Friday, 19 July 2019

#TheFirmansyahDIY : Kitchen Island Repainting

Assalaamualaikum,


Sebelum mulai, saya ingin bercerita dulu kenapa saya dan Hubby senang melakukan DIY. Karena suka ada teman yang tanya, kenapa harus DIY? Kan bisa minta tolong orang lain untuk mengerjakan?

Sebenarnya DIY ini tidak sengaja kami lakukan, gara-gara dulu awal sekali kami pindah rumah, sekitar tahun 2012 atau 2013, dapur kami masih berupa bangku semen saja dan bawahnya belum ditutup karena belum ada kitchen set. Saya fine saja sampai kemudian terjadi serangan tikus. Dan serangan tikus ini terjadi waktu saya masih di rumah orang tua di Tasik, dan suami di rumah sendiri. Tentu saja dia yang kelelahan jadinya harus merapikan remah-remah indomie yang berantakan dimana-mana. Untungnya waktu itu nggak ada makanan yang tergeletak ya. Tapi setelah itu rumah kami beberapa kali disambangi tikus. Sampai beberapa kali insiden pertemuan dengan tikus yang ternyata ukurannya sebenernya kecil dan masuk lewat pipa AC.

Setelah itu mulai deh muter otak gimana caranya bikin pintu kitchen set at least buat di bawah aja. Yang penting tikus nggak bisa masuk. Mau pesan kitchen set, karena waktu itu masih nabung buat hal lain, kami nggak rela. Hahaha. Jadi kami nekat bikin pintu-pintu kitchen set sendiri sambil liat-liat video di Youtube. Engsel sendoknya cari di toko besi, kayunya cari di toko kayu, beli dempul dan wood stain, dan handle-nya cari di IKEA. Hasilnya? Not bad. Banyak yang nggak nyangka kami build sendiri.

Dan setelah itu kami jadi senang DIY. Bikin pintu geser, bikin gudang dengan partisi gipsum (ini suami sih yang bikin sendiri wkwkwk). Float shelvings di dapur, dll. Somehow bikin project bersama bikin kami sama-sama tahu kelemahan kami masing-masing. Karena project begini require kesabaran. Ga jarang juga jadi bikin debat-debatan. Dari mulai mana yang harusnya dilakukan duluan, sampai apakah sesuatu itu lurus atau miring. Hahaha. Tapi kalo udah jadi, masya Allah puas banget rasanya. Dan biasanya kami mengagumi hasilnya berdua.

Berikut ini beberapa DIY yang pernah kami buat,


Penutup pintu dapur (kitchen set) bagian bawah, di sini hanya terlihat sedikit. Lalu ada open shelving di bagian atas dinding dapur.


Pintu geser yang merupakan akses ke ruang laundry.


DIY jam dinding yang diselipkan ke lemari Ivar IKEA ini bisa ditulisi karena dicat memakai chalkboard paint.


Pintu geser dan chalk board.

DIY decorative mirror.

Kali ini, saya mau share DIY yang terakhir kami buat. Sebenarnya post ini sudah pernah saya share di instastory. Jadi buat sebagian teman, mungkin pernah membaca tentang ini. Tapi cerita ini tetap saya akan tulis di blog supaya lebih bebas bercerita, dan mungkin akan berguna bagi yang lain yang belum pernah membaca. Btw, IG saya @miafauziablog , boleh difollow ya :D. Hehehe.

Saat renovasi kemarin, saya sempat minta Tukang kami, Pak Yadi, untung membuat sebuah kitchen island yang lebih besar di area dapur. Ternyata dari sisi waktu tidak memungkinkan, karena banyak pekerjaan lain yang lebih penting harus dilakukan untuk mengejar deadline project. Jadi ya sudah, pekerjaan kitchen island direlakan saja. Toh bisa dibuat belakangan juga nantinya.

Sekarang kami masih pakai kitchen island yang lama. Tapi supaya feel-nya baru, dan warnanya cocok dengan interior rumah, kita repaint saja. Ini dia penampakan kitchen island yang lama.



