Sunday, 14 July 2019

Tentang Renovasi


Assalaamualaikum,

Butuh waktu lama untuk bercerita mengenai renovasi ini. Selain banyak sekali hal yang terjadi, saya pun secara mental belum move on dari berbagai hal yang terjadi bersambungan setelah 6 bulan renovasi. Rasanya lelah secara mental dan fisik. Ditambah Aira sakit 2 minggu, disambung adiknya yang sakit demam on off sampai 5 minggu. Disambung ujian sekolah, Hubby pun sempat harus keluar kota saat ujian. Dan rumah pun, walau pun sudah bersih, tapi perabotnya masih tersembunyi di dalam kardus-kardus. Masih require tenaga untuk beberes agar semua barang mendapat tempatnya.

I was so so so tired. But could not rest. I couldn't sleep for weeks because the baby couldn't sleep for weeks too. She was sick. Well, hidup terus berjalan. It goes on. Even when you said you need to stop, or you need more time. It sucks. During that time, all I do is trying to live it. I kinda let life happen to me. I didn't have a choice anyway.

Alhamdulillah, my daughter got better. Very gradually, but she got better. And I started to get better sleep. Better mood. Better spirit. Butuh beberapa waktu sampai saya siap menulis semuanya. Karena melihat setumpuk foto dan video renovasi juga melelahkan dan perlu waktu. 

Okay, let's start.

Jadi ceritanya selama 6 bulan kemarin kami renovasi total rumah. Dan selama sekitar 10 bulan saya nggak nulis sama sekali karena pening ngurusin begini begitu tentang renovasi sambil beraktivitas dengan dua bocil. Karena ternyata renovasi itu benar-benar menguras pikiran, waktu, kesabaran, dan duit tentu saja (ga usah ditanyalah itu mah).

Sebenarnya, rumah sudah direnovasi pada tahun 2011 dengan menambah luasan lantai bawah,  menambah satu kamar lagi dan memindahkan dapur supaya lebih lega. Begini penampakan rumah pertama kali kami pindah.








Dengan memperhitungkan jumlah anak dan usia mereka nanti dalam beberapa tahun, kami pun sudah berpikir paling cepat tahun 2016 kami harus merencanakan renovasi lagi karena anak-anak semakin besar dan akan butuh space sendiri. Jika ada orang tua datang atau saudara menginap juga kami pun butuh space tambahan.

Kami pun mulai menabung buat renovasi. Saat tabungan mulai terkumpul, ternyata kami jadi mikirin apa tabungannya dipakai buat melunasi KPR saja ya. Bagaimanapun, hidup tanpa utang sudah jadi tujuan finansial kami sejak beberapa tahun lalu. Tapi di sisi lain pingin juga renovasi karena memang butuh space. Bimbang banget jadinya, dan bebannya jadi nambah karena dua-duanya sama-sama penting. Sejak itu sering banget berdoa sama Allah minta dibebaskan dari utang.

Allah Maha Pemurah. Awal tahun lalu kami mendapat rezeki bisa melunasi KPR rumah, dan semester akhir tahun 2018 lalu kami akhirnya memutuskan rencana renovasi walaupun dengan sedikit nekat.

Yes, we're re-building our house again from scratch. Mungkin ini salah satu keputusan paling besar yang pernah kami ambil sebagai keluarga.
We were dreaming and planning this renovation since 2011. And to see how it can finally come true?

It was amazing but also frightening at the same time.

Akhirnya kami menemukan orang-orang yang kami bisa ajak untuk bekerja sama membangun rumah kami. Kami meminta kembali arsitek yang sebelumnya merenovasi rumah kami di tahun 2011, dan juga tukang yang sempat bekerja di rumah kami sekitar tahun 2015.

Lalu tibalah hari itu. Renovasi dimulai. Sebagian besar rumah, atau mungkin 85 persennya, dihancurkan.

Rumah mulai direnovasi. Masih ada pohon-pohon pucuk merah yang subur dan banyak.
Aku kangen juga sama pekarangan dan pohon-pohon ini.




Hampir hancur semua.

Serasa berdiri di antara puing-puing.

Mulai dibangun lagi.




Mulai beratap.
















Tentu saja yang namanya bangun rumah, banyak dramanya. Terutama di bulan-bulan terakhir. Ya, memang katanya sih begitu ya. Jadi ya disyukuri aja apa yang sudah kita miliki sekarang.

Rasanya pindah ke rumah yang baru? Sebagian orang mungkin berpikir, enak ya rumahnya sudah beres, dll. Padahal yang saya rasain, saya lelah. Tapi kami harus segera pulang.

Saya inget banget rasanya saat hari kami mau pindahan lagi ke rumah. Saya melihat rumah baru yang berbeda dari sebelumnya. Pikiran saya malah bilang, "Ini rumah saya ya?" Rasanya seperti berbeda. Seperti bukan rumah saya. Itu yang ada di pikiran saya ketika kemudian saya melihat warna putih keabuan Lakestone Dulux yang memang merupakan cat yang sama dengan interior rumah kami sebelumnya.

Barulah saat itu saya merasa seperti pulang ke rumah.







SETELAH PULANG KE RUMAH

Saya bersyukur bisa pulang ke rumah lagi setelah 6 bulan tinggal di rumah kontrakan. Saya bersyukur sekali rumah kami selesai. Tapi ternyata memindahkan AC-AC dan kompresornya, membongkar kardus-kardus, membereskan kembali pakaian dan perabot (sebagian harus dirakit ulang), membersihkan rumah yang masih berdebu, lalu disambung 2 anak sakit bergiliran itu subhanallah menguras energi.

