Monday, 23 February 2015

Make-Up Review: PAC Powder Eyeshadow

Assalaamualaikum,

Kali ini saya mau review produk terakhir yang saya dapat PAC dalam acara #BBMeetUp , yaitu PAC Powder Eyeshadow Review.

Ini pertama kalinya saya memiliki powder eyeshadow. Biasanya eyeshadow yang saya beli cuma yang berupa palet saja. Eyeshadow yang saya dapatkan warnanya Chestnut Brown No. 20. 

This is the packaging.

And this is the product.

Kemasannya mirip denga kemasan bedak tabur namun kecil. Bentuknya ini juga didesain supaya bisa disimpan dengan cara disusun stack bersama warna lainnya. Produk ini bisa kita beli satuan atau satu stack berisi 4 warna.

Jika kita buka tutupnya, kita akan menemukan tutup plastik dengan 3 lubang kecil yang menjaga agar powder eyeshadow tidak tumpah kemana-mana. Dan begini penampakannya setelah tutup plastik tersebut dilepas,


Powder Eyeshadow.

Karena jenisnya powder, maka kita harus membuka tutup plastiknya dengan hati-hati. Karena jika terlalu keras maka eyeshadownya bisa tumpah atau terbang kemana-mana. Tapi jika diaplikasikan, ternyata hasilnya pigmented sekali walaupun baru sekali diusap. 


This is how it appears on my arm.

Overall sih saya suka dengan produk ini. Warna chestnut brown ini juga bagus di kulit saya dan hasilnya juga bagus. 

So, that's all for today. Happy Monday, Everyone! :)

Wassalaamualaikum.

Saturday, 21 February 2015

Make-Up Review: PAC Liquid Eyeliner

Assalaamualaikum,

Setelah review lipstik PAC pada post sebelumnya, kali ini saya mau review PAC liquid eyeliner. Ini baru pertama kalinya saya mencoba eyeliner berbentuk liquid. Biasanya saya hanya memakai eyeliner model pensil atau spidol. Dulu saya ragu-ragu mau beli liquid eyeliner karena merasa belum bisa memakainya. Hehehe..

Eyeliner yang saya dapatkan ini warnanya miracle green. A quite stand out color to try actually because I've never tried to use vibrant-colored eyeliner before. So, here is the packaging, 


The ingredients.

And this is the product. A very simple packaging and very easy to grip.

Ini dia ujung kuasnya.

Awalnya saya pikir eyeliner ini akan sulit untuk diaplikasikan, mengingat ini pertama kalinya saya pakai eyeliner liquid. But it turned out that this liquid eyeliner is very easy to use. Kuasnya membentuk dengan baik dan tidak bleber kemana-mana. Yang paling saya senangi, eyeliner ini cepat mengering. Kita hanya tinggal tunggu sekitar satu atau dua menit dan eyeliner pun mengering. 

This is how the color of the eyeliner appears on my hand. 


It has an emerald green color and it has glitters too.

Eyeliner dari PAC ini juga waterproof dan mudah dibersihkan. Dengan digosok ujung jari saja eyeliner yang sudah kering bisa lepas dan menjadi butiran-butiran kecil, jadi setelah berwudu, tidak khawatir terdapat sisa eyeliner di bawah mata. Kita tinggal re-touch lagi saja.

Jika digosok pelan dengan ujung jari, eyeliner yang sudah mengering akan lepas menjadi butiran halus.

Ini hasilnya setelah digosok pelan dengan jari tanpa air. Cukup bersih bukan?
Jika digosok dengan air hasilnya akan lebih bersih :).

Overall, menurut saya produk ini bagus. Menjawab keinginan saya untuk eyeliner yang mudah diaplikasikan dan gampang dibersihkan jika hendak berwudhu. Setelah berwudhu pun sisa eyeliner tidak tampak di sekitar mata jadi enggak kayak mata panda. Saya bisa memilih buat enggak pakai eyeliner lagi atau pun re-touch jika perlu.

Sekian review hari ini. Happy weekend, Girls! :). 

Wassalaamualaikum.



Thursday, 19 February 2015

Make-Up Review: PAC Matte Lipstick

Assalaamualaikum,

Hi, Guys! How are you? Today I want to write a review of PAC Matte lipstick that I got from the cool event I attended called #BBMeetUp  last week. I'm so curious because I haven't bought a matte lipstick again since I found out that the one that I purchased made my lips very dry. 

So this is the lipstick,

I love the matte packaging.

This is the name of the lipstick shade, ML02, Indian Red.

