Selasa, 07 Juli 2020

Ramadhan dan Lebaran Rasa #DiRumahAja



Assalaamualaikum,

Bener ya kata Raditya Dika, hidup di masa pandemi ini kok kayak film. Saya ngomong sama Hubby, “Rasanya hidup kita sebelum pandemi ini kayak bohong,” hahahaha. I mean, it’s so weird. Everything that is available for us, suddenly no longer available. Our life has changed a lot. 

Kali ini saya mau cerita bagaimana Ramadhan tahun ini di tengah pandemi is actually a bless in disguise. Dari sekitar 2 minggu sebelum puasa I think I have prepared myself for  the Ramadhan that I have never experienced in 35 years of my life. Dan mungkin ini yang membuat saya bisa melewati Ramadhan tahun ini dengan pikiran yang justru lebih positif.

Sebelum Ramadhan tiba, saya sempat menyelesaikan dulu puasa qadha tahun lalu 9 hari. Jadi ketika masuk bulan puasa, saya merasa minimal tahu rasanya puasa dengan kegiatan di rumah melulu seperti apa. 

Saat puasa qadha itu awalnya bosan banget. Di rumah terus tapi nggak bisa makan apa-apa. Tapi ya namanya wajib harus dijalanin. Salah saya juga baru mulai qadha menjelang bulan puasa. Apalagi si Adek baru disapih, jadi jadwal tidurnya saat itu masih berantakan dan kalau malam sulit tidur walopun ga rewel.

Tapi saya bersyukur juga, sih. Karena ngerasain puasa qadha, saya jadi tahu rasanya puasa #dirumahaja . Malah pas masuk bulan Ramadhan, kayaknya rasa #dirumahaja yang membosankan perlahan bisa menghilang. Hidup terasa lebih tergenggam rutinitasnya. Waktu kembali menjadi berharga di bulan Ramadhan. Saya memang di rumah terus tapi ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan. Yang sulit itu tentu saja membiasakan diri dengan kebiasaan baru ini.

Malah lama-lama, ada rasa syukur. Kalau sebelumnya waktu terasa cepat banget berlalu. Sekarang? Well, harus diakui kebosanan tentu saja ada. Tapi seandainya kita lebih berpikir positif, waktu sebenarnya terasa lebih berharga. Ada waktu untuk memiliki kebiasaan yang baru yang dari dulu nggak sempat, untuk membaca buku-buku yang dibeli tapi nggak pernah selesai, untuk berpikir dan terkoneksi dengan diri kita yang lebih dalam dan tentu saja yang paling penting, untuk bertumbuh. 

Di masa seperti saat itu, liat matahari pagi seperti ini rasanya sangat bersyukur masih diberi usia sama Allah SWT.




Enggak cuma buat saya, Aira juga berhasil menamatkan cukup banyak buku di masa pandemi ini. Misalnya buku seri Bliss Bakery ini. Ia sudah menamatkan 4 buku tapi buku yang ke 5 stuck karena kurang seru katanya. Ada 2 buku KKPK dari Mizan, dan sebagian buku risalah Nabi Muhammad SAW. 


Setelah lebaran yang lalu juga, Aira jadi bisa naik sepeda. Anaknya happy banget dan sering minta bersepeda. Papanya apalagi, seneng dan lega banget nampaknya. Karena itu salah satu milestone yang pingin Ia ajarkan sama Aira dari dulu. 

Gara-gara pandemi, kita memang jadi banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya susah banget dicari waktunya. Misalnya me-redecorate kamar. Mindahin furnitur ke posisi yang berbeda dan membuat space yang lebih nyaman dan bisa mendorong produktifitas seluruh anggota keluarga.

Selain itu, space yang bisa sebanyak mungkin menghadap ke jendela. Karena melegakan rasanya bisa melihat ke arah luar saat kita di rumah saja sepanjang hari.



Pokoknya setiap space sekarang dipikirkan pemanfaatannya agar semua orang lebih produktif, termasuk menunjang kegiatan ibadah. 

Set up kami kalau tarawih

Enggak cuma kamar kami, kamar anak-anak pun diubah posisinya beberapa kali. Misalnya, setelah penyapihan berhasil, kami memindahkan kasur Adek ke kamar kami supaya belajar tidur sendiri. Posisi tempat tidurnya seperti di bawah ini,


Setelah ia bisa tidur sendiri, akhirnya kasur Adek pindah lagi ke kamar Anak-anak. Diposisikan cukup dekat dengan Kakaknya, agar terbiasa tidur di kamar yang berbeda. 

Ramadhan hampir berakhir. Menghadapi Idul Fitri, rasanya sedih nggak bisa mudik dan ketemu orangtua. Tapi ya tabah saja. Agak aneh karena tahun-tahun sebelumnya justru harus tabah menghadapi kemacetan di jalan. Ini juga pertama kalinya berlebaran tanpa mikirin harus beli baju baru atau pakai baju apa.
Di masa menjelang lebaran, justru menyenangkan karena bisa berkirim makanan kepada teman-teman dekat dan sebaliknya mendapat kiriman yang ga disangka. Alhamdulillah. Ternyata meski jauh dari rumah, kami masih bisa merasakan kehangatan dan kebersamaan walapun enggak secara fisik bertemu.

Masalah makanan lebaran, sudah tertangani dengan baik oleh tetangga kami yang punya katering. Jadi saya nggak terlalu dibikin pusing dengan bagaimana caranya membuat ketupat 😂.
Sehari sebelum Idul Fitri, seperti yang biasa dilakukan banyak orang, kami melakukan deep cleaning, membersihkan seluruh rumah. Agar lebaran terasa lebih bersemangat, dan pagi-pagi rumah sudah rapi nggak perlu bersih-bersih lagi. Menjelang jam 9 malam baru beres. Capek juga, jadi kami istirahat dulu sambil dengerin takbiran di luar.