Kitchen island ini dibeli tahun 2012 di Informa. Jadi umurnya udah 7 tahun. Lumayan juga ya sebenernya masih bagus. Ada bocel sedikit-sedikit karena pemakaian dan waktu. Tapi overall bentuknya masih bagus. 

Karena interior rumah dan furniture sekarang arahnya lebih ke minimalis dan scandinavian, warna merahnya ini agak mengganggu. Pengennya di repaint jadi warna putih saja. Cari-cari cat kayu yang warnanya putih matte tapi bingung juga. Rata-rata cat kayu dan besi warnanya glossy. Padahal pengen yang finishnya matte supaya lebih modern. 

Kami iseng cari-cari di Mitra10 dan ketemu cat dari Nippon yang warnanya Matt White. Dan akhirnya weekend kami mulai project repainting. 

Sebelum mulai, tentunya laci-laci dan pintu-pintu dilepas terlebih dulu. Handle-handle juga semuanya dilepas. Awalnya kami amplas dulu supaya catnya nempel, tapi waktu dicat permukaan kayunya malah jadi pink. Hahaha. Untungnya cat ini cepat kering. Ini dia penampakan island waktu warnanya masih belang betong.



Kami biasa DIY, jadi liat si island belang betong gitu jadinya ngikik-ngikik aja. Karena DIY itu prinsipnya trial and error ya, gaes. Belum tentu hasilnya langsung bagus. Kadang fischer kegedean, kadang salah beli mata bor, ya gitulah. Makanya kudu sabar yes. Wkwkwk.

Terus islandnya gimana? Ya kami dengan sabar lah ngecat, lalu nunggu kering. Lalu diulang lagi. Ternyata menghilangkan warna merah menjadi warna putih itu lama. Butuh 4-5 coating cat supaya warna putihnya bener-bener nyata. Untungnya daya sebar catnya juga lumayan, hasilnya ga banyak meninggalkan jejak kuas. Sebenernya bagusan disemprot sih ya, cuma kami gapunya alatnya. Oiya, tipsnya lagi, kuasnya pakai yang bagus ya. Soalnya kalo kurang bagus, biasanya bulunya rontok dan nempel-nempel di kayunya. Jadi hasilnya bakal kurang rapi.

Nah, ini dia penampakan island setelah di-repaint.



Bagus, bukan? Hahaha. Muji diri sendiri. Gapapa lah, kan udah capek bikin. Dan yang penting warnanya sekarang match sama interior rumah dan terlihat lebih kekinian.



Sebenernya masih pengen ngerjain DIY lain buat rumah. Sebagian udah dibeli juga bahan-bahannya. Tapi belom ada waktu dan energi buat memulai. Take it slow aja lah. Moga-moga dalam waktu dekat bisa bikin DIY  lagi. 

Terima kasih ya, sudah membaca post ini. Sampai jumpa di post berikutnya!

Wassalaamualaikum.




Sunday, 14 July 2019

Tentang Renovasi


Assalaamualaikum,

Butuh waktu lama untuk bercerita mengenai renovasi ini. Selain banyak sekali hal yang terjadi, saya pun secara mental belum move on dari berbagai hal yang terjadi bersambungan setelah 6 bulan renovasi. Rasanya lelah secara mental dan fisik. Ditambah Aira sakit 2 minggu, disambung adiknya yang sakit demam on off sampai 5 minggu. Disambung ujian sekolah, Hubby pun sempat harus keluar kota saat ujian. Dan rumah pun, walau pun sudah bersih, tapi perabotnya masih tersembunyi di dalam kardus-kardus. Masih require tenaga untuk beberes agar semua barang mendapat tempatnya.

I was so so so tired. But could not rest. I couldn't sleep for weeks because the baby couldn't sleep for weeks too. She was sick. Well, hidup terus berjalan. It goes on. Even when you said you need to stop, or you need more time. It sucks. During that time, all I do is trying to live it. I kinda let life happen to me. I didn't have a choice anyway.

Alhamdulillah, my daughter got better. Very gradually, but she got better. And I started to get better sleep. Better mood. Better spirit. Butuh beberapa waktu sampai saya siap menulis semuanya. Karena melihat setumpuk foto dan video renovasi juga melelahkan dan perlu waktu. 

Okay, let's start.

