Friday, 19 July 2019

#TheFirmansyahDIY : Kitchen Island Repainting

Assalaamualaikum,


Sebelum mulai, saya ingin bercerita dulu kenapa saya dan Hubby senang melakukan DIY. Karena suka ada teman yang tanya, kenapa harus DIY? Kan bisa minta tolong orang lain untuk mengerjakan?

Sebenarnya DIY ini tidak sengaja kami lakukan, gara-gara dulu awal sekali kami pindah rumah, sekitar tahun 2012 atau 2013, dapur kami masih berupa bangku semen saja dan bawahnya belum ditutup karena belum ada kitchen set. Saya fine saja sampai kemudian terjadi serangan tikus. Dan serangan tikus ini terjadi waktu saya masih di rumah orang tua di Tasik, dan suami di rumah sendiri. Tentu saja dia yang kelelahan jadinya harus merapikan remah-remah indomie yang berantakan dimana-mana. Untungnya waktu itu nggak ada makanan yang tergeletak ya. Tapi setelah itu rumah kami beberapa kali disambangi tikus. Sampai beberapa kali insiden pertemuan dengan tikus yang ternyata ukurannya sebenernya kecil dan masuk lewat pipa AC.

Setelah itu mulai deh muter otak gimana caranya bikin pintu kitchen set at least buat di bawah aja. Yang penting tikus nggak bisa masuk. Mau pesan kitchen set, karena waktu itu masih nabung buat hal lain, kami nggak rela. Hahaha. Jadi kami nekat bikin pintu-pintu kitchen set sendiri sambil liat-liat video di Youtube. Engsel sendoknya cari di toko besi, kayunya cari di toko kayu, beli dempul dan wood stain, dan handle-nya cari di IKEA. Hasilnya? Not bad. Banyak yang nggak nyangka kami build sendiri.

Dan setelah itu kami jadi senang DIY. Bikin pintu geser, bikin gudang dengan partisi gipsum (ini suami sih yang bikin sendiri wkwkwk). Float shelvings di dapur, dll. Somehow bikin project bersama bikin kami sama-sama tahu kelemahan kami masing-masing. Karena project begini require kesabaran. Ga jarang juga jadi bikin debat-debatan. Dari mulai mana yang harusnya dilakukan duluan, sampai apakah sesuatu itu lurus atau miring. Hahaha. Tapi kalo udah jadi, masya Allah puas banget rasanya. Dan biasanya kami mengagumi hasilnya berdua.

Berikut ini beberapa DIY yang pernah kami buat,


Penutup pintu dapur (kitchen set) bagian bawah, di sini hanya terlihat sedikit. Lalu ada open shelving di bagian atas dinding dapur.


Pintu geser yang merupakan akses ke ruang laundry.


DIY jam dinding yang diselipkan ke lemari Ivar IKEA ini bisa ditulisi karena dicat memakai chalkboard paint.


Pintu geser dan chalk board.

DIY decorative mirror.

Kali ini, saya mau share DIY yang terakhir kami buat. Sebenarnya post ini sudah pernah saya share di instastory. Jadi buat sebagian teman, mungkin pernah membaca tentang ini. Tapi cerita ini tetap saya akan tulis di blog supaya lebih bebas bercerita, dan mungkin akan berguna bagi yang lain yang belum pernah membaca. Btw, IG saya @miafauziablog , boleh difollow ya :D. Hehehe.

Saat renovasi kemarin, saya sempat minta Tukang kami, Pak Yadi, untung membuat sebuah kitchen island yang lebih besar di area dapur. Ternyata dari sisi waktu tidak memungkinkan, karena banyak pekerjaan lain yang lebih penting harus dilakukan untuk mengejar deadline project. Jadi ya sudah, pekerjaan kitchen island direlakan saja. Toh bisa dibuat belakangan juga nantinya.

Sekarang kami masih pakai kitchen island yang lama. Tapi supaya feel-nya baru, dan warnanya cocok dengan interior rumah, kita repaint saja. Ini dia penampakan kitchen island yang lama.



Kitchen island ini dibeli tahun 2012 di Informa. Jadi umurnya udah 7 tahun. Lumayan juga ya sebenernya masih bagus. Ada bocel sedikit-sedikit karena pemakaian dan waktu. Tapi overall bentuknya masih bagus. 

Karena interior rumah dan furniture sekarang arahnya lebih ke minimalis dan scandinavian, warna merahnya ini agak mengganggu. Pengennya di repaint jadi warna putih saja. Cari-cari cat kayu yang warnanya putih matte tapi bingung juga. Rata-rata cat kayu dan besi warnanya glossy. Padahal pengen yang finishnya matte supaya lebih modern. 

Kami iseng cari-cari di Mitra10 dan ketemu cat dari Nippon yang warnanya Matt White. Dan akhirnya weekend kami mulai project repainting. 

Sebelum mulai, tentunya laci-laci dan pintu-pintu dilepas terlebih dulu. Handle-handle juga semuanya dilepas. Awalnya kami amplas dulu supaya catnya nempel, tapi waktu dicat permukaan kayunya malah jadi pink. Hahaha. Untungnya cat ini cepat kering. Ini dia penampakan island waktu warnanya masih belang betong.



Kami biasa DIY, jadi liat si island belang betong gitu jadinya ngikik-ngikik aja. Karena DIY itu prinsipnya trial and error ya, gaes. Belum tentu hasilnya langsung bagus. Kadang fischer kegedean, kadang salah beli mata bor, ya gitulah. Makanya kudu sabar yes. Wkwkwk.

Terus islandnya gimana? Ya kami dengan sabar lah ngecat, lalu nunggu kering. Lalu diulang lagi. Ternyata menghilangkan warna merah menjadi warna putih itu lama. Butuh 4-5 coating cat supaya warna putihnya bener-bener nyata. Untungnya daya sebar catnya juga lumayan, hasilnya ga banyak meninggalkan jejak kuas. Sebenernya bagusan disemprot sih ya, cuma kami gapunya alatnya. Oiya, tipsnya lagi, kuasnya pakai yang bagus ya. Soalnya kalo kurang bagus, biasanya bulunya rontok dan nempel-nempel di kayunya. Jadi hasilnya bakal kurang rapi.

Nah, ini dia penampakan island setelah di-repaint.



Bagus, bukan? Hahaha. Muji diri sendiri. Gapapa lah, kan udah capek bikin. Dan yang penting warnanya sekarang match sama interior rumah dan terlihat lebih kekinian.



Sebenernya masih pengen ngerjain DIY lain buat rumah. Sebagian udah dibeli juga bahan-bahannya. Tapi belom ada waktu dan energi buat memulai. Take it slow aja lah. Moga-moga dalam waktu dekat bisa bikin DIY  lagi. 

Terima kasih ya, sudah membaca post ini. Sampai jumpa di post berikutnya!

Wassalaamualaikum.




No comments:

Post a Comment

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...