Mematikan lampu, membuka semua jendela sambil liatin langit malam dan dengerin takbiran.  Rasanya agak asing. Ini pertama kalinya kami berlebaran di rumah sendiri. Biasanya berlebaran entah di rumah orang tua saya atau orang tua Hubby. 



Akhirnya Idul Fitri tiba. Aira saya tawarkan pakai dress biar terasa lebarannya, tapi nggak mau. Katanya kalau di rumah enakan pakai celana panjang. Jadi ya sudah, semua orang nge-jeans saja. 

Kami shalat Ied di ruang tamu. Pertama kalinya Hubby jadi imam shalat ied. Dan mungkin pengalaman pertama buat banyak suami di dunia. Kami foto-foto sebentar memakai tripod, untuk mengabadikan cerita ini. 


Setelah shalat Ied kami makan ketupat. Lalu video call sama keluarga di Tasik dan keluarga di Bandung. Tengah hari agenda lebaran sudah selesai. Malah di hari kedua lebaran kami semua bisa tidur siang 😂. But still interesting, karena ini pertama kalinya lebaran nggak pulang. 

Hari-hari berikutnya dihiasi beberapa zoom meeting dengan lingkaran-lingkaran pertemanan yang dekat. Sungguh aneh sebenarnya, di masa bisa kita susah banget mengatur jadwal bertemu. Tapi justru di masa pandemi gini malah bisa mudah bertemu walaupun cuma lewat internet. Hahahaha.

Bocil pernah bilang begini,”Kalau disuruh pilih, Aira kepingin balik lagi ke saat sebelum korona. Supaya bebas seperti dulu.” 
Tapi justru saya bilang,”Kalau Mama, disuruh pilih pun lebih pilih masa sekarang. Karena kalau balik ke masa itu, waktu akan terus berjalan ke masa sekarang, yang berati kita bakal ngalamin pasa pandemi ini lagi. Malah pandeminya jadi ngalamin dua kali. Lebih baik kita jalani saja masa sekarang, dan berharap kita segera bertemu dengan ujungnya, di mana pandemi bisa berakhir.”

Enggak ada yang bisa kita lakukan untuk kembali ‘normal’ seperti dulu. Lebih baik mengubah sudut pandang, dan melihat apa yang bisa kita lakukan di saat-saat ini. Looking back ke awal masa pandemi, saya malah merasa waktu saya lebih berharga sekarang. 

Keadaan ini pasti akan berpengaruh pada mental siapa pun, termasuk saya. Tapi saya pikir ini memang fase yang harus dilalui. Saya rasanya nggak akan seberani itu menghadapi diri saya sendiri kalau nggak ada pandemi. Untuk itu saya bersyukur sekali. Masya Allah. Selalu ada hikmah di balik segala kejadian. Semoga kita sehat-sehat selalu, ya :).

Wassalaamualaikum.

Rabu, 24 Juni 2020

Honest Review: Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05




Assalaamualaikum.
Kali ini saya mau review Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05. Ini judulnya pake ‘honest review’ nggak berarti kalo saya review itu ngga honest ya. Tapi biar click bait aja. Wkwkwk. Dan ini bukan sponsored post salah satu merk apa pun.

Saya lumayan mendapat banyak pertanyaan mengenai vacuum stick ini di instagram. Saya juga sempat bikin polling, dan ternyata banyak juga yang pingin tahu reviewnya gimana. FYI, saya sudah memakai vacuum cleaner stick kurumi ini selama sekitar 8 minggu atau hampir 2 bulan.

Saya termasuk ibu-ibu yang sangat merasa terbantu dengan adanya vacuum cleaner.  Banyak yang menanyakan sama saya, kalau sudah vacuum lantai, apa sudah nggak perlu dipel? Lalu apa bedanya dengan menyapu biasa?

Pada prakteknya, sebenarnya vacuum cleaner menggantikan peran menyapu. Yaitu menyingkirkan debu tapi tidak menggantikan proses mengepel. Bedanya, lantai yang divacuum biasanya lebih bersih daripada lantai yang disapu. Beneran deh, rasanya beda di telapak kaki kita saat menginjak lantai yang disapu dan di-vacuum. Karena proses menyapu biasanya membuat debu terbang dan berulang kali kembali ke lantai. Proses menyapu juga membuat arah menyapu harus mengikuti arah tertentu hingga keluar ruangan, dan keluar rumah. Sehingga biasanya memakan waktu lebih lama.

Sementara mem-vacuum atau menyedot debu di lantai, prosesnya langsung menyingkirkan debu dari lantai begitu saja. Yah, nggak hanya debu sih, tapi juga rambut-rambut, sisa makanan, dan kotoran yang sifatnya serpihan-serpihan. Jadi tentu hasilnya lebih bersih daripada menyapu. Seringkali, dengan mem-vacuum lantai saya jadi nggak perlu mengepel setiap hari banget. Bisa 2 atau bahkan 3 hari sekali, tergantung kondisi lantainya. Tapi kalau memang lagi kotor karena anak-anak main, atau lantai dapur, ya mau ga mau harus dipel juga.

Vacuum cleaner stick Kurumi KV05 ini adalah vacuum cleaner ke tiga yang saya miliki selain Electrolux Ergorapido dan Hand Vacuum Cleaner Zuupermum. Electrolux Ergorapido pernah saya review di post instagram saya di bawah ini. Sementara hand vacuum cleaner Zuupermum pernah saya review di sini.



Sudah punya vacuum cleaner cordless dan hand vacuum, ngapain beli lagi?