Jadi ceritanya selama 6 bulan kemarin kami renovasi total rumah. Dan selama sekitar 10 bulan saya nggak nulis sama sekali karena pening ngurusin begini begitu tentang renovasi sambil beraktivitas dengan dua bocil. Karena ternyata renovasi itu benar-benar menguras pikiran, waktu, kesabaran, dan duit tentu saja (ga usah ditanyalah itu mah).

Sebenarnya, rumah sudah direnovasi pada tahun 2011 dengan menambah luasan lantai bawah,  menambah satu kamar lagi dan memindahkan dapur supaya lebih lega. Begini penampakan rumah pertama kali kami pindah.








Dengan memperhitungkan jumlah anak dan usia mereka nanti dalam beberapa tahun, kami pun sudah berpikir paling cepat tahun 2016 kami harus merencanakan renovasi lagi karena anak-anak semakin besar dan akan butuh space sendiri. Jika ada orang tua datang atau saudara menginap juga kami pun butuh space tambahan.

Kami pun mulai menabung buat renovasi. Saat tabungan mulai terkumpul, ternyata kami jadi mikirin apa tabungannya dipakai buat melunasi KPR saja ya. Bagaimanapun, hidup tanpa utang sudah jadi tujuan finansial kami sejak beberapa tahun lalu. Tapi di sisi lain pingin juga renovasi karena memang butuh space. Bimbang banget jadinya, dan bebannya jadi nambah karena dua-duanya sama-sama penting. Sejak itu sering banget berdoa sama Allah minta dibebaskan dari utang.

Allah Maha Pemurah. Awal tahun lalu kami mendapat rezeki bisa melunasi KPR rumah, dan semester akhir tahun 2018 lalu kami akhirnya memutuskan rencana renovasi walaupun dengan sedikit nekat.

Yes, we're re-building our house again from scratch. Mungkin ini salah satu keputusan paling besar yang pernah kami ambil sebagai keluarga.
We were dreaming and planning this renovation since 2011. And to see how it can finally come true?

It was amazing but also frightening at the same time.

Akhirnya kami menemukan orang-orang yang kami bisa ajak untuk bekerja sama membangun rumah kami. Kami meminta kembali arsitek yang sebelumnya merenovasi rumah kami di tahun 2011, dan juga tukang yang sempat bekerja di rumah kami sekitar tahun 2015.

Lalu tibalah hari itu. Renovasi dimulai. Sebagian besar rumah, atau mungkin 85 persennya, dihancurkan.

Rumah mulai direnovasi. Masih ada pohon-pohon pucuk merah yang subur dan banyak.
Aku kangen juga sama pekarangan dan pohon-pohon ini.




Hampir hancur semua.

Serasa berdiri di antara puing-puing.

Mulai dibangun lagi.




Mulai beratap.
















Tentu saja yang namanya bangun rumah, banyak dramanya. Terutama di bulan-bulan terakhir. Ya, memang katanya sih begitu ya. Jadi ya disyukuri aja apa yang sudah kita miliki sekarang.

Rasanya pindah ke rumah yang baru? Sebagian orang mungkin berpikir, enak ya rumahnya sudah beres, dll. Padahal yang saya rasain, saya lelah. Tapi kami harus segera pulang.

Saya inget banget rasanya saat hari kami mau pindahan lagi ke rumah. Saya melihat rumah baru yang berbeda dari sebelumnya. Pikiran saya malah bilang, "Ini rumah saya ya?" Rasanya seperti berbeda. Seperti bukan rumah saya. Itu yang ada di pikiran saya ketika kemudian saya melihat warna putih keabuan Lakestone Dulux yang memang merupakan cat yang sama dengan interior rumah kami sebelumnya.

Barulah saat itu saya merasa seperti pulang ke rumah.







SETELAH PULANG KE RUMAH

Saya bersyukur bisa pulang ke rumah lagi setelah 6 bulan tinggal di rumah kontrakan. Saya bersyukur sekali rumah kami selesai. Tapi ternyata memindahkan AC-AC dan kompresornya, membongkar kardus-kardus, membereskan kembali pakaian dan perabot (sebagian harus dirakit ulang), membersihkan rumah yang masih berdebu, lalu disambung 2 anak sakit bergiliran itu subhanallah menguras energi.

