar yang bahaya kalau saya melahirkan normal. 

dr Dian bilang, sebenarnya kalau enggak ada masalah itu saya bisa banget melahirkan normal. Posisi bayinya sudah masuk panggul dan sudah bagus sekali. Saya bilang sama beliau, "Saya sudah putuskan kok, Dok, mau Caesar." Lalu saya ceritakan kegalauan saya, dan ternyata dr Dian mengijinkan suami masuk ke ruangan operasi saat bedah caesar. Oiya, setelah tanya-tanya ke petugas pendaftaran, di RS Bunda suami boleh menemani untuk kelas VIP ke atas. Itu pun katanya sebenarnya tidak boleh, tapi jika dokter memperbolehkan, maka diperbolehkan. Alhamdulillah wa syukurillah. Lega rasanya. 

Minggu depannya saya kontrol terakhir dan menjadwalkan operasi pada usia kehamilan 38 minggu lebih beberapa hari, sehari setelah si kakak selesai PTS. Hari Kamis, sehari sebelum operasi, saya bertemu dokter anestesi untuk konsultasi cek kondisi saya, alergi dll untuk memutuskan jenis anestesi yang akan diberikan. dr. Resi ini orangnya menenangkan. Karena operasi dijadwalkan hari Jumat, pukul 13.00, Hubby bilang mau jumatan dulu. Padahal prosedurnya kan satu jam sebelum operasi harus sudah di tempat. Lalu dr. Resi bilang beliau juga jumatan, jadi tentu saja boleh kalau mau jumatan dulu. Dokter ini juga yang bikin kami tenang di ruang operasi.

Kamis malam saya sudah harus masuk kamar. Sebelum masuk kamar, saya dicek CTG dulu.
Dicek CTG. Masih ditemenin si Kakak. Kita mukanya udah muka bantal semua.
Sisa seminggu terakhir nemenin si kakak belajar buat PTS xD

Si kakak nemenin sampe ketiduran.
Paginya saya harus puasa dari pukul 06.00. Pukul 04.00 sudah ada pegawai yang masuk bertanya menu apa yang saya inginkan sebelum puasa. Saya memilih roti pakai selai. Pagi itu beberapa kali suster masuk dan keluar ruangan. Mereka memberi informasi mengenai prosedur operasi dan pasca operasi. Salah satu hal yang saya sukai dari RS ini suster dan dokter selalu menjelaskan dengan tabel informasi dan saya harus paraf jika saya sudah membaca. Suster juga menjelaskan hak-hak saya sebagai pasien. Dari sudut pandang saya, ini menenangkan karena tertulis bahwa saya sebagai pasien punya hak untuk menolak jika misalnya ada keputusan medis. yang tidak saya setujui. 

Pukul 11.30 saya sudah dijemput menuju ruang observasi, sementara Hubby siap-siap jumatan. Di ruang observasi saya berbaring di atas tempat tidur operasi dan mulai disuntik antibiotik dan lain-lain. Suster di sini juga baik. Dari awal saya bilang, sebelum siap-siap saya mau shalat duhur dulu, dan susternya mengerti. Sebelum operasi saya masih ditemenin ke toilet sambil bawa tiang infus. Saya enggak nyaman tiduran pakai robe gitu aja, Suster juga menawarkan selimut rumah sakit buat menutupi badan saya. Ini poin plus banget lah buat RS Bunda Margonda, stafnya helpful. 

Hampir jam setengah dua saya masuk ruang operasi. Hal yang paling saya takutkan adalah saat harus disuntik spinal di tulang belakang yang konon katanya sakit dan jarumnya gede. Wkwkwk. Ternyata posisi duduk saya katanya salah. Eh si suster baik hati ini ngasi saya bantal buat dipeluk. Tapi ternyata posisi bungkuk saya tetep salah. "Bu, ibu peluk saya aja deh." katanya. Dokter Resi kasih saya bius lokal dulu sebelum bius spinal, jadi katanya nanti ga akan terlalu sakit. Saya juga berapa kali bilang, "Dok, pokonya kalau mau suntik kasih aba-aba dulu ya. Biar saya siap kalo sakit." Wkwkwk. Dokternya bilang ini bu, siap-siap ya. Tapi tetep we ga siap. Hahaha. Rasanya sakit, tapi mungkin karena udah bius lokal duluan jadi rasa sakitnya tipe yang masih bisa ditolerir. 