Sebenarnya si Kurumi bukan barang yang kami rencanakan buat dibeli. Hubby beliin saya Kurumi karena suatu hari tiba-tiba si Ergorapido ngadat ga mau nyala. Padahal saat itu kalau nggak salah sudah mau masuk bulan puasa. Kayaknya semua Mamak-Mamak tahu ya, bulan Ramadhan biasanya merupakan bulan terhectic buat Mamak-Mamak sepanjang tahun.

Hubby tahu banget saya nggak bisa bebersih tanpa vacuum cleaner, alat ini sangat memudahkan hidup karena bisa membersihkan dalam waktu jauh lebih singkat dibanding pakai sapu. Karena saya sempat stress saat pindah kembali ke rumah yang luasan lantainya nambah jadi dua kali lipat. Jadi saat si ergorapido ngadat, dan ternyata waktu servisnya makan waktu sekitar 2 minggu (dari sejak nelpon service center sampai servis selesai), ia langsung nawarin beliin vacuum cleaner baru buat cadangan kalau-kalau kejadian seperti ini terjadi lagi nanti. Saya nggak bisa ngebayangin ngelewatin bulan Ramadhan tanpa adanya vacuum cleaner. Mungkin saya bakal stress lagi 😁.

Setelah pilih-pilih, akhirnya pilihan saya jatuh ke Kurumi KV05. Pertimbangannya, Kurumi daya isapnya kuat, bentuknya stick kayak model Dyson kalo di luar negeri itu. Harganya hanya setengah dari harga Ergorapido atau Philips. Pikir saya, kalaupun sampe ngadat, seenggaknya harganya ga bikin nyesek banget. Hahaha.

Ini dia penampakan Kurumi KV05,


Awalnya ragu beli ini karena kayaknya Kurumi baru launch produk ini sekitar Desember 2019 di Indonesia. Buat yang belum tahu, Kurumi KV05 ini vacuum cleaner stick cordless (tanpa kabel) pertama dari Kurumi. Jadi wajar yah sedikit ragu.

Kalau diperhatikan, sebenarnya berat Kurumi ini nggak jauh sama Ergorapido, yaitu sekitar 2 kg. Cuma bedanya, Ergorapido bagian yang beratnya (motor dan tabung penampung) ada di bawah di dekat brush-nya, sementara pada Kurumi bagian yang beratnya ini ada di bagian atas yaitu di bagian pegangannya. 

Ini kerasa banget di awal pemakaian perbedaannya, karena saya terbiasa memakai Ergorapido yang pegangannya ringan dan bawahnya berat. Jadi rasanya kok kebalik, berat di pegangan, tapi terlalu ringan di bagian brush-nya. Tapi ini kayaknya hanya masalah kebiasaan sih. Lama-lama saya jadi terbiasa sama Kurumi, dan mengontrol ujung brushnya juga nggak masalah. Malah belakangan saya jadi lebih sering pake si Kurumi.

Desainnya yang kurus panjang memudahkan banget buat bersihin kolong-kolong kasur dan sofa. Sebelumnya pake ergorapido biasanya bagian bawahnya vacuum suka kejedot gitu sama furnitur, jadi nggak bisa sampe bener-bener masuk ke kolong furnitur yang tingginya nanggung. Sementara Kurumi bisa masuk dengan lebih leluasa. Desainnya yang panjang ini juga cukup memudahkan sih buat mencapai langit-langit rumah yang biasanya suka berdebu dan ada sarang laba-laba. Tinggal lepas aja ujungnya ini, terus ganti sama brush extension lain yang panjang. 


Kalau butuh bersihin permukaan yang justru harus pakai stick pendek, stick panjangnya juga bisa dilepas lagi dengan mudah. Tinggal ganti saja brush extension-nya dengan model yang lain.



Brush extension untuk karpet, sofa,
atau tempat tinggi yang agak sulit dijangkau.
Yang putih itu filter washable cadangan.

Nah, ini bagian atas dari Vacuum. Di sini adalah letak pegangan, motor, tempat charge, sekaligus tabung penampung debu dan filternya.

Keliatan ya itu debu-debunya di dalam tabung penampung debu.

Saya juga awalnya kurang nyaman dengan penempatan tabung penampung debu di atas situ yang saat dilepas, kita harus beneran pegang sticknya dengan baik supaya debu nggak terbang kemana-mana. Cara ngebuang debunya sih mudah, cuma ribet karena stick-nya yang panjang itu harus dibawa-bawa. Mungkin emang lebih baik dilepas aja kepala bagian atasnya itu dari stick kalo pas buang debu.

Satu lagi yang kurang praktis, vacuum cleanernya harus digantung di gantungan gini. Jadi dia nggak bisa berdiri sendiri. Gantungannya harus di-mount di dinding supaya kuat.


Saat saya di lantai bawah, biasanya vacuumnya saya taruh aja di keranjang gini biar ga jatuh. Hehehe.


Mekanisme chargingnya juga nggak otomatis di dudukannya, tapi harus dicolok seperti gadget. Jadi ya jangan sampe lupa nyolok. Kalau enggak, resikonya besok nggak bisa vacuum. Atau vacuumnya keburu mati sebelum kerjaan beres.


Nah, ternyata setelah 2 bulanan ini dibandingin sama vacuum pertama saya si Ergorapido, Kurumi nggak kalah performance-nya. Bahkan dalam hal waktu pemakaian setelah fully charged (baterai penuh), saya seringkali merasa Kurumi lebih lama waktu pemakaiannya. 

Walaupun di beberapa hal terasa kekurangannya Kurumi secara praktis. Seperti tidak bisa berdiri sendiri, atau nge-chargenya harus selalu dicolok nggak bisa otomatis nge-charge di stand-nya, atau posisi tabung penampungan di bagian atas. Saya pikir ini semacam pembiasaan saja.