Puncaknya saat anak bayik sakit panas naik turun sampai 2 minggu. Sampai akhirnya saya menyerah minta dirawat karena dua hari itu panasnya bisa sampai 40 derajat celcius dan enggak mau turun. Dirawat di RS selama 3 hari, pulang selama 1 minggu, lalu kembali naik turun lagi panasnya. Siklusnya seperti tidak putus padahal sudah 3 minggu demam turun naik dan selama itu pula sulit tidur dan rewel.

Akhirnya kami memutuskan cari second opinion. Even di dokter yang ke dua ini, setelah tes darah disarankan agar dirawat lagi karena leukositnya rendah dan HB-nya turun terus. Kami keberatan, karenanya dokter memberi resep antibiotik baru dan sejumlah vitamin tambahan untuk menambah nafsu makan. Menurut dokter, antibiotik bisa membantu kesembuhan tapi HB harus naik. Jadi mau enggak mau walaupun susah makan, harus didorong supaya banyak makan.

Saat itu saya tersadarkan saya harus berpikir jernih. Saya mulai berusaha berpikir positif. Berusaha ikhlas dengan segala kelelahan yang bertumpuk. Mengurangi keluhan dan mengenyahkan kekhawatiran karena tidak kunjung melihat tanda-tanda kesembuhan, walopun tiap beberapa hari pecah jadi tangis. Mulai bangkit lagi dan mikirin apa ya yang kira-kira bakal dia suka.

Anak-anak kalo lagi susah makan, biasanya maunya makan yang enak dan bumbunya terasa banget. Tapi si adek malas banget makan sampai makan mie pun enggak mau, padahal anak-anak biasanya doyan. Lalu suatu hari ingat Aira suka banget brownies kukus. Akhirnya saya bikin sendiri, ternyata si adek pun suka. Kayaknya sekitar 3 hari berturut-turut mau makan brownies. Mungkin terbantu sama vitamin dari dokter juga, akhirnya adek mulai mau makan yang lain. Alhamdulillah setelah sekitar 3 minggu kemudian si adek makin hari makin sehat dan akhirnya bisa ceria kembali. Berat badannya juga naik lagi. Siklus tidurnya pun kembali membaik.


Hari pertama di RS.

Saat ini saya merasa sudah jauh lebih baik. Terima kasih banyak buat teman-teman yang selama bocil sakit sudah nengokin dan ngasi semangat. Ada yang bantu jemput kakaknya di sekolah, sampai wali kelas yang baik banget kasih kabar tiap si kakak keluar kelas supaya saya bisa tetap di mobil bersama si adek yang masih sakit.

Akhirnya setelah beberapa bulan, rumah mulai terasa hangat lagi. Penempatan barang di gudang mulai dirapikan, buku-buku mulai disusun di rak. Barang-barang mulai menempati tempatnya. Saya pun mulai bisa menarik napas lega. Alhamdulillah.

Sejujurnya, saya enggak menyangka hampir 10 bulan ini bakal menjadi pelajaran besar buat kami, dan buat saya secara pribadi. Saya pikir, jika rumah sudah selesai, tentu semuanya beres. Semua akan kembali seperti semula dan saya menjadi lebih bahagia. Lepas dari ritinitas mandorin rumah dan segala hal tentang rumah. Ternyata saya menemukan sisi diri saya yang begitu berbeda. Butuh waktu hampir 5 bulan setelah renovasi sampai saya bisa merasa menemukan kesetimbangan baru. Masya Allah, pelajaran yang luar biasa.


SEDIKIT TENTANG RUMAH 




Rumah kami mengambil gaya campuran scandinavian dan minimalis. Idenya diambil dari berbagai gambar di pinterest, instagram, dan YouTube. Kebetulan saya dan suami juga suka perhatikan arsitektur rumah-rumah yang minimalis seperti ini. Kesannya jujur, apa adanya. 

