Tuesday, 9 January 2018

Cerita Kelahiran Adek : Pengalaman Melahirkan Caesar di RS Bunda Margonda


Assalaamualaikum,

Sebelum saya cerita, saya harus bilang dulu. This is gonna be a long post :D.

Akhirnya bisa menulis cerita tentang kelahiran Adek. Namanya juga baru melahirkan ya, jadi beberapa bulan terakhir ini memang kecapean banget. Oke saya mulai aja ya ceritanya.

Jadi di post sebelumnya, saya sudah bilang kan ya, saya cek kehamilan sama dr Nining di RS Hermina Depok. Saya sudah merasa cocok sama beliau. Saat ada pendarahan di kehamilan 20 minggu itu pun dr Nining lah yang malah diagnosanya menurut saya benar dan pengobatannya benar dibanding dokter sebelumnya. Makanya walopun sering ngantri parah saya setia sama beliau ini.

Mendekati masa melahirkan, usia kandungan saya 36 minggu, sudah diputuskan bahwa saya bakal lahiran secara caesar karena ada indikasi Vasa Previa dan Placenta Previa yang saya ceritakan di post sebelumnya waktu cek fetomaternal di dr Novi. 

Baca

Placenta Previa ini kondisi di mana placenta menghalangi jalan lahir. Waktu itu posisinya sekitar 2 cm dari mulut rahim. Sementara Vasa Previa adalah kondisi di mana ada pembuluh darah besar yang seharusnya terlindung di dalam placenta dan tali pusat, tapi nyatanya tidak terlindung. Pembuluh darah ini letaknya di bawah janin, jadi kalau sampai pecah atau terdorong oleh kontraksi maka kemungkinan besar terjadi pendarahan, dan efeknya lebih besar kepada bayinya ketimbang ibunya.

Karena sudah menemui 2 dokter, maka ya sudah tidak ada jalan lain, saya akan melahirkan dengan bedah caesar. Saya mulai bersiap-siap dengan mencari informasi apa pun yang bisa saya dapat mengenai melahirkan dengan cara caesar. Bukan apa-apa, saya orangnya kudu well prepared. Saya harus tahu apa yang saya hadapi karena saya nggak mau nanti jadi baby blues atau trauma. Saya ingin melahirkan dengan nyaman dan mengenang proses kelahiran ini dengan pikiran yang baik dan bersyukur, walaupun tentu kalau sakit sih pasti ya. 

Setelah tanya dan ngobrol ke banyak teman yang sudah pernah melahirkan secara caesar, akhirnya saya ikhlas kalau harus melahirkan secara caesar. Karena itu, saat usia 36 minggu saya konsul dengan dr Nining saya katakan saya sudah siap untuk caesar. Tapi ternyata eh ternyata saya baru tahu kalau di RS Hermina Depok melahirkan SC itu suami tidak boleh masuk ke ruang operasi. Saya sudah siap mental banget mau SC tapi saya nggak tahu kalo banyak kebijakan di RS kehadiran suami di ruang operasi itu tidak diperbolehkan. Karena saya sering lihat di youtube, atau di program One Born Every Minute, atau di instagram yang melahirkan dan suami masuk ke ruang operasi.  I seriously panicked! Ahahahah. Selama ini suka ngobrol aja tentang caesar tapi ga pernah cari tahu apa suami bisa masuk ruang operasi atau engga. Karena pikirin saya defaultnya suami nemenin istri dong xD. Saya yang tadinya udah yakin jadi gamang lagi. 

Mendekati usia 37 minggu, di mana saya sudah harus menjadwalkan operasi, saya makin gamang. Pikiran bahwa saya kemungkinan harus SC tanpa didampingi suami enggak bisa saya ikhlaskan. Saya sudah menerima harus SC, tapi pengen didampingi suami. Padahal bayi saya harus dilahirkan pada usia 38 minggu karena indikasi vasa previa. Kontraksi melahirkan normal bisa memicu pendarahan, karena itu SC dijadwalkan pada usia 38 minggu ini. Saya jadi stress sendiri. Mana si kakak juga lagi persiapan menghadapi PTS (Penilaian Tengah Semester). 

Akhirnya dengan pikiran yang masih galau saya banyak bertanya lagi sama beberapa teman yang pernah SC, apakah mereka ditemani suaminya atau tidak. Kebanyakan ternyata tidak ditemani suami di ruang operasi. Yang ditemani suami di ruang operasi cuma satu orang teman saya, dan satu orang teman suami. Satu di RS Bunda Menteng, dan satu lagi di RS Bunda Margonda Depok.