Di sisi lain, Kurumi juga punya kelebihan. Dari segi bentuknya yang panjang sehingga bisa lebih leluasa masuk ke kolong furnitur, daya isap yang kuat, serta waktu pemakaian yang terbilang cukup lama. 

Dengan Kurumi saya bisa vacuum lantai 1 dan lantai 2 dalam tempo yang santai. Dan beberapa kali saya lupa nyolok chargernya, Kurumi masih bisa dipakai esoknya dengan sisa baterai yang tersisa walaupun biasanya akan kehabisan waktu di tengah-tengah. Tapi buat saya itu berarti waktu pemakaian yang lebih panjang. Oiya, kelebihan lain lagi, Kurumi harganya cukup terjangkau. Saya beli 2 bulan lalu harganya sekitar Rp1.700.000,00. 

Pada akhirnya, it’s all about functionality, dan buat saya produk ini bagus. Tapi disclaimer ya, mengenai keawetannya saya belum bisa buktikan apa-apa, karena saya sendiri baru pakai 2 bulanan. 


Itu dia review Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05. Semoga bermanfaat ya :).
Wassalaamualaikum.

Kamis, 18 Juni 2020

Forest Walk di Cimory Riverside (2020)


Assalaamualaikum,
Kalau dihitung-hitung hampir 3 bulan kami #dirumahaja . Well, kecuali suami yang sejak #newnormal harus Work from Office (WFO) 3 hari seminggu. Kangen juga ya liat jalanan. Ternyata rasa aman dan kebebasan itu nikmat yang sering ga disyukuri. Btw, hari ini saya mau nulis tentang  Resto Cimory Riverside, Puncak, yang sempat kami datangi sebelum pandemi mulai. 

Sebenarnya saya sudah nulis beberapa kali mengenai Cimory. Dari jaman Aira masih toddler, sampai jamannya udah ada riverside walk, sampai awal tahun 2020 ke sana ternyata sudah ada forest walk. Kalau mau lihat post Cimory tahun 2013 boleh klik di sini. Dan kalau mau lihat post Cimory tahun 2016 boleh klik di sini ya. Nanti kelihatan bedanya.

Ngomongin Cimory nggak bisa lepas dari cerita sekitar tahun 2008 di hidup saya. Saat stay di Puncak    selama sekitar 4 bulan sebagai bagian dari program Management Trainee salah satu bank. Itulah pertama kali saya tahu resto Cimory Mountain View. Resto Cimory yang pemandangannya mengarah ke gunung. Maklum dulu kan tinggalnya di luar kota, ga pernah main ke Puncak. Walopun yang namanya fresh graduate, duitnya ga banyak. Hahahaha. Ke Cimory cuma mau beli susu dan yoghurt. Kalau pas makan, ya karena ditraktir pacar 😂. Makanya selalu ingat masa-masa awal saya tinggal di Jakarta kalau main ke Puncak. Kemudian muncul resto Cimory yang yang ada Riverside walk-nya dengan pemandangan ke sungai. Dan tahun ini saya baru tahu kalau ternyata sekarang udah ada forest walk. 

Kalau dulu ke riverside-nya ga perlu bayar, sekarang ya ga mungkin karena riverside-nya nyambung sama Forest Walk. Masuknya bayar, Rp 15.000 per orang, dapat voucher 1 mini yoghurt buat ditukarkan. Di  foto di bawah ini bisa diliat ya, kalo dulu dari sini ke kiri langsung riverside walk. Sekarang sudah ada jembatan besar yang melintasi sungai. Cocok deh buat foto-foto. Cuma ya susah foto-foto di sini karena ramai. Kami bisa sedikit curi foto karena resto-nya baru buka. Oiya, forest walk ini baru buka sekitar jam 9.00 pagi ya. 

Dulu setelah tangga ini, ke kiri langsung area riverside buat jalan-jalan. Sekarang ada jembatan yang bisa kita lintasi ke seberang sungai.
Dulu setelah tangga ini, ke kiri langsung area riverside buat jalan-jalan.
Sekarang ada jembatan yang bisa kita lintasi ke seberang sungai.


Beruntung masih pagi, jadi bisa foto gini di jembatan.
Itu pun kami harus menunggu pengunjung lain lewat dulu.
Dan masih ada orang di belakang kita yang masuk frame 😅.




Setelah melewati jembatan, kita langsung disambut oleh berbagai kandang binatang Yang dibiarkan terbuka. Semacam mini zoo di tengah hutan. Ada burung-burung, monyet, angsa, domba, kuda, dan tentu saja sapi-sapi yang penghasil susu yang warna bulunya hitam putih seperti di label yoghurt Cimory.

Kandang sapi.

Sapinya lucu ya bulunya hitam putih gini.

Ini kolam dengan banyak angsa.



Anak-anak lumayan happy, bisa liat macam-macam binatang.

Rusa.

Bisa naik kuda poni juga. Tapi bocil nggak mau 😅.

Ini kandang-kandang binatang kecil yang berjejer rapi. Anak-anak seneng deh liat ini.
Oiya, bisa feeding juga ya dengan membeli wortel buat binatang-binatang ini.


Domba.


Kuda poni.


Sebenarnya ada juga ular sanca yang besar sekali. Tapi karena waktu itu lagi musim ular di mana-mana, dan baru beberapa hari sebelumnya ditemukan ular sepanjang 3 meter di selokan salah satu pojok cluster kami, saya malas mendekati ular. Nyium bau amisnya aja kayak bergidik gitu. Hahaha. 

Lepas mini zoo, kita akan bertemu dengan jembatan yang lebih kecil, yang menyambungkan kita kembali ke area riverside walk khas Cimory.



Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 10 pagi. Jadi hitungannya sarapan sekalian makan siang, alias brunch. Kalau ke Puncak, kami memang selalu memilih pergi pagi agar bisa Brunch. Selain udaranya segar, juga belum terlalu macet dan bisa lebih leluasa menikmati suasana. Maklumlah, tempat begini di Puncak selalu dipenuhi orang. Saya kurang suka berdesakan. Rasanya ribet. Mau ke toilet saja bisa lama antrinya. Hahaha.


Bocil asyik gambar sambil nunggu makanan datang.

Kalau memperhatikan makanan yang kami pesan di post beberapa tahun lalu saat ke sini, ternyata menu makanan yang kami pesan sama aja. Hahaha.






Bedanya, kali ini rasanya enggak seenak dulu. Padahal seingat saya nasi ayam cabe ijonya enak banget. Kali ini kami juga nggak beli yoghurt dan makanan lain. Soalnya sekarang yoghurt cimory udah bisa dibeli di minimarket depan perumahan. 

Kesimpulannya, main-main ke Cimory masih cukup menyenangkan karena anak-anak suka banget liat mini zoo. Spot-spotnya juga cakep buat foto-foto. Tapi kalau makanannya entah kenapa hari itu biasa saja. Hahaha. Tapi kalau korona berlalu, ya pingin juga sih brunch lagi di sini.

Wassalaamualaikum.

Rabu, 10 Juni 2020

Food Preparation dan Seni Mengatur Budget

Assalaamualaikum.



Hari ini saya mau cerita tentang food preparation. Saya merasa ini timing yang tepat buat bercerita karena di masa pandemi ini semua orang tentu harus melakukan food preparation. 
Food prep yang memudahkan saya menyiapkan makanan selama bulan Ramadhan lalu, serta menyiapkan bekal makan siang untuk Hubby saat harus Work From Office (WFO) agar di kantor ia bisa physical distancing.

Food prep ini sebenarnya blessing in disguise buat saya. I learned it the hard way, lewat pengalaman saya tahun lalu. Saat anak-anak bergiliran sakit bahkan sempat dirawat di RS. 

Si kakak sakit hingga 14 harian, disambung si adek yang sakit 5 mingguan atau sebulan lebih. Yah, mungkin kebayang ya rasanya gimana ngejagain anak sakit, plus ga ada ART, plus masih jadi supir antar jemput, dan hampir setiap malam sulit tidur karena si adek di masa itu rewelnya luar biasa. Dua bulan rasanya hidup kayak zombie. Masih hidup aja rasanya sudah untung.

Di kehidupan kami yang normal, saya nggak pernah terlalu mikirin makan apa. Karena kalau ga sempat masak saya bisa beli. Tapi saat anak sakit, mau ga mau harus masak di rumah terus. Karena rata-rata anak-anak itu sakit kalau nggak karena virus ya karena bakteri. Saat itu anak-anak saya, setelah cek darah, diketahui sakit demam karena ulah bakteri yang menjadi penyebab radang, dan pada akhirnya jadi penyebab demam. Jadi ya kemungkinan besar penyebabnya dari makanan. Mau ga mau saya harus masak tiap hari di rumah. Sejujurnya saya nggak tau bagaimana saya bisa melewati fase ini. Tapi saya ingat semua membaik saat pola pikir saya sama makanan berubah. Gara-gara kata-kata dokter saat periksa si adek setelah sekian kalinya. FYI, pada masa anak-anak sakit ini, kami bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali ke rumah sakit. Entah cek darah lah, dirawatlah, diuaplah, panas ga turun-turunlah, cek air seni, baca hasil lab, dlsb. Yah, pokonya cape lahir batin T_T.

Saat itu kami udah ganti dokter ke dua kalinya karena kami butuh second opinion. Well, technically, ini dokter ke empat, karena ada dokter yang kami pertama datangi karena saat itu emang keadaannya lagi darurat. Dan ada dokter ke tiga yang memang lagi available saat darurat juga. Rumit ya? Memang 😅.

Yang pasti di dokter terakhir ini, dr Huda Hilman di Hermina Depok, ia beberapa kali meminta si adek tes darah dan air seni. Karena setiap antibiotiknya habis, si adek pasti demam lagi. Dari beberapa kali ketemu, dokter ngasi resep antibiotik, dan ia saat itu bener-bener khawatir sama berat badannya si adek yang turun terus. Ia curiga bocil kekurangan zat besi karena susah makan. Sehingga imunitasnya turun terus. Jadi tiap mau sembuh, gampang demam lagi. Saya lupa dokter ngomong apa. Yang pasti kayaknya beliau ga mau tau, pokonya si bocil kudu mau makan dan berat badannya harus naik.

Saya yang secara fisik dan mental udah lelah banget waktu itu, akhirnya sampai di titik merasa ga boleh nyerah. Kayaknya cuma Allah dan suami saya yang tahu gimana lelahnya saya waktu itu. Tapi kemudian saya jadi mikir, kalo kayak gini terus, kapan anak gue bisa sembuh? Kapan gue bisa tidur dengan tenang?

Si adek saat itu susah banget disuruh makan. Minum susu UHT pun ga banyak. Maunya mimi terus sepanjang hari. Mungkin karena badannya ga nyaman. Dikasih mie aja anaknya nggak mau. Saya jadinya tambah sedih dan bingung. Ngebayangin kalo sampe gini terus, bisa masuk RS lagi. Sampai suatu kali, saya inget saya bikin brownies kukus Haan kesukaan si kakak. 

Saya coba suapin si adek brownies hangat yang baru matang itu. Alhamdulillah setelah hampir 5 mingguan makannya nggak bener, dia habiskan lumayan banyak. Saya sampe pengen nangis kalo inget. Whateverlah orang mau ngomong apa kek kuenya banyak gula apa kek terserah. Tapi brownies itu mengawali hari-hari si adek makan lebih banyak. Ngasih saya semangat biar si adek makan lebih banyak. Sampai sekitar dua minggu berikutnya saya masih nyetok brownies dan membuatnya dalam batch yang lebih kecil. 