Kami berdiskusi mengenai ide rumah ini dengan arsitek kami, Bu Indri Juwono dan juga tukang kami, Pak Yadi. Meski tampaknya minimal, tapi detailnya lumayan sulit karena harus keliatan rapi. Jika eksekusinya tidak baik, fasade tidak akan keliatan bagus. Maka tembok harus keliatan benar-benar rata. Finish jendela dan frame jendela harus presisi agar garisnya terlihat betul-betul lurus. 









Fasade.
Mengenai rumah mungkin bakal saya bahas di post yang lain, ya. Karena ternyata cerita renovasinya juga sudah lumayan panjang. Terima kasih sudah membaca :).

Wassalaamualaikum.


Tuesday, 9 July 2019

Review : Hansaplast Spray Antiseptik #GakPakePerih

Assalaamualaikum,



Tidak terasa Aira sudah mau naik kelas tiga. Dan foto di atas diambil setelah ambil raport kelas 2 di sekolah. Aira mendapat peringkat 2 di kelas, alhamdulillah. Rasanya bangga dan suprised. 

Memang, di kelas 1 Aira mendapat peringkat 1. Tapi saya enggak kecewa, malah saya sangat bersyukur. Tahun ini kami melalui bulan-bulan yang melelahkan. Saya sendiri sering keteteran membagi waktu. Sepertinya kalau bukan karena kerja keras Aira sendiri, nilainya tidak akan sebaik itu. Terima kasih sudah bekerja keras ya, Aira.

Ngomong-ngomong soal sekolah, sejak masuk SD ini kegiatan Aira menjadi lebih banyak. Positifnya, Aira makannya lebih banyak dan lebih teratur. Kalau lapar atau pengen ngemil, pasti langsung bilang. Tapi sisi lainnya, karena mungkin di sekolah lebih banyak bergerak, jadi banyak bekas luka, terutama di lutut. Persis mamanya dulu sih. Hehehe.

Awalnya kalau jatuh suka cerita. Lama-lama mungkin jadi suka lupa karena disibukkan oleh kegiatan sekolah. Saya selalu ingatkan kalau terjatuh dan luka harus segera dibersihkan dengan air, walaupun di sekolah. Atau minta tolong sama Bu Guru agar diobati. Tapi namanya juga anak-anak. Kadang dia sendiri enggak ngeh kalau ada luka atau jatuh di mana. Kadang juga kalau lukanya besar, enggak cerita karena enggak mau dikasih obat luka yang menurutnya perih.

Untungnya belakangan ini saya menemukan obat luka spray yang cuma tinggal pencet aja tanpa menimbulkan rasa perih di luka. Jadi membersihkan luka enggak perlu nimbulin drama. Karena kalau obatnya bikin perih, biasanya anak seusia Aira bakal ngajak debat dulu.

Saat dicoba pertama kali, ternyata secara kasat mata emang isinya seperti air saja. Tidak ada bau, tidak ada warna. Tapi mengandung bahan-bahan yang bisa mencegah infeksi lebih lanjut pada luka. Namanya Hansaplast Spray Antiseptik. Ini dia produknya,



Penasaran jadinya kenapa bisa semudah itu dan gak pake perih. Saya pun mulai mencari tahu. 

Ternyata Hansaplast Spray Antiseptik ini kandungan utamanya Polyhexanide / PolyHexaMethylene Biguanide (PHMB). PHMB adalah zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter karena tidak perih, tidak berbau, dan tidak meninggalkan noda. Sifatnya yang tidak meninggalkan noda juga menjadi pilihan agar keadaan luka yang sebenarnya bisa terlihat tanpa tertutupi noda. 

Selama ini, PHMB sudah banyak digunakan di klinik dan rumah sakit, namun tidak dijual bebas. Namun Hansaplast sudah memformulasikan zat antiseptik PHMB ini agar dapar tersedia dalam bentuk produk OTC (Over The Counter), atau bisa dibeli bebas tanpa resep dokter. Pembersih luka ini juga memiliki tolerabilitas tinggi, efek sampingnya lebih sedikit dibanding zat antiseptik lain. Bahan aktifnya 0.1% Decyl Glucoside Tenside dan 0.04% Polyhexanide (PHMB) dalam larutan Ringer.