Puncaknya saat anak bayik sakit panas naik turun sampai 2 minggu. Sampai akhirnya saya menyerah minta dirawat karena dua hari itu panasnya bisa sampai 40 derajat celcius dan enggak mau turun. Dirawat di RS selama 3 hari, pulang selama 1 minggu, lalu kembali naik turun lagi panasnya. Siklusnya seperti tidak putus padahal sudah 3 minggu demam turun naik dan selama itu pula sulit tidur dan rewel.

Akhirnya kami memutuskan cari second opinion. Even di dokter yang ke dua ini, setelah tes darah disarankan agar dirawat lagi karena leukositnya rendah dan HB-nya turun terus. Kami keberatan, karenanya dokter memberi resep antibiotik baru dan sejumlah vitamin tambahan untuk menambah nafsu makan. Menurut dokter, antibiotik bisa membantu kesembuhan tapi HB harus naik. Jadi mau enggak mau walaupun susah makan, harus didorong supaya banyak makan.

Saat itu saya tersadarkan saya harus berpikir jernih. Saya mulai berusaha berpikir positif. Berusaha ikhlas dengan segala kelelahan yang bertumpuk. Mengurangi keluhan dan mengenyahkan kekhawatiran karena tidak kunjung melihat tanda-tanda kesembuhan, walopun tiap beberapa hari pecah jadi tangis. Mulai bangkit lagi dan mikirin apa ya yang kira-kira bakal dia suka.

Anak-anak kalo lagi susah makan, biasanya maunya makan yang enak dan bumbunya terasa banget. Tapi si adek malas banget makan sampai makan mie pun enggak mau, padahal anak-anak biasanya doyan. Lalu suatu hari ingat Aira suka banget brownies kukus. Akhirnya saya bikin sendiri, ternyata si adek pun suka. Kayaknya sekitar 3 hari berturut-turut mau makan brownies. Mungkin terbantu sama vitamin dari dokter juga, akhirnya adek mulai mau makan yang lain. Alhamdulillah setelah sekitar 3 minggu kemudian si adek makin hari makin sehat dan akhirnya bisa ceria kembali. Berat badannya juga naik lagi. Siklus tidurnya pun kembali membaik.


Hari pertama di RS.

Saat ini saya merasa sudah jauh lebih baik. Terima kasih banyak buat teman-teman yang selama bocil sakit sudah nengokin dan ngasi semangat. Ada yang bantu jemput kakaknya di sekolah, sampai wali kelas yang baik banget kasih kabar tiap si kakak keluar kelas supaya saya bisa tetap di mobil bersama si adek yang masih sakit.

Akhirnya setelah beberapa bulan, rumah mulai terasa hangat lagi. Penempatan barang di gudang mulai dirapikan, buku-buku mulai disusun di rak. Barang-barang mulai menempati tempatnya. Saya pun mulai bisa menarik napas lega. Alhamdulillah.

Sejujurnya, saya enggak menyangka hampir 10 bulan ini bakal menjadi pelajaran besar buat kami, dan buat saya secara pribadi. Saya pikir, jika rumah sudah selesai, tentu semuanya beres. Semua akan kembali seperti semula dan saya menjadi lebih bahagia. Lepas dari ritinitas mandorin rumah dan segala hal tentang rumah. Ternyata saya menemukan sisi diri saya yang begitu berbeda. Butuh waktu hampir 5 bulan setelah renovasi sampai saya bisa merasa menemukan kesetimbangan baru. Masya Allah, pelajaran yang luar biasa.


SEDIKIT TENTANG RUMAH 




Rumah kami mengambil gaya campuran scandinavian dan minimalis. Idenya diambil dari berbagai gambar di pinterest, instagram, dan YouTube. Kebetulan saya dan suami juga suka perhatikan arsitektur rumah-rumah yang minimalis seperti ini. Kesannya jujur, apa adanya. 

Kami berdiskusi mengenai ide rumah ini dengan arsitek kami, Bu Indri Juwono dan juga tukang kami, Pak Yadi. Meski tampaknya minimal, tapi detailnya lumayan sulit karena harus keliatan rapi. Jika eksekusinya tidak baik, fasade tidak akan keliatan bagus. Maka tembok harus keliatan benar-benar rata. Finish jendela dan frame jendela harus presisi agar garisnya terlihat betul-betul lurus. 









Fasade.
Mengenai rumah mungkin bakal saya bahas di post yang lain, ya. Karena ternyata cerita renovasinya juga sudah lumayan panjang. Terima kasih sudah membaca :).

Wassalaamualaikum.


5 comments:

  1. Baca ini trus saya keinget lagi kalau tahun depan waktunya kami pindah rumah [lagi], yang bikin mikir itu adalah kita belum tau mau pindah ke mana hahaha. Karena yaaa suami masih sekolah, nunggu ujian kelar, dan proses lainnya lagi baru visa.memastikan akan ke mana lahi kita. Mau menetap, atau masih jadi kontraktor lagi hihihi. Dan pindahan rumah itu emang amat sangat melelahkan :)

    Tfs mbak, ceritanya benar-benar inspiratif.

    ReplyDelete

  2. Hai Mia, Alhamdulillah anak2 udah sehat ya. Dan renovasi juga beres. Sekarang waktunya ngarenghap kalau kata orang Sunda mah.

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah keren Mia, ikut happy ya atas rumah barunya

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillab udah kelar ya Miaaa.Skrg tinggal nyicil ngisi rumaaahhh. Pasti seruuu

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sudah selesai ya, Mbak Mia. Tinggal beberes sama dekor nih. Tetap jaga kesehatan juga yaaa :D

    ReplyDelete

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...