Saya mulai stress lagi mikirin apakah saya ini lembek atau kurang ikhlas pake pingin ditemenin suami segala. Kenyataannya banyak yang SC tanpa ditemani suami. Sebenernya katanya melahirkan secara SC itu cepat sekali. Ga sampe 7-10 menit bayi lahir. Jadi kalau suami nemenin di ruang operasi hanya sampai bayi keluar, lalu papanya akan ngikut keluar menuju ruang observasi bayi, sementara perut kita dijahit kembali. Proses menjahit ini sebenernya yang lama.

Saya bersyukur saat melahirkan kakak Aira dulu. Saya sehat, bayinya pun sehat. Tapi jika diingat lagi, banyak rasanya hal yang ingin saya rubah supaya pada akhirnya saya merasa nyaman. Maklumlah ya namanya juga pengalaman pertama melahirkan. Ada beberapa hal yang saya pikir akan biasa saja tapi ternyata bikin saya merasakan ketidaknyamanan dan saya tidak mau hal seperti itu terjadi kembali. Sebagian besar terjadi setelah melahirkan. Sebagian karena ketidaktahuan, ketidaksiapan, dan yah namanya juga pengalaman pertama. Melahirkan itu kan pengalaman yang luar biasa, dan mungkin kita memang ga akan bisa membuatnya sesempurna mungkin. Da ya pasti sakit atuh ya namanya melahirkan mah. Tapi rasanya manusiawi kalau saya ingin pengalaman melahirkan kedua ini ketidaknyamanannya diminimalisir. 

Untuk kelahiran kedua ini, saya ingin lebih mendengarkan diri saya sendiri. Saya  pikir, saya yang mengandung, saya yang melahirkan, jadi saya mau saya yang merasa nyaman. Saya minta suami  mempercayai yang saya rasakan dan mendengarkan apa pun yang saya keluhkan saat menjelang kelahiran.  Mengenai dokter, mengenai prosedur, tentu tanpa mengesampingkan sisi keselamatan ya.  Dan saya berulang-ulang mengatakan kepada diri sendiri, "Ini tubuh saya, jadi saya berhak memutuskan apakah saya merasa  nyaman atau saya tidak merasa nyaman." Saya enggak peduli saya mungkin dibilang cerewet. Ini badan badan saya kok. Yang ngelahirin juga saya xD. 

Jujur, sejak cek fetomaternal saya masih belum bisa menerima bahwa saya harus melahirkan secara SC. Saya masih memiliki harapan untuk melahirkan secara normal. Tapi jika pun harus SC, saya sudah ikhlas. Tapi SC tanpa suami? Saya masih enggak bisa ngebayangin. 

Tapi hubby kayaknya emang paling tau watak istrinya. Dia tahu saya bisa-bisa aja melahirkan SC tanpa ditemani sama dia. Tapi setelah dijalani dan selesai prosesnya, saya belum tentu bisa cope with that experience. Apalagi kalo ternyata prosesnya enggak nyaman buat saya. Hubby bilang dia akan menyesal sekali kalau sampai nanti malah saya jadi baby blues atau trauma karena tidak bisa melahirkan sesuai dengan yang keadaan yang saya harapkan. Hubby juga pingin mendampingi saat SC. Jadi daripada stress, mendingan cari dokter yang membolehkan suami untuk masuk ke ruang operasi. 

Beberapa hari sebelum usia kehamilan saya 37 minggu, berdasarkan riset internet dan pengalaman teman, akhirnya saya menemukan nama dr. Chandra dan dr. Dian Indah Purnama yang praktek di RS Bunda Margonda. Tapi karena saya lebih nyaman dengan dokter perempuan, saya akhirnya coba periksa di dr. Dian.

dr. Dian ini ternyata orangnya ramah dan informatif. Ia bisa menceritakan keadaan saya dengan simpel dan gamblang, tapi enggak bikin stress. Bawaannya santai begitu. Waktu ia melihat buku medik saya langsung bilang, "Wah, ini ada indikasi placenta previa, vasa previa juga ya." Lalu saya di cek USG dan color doppler. Benar, di bawah janin ada pembuluh-pembuluh darah besar yang bahaya kalau saya melahirkan normal. 

dr Dian bilang, sebenarnya kalau enggak ada masalah itu saya bisa banget melahirkan normal. Posisi bayinya sudah masuk panggul dan sudah bagus sekali. Saya bilang sama beliau, "Saya sudah putuskan kok, Dok, mau Caesar." Lalu saya ceritakan kegalauan saya, dan ternyata dr Dian mengijinkan suami masuk ke ruangan operasi saat bedah caesar. Oiya, setelah tanya-tanya ke petugas pendaftaran, di RS Bunda suami boleh menemani untuk kelas VIP ke atas. Itu pun katanya sebenarnya tidak boleh, tapi jika dokter memperbolehkan, maka diperbolehkan. Alhamdulillah wa syukurillah. Lega rasanya. 