Saya juga lebih bersabar lagi menyuapi si adek makan. Berangsur-angsur kesehatannya pulih. Berat badannya pun naik. Alhamdulillah. Setelah antibiotik terakhir habis, demamnya gapernah datang lagi. Masya Allah. 

Saat itulah saya menyadari ternyata memasak itu penting buat kesehatan anak-anak, yang pada akhirnya juga penting buat kesehatan saya. Seribet apa pun, I need to work it out. I need to find a way to speed things up. Bagaimana saya bisa masak tapi nggak menghabiskan waktu sehingga sempat untuk dilakukan setiap hari.

Akhirnya saya mulai kepikiran bikin food preparation. Saya cari-cari share dan cerita orang yang sudah melakukan food prep dan mencari tahu apakah akan mendukung goals saya. Saya cari di berbagai sumber, terutama di Youtube.

Yang menarik, sering saya menemukan food preparation di youtube di Indonesia, dihubungkan dengan mengatur keuangan dan budgeting, juga cara penyimpanan sayuran agar lebih awet. Sementara di luar Indonesia, food prep biasanya dihubungkan dengan gaya hidup sehat, diet, dan minimalism.


Pola masak dan makan orang Indonesia dan orang di luar Indonesia berbeda. Jadi kalau diperhatikan, orang luar biasanya melakukan meal prep / food prep per meal yang utuh, atau tinggal mix and match. Semua dibuat untuk satu minggu lalu disimpan di kulkas. Saat mereka membutuhkannya, mereka hanya tinggal memanaskannya saja atau menambahkan saus atau rasa yang lain. 

Sementara, di Indonesia, rata-rata food preparation dihiasi dengan bumbu putih, bumbu kuning, baceman bawang, dan biasanya menghindari membersihkan sayur karena bisa membuatnya cepat layu. Apalagi bawang-bawangan, rata-rata penyimpanannya di udara luar dan tidak dicuci karena bisa mempercepat pembusukan.

Berbeda sekali ya?

Well, saya mencoba menerapkan food prep ala barat untuk beberapa hari, karena cocok dengan goals saya menyediakan masakan dalam waktu yang lebih singkat. Tapi ternyata kurang cocok karena cara memasak, dan hidangan sehari-hari kami di rumah dan masakan ala orang barat berbeda. Tapi ada beberapa hal yang saya pelajari dari food prep ala barat ini, salah satunya menyiapkan seluruh bahan sudah benar-benar siap diolah.

Semua sayuran sudah dikupas, dipotong, disiangi. Daging dipisahkan sesuai perkiraan porsi memasak. Bawang-bawangan minimal sudah dikupas. Agar pada saatnya saya mau masak, saya tinggal iris atau blender saja. Agak berbeda dengan penyimpanan rata-rata orang di Indonesia di Youtube yang biasanya sayuran tidak dicuci dahulu karena menghindari pembusukan. Mengenai ini, mungkin nanti akan saya share lebih banyak di post yang lain ya.

Saya harus menekankan tujuan utama food prep saya adalah: Menyediakan makanan sehat di rumah namun menghemat waktu, memperpendek waktu memasak. Tujuan food prep saya bukan untuk berhemat atau diet. Tapi saya akan menjelaskan bagaimana nanti food prep akan berhubungan dengan mengatur budget.


Food Prep mengeliminasi waktu berbelanja.
Saya mengelola rumah tanpa ART dengan 2 anak, dan mengantar-jemput sekolah sendiri. Berbelanja setiap hari, buat saya, menghabiskan waktu. Walaupun mungkin hanya setengah atau satu jam. Saya tidak punya waktu pergi ke tukang sayur setiap hari, atau menunggu sayur diantarkan ke rumah. Saya perlu bahan makanan sudah ada di rumah kapan pun saya punya waktu untuk mengolahnya. Berbelanja satu kali dalam seminggu, membuat saya bisa menyimpan waktu beberapa jam untuk diri saya sendiri.

Food Prep menghemat waktu saya di rumah.
Saya hanya menyediakan satu hari untuk membereskan semua bahan makanan agar semua siap diolah pada waktunya. Itu artinya, semua sayuran dan daging saya bersihkan terlebih dulu. Saya usahakan semua bahan siap diolah pada waktunya.


As good as it seen. As neat as it seems. Kenyataannya tentu saja nggak semudah itu 😁. Food prep membutuhkan konsistensi untuk benar-benar menghasilkan dampak di hidup kita. Musuhnya adalah kemalasan untuk merapikan semua bahan itu, dan kreatifitas atau mood kita masak di hari tersebut. Iya, ada saat kita nggak mood aja masak bahan yang sudah kita beli. Atau tiba-tiba pingin masak makanan lain yang nggak ada di food prep. 

Kalau kamu tipe orang yang pingin kreatifitas memasaknya nggak terganggu, food prep ngga cocok buat kamu. Karena kalo dipaksain, kemungkinan bahan makanan mubadzirnya besar. Percuma kan kita belanja tapi semuanya nggak termasak. Nah, kalo udah gini, yang ada food prep malah jadi boros. Wkwkwk. 



Setelah melakukan food prep selama sekitar 6-7 bulan, ada beberapa tips yang mungkin bakal berguna.

1. Kontrol dan konsisten.
Ide awal dari food prep adalah mengontrol dan memudahkan hidup kita. Buat saya, gunanya untuk mengontrol dan mengendalikan pemanfaatan waktu. Untuk orang lain, mungkin untuk mengontrol pengeluaran atau mengatur makanan sehat (diet). Apapun itu, cobalah untuk konsisten melakukannya sehingga tujuanmu bisa tercapai.