Saya nanya, "Suami saya di mana?" Dokter Resi bilang suami saya udah siap di luar. Nanti akan dipersilahkan masuk saat operasi siap, katanya. Nah, ternyata suami saya emang udah siap dari tadi.

Hubby lagi nunggu di pintu masuk ruang operasi.

Akhirnya operasi dimulai sekitar pukul 13.30. Tidak sampai 10 menit adek bayi sudah lahir. Masya Allah. Nangisnya kenceng banget xD. Dan saya langsung mewek. Alhamdulillah... Kehamilan kali ini rasanya luar biasa soalnya, banyak deg-degannya, banyak khawatirnya. Alhamdulillah... puji syukur sama Allah SWT kamu sehat-sehat ya, Dek. 

Assalaamualaikum, Adek :').

Betewe saya pake kacamata maksudnya supaya enggak ada yang terlewat mata saya karena minus. Tapi kacamatanya miring melulu. Dokter Resi juga yang benerin kacamata saya karena Hubby lagi sibuk video-in proses lahiran Adek. Akhirnya saya minta kacamata dilepas aja. Adek dicek dan dibersihkan lalu dibungkus dan dibawa ke saya untuk pelekatan. Sambil pelekatan Hubby kumandang Adzan dan Iqamah. Rasanya bahagia, lega, I was overwhelmed dan jadinya mewek. Langsung inget kakaknya di rumah, dan betapa bakal bahagianya kalo kakak ikut ada di situ. 

Oia, saat itu saya mau IMD juga, tapi ya memang kalau operasi caesar itu ruangannya dingin jadi kasian bayinya, takutnya kedinginan Adek bayi belum langsung bisa mimi. Setelah pelekatan Adek dibawa keluar oleh perawat ke ruang observasi ditemani sama Hubby. Sementara itu saya diberitahu dokter Resi saya akan mendapat obat dan akan tertidur. 

Saya di ruang observasi sampai sekitar pukul setengah 7 malam. 

Di ruang observasi. Itu di tangan kanan ada antibiotik, obat penghilang sakit, pendeteksi detak jantung, cairan. Satu lagi di tangan kiri di bagian lengan dipasangin alat pengukur tekanan darah yang otomatis mengecek tekanan darah saya tiap 5 menit.
Sekitar pukul 7 malam akhirnya saya bisa masuk kamar. Di kamar sudah ada Kakak Aira, Mamah dan Adik saya. Rupanya mereka sudah menunggu sejak sore. Kakak seneng banget ketemu adek :').

Pukul 9 malam akhirnya bisa minum air. Subhanallah itu hausnya puasa dari jam 6 xD. Adek bayi masih diobservasi dan kalau tidak salah baru dibawa masuk pukul 10 malam. Seperti kakaknya dulu, kami rooming in sama adek. 

Amazed ya, Pa. Punya anak ke dua? :')
Alhamdulillah kelahiran ke dua ini berjalan sesuai dengan harapan saya. Saya pun walaupun pasca operasi ternyata pemulihannya lama, tapi lebih bisa mengikuti prosesnya. Proses kelahiran ini sama sekali enggak ada yang saya keluhkan karena prosesnya nyaman buat saya. Hush baby blues, menjauhlah.

Dulu melahirkan yang pertama tengah malam yang begadang di RS gendong bayi itu Hubby semalaman sampai enggak bisa tidur. Kalau sekarang, walopun saya sakit pasca operasi, mentally saya siap banget mengurus bayi dan happy saja begadang. Mungkin karena sudah pengalaman, mungki  saya juga merasa nyaman di RS. Hubby biasanya bangun saat saya butuh sesuatu atau adek bayi ga bisa ditenangkan dengan dimimiin dan harus digendong.