Minggu depannya saya kontrol terakhir dan menjadwalkan operasi pada usia kehamilan 38 minggu lebih beberapa hari, sehari setelah si kakak selesai PTS. Hari Kamis, sehari sebelum operasi, saya bertemu dokter anestesi untuk konsultasi cek kondisi saya, alergi dll untuk memutuskan jenis anestesi yang akan diberikan. dr. Resi ini orangnya menenangkan. Karena operasi dijadwalkan hari Jumat, pukul 13.00, Hubby bilang mau jumatan dulu. Padahal prosedurnya kan satu jam sebelum operasi harus sudah di tempat. Lalu dr. Resi bilang beliau juga jumatan, jadi tentu saja boleh kalau mau jumatan dulu. Dokter ini juga yang bikin kami tenang di ruang operasi.

Kamis malam saya sudah harus masuk kamar. Sebelum masuk kamar, saya dicek CTG dulu.
Dicek CTG. Masih ditemenin si Kakak. Kita mukanya udah muka bantal semua.
Sisa seminggu terakhir nemenin si kakak belajar buat PTS xD

Si kakak nemenin sampe ketiduran.
Paginya saya harus puasa dari pukul 06.00. Pukul 04.00 sudah ada pegawai yang masuk bertanya menu apa yang saya inginkan sebelum puasa. Saya memilih roti pakai selai. Pagi itu beberapa kali suster masuk dan keluar ruangan. Mereka memberi informasi mengenai prosedur operasi dan pasca operasi. Salah satu hal yang saya sukai dari RS ini suster dan dokter selalu menjelaskan dengan tabel informasi dan saya harus paraf jika saya sudah membaca. Suster juga menjelaskan hak-hak saya sebagai pasien. Dari sudut pandang saya, ini menenangkan karena tertulis bahwa saya sebagai pasien punya hak untuk menolak jika misalnya ada keputusan medis. yang tidak saya setujui. 

Pukul 11.30 saya sudah dijemput menuju ruang observasi, sementara Hubby siap-siap jumatan. Di ruang observasi saya berbaring di atas tempat tidur operasi dan mulai disuntik antibiotik dan lain-lain. Suster di sini juga baik. Dari awal saya bilang, sebelum siap-siap saya mau shalat duhur dulu, dan susternya mengerti. Sebelum operasi saya masih ditemenin ke toilet sambil bawa tiang infus. Saya enggak nyaman tiduran pakai robe gitu aja, Suster juga menawarkan selimut rumah sakit buat menutupi badan saya. Ini poin plus banget lah buat RS Bunda Margonda, stafnya helpful. 

Hampir jam setengah dua saya masuk ruang operasi. Hal yang paling saya takutkan adalah saat harus disuntik spinal di tulang belakang yang konon katanya sakit dan jarumnya gede. Wkwkwk. Ternyata posisi duduk saya katanya salah. Eh si suster baik hati ini ngasi saya bantal buat dipeluk. Tapi ternyata posisi bungkuk saya tetep salah. "Bu, ibu peluk saya aja deh." katanya. Dokter Resi kasih saya bius lokal dulu sebelum bius spinal, jadi katanya nanti ga akan terlalu sakit. Saya juga berapa kali bilang, "Dok, pokonya kalau mau suntik kasih aba-aba dulu ya. Biar saya siap kalo sakit." Wkwkwk. Dokternya bilang ini bu, siap-siap ya. Tapi tetep we ga siap. Hahaha. Rasanya sakit, tapi mungkin karena udah bius lokal duluan jadi rasa sakitnya tipe yang masih bisa ditolerir. 

Saya nanya, "Suami saya di mana?" Dokter Resi bilang suami saya udah siap di luar. Nanti akan dipersilahkan masuk saat operasi siap, katanya. Nah, ternyata suami saya emang udah siap dari tadi.

Hubby lagi nunggu di pintu masuk ruang operasi.