2. Tetapkan jangka waktu yang masuk akal untukmu.
Food prep seharusnya bisa memudahkan hidup kita. Tetapkan jangka waktu yang sesuai buat kamu. Saya biasanya menyiapkan preparation untuk 5-7 hari. Lebih dari itu, saya nggak bisa. Ini jangka waktu yang cukup buat saya memikirkan menu dan lebih dari itu biasanya malah mubadzir karena menunya jadi ngereka-reka sendiri.


3. Tetapkan budget yang masuk akal buat kamu.
Ini mungkin bisa menjadi perdebatan. Tapi menurut saya, melakukan food preparation belum tentu bisa bikin kita berhemat. Jumlah belanja saya saat food prep dan tidak food prep adalah sama saja. Tidak ada yang berubah. Karena food prep dilakukan sesuai dengan pola konsumsi kita sendiri. Kalau biasa banyak menu daging-dagingan premium, atau ayam negeri, atau ayam kampung, saat food prep juga tentu akan melakukan hal yang sama. Malah bisa jadi budget boncos gara-gara beli banyak buat prep tapi ga konsisten masaknya, malah bikin bahan makanan bisa mubadzir/busuk dan jadi boros. Ini saya ngalamin sendiri 😁.

Bukan apa-apa. Saat mulai food prep kadang kita terlalu bersemangat dan nggak bisa ngukur jumlah makanan yang cukup buat seminggu. Jadinya banyak bahan makanan yang dibeli. Ini juga yang bikin budget boncos.

Jadi bagaimana?
Menurut saya, yang paling benar adalah tetapkan budget yang memang sesuai sama pola konsumsi di keluarga kita. Boleh diketatkan sedikit, tapi harus dalam jumlah yang realistis. Jangan halu (halusinasi), kalau kata anak sekarang. Karena kalau budgetnya terlalu dibikin kecil hanya karena ingin berhemat, tujuanmu pada akhirnya nggak akan tercapai dengan baik. Entah kamu akan nambah belanja di tengah minggu, atau kamu akan menderita.  Jujurlah pada diri sendiri saat bikin budget.

That’s just the nature of money. It cannot lie. Kita ambil di sini segini ya pasti di sana sisa segitu. Kita taruh budget yang halu, ya nanti hasilnya juga halu. Apa gunanya mengatur budget kalau kita nggak jujur sama diri sendiri? Budget kita nggak akan pernah teratur kalau kita nggak jujur sama diri sendiri.

Lalu kenapa saya ngasih judul post ini food preparation dan seni mengatur budget? 

Karena food preparation memang bisa bantu kita ngatur budget, bukan berhemat. Ini sangat berbeda. 

Kita bisa menentukan budget makan kita selama jangka waktu tertentu, agar tidak bisa melebihi budget tersebut. Kita jadi lebih jujur kepada diri kita sendiri, berapa sih sebenarnya yang dibutuhkan keluarga kita buat makan? Yang pada akhirnya akan membawa kita kepada perencanaan budget rumah tangga setiap bulan. 

In my humble opinioin, soal budgeting food preparation ini tidak boleh ada angka halu seakan kita mau berhemat. Karena kalau angkanya terlalu kecil, kita sendiri yang bakal susah menetapkan budget bulanan. Yang pada akhirnya, angka yang kita dapatkan jadi nggak realistis.

Percayalah, dalam menentukan budget, kamu harus punya sedikit elastisitas sehingga pembengkakan budget bisa diukur sampai angka tertentu. Tetapkan budget yang cukup. Kalau mau taat budget, ya jangan belanja lebih dari budget telah kamu tetapkan itu. Lebih bagus lagi kalau ada sisa, jadi bisa disimpan atau dipakai buat kebutuhan lain. Nah, kalo itu, baru namanya berhemat.

Bagaimana kalau mau bikin food peparation untuk berhemat?
Ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Tapi butuh waktu. Jika memang mau membuat food preparation untuk berhemat, saran saya, lihat dulu pola makanan yang biasanya kita makan dan hitung dengan jujur. Setelah tahu polanya, kita bisa membuat pola yang baru dengan metode trial and error. Akan butuh waktu dan penyesuaian sampai benar-benar bisa menemukan pola food preparation yang baru untuk berhemat. Karena berhemat dengan cara ini, berarti kita harus mengubah pola makan kita dan seluruh keluarga. Tapi tentu saja ini bisa dilakukan. Lagi-lagi kuncinya, konsisten.

Satu hal lagi. 
Food preparation erat kaitannya dengan kebiasaan makan setiap keluarga. Jika memang ingin mengatur budget, sebaiknya memperhatikan pola konsumsi makan kita di luar rumah. Misalnya seperti saya, saya tahu saya punya kebiasaan makan di luar, atau sekarang jadinya order makan online di weekend, sekitar satu sampai tiga kali seminggu. 
Entah dari grup Whatsapp cluster karena ada yang menawarkan makanan enak, atau anak-anak yang pengen makan pizza. Dengan mengetahui pola makan ini, saya harus mengatur food prep agar tidak mubadzir. Jadi biasanya saya hitung persiapan sayuran untuk 5 hari (weekday) dan sisanya protein karena lebih awet dan lebih mudah diolah jika saat weekend ternyata saya memutuskan masak di rumah saja.

Dari semua hal yang saya ceritakan tadi, hal yang paling menyenangkan dari food preparation adalah saat melihat semua bahan makanan berjejer rapi dan bersih. Kulkas pun penampakannya bikin gembira.