Actually, when I got this lipstick, I expected a more alluring red color. But It turned out that it has a more nude-brown color. Well obviously, I don't really know what Indian red means :P. 

It has a more nude-brown shade.

This is how the color appeared on my arm.

I'm always a big fan of nude-colored lipstick, so I don't really mind when I found out that the lipstick color was not as red as I expected to be. I love the shade on my lips. And what a matte finish! 

You know how some matte lipsticks can turned our lips to dry when we swatch them, but this lipstick felt moist on my lips. It feels very light too and last pretty long. This is how the shade appears on my lips.

I like it :).
Now I'm thinking of buying another shade of this product. Hm, I'm thinking of a more reddish shade. Hahaha... :D.

Wassalaamualaikum.


Saturday, 14 February 2015

Tips Memilih Warna Jilbab yang Cocok untuk Wajah: Mengenali Warm Tone VS Cool Tone

Assalaamualaikum,

Halo! Happy weekend semua! Hari ini saya mau ikutan giveawaynya Tia di blognya. Tantangannya adalah bikin post tentang kita yang memakai jilbab dengan berbagai warna lalu membandingkan apakah kita lebih cocok dengan warna cool tone atau warm tone.

Artikelnya Tia sendiri, kamu bisa baca di sini, ngebuka mata banget deh tentang warna jilbab. Sekarang saya jadi ngeh kenapa saya kalau pake warna abu-abu muda muka saya keliatan kayak sedih atau ga mandi (menurut saya). Apalagi kalau habis wudhu dan di bawah mata ada bekas eyelinernya, perfect :(. Hahahaha..

Seperti Tia, saya pun terbiasa mengambil warna basic seperti cokelat atau abu-abu dari lemari saat mau pakai jilbab. Karena warna cokelat dan abu-abu memang warna netral dan  warnanya cocok banget masuk ke semua baju. Tapi saat bedak mulai meluntur dan keringatan, kok muka saya sering keliatan rada kusam ya. Ihiks. Nah, gegara baca tulisannya Tia tentang Tanda-tanda salah pakai warna jilbab, saya jadi tau jawabannya.


Gambar diambil dari artikel Tia.

Akhirnya saya mulai banding-bandingkan foto-foto saya dengan berbagai warna jilbab. Di bawah ini saya menjejerkan foto saya dengan jilbab warna warm tone di sebelah kiri dan cool tone di sebelah kanan.



Warm Tone vs Cool Tone

Selain saya bisa notice kalau foto saya di awal ngeblog tampak lebih mudaan *hahahahaha... cek keriput dulu di kaca*, saya juga bisa liat ternyata wajah saya lebih bersinar dengan jilbab warna cool tone. Di sebelah kiri, wajah saya terlihat rada kusam dibandingkan dengan sebelah kanan. Padahal saya suka banget warna cokelat dan gradasinya sampai pink pupus. 

Untungnya saya masih bisa pakai warna favorit saya, pink. Hanya saja warna pinknya paling cocok yang lebih bold, bukan pink kecokelatan atau pink pupus. Makasih ya, Tia, buat artikelnya. 

Sekarang saya kayaknya bakal pilih warna cool tone jika saya harus beraktivitas seharian di luar, karena warnanya lebih mendukung. Jilbab warna warm tone saya bisa pakai dengan make up yang lebih terang atau warna lipstik yang lebih segar, tapi tampaknya saya pake kalau aktivitasnya ga sampe seharian. Sehabis shalat biasanya make up udah luntur dan kadang malas untuk touch up lagi :D.

Kalau kamu, bagus pakai jilbab warna apa? Yuk coba bandingkan foto kita dengan berbagai warna jilbab :).

Wassalaamualaikum.

Tuesday, 10 February 2015

Dewi Magazine Randezvous and Trunk Show by Didiet Maulana

Assalaamualaikum,

Kali ini saya mau nulis late post tentang acara yang saya datangi beberapa minggu yang lalu. Sudah agak lama memang acaranya, tapi semangat #letswearlocal -nya saya sangat suka. Yang sudah baca blog ini sudah agak lama mungkin sudah tahu ya saya ini seneng banget sama fashion dan rancangan desainer lokal. Kalau saya bisa dateng ke event yang ada hubungannya sama itu, biasanya saya suka menyempatkan datang atau daftar invitationnya jika perlu. 

Saya cuma seorang blogger. Tapi boleh dong ya punya keinginan buat mendorong fashion Indonesia melalui cara yang saya bisa. Saya bisanya campaign  lewat blog sendiri. Minimal saat orang mengetik keyword di Google tentang fashion Indonesia atau fashion muslim dan mendarat di blog ini, I can tell her/him how great Indonesian fashion is. That, I think, is a great pleasure for me as a citizen and as an Indonesian blogger.