Wah, saya amazed juga. Soalnya cairan antiseptik ini dikemas dalam bentuk spray yang praktis dan enggak gampang tumpah juga. Karena cairannya transparan, saya juga jadi enggak perlu khawatir bakal meninggalkan noda di baju. Cara pemakaiannya tinggal disemprotkan pada jarak 10 cm ke seluruh luka. Ulangi jika dibutuhkan, kemudian secara perlahan, keringkan area di sekitar luka. 

Pengalaman sih rasanya memang seperti air saja. Dingin dan nyaman. Praktis banget buat ditaruh di rumah atau di mobil, sebagai pertolongan pertama pada luka. Juga untuk mencegah tumbuhnya mikro organisme pada luka dan mengurangi resiko infeksi.




Nah, kalau sudah disemprot Hansaplast Spray, kita tinggal lindungi lukanya dengan plester. Jika lukanya besar dan dalam, bisa dioleskan Hansaplast Wound  Care Ointment (Salep Penyembuh Luka) agar mempercepat penyembuhannya.

Tinggal pake plester. Nyaman, kan. Gak Pake Perih.

Overall, menurut saya produk ini penting banget kalau punya anak yang lagi aktif-aktifnya. Saya juga kepikir pengen punya satu lagi buat disimpan di mobil. Recommended.

Wassalaamualaikum.



Wednesday, 26 June 2019

Tips Packing untuk Traveling bersama Bayi



Assalaamualaikum,

Walaupun sedikit telat, nggak apa-apa ya. Selamat Idul fitri, Teman-Teman! Alhamdulillah masih diberi kesehatan untuk berpuasa dan lebaran bersama keluarga. Selain itu, juga bersyukur sekali bisa menghabiskan waktu liburan, lepas dari tugas-tugas sekolah dan pekerjaan untuk beberapa waktu.

Ngomong-ngomong soal mudik, saya jadi ingat drama mudik kemarin. Ceritanya, kami berencana mudik hari Sabtu dini hari. Tapi packing untuk liburan 8 hari, baju Hubby, baju saya, baju Kakak Aira, dan baju Adek Alia itu ternyata bikin kewalahan. Padahal dulu waktu masih anak 1, saya biasa packing sendiri. Koper dimuat di bagasi, dan saya nyetir sendiri ke kantor suami untuk jemput lalu langsung cuss mudik. 

Sekarang nambah 1 anak lagi ternyata urusan packing jadi bikin kewalahan, takut ada baju atau peralatan yang ketinggalan. Apalagi peralatan buat si bayi yang udah segambreng sendiri. Belum lagi si kakak yang harus bawa satu tas mainan biar liburannya nggak bosan dan nggak nyentuh gadget. Packingnya pun digangguin terus sama si bayik. Akhirnya yang harusnya pergi Sabtu dini hari, jadinya mundur jadi Minggu subuh. Hahaha.



Mengingat pengalaman liburan kemarin, saya jadi pengen share beberapa tips packing untuk traveling bersama bayi. Apalagi setelah ambil raport, anak-anak udah mulai liburan lagi kan? 

Dulu saya penganut packing light, alias kalo traveling bener-bener pengen bawa bawaan yang ringan. Tapi sejak punya anak-anak saya nggak bisa bener-bener light. Tapi masih bisa diakali kok.

1. Tentukan jumlah koper atau tas.
Untuk mudik selama 8 hari, saya menentukan 1 koper kabin, 1 koper sedang, dan 1 travel bag baby. Segitu harus cukup. Entah pilih baju yang lebih tipis, dikurangi, atau gimana. Ya harus cukup. Ini tentu kembali ke masing-masing keluarga ya, tapi harus ditentukan di awal supaya bawaannya enggak overload.

2. Baju bayi 
Untuk perjalanan 1-2 hari, biasanya baju bayi saya pack bersamaan di 1 koper bersama baju lainnya. Tapi kalau lebih lama, baju dan perlengkapan bayi saya masukkan di travel bag  baby ukuran sedang dan bisa masuk kabin. Pengaturan ini memudahkan terutama jika perlu mengganti baju bayi di perjalanan karena kegerahan atau muntah. Jadi nggak perlu buka-tutup koper. Di situ juga sudah masuk popok, handuk, dan peralatan mandinya. Jadi pas sampai hotel, kita bisa langsung mandiin bayi tanpa harus gelar koper lagi.