Kalau sudah rapi, I have clear ideas mengenai apa yang akan saya masak dalam satu minggu ke depan. Pikiran saya lebih terorganisasi. Saya pun lebih tenang. Saya tahu seminggu ke depan saya bakal punya cukup banyak waktu luang untuk diri saya sendiri. Saya percaya diri bisa menyajikan makanan yang baik. Dan tentu saja bujet lebih terkendali.

Ada banyak hal lagi tentang food prep yang pingin saya ceritakan. Tapi mungkin nanti ya, karena tulisannya sudah terlalu panjang. 

Wassalaamualaikum :).



Sabtu, 06 Juni 2020

Make-Up Review : Emina Creamy Tint


Assalaamualaikum,

Semasa #dirumahaja ini bisa dihitung jari rasanya dandan. Boro-boro dandan lengkap, pakai pensil alis aja kalau mau zoom meeting. Hanya saja, belakangan jadi lebih sering pakai skincare. Dan karena jarang keluar, kulit wajah sekarang lebih cepat membaik kalau ada jerawat.

Baru belakangan ini bisa pakai lipen lagi kalau mau zoom meeting atau bikin konten. Bedanya dulu malas banget, sekarang malah happy kalau ada alasan buat dandan. Jadi, mumpung lagi semangat, hari ini saya mau review lipen Creamy Tint dari Emina. Ini dia penampakannya,


Creamy tint ini sebenarnya ada 5 shades, tapi saya cuma beli 4 shades, dari nomor 02-05. Simply karena shade 01 itu warna brick town, dan saya kurang suka sama warna brick karena wajah saya jadi keliatan pucat atau gelap kalau pakai warna ini. Walaupun saya sadar warna ini banyak yang suka :).

So, ini dia shades 02 Peach Crush, 03 Sunbeam, 04 Wild Berry, dan 05 Cherry Soda.



Botolnya kecil ya? Isinya memang cuma 3.5 gram. Tapi harganya pun ramah di kantong. Hanya sekitar Rp 44.000. Affordable buat segmen remaja yang mungkin ga pakai lipstik tiap hari dan senang mencoba banyak hal. 

Karena botolnya kecil, maka aplikatornya pun pendek seperti ini.


Saya nggak ada masalah dengan aplikatornya yang pendek. Ujungnya seperti ada lubang, tapi justru aplikasinya jadi lebih mudah merata daripada wand yang tanpa lubang. Berikut swatch-nya di tangan.


Peach Crush
Seperti namanya, warnanya natural tapi ada hint peach. Gabungan warna cokelat muda dan warna peach. Ini warnanya cakep banget.

Sunbeam
Warnanya orange yang natural banget. Warna ini yang aku pakai di foto paling bawah di tulisan ini. Warna ini cocok buat yang punya warna kulit agak kuning. Cocok dipakai buat pengganti blush dan sebagai lip tint. Cerah seketika kalau dioles tipis di bibir.

Wild Berry
Ini warna fuschia yang ngejreng. Kulit saya yang agak kuning kurang cocok pakai warna ini. Kecuali saya pakai make up lengkap dengan foundation dan lain-lain. Kalau memang lagi mau bold ini kece juga sih. Tapi saya orangnya jarang pengen menonjol jadi jarang dipake juga. Hahaha.

Cherry Soda
Ini warna merah tua yang agak orange gitu. Jadi finishnya merah tua tapi bikin muka cerah. Cocok banget dipake saat males pakai makeup tebal tapi pengen keliatan dandan.

Creamy tint ini punya formula yang berada di antara lip cream dan lip tint. Finishnya agak matte seperti lip cream, tapi rasanya tidak kering di bibir yang biasanya muncul di formula lip cream. Seingat saya, formula lipcream biasanya yang kering yang gampang retak sehingga harus pakai lip balm dulu sebelumnya, atau tidak retak tapi bibir rasanya tebal dan susah banget dihapus. 

Di sisi lain, seperti lip tint, jika dipakai tipis-tipis efeknya seperti memakai lip tint yang teksturnya cair itu tapi warnanya lebih solid/cerah. Kita tahu pakai lip tint itu kayaknya warnanya tipis banget dan ga nutup sama sekali, cuma kasih tint aja di bibir. Kalau pakai ini, warnanya lumayan menutup imperfection di bibir sedikit. It’s like your own lip but better.

Karena efeknya ini pula, saya biasanya pakai juga buat di pipi sebagai pengganti blush. Warna Sunbeam yang agak orange paling favorit karena bikin wajah saya keliatan lebih cerah.


Oia, creamy tint ini agak transfer ya tapi nggak semudah lipstik biasa. Kalau nggak makan dan minum lumayan tahan lama. Tapi kalau makan atau minum akan berkurang warnanya sedikit demi sedikit dan harus touch up. Tapi kalau buat saya sih cocok aja, karena saya nggak suka lipstik yang susah dihapus saat mau wudhu. Saya tipikalnya kalau mau wudhu lipstik dan eyeliner saya hapus dulu biar air wudhu kena kulit. Jadi saya malah suka kesel kalau udah wudhu trus lupa hapus lipstik atau lipstiknya susah banget dihapus.

Akhir-akhir ini juga saya lebih suka produk Emina karena entah kenapa, mungkin karena image-nya yang buat remaja, saya jadi lebih nyaman karena berharap formulanya lebih ringan buat kulit. Tapi ini murni asumsi aja ya. Hahaha.


Kesimpulannya? Kalau kamu tipe yang suka lip cream atau lip tint yang warnanya lebih tahan lama, mungkin creamy tint ga akan cocok buat kamu. Tapi kalau kamu tipe yang seperti saya, suka lipstik yang ga bikin kering bibir dan bisa ngasih cerah natural saat dioles tipis-tipis, Emina Creamy Tint ini mungkin cocok. Yang warna Sunbeam malah saya repurchase saat habis karena saking sukanya :).

Wassalaamualaikum.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...