Anyway, saya akan mulai saja ya ceritanya. Hari itu, Selasa 20 Januari 2015, saya berkesempatan untuk datang ke acara yang digelar oleh majalah Dewi bersama 5asec. Acara yang bertajuk Dewi Randezvous Let's Wear Local With 5asec Indonesia ini berlangsung di 5asec daerah Tanah Abang 2.

Pengaturan venue-nya agak merepotkan karena parkir harus dengan valet dan di jalan yang tidak cukup lebar sehingga membuat banyak kendaraan di belakangnya tertahan agak lama. Saya pun cukup repot karena anak saya tertidur di kursi belakang dan butuh beberapa waktu untuk menenangkannya karena terbangun kaget. Namun ketidaknyamanan itu dibarengi dengan para petugas valet yang sabar menunggu saya menyiapkan anak saya, jadi saya pun lebih tenang. Maklumlah mobil berhenti di pinggir jalan dan menahan sejumlah kendaraan yang ingin lewat. 

Akhirnya saya masuk ke venue dan bertemu teman-teman blogger saya Witha, Ayu, Yeye, dan Memez. Area yang saya asumsikan tadinya berupa tempat parkir outdoor 5asec, telah ditutup tenda dan didekorasi sedemikian sehingga terlihat chic, fabulous dan fashionable.

Setelah registrasi, kami disambut oleh alunan musik klasik lembut dari beberapa orang musisi, yang tentu saja memberikan kehangatan dan taste sendiri terhadap acara itu. 

Anak saya sangat tertarik dengan permainan musik mereka. "I want to see the band, Ma." She said.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat wall of fame acara dan menampilkan empat manekin dengan rancangan dress cantik dari Ikat Indonesia by Didiet Maulana.


Cantik-cantik ya, dress-nya?

Dekorasinya pun seru dengan beragam bunga, tanaman, lampu-lampu cantik, serta furnitur  putih gaya klasik.


Romantis ya jadinya :).

Suasana di ruangan dalam. Lampunya berwarna agak ungu-kebiruan di sini.

Acara belum dimulai, dan para tamu dipersilakan menikmati canapè dan kopi starbucks yang disediakan. Kebetulan ada donat dan mini cheesecake juga. Jadi Mama plus anak kecil anteng deh :D.


Mini cheesecake and Latte.

Bocil asik sekali dengan mainannya.

Akhirnya talk show pun dimulai. Talk show ini menghadirkan beberapa narasumber. Gilbert Bieri dari 5asec, Designer Didiet Maulana, serta duo owner The Goods Dept. Aldelia Wirjono dan Cynthia Wirjono. Bincang-bincang dimoderatori oleh Penyanyi yang akhir-akhir ini jadi salah satu ikon mode Indonesia, Andien Aisyah.

Gilbert Bierri, Didiet Maulana, dan Andien.



Aldelia dan Cynthia Wirjono.
Diskusi ini berlangsung cukup seru karena berbicara mengenai bagaimana menarik konsumen negeri sendiri untuk memakai barang lokal ketimbang barang produksi desainer asing. Misalnya saja The Goods Dept. yang sejak pertama kali berdiri menggandeng para desainer muda untuk memasarkan produk mereka. 

Senada dengan Cynthia dan Aldelia, adalah desainer yang terkenal dengan desain kain ikatnya yang modern, Didiet Maulana. Sejak awal Didiet menyasar kaum muda melalui desain yang modern melalui kain ikat yang Indonesia banget. Selain berusaha membuat anak muda menyukai kain tradisional, Didiet berusaha memajukan ekonomi lokal para perajin kain ikat.

Saat ini kita mengenal Ikat Indonesia dengan lini ready to wear. Menurut Didiet, itu bukannya tanpa alasan. Desain ready to wear biasanya dipakai untuk jangka waktu yang cukup sering sehingga distribusi barang ke konsumen akan lebih cepat. Jika distribusi lebih cepat, otomatis akan membuat proses produksi menjadi lebih cepat. Ekonomi lokal akan berjalan dan ini akan meningkatkan kesejahteraan para perajin. Wah, mulia sekali ya tujuannya :).

Acara hari itu ditutup dengan Trunk Show Ikat Indonesia by Didiet Maulana. Senang deh melihat desain pakaian yang modern ini. Saya suka dengan motif garis-garis dominan pada kain ikat. Dengan desain yang simple dan sleek dress-dress ini tidak tampak kuno sama sekali.