3. Jumlah Baju Bayi
Ini yang paling bikin bingung Ibu-Ibu kayaknya. Akhirnya karena takut kurang semuanya dibawa. Wkwkwk. Awalnya saya pun begitu, tapi lama-lama jadinya beban juga kalau semua dibawa. Akhirnya saya bikin pengaturan, untuk 1 hari ada baju pagi dan baju sore. 

Baju pagi, biasanya baju yang lebih bagus. Sementara baju sore biasanya baju yang lebih nyaman. Baju sore ini adalah baju yang nyaman dipakai tidur, tapi juga kalau dipakai jalan keluar nggak kayak baju tidur banget. Baju tidur saya cuma bawa 2/3 pasang aja sebagai cadangan. 

Kalau sekiranya di tempat yang dituju ada air, misalnya di hotel atau di rumah orang tua, tidak perlu bawa baju untuk semua hari karena kita selalu bisa mencuci. Baju bayi kan kecil jadi biasanya mudah kering. 

Popok juga tidak perlu mempersiapkan terlalu banyak, karena kita selalu bisa membelinya di minimarket tempat tujuan. 

4. Pilih toiletries baby yang travel friendly
Salah satu hal yang cukup merepotkan saat traveling bersama bayi adalah peralatan mandinya. Pilihlah sabun yang bentuknya liquid daripada yang padat (bar) agar bisa dibuka tutup. Dan pilih sabun yang sudah 2 in 1 dengan shampo. Jadi kita tidak perlu bawa shampoo lagi.

Akhir-akhir ini saya nemuin Travel Kit dari Sleek Baby. Ini toiletries baby yang dikemas khusus supaya praktis dibawa travelling.


Ada Antibacterial 2 in 1 Hair & Body Liquid Soap. Sabun sekaligus shampoonya sudah diformulasikan khusus dengan jojoba, green tea, dan natural antibacterial. Telah teruji secara dermatologis, hypoallegenic, lembut di mata, dan pH nya 5.5.

Baby Laundry Travel Wash. Ini yang paling unik sih. Ini tuh deterjen konsentrat yang bentuknya seperti gel tapi dikemas dalam bentuk tube. Bahan-bahannya aman untuk bayi. Karena bentuknya gel, jadi bisa dipakai langsung dikucek di baju, atau juga bisa direndam dulu. Praktis banget, kalau di hotel tinggal kucek atau rendam aja washtafel. Dengan begitu baju bayi bisa dicuci.

Bottle, Nipple & Accessories Cleanser. Ini adalah pembersih khusus alat makan bayi seperti botol susu dan tempat makannya. Formulanya Food Grade, Natural Antibacterial, Anti-Irritation, dan bebas Paraben. Jadi aman banget buat bayi yang menggunakan botol susu atau bawa peralatan MPASI.

Antibacterial Diaper Cream. Diaper cream dengan natural-anti irritant, moisturizer dan antibacterial. Sudah teruji secara dematologis, hypoallergenic, dan pH 5.5. Ini krim penting sih buat traveling lama. Karena biasanya kalau travelling dalam waktu lama bayi cenderung merah-merah kulitnya karena kegerahan atau perubahan suhu.









Oia, Travel Kit dari Sleek Baby ini bisa didapatkan di Kino Official Store di LAZADA .   Terakhir aku cek juga ada diskon untuk produk ini dan reviewnya juga bagus-bagus. Btw, ini ada bonus pouch cantik juga, jadi bisa kita pilih untuk bawa semua, atau beberapa aja tergantung lama perjalanannya.

Untuk info lebih lanjut, Teman-Teman juga bisa follow Sleek Baby di Facebook atau Instagram ya.



Itu tips ala-ala dari aku buat packing traveling bersama bayi. Kalau kamu, biasanya apa yang bisa dilakukan supaya enggak ribet? Share yuk, di kolom komentar di bawah.

Selamat liburan lagi ya, Teman-Teman! Wassalaamualaikum. 



#SleekBaby #1000HariPerlindungan #PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #Liburan #Mamapedia #MAMblogger  

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...