Akhirnya operasi dimulai sekitar pukul 13.30. Tidak sampai 10 menit adek bayi sudah lahir. Masya Allah. Nangisnya kenceng banget xD. Dan saya langsung mewek. Alhamdulillah... Kehamilan kali ini rasanya luar biasa soalnya, banyak deg-degannya, banyak khawatirnya. Alhamdulillah... puji syukur sama Allah SWT kamu sehat-sehat ya, Dek. 

Assalaamualaikum, Adek :').

Betewe saya pake kacamata maksudnya supaya enggak ada yang terlewat mata saya karena minus. Tapi kacamatanya miring melulu. Dokter Resi juga yang benerin kacamata saya karena Hubby lagi sibuk video-in proses lahiran Adek. Akhirnya saya minta kacamata dilepas aja. Adek dicek dan dibersihkan lalu dibungkus dan dibawa ke saya untuk pelekatan. Sambil pelekatan Hubby kumandang Adzan dan Iqamah. Rasanya bahagia, lega, I was overwhelmed dan jadinya mewek. Langsung inget kakaknya di rumah, dan betapa bakal bahagianya kalo kakak ikut ada di situ. 

Oia, saat itu saya mau IMD juga, tapi ya memang kalau operasi caesar itu ruangannya dingin jadi kasian bayinya, takutnya kedinginan Adek bayi belum langsung bisa mimi. Setelah pelekatan Adek dibawa keluar oleh perawat ke ruang observasi ditemani sama Hubby. Sementara itu saya diberitahu dokter Resi saya akan mendapat obat dan akan tertidur. 

Saya di ruang observasi sampai sekitar pukul setengah 7 malam. 

Di ruang observasi. Itu di tangan kanan ada antibiotik, obat penghilang sakit, pendeteksi detak jantung, cairan. Satu lagi di tangan kiri di bagian lengan dipasangin alat pengukur tekanan darah yang otomatis mengecek tekanan darah saya tiap 5 menit.
Sekitar pukul 7 malam akhirnya saya bisa masuk kamar. Di kamar sudah ada Kakak Aira, Mamah dan Adik saya. Rupanya mereka sudah menunggu sejak sore. Kakak seneng banget ketemu adek :').

Pukul 9 malam akhirnya bisa minum air. Subhanallah itu hausnya puasa dari jam 6 xD. Adek bayi masih diobservasi dan kalau tidak salah baru dibawa masuk pukul 10 malam. Seperti kakaknya dulu, kami rooming in sama adek. 

Amazed ya, Pa. Punya anak ke dua? :')
Alhamdulillah kelahiran ke dua ini berjalan sesuai dengan harapan saya. Saya pun walaupun pasca operasi ternyata pemulihannya lama, tapi lebih bisa mengikuti prosesnya. Proses kelahiran ini sama sekali enggak ada yang saya keluhkan karena prosesnya nyaman buat saya. Hush baby blues, menjauhlah.

Dulu melahirkan yang pertama tengah malam yang begadang di RS gendong bayi itu Hubby semalaman sampai enggak bisa tidur. Kalau sekarang, walopun saya sakit pasca operasi, mentally saya siap banget mengurus bayi dan happy saja begadang. Mungkin karena sudah pengalaman, mungki  saya juga merasa nyaman di RS. Hubby biasanya bangun saat saya butuh sesuatu atau adek bayi ga bisa ditenangkan dengan dimimiin dan harus digendong.

Kesan saya melahirkan di RS Bunda Margonda ini, staf-stafnya helpful dari awal sebelum SC, pas SC, sampai setelahnya. Misalnya saat saya enggak nyaman dibersihkan setelah operasi di ruang observasi, para perawat mencarikan saya ruangan lain dan akhirnya saya dibersihkan di ruang bersalin yang sedang kosong. Juga saat adek pup tengah malam kami kadang meminta tolong untuk membersihkan.

Ada konsultasi laktasi dengan salah satu perawat yang datang ke kamar. Waktu itu saya khawatir apa ASI saya udah keluar apa belum. Saya banyak minum dan sering pelekatan. Tiap adek nangis pasti mimi dan berhenti nangisnya. Tapi saya khawatir karena kulit adek mulai kelihatan agak menguning. Saya tahu produksi ASI ga akan langsung banyak dan bahwa lambung bayi itu masih kecil. Tapi saya jadi kepikiran. Perawat menenangkan saya. Ia bertanya apa adek pipis atau pup normal. Kalau normal ya berarti ASI saya keluar. Begitu pun mulut adek yang katanya ada kerak asi di sekitar bibirnya. Itu menunjukkan ASI sudah keluar tapi belum banyak saja. Caranya ngejelasin bikin saya tenang. Walaupun saya tahu pup awal itu memang mekonium (kotoran bayi dari sejak di dalam kandungan), tapi cara menjelaskannya yang logis bikin saya lebih ke arah berharap ASI cepat keluar daripada mikir ini ASI kok ga keluar-keluar.