Trink show Ikat Indonesia by Didiet Maulana.


The collections with the designer.
(Photo Courtesy of Vemale.com)

Terima kasih Majalah Dewi untuk undangannya :). Yuk, teman-teman kita kampanyekan memakai produk lokal anak negeri. Sekarang sudah banyak merk lokal karya desainer negeri kita dengan kualitas yang juga sama bagusnya. Yang paling penting yang harus diingat, jika kita membeli produk lokal, kita juga membantu perekonomian di negeri kita sendiri, lho. So, let's wear local! #letswearlocal .


Friends, wall of fame, and some goodies.

Wassalaamualaikum.


Monday, 9 February 2015

About Blog English Club

Assalaamualaikum,

Image Courtesy of Blog English Club.


Hi, Everyone! Happy Monday! It's pretty chilly here in Depok. It's been raining since early in the morning. But actually, I love this kind of weather because it reminds me of how it feels living in Bandung :D.

Okay, so, what I'm about to write here is about the Blog English Club (BEC). I should have posted this post on Friday, because we have English Friday when members post about a certain topic on Friday. But last week I needed to go out of town to visit my parents, so I determine to write it on Monday instead. I'm so sorry for the late submission, guys.

I love BEC because we always have a certain topic to discuss and to write every Friday. It reminds me a lot of how I used to write at the beginning of my blogging days. But what I love more about it is that in BEC we take English very seriously but fun. The admins even make a  twitter account and a blog to post about what we learned! 

We have a whatsapp group to discuss certain topic about English grammars. I love the arrangements of days to discuss too. It makes me more focus on the topic. I usually don't have much time to be present in the discussion, but with the new arrangements, I can always scroll up and read what the mentors had said without many interruptions. 

I'm amazed with how this group has turned out to be. More than 100 members, regular discussions about grammars, regular English Friday, regular discussions about English Friday post, tweets on what the mentors share, and last but not least, the BEC blog. Thank you to all of the admins, Dani, Ryan, and Nita and the Mentors, Mba Mikan and Mba Yo.

I'm lucky that I am one of the first members of BEC because now the whatsapp group is already full. But you guys can always join the group and do its challenges. It's fun. Plus, you can learn to practice English and meet new friends :).

Tuesday, 3 February 2015

Akhirnya Meet Up Lagi

Assalaamualaikum,

Berhubung dua minggu lalu saya sempat absen ngeblog, jadinya banyaklah tulisan yang ngendon di draft. Sebenarnya yang di-draft judulnya aja sih. Hahahaha... soalnya kalau enggak ditulis saya suka lupa.

Jadi ceritanya, minggu lalu saya ketemu sama temen-temen deket saya waktu jadi MT di sebuah bank swasta nasional. Mereka adalah Ajeng dan Freshty. Kebetulan Ajeng (yang jilbab ungu) mau sekalian open house rumah barunya. Sebenarnya beli rumahnya sudah agak lama, tapi maklumlah temen-temen saya ini perempuan sibuk dan dua-duanya sering banget ke luar kota, bahkan ke luar pulau Jawa segala. Jadinya agak susah menyesuaikan jadwal. 

Namapun temen ya, walaupun jarang ketemu tetep aja langsung banyak cekikikan. Nyobain sofa, nyobain kasur, makan shabu-shabu bikinan Ajeng, foto-foto sampai tukar-tukaran kado. Not to mention tukar cerita tentang kehidupan kita sekarang. 

Iya, kata Freshty dulu kita ngomonginnya kerjaan, tempat hangout, tempat makan, sekarang ngomonginnya rumah sampe harga kasur. Hahahaha... 

Kalau kalian liat foto-foto di sini, kami tampak kayak orang baik-baik yah. Padahal pas kita pulang rumahnya Ajeng asli uda berantakan :D. Iyalah ya, gimana kami enggak tergoda  coba nyobain kasur yang konon harganya luar biasa itu (dan emang luar biasa empuknya). Bayangin aja, harganya tuh ya thjkkphgkhtgbbjkkpfpfoft... *dikekepin mulutnya sama Ajeng*. Huahahahaha xD. 











Senangnya ketemu kalian, Teman-Teman. Sampe ketemu lagi yaaa... Next kita  ke rumah barunya Freshty nih kayaknya ;).


Monday, 2 February 2015

Inspirasi Hijab Outfit : A Pinky Hijab Day

Assalaamualaikum,

Hari Minggu, tanggal 1 Februari kemarin diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia atau Worl Hijab Day. Sudah tahu belum mengenai cerita dibalik World Hijab Day?