Kesan saya melahirkan di RS Bunda Margonda ini, staf-stafnya helpful dari awal sebelum SC, pas SC, sampai setelahnya. Misalnya saat saya enggak nyaman dibersihkan setelah operasi di ruang observasi, para perawat mencarikan saya ruangan lain dan akhirnya saya dibersihkan di ruang bersalin yang sedang kosong. Juga saat adek pup tengah malam kami kadang meminta tolong untuk membersihkan.

Ada konsultasi laktasi dengan salah satu perawat yang datang ke kamar. Waktu itu saya khawatir apa ASI saya udah keluar apa belum. Saya banyak minum dan sering pelekatan. Tiap adek nangis pasti mimi dan berhenti nangisnya. Tapi saya khawatir karena kulit adek mulai kelihatan agak menguning. Saya tahu produksi ASI ga akan langsung banyak dan bahwa lambung bayi itu masih kecil. Tapi saya jadi kepikiran. Perawat menenangkan saya. Ia bertanya apa adek pipis atau pup normal. Kalau normal ya berarti ASI saya keluar. Begitu pun mulut adek yang katanya ada kerak asi di sekitar bibirnya. Itu menunjukkan ASI sudah keluar tapi belum banyak saja. Caranya ngejelasin bikin saya tenang. Walaupun saya tahu pup awal itu memang mekonium (kotoran bayi dari sejak di dalam kandungan), tapi cara menjelaskannya yang logis bikin saya lebih ke arah berharap ASI cepat keluar daripada mikir ini ASI kok ga keluar-keluar.

Yang saya respect juga RS ini setiap proses biasanya perawat  dan dokter akan menjelaskan pakai tabel, jadi biasanya ga ada info yang terlewat. Saat masuk RS, saat konsultasi sebelum SC, saat keluar dari RS, dan saat adek masuk perawatan fototerapi. Saya juga bisa mengemukakan keinginan saya dan merasa didengarkan.

Kesan lainnya, makanannya enak-enak. Entah karena saya sudah melahirkan jadinya nafsu makan balik lagi, atau karena kalau makan seringnya disuapin sama Hubby karena masih sakit buat duduk xD. Tapi emang makanannya enak-enak.

Nah, itu dia cerita melahirkan Adek dan review saya tentang pelayanan Rumah Sakitnya. Mengenai teknis pengalaman operasi caesar dan hal-hal yang mungkin perlu dipersiapkan dalam menghadapi proses sebelum dan setelahnya mungkin akan saya share di post lain ya. Karena kalau saya ceritakan prosesnya di sini akan lebih panjang tulisannya xD.  

Wassalaamualaikum.



Friday, 5 January 2018

Tips Foto Keluarga & Foto Pregnancy di Studio (Review Maripro Studio Depok)




Assalaamualaikum,

Kali ini saya mau cerita tentang foto keluarga slash foto pregnancy di Maripro Depok. Jadi beberapa waktu ini, kalau ada tamu ke rumah kadang ada aja yang tanya itu foto keluarganya di mana. Terus saya jadi inget ini foto-foto pregnancy / foto keluarga sepertinya belum saya publish di blog. Jadi saya sekalian aja pengen post foto pregnancy keluarga kemarin sekalian reviewnya juga. Sama sedikit tips gitu kalau mau foto pregnancy.

Kalau teman-teman pernah baca salah satu post saya tentang foto di Maripro sebelum ini,


Mungkin kalau dihitung kami sudah lama banget enggak foto keluarga. Dulu foto pertama kali saat Kakak Aira menginjak usia 1 Tahun kalau tidak salah. Lebaran lalu sebenarnya dapat slot foto gratis waktu foto bareng sama keluarga Hubby di Bandung, tapi backgroundnya enggak minimalis, dan baby bumpnya enggak benar-benar kelihatan karena bahan baju saya tipenya bukan baju bahan jatuh gitu, dan hamilnya pun baru usia 5-6 bulan. Fotonya juga kurang intimate enggak kayak antusias menyambut keluarga baru. Ya, namanya juga dapat slot foto gratisan yes. Hahaha.