Yang saya respect juga RS ini setiap proses biasanya perawat  dan dokter akan menjelaskan pakai tabel, jadi biasanya ga ada info yang terlewat. Saat masuk RS, saat konsultasi sebelum SC, saat keluar dari RS, dan saat adek masuk perawatan fototerapi. Saya juga bisa mengemukakan keinginan saya dan merasa didengarkan.

Kesan lainnya, makanannya enak-enak. Entah karena saya sudah melahirkan jadinya nafsu makan balik lagi, atau karena kalau makan seringnya disuapin sama Hubby karena masih sakit buat duduk xD. Tapi emang makanannya enak-enak.

Nah, itu dia cerita melahirkan Adek dan review saya tentang pelayanan Rumah Sakitnya. Mengenai teknis pengalaman operasi caesar dan hal-hal yang mungkin perlu dipersiapkan dalam menghadapi proses sebelum dan setelahnya mungkin akan saya share di post lain ya. Karena kalau saya ceritakan prosesnya di sini akan lebih panjang tulisannya xD.  

Wassalaamualaikum.



12 comments:

  1. Aku baca sampe selesaaaaaai. Ahaha
    Selamat datang baby sekarang udah bisa apa :*
    Mau normal apa cesar kayaknya memiliki challange masing2 ya Mbak Mi. Ah, semangat mengasihi buat adik

    ReplyDelete
  2. Selamat ya mb Mia, akhirnya lancar proses SC nya, si dedek juga sehat ya.

    ReplyDelete
  3. Ini gw lg deg2an deh mau sesar buldep.. Pdhl udah 2x, harusnya lbh santai yah hiks

    Ohiya, btw dikau enak bener boleh masuk hubby nya, klo di RSPP ga boleh, jadi ga bs video in dah.

    ReplyDelete
  4. Aku bacanya sampai merinding karena pernah disuntik spinal juga pas operasi usus buntu. Duh sampe sekarang bagian belakangku gak bisa dipijit karena rasanya pasti sakit banget :(

    Btw adeknya gemessss, sehat - sehat Mba Mia sama adeknya juga :)

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillaaah,ikut deg2an dan bahagia baca kisahnya. Sekali lagi selamat yaaa atas kelahiran Adek.

    Btw aku dulu di Bunda Margonda juga,dan nyaman bgt disana. Pelayanan hingga menu2 makanannya enak semua. Konsul laktasi juga bermanfaat bgt ya sampai suami diajarin cara pijat laktasi (yg sampai sekarang masih dilakukan kalau aku pulang kerja soalnya bikin rileks,haha).

    ReplyDelete
  6. Selamat atas kelahirannya, ya, mbak. Semoga ibu dan bayi sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Sebentar lagi saya melahirkan mba, semoga (do'a kan)saya bisa melahirkan normal. Karena saya sangat penakut. Di suntik aja deg-deg-an apalagi di SC

    ReplyDelete
  8. Untung ya dapet RS yang dokternya ngijinin SC ditemani suami. Kalau saya dua kali melahirkan normal semua dan suami selalu menemani :) Emang lebih nyaman dan tenang rasanya jika ada suami di dekat kita saat melahirkan bahkan riset mengatakan kehadiran suami saat melahirkan bisa mengurangi rasa sakit ibu, lho! Semoga sehat-sehat terus ya adik bayi dan ibunya. Lancar menyusuinya :)

    ReplyDelete
  9. Subhanallah yaaa, selalu bikin terharu baca proses lahiran begini. Kayak flashback, hahaha. Dulu suami ngga boleh masuk dan dehse sutris banget nunggu di luar, untungnya eyke pengsan tak sadarkan diri di ruang operasi jadi ngga worry amat2, hahaha. Selamat ya neng. Kissss..

    ReplyDelete
  10. Selamat ya mbakk :)
    Ceritanya panjang tapi seru dan ga bosenin.. I read it all :)
    Oh ya.. salam kenal ya :) Salam buat adek dan kakak ��

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah akhirnya hubby bisa nemenin ya Mia..


    Selamat ya kaka Aira...

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...