World Hijab Day adalah sebuah gerakan yang dimulai oleh Nazma Khan, seorang warga New York, Amerika Serikat, pada 1 Februari 2013 lalu. Nazma yang berasal dari Bangladesh, pindah ke Bronx, New York, pada usia 11 tahun. Ia merasakan bagaimana dirinya dianggap berbeda karena memakai hijab. Apalagi semenjak terjadinya tragedi 9/11, Nazma kerap dipanggil Osama bin Laden atau teroris oleh teman-temannya. 

Ia merasakan bagaimana masyarakat barat kerap kali menganggap hijab sebagai simbol dari penindasan dan pemisahan terhadap kaum perempuan dalam Islam. Padahal banyak perempuan yang memang sudah mantap berhijab karena dorongan dari dalam dirinya sendiri.

Pengalaman berat tersebut mendorong aktivis sosial ini untuk membuat gerakan untuk mendorong terciptanya toleransi bagi perempuan yang berhijab. World Hijab Day mengajak perempuan yang belum berhijab maupun perempuan non-muslim untuk merasakan pengalaman berhijab selama satu hari. Dengan cara tersebut, mereka bisa merasakan bagaimana rasanya berhijab dan dianggap berbeda.

Gerakan  ini ternyata telah menarik para perempuan muslim dan non-muslim di lebih dari 140 negara di dunia. Dan lebih dari 91 orang telah dijadikan World Hijab Day Ambassadors di 33 negara. (Informasi ini didapat dari Website Resmi World Hijab Day. Yang ingin tahu lebih banyak, bisa langsung ke websitenya, worldhijabday.com.)

Kita yang tinggal di Indonesia patut bersyukur ya bisa menikmati memakai hijab dengan nyaman. Karena jika ditarik ke belakang, sempat ada aturan-aturan seperti foto di surat resmi keluaran pemerintah yang mengharuskan membuka jilbab dan lain-lain. Juga bukan rahasia lagi bahwa beberapa pekerjaan menginginkan perempuan tidak memakai jilbab. 

Alhamdulillah sekarang banyak bidang pekerjaan di negara kita yang memperbolehkan para perempuan untuk berhijab, meski tidak bisa dihindari jika sebagian masyarakat menilai hijab saat ini sebagai tren. 

Kalau buat saya, ambil positifnya saja. Tren berhijab membuat hijab menjadi populer di antara masyarakat. Yang masih ragu-ragu memakai jilbab karena masalah fashionnya yang begitu saja, sekarang jadi enggak perlu ragu. Pakaian muslim yang longgar-longgar, panjang-panjang, dengan berbagai modelnya bukan barang langka lagi. Saya ingat sekali, dulu jaman saya SD dan pergi sekolah agama di madrasah setiap sore, saya biasanya pakai baju seragam hitam putih. Tidak ada jilbab basic polos yang dijual di toko, Mama saya harus beli kain dan ke tukang jahit untuk dijahit jadi jilbab segiempat. 

Sekarang semua berbeda. Jilbab bisa kita temukan dengan mudah di pasar, mall dan online shop. Kita pun sudah sangat terbiasa dengan jilbab. Ada kebutuhan busana muslim yang bertumbuh, dan ini membangkitkan ekonomi Indonesia. Busana Muslim Made In Indonesia jadi terkenal di mana-mana. Para desainer busana muslim kita mulai menjangkau Pekan Fashion-Pekan Fashion ternama di dunia. Targetnya, Indonesia jadi kiblat fashion muslim dunia. Aamiin. 

Ngomong-ngomong mengenai World Hijab Day, kemarin saya bertemu beberapa teman Indonesia Hijab Blogger (IHB) di Kota Kasablanka. Tadinya saya, Ayu, Witha sama Yeye mau ikutan Sunday Dress Up, acaranya Indonesia Fashion Week di Car Free Day. Apalah daya acara yang digelar pukul 6 pagi itu ga bisa kami ikutin karena hujan lebat dari subuh. Tapi senang juga nih akhirnya ketemu sama mereka. 

Selain bertemu geng calhaj, saya juga bertemu Nia dan Listia. Hari itu kami kompakan pakai Pink. Hehehehe... ini dia foto-fotonya.


Pinky day with Calhaj.
(Photo courtesy of Witha)

Saya, Yeye, Listia, Witha, Nia, dan Ayu.
(Photo courtesy of Yeye)

With Witha.
(Photo courtesy of Witha)


Nge-pink juga sama si Bebe.

Selamat Hari Hijab Sedunia, Teman-Teman! ^^

Wassalaamualaikum.


You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...