Btw, itu foto pertama di atas adalah hasil foto yang akhirnya kami cetak dan gantung di ruang depan. Dari awal, memang kira-kiranya saya pengen hasil foto yang minimalis dan clean. Pokoknya maunya bersih, enggak macem-macem, simpel tapi bagus. 

Maunya keliatan lagi siap-siap menyambut anggota keluarga baru dan kami antusias banget menyambut kelahirannya. Konsepnya pengen lebih dewasa tapi enggak terlalu serius juga. Jadi enggak mau terlalu heboh, tapi ya ga mau resmi juga. Kebetulan saya sama si kakak waktu lebaran beli baju dress couple, jadi Hubby tinggal pake baju yang warnanya menyesuaikan aja.

Kami semua pakai baju warna cokelat mocca, dan request backdrop warna putih. Bukan apa-apa, saya udah kepikiran bentuk fotonya ketika digantung di ruang depan. Rumah kami kan interiornya clean, ada sedikit sentuhan skandinavian/industrial gitu, saya nggak mau gantung foto yang sama sekali ga nyambung. Hehe. Ribet ya. Biarin xD. 

Nanya sendiri, jawab sendiri. Wkwkwk. 

Iya dong. Kan Foto keluarga, apalagi pregnancy, itu kan maunya foto yang bisa kita kenang lama. 

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kalau mau foto, ya mau nggak mau dandan dikit. Karena kalau di foto wajah kan cenderung flat kalau enggak dandan. Saya tipenya alis saya hilang kalau kena lampu studio karena emang ga tebal. Kakak Aira juga gitu. Saya gambarin alis tipis aja sama lipstik warna peach cerah. Kasian kalau pas difoto alisnya ilang juga kena lampu studio. Enggak pake MUA-MUA an, dandan sorangan aja sama mama. Hihihi.

Waktu foto keluarga ini usia kehamilan saya sudah masuk 36 Minggu. Sengaja juga pake baju yang bahannya jatuh, enggak kaku. Ini penting yah, buat yang mau foto pregnancy. Baju yang bahannya jatuh itu menyamarkan tubuh kita yang lagi super besar. Bagian terkecil tubuh biasanya lebih terlihat, dan perut kita keliatan gedenya. Kalau pakai baju yang bahannya kaku, yang ada badan kita kelihatan besar semua-muanya. Ini sebenernya pelajaran yang saya ambil dari foto keluarga di Bandung yang saya ceritakan sebelumnya. Saya ngerasa besar banget. 

Kami puas dengan hasil foto keluarga di Maripro sebelumnya, kayaknya gayanya cukup sesuai dengan hasil foto yang saya inginkan. Jadilah tanpa pikir panjang kami pilih foto pregnancy di Maripro aja. Sebenernya seru ya foto pregnancy pake fotografer kayak yang lagi hip di instagram. Tapi  ya kumaha atuh hamilnya aja berat kemarin itu. Apa-apa engap pengen tiduran. 



Dari rumah saya pake sepatu flat. Tapi demi kepentingan foto saya bawa sepatu yang rada ada hak-nya. Nah, penting juga ni buat yang mau foto pregnancy. Ga papa lah buat kepentingan foto 15 menit doangan mah pake sepatu yang ada heels-nya. Karena bodi saya kayaknya keliatan super besar, saya pake heels buat memperbaiki postur tubuh. Ya mungkin ga semua foto keliatan sepatunya, tapi kan postur tetep keliatan lebih baik, yes. 

Di Maripro kami ditawarin beberapa paket foto. Tapi akhirnya kami ambil paket foto 1-3 orang. Saya lupa harga pastinya. Kalo ga salah 300 ribu tapi cuma dapat 4 foto postcard sama CD aja. Untuk keterangan lebih lengkap harga paketnya better tanya Maripro-nya langsung ya. Dari sekian foto yang dijepret, hanya boleh pilih 4 pose untuk ditaruh di CD dan dicetak ukuran post card. Kalau mau pose yang lain, harus nambah bayar lagi per foto. 

Paket ini seingat saya dapatnya cuma segitu. Kalau mau cetak dan pakai pigura, tentunya nambah biaya lagi. Framenya boleh pilih warna dan bentuk. Besarnya juga bisa customize, bisa juga dieditin beberapa foto dalam satu bingkai. Soal teknisnya ini bisa langsung ditanya di sana aja. Oia, ternyata kita bisa ganti kostum satu kali, tapi kami kan enggak tahu, dan saya mager banget kalo harus pulang dulu ambil baju. Jadi pake yang ada aja. Buat temen-temen yang mau foto keluarga di studio, coba deh sebelum datang ditanyakan dulu, apa bisa ganti kostum dengan paket yang diambil. Siapa tau bisa kan lumayan yes.

Yang saya sukai dari Maripro ini, setelah dua kali ke sini, fotografernya ramah-ramah. Jadi bisa ngebangun mood yang ceria juga. Kalau ketawa kurang lebar dia nggak segan-segan suruh kita lebih lebar lagi ketawanya. Terus sebelum mulai juga saya bilang dulu pengennya foto yang backgroundnya putih doang. Waktu liat-liat hasilnya juga saya sempet minta foto yang saya pilih cahaya yang jatuh di wajah Hubby sama Kakak diterangin, karena posenya bagus tapi cahayanya kurang pas. Oia, ada juga pose yang si kakak leggingnya keliatan ujungnya dan menurut saya jadi kurang bagus, lalu diedit dipanjangin roknya sampai bawah. Seneng banget sih kalau ada fotografer yang mau dengerin masukan dari customernya gitu.

Akhirnya kami mutusin cetak dua foto ukuran 32 R dengan bingkai minimalis putih yang clean. Dia nawarin ukuran sesuai dengan ukuran foto pada kamera, which is berarti ukurannya custom, bukan 32 R. Dan dia menunjukkan di layar bagaimana nanti keliatan bedanya karena akan ada area yang dicrop kalau kekeuh mau 32 R. Akhirnya saya tetap minta 32 R tapi dengan letak komposisi yang saya tentukan sendiri sejauh mana di-crop-nya. Jangan tanya harga cetak 32 R dan bingkainya ya, soalnya saya lupa xD.

Nah, itu jadi tips selanjutnya kalau mau foto di studio. Sebaiknya kalau sudah punya konsep sendiri, dibicarakan sama fotografer atau studionya. Jadi hasilnya pas sama keinginan kita. 





Butuh waktu 1 minggu sampai cetakan dan frame-nya selesai. Minggu selanjutnya saya ke sana studionya parah penuh banget sampe susah duduk. Ternyata hari itu Universitas Indonesia lagi wisuda, jadi banyak mahasiswa dan keluarganya yang mau pada foto. Wew, untung saya dateng di minggu sebelumnya. Jadi kalau mau foto di sini, mending jangan saat sekitar waktu wisuda yah. Penuh banget. 




Overall, kami seneng sama hasil fotonya. Btw, itu si kakak gigi susunya baru copot jadi ada jendelanya. Hahahaha. Tapi saya suka banget sih, I think it's adorable. Jadinya saya bisa rekam dua kejadian di saat yang sama. Si Adek di perut udah mau lahir, dan si kakak giginya belom numbuh. Wkwkwk. 

Oiya, foto yang kami cetak 32 R bisa diliat di foto pertama yang saya pajang di post ini, ya. Maripro studio sendiri ada di Jl. Margonda Depok. Kalau dari Arah perempatan Juanda, letaknya sebelum UI. Sebelahan sama Baso Malang Citra. Masih bingung juga? Googling aja. Ada kok di-pin di Google Maps.

Nah, semoga bermanfaat :). 

Wassalaamualaikum.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...