Tuesday, 21 April 2020

Jogja Roadtrip : Yats Colony (Hotel Review)


Assalaamualaikum,
Gimana, Guys? Masih betah #dirumahaja ? 
Saya sekarang sudah di tahap bisa menerima apa yang bisa saya lakukan selama di rumah. Bahkan, ada hal-hal yang perlu disyukuri selama kita di rumah. Misalnya, rasa syukur bahwa kita masih diberi kesehatan, masih bisa berkumpul dengan keluarga, masih punya rumah untuk bernaung. Selain itu, kita punya banyak waktu yang (seharusnya) bisa dimanfaatkan di kala kita merasa jenuh. 

Lakukan hal yang sudah lama kita ingin lakukan tapi enggak jadi-jadi. Anggaplah Allah memberi kita waktu untuk self love, self care, atau self growth. Saya sudah lihat banyak orang mengerjakan banyak hal sebagai usaha untuk beradaptasi dengan keadaan mereka yang baru. The new normal. 

Here are some ideas. Membaca buku yang nggak pernah kita selesaikan, maskeran, ambil waktu 15 menit setiap hari buat skincare-an, diet, olahraga, belajar masak, ambil kelas online, khatam quran. Do anything you want to do. Bersibuklah dengan apa yang membuatmu bahagia. Jangan lupa juga berbagi dan berdoa. 

Ada beberapa hal baru yang saya coba lakukan dan belajar melakukannya sebagai rutinitas baru. Tapi ada juga hal yang sudah lama tidak dilakukan, tapi sekarang dilakukan lagi. Misalnya menulis di blog ini. Hahaha. Mumpung banyak waktu. Kenapa tidak, kan?

Hari ini saya mau review Yats Colony, hotel tempat kami menginap selama 4 hari 3 malam di Jogjakarta  akhir Januari yang lalu. Cerita mengenai roadtripnya sendiri akan saya post secara terpisah. Post ini khusus mau cerita hotelnya aja.

Roadtrip ke Jogja ini bisa dibilang dadakan. Beberapa tahun terakhir semenjak hamil, melahirkan, nyambung lagi renovasi rumah, kami nggak pernah liburan ke luar kota kecuali mudik. Pengen banget rasanya liburan ngelepasin penat. Akhirnya setahun setelah renovasi kami bisa liburan lagi.  Yang kalau dipikir-pikir, harus kami syukuri karena setelah momen liburan akhir Januari itu, awal Maret Indonesia diramaikan oleh berita outbreak Corona Virus. 

Waktu mutusin ke Jogja, tentu yang pertama kali kami pikirin mau nginep di mana. Terakhir ke Jogja kami menginap di Ibis Styles Malioboro. Bisa baca reviewnya di tulisan ini: Review Hotel Ibis Styles. Kalau dulu pinginnya nginep di hotel tengah kota, tapi kali ini kami enggak mau terlalu di tengah kota dan nggak mau di jaringan hotel yang kamarnya banyak. 

Ada beberapa pertimbangan. Betul, di tengah kota itu enak. Dekat ke mall, pusat perbelanjaan, dan oleh-oleh. Tapi kayaknya hanya cocok untuk traveler yang senang belanja dan keramaian. Sementara waktu mau liburan kemarin itu, kayaknya yang sama-sama kami inginkan cuma kedamaian. Pengen nginep di hotel yang santai ga banyak orang. Makan di resto hotel yang suasananya ga ramai, mau berenang juga suasananya ga ramai. Kami mencari suasana yang tenang. 

Akhirnya setelah liat review hotel-hotel di Jogja, kami memilih menginap di Yats Colony. Hotel ini jumlah kamarnya enggak banyak, dan digemari banyak orang karena instagramable dan artsy. Enggak heran kalau cari di traveloka dan website booking kamar lainnya selalu penuh. Kami menginap 3 malam di sini, dan ngebooking 3 kamar berbeda dengan tipe kamar yang berbeda pula. Means, akan ribet saat harus check in dan check out setiap hari, tapi yowislah, daripada pindah hotel lebih ribet.

Kami sampai di Jogja pada hari Sabtu sore. Karena lagi nggak musim liburan juga, jadi kayaknya jalanan lebih lancar daripada saat musim liburan. Yats Colony letaknya di Jl. Patangpuluhan. Lokasinya cukup dekat dari Keraton. Kalau kamu baru sampai di bagian depannya, ini sign-nya. Sign-nya nggak terlalu keliatan ya. Pas pertama kali dateng juga kelewat sampai harus muter balik lagi.






Di Yats Colony tersedia beberapa tipe kamar. Yaitu Ha, Na, Ca, Ra, dan Ka. Malam pertama kami menginap di kamar yang bisa kami dapatkan malam itu yaitu kamar Ra. Waktu itu Sabtu malam dan sepertinya banyak orang sekitar Jogja yang lagi staycation (merhatiin plat mobil di parkiran). Jadi semua kamar habis kecuali Ra. Kamar Ra letaknya di atas, pemandangannya menghadap kolam renang.



Kamarnya nyaman dan artsy. Di area ujung kamar terdapat meja dan kursi panjang yang bisa dipakai untuk menikmati view kolam renang dari kamar.






Kamarnya cukup nyaman. Anak-anak juga senang. Tapi untuk kami berempat, rasanya agak kurang luas sedikit. Terutama area kamar mandi. Agak sulit untuk memandikan anak toddler di kamar mandi. Rasanya ketabrak-tabrak. Mungkin karena pengaturan areanya. Entahlah. Tapi besoknya di tipe kamar lain memandikan anak kecil lumayan lebih mudah. 
Enough about the toilet. The Matresses are super comfortable. Kasurnya super nyaman. Sekarang saya ngerti kenapa banyak yang bilang kasur di sini nyaman banget. Karena ya memang senyaman itu. Sepreinya dingin, kainnya lembut, bantal dan kasurnya empuk tapi ga bikin tulang punggung bengkok. You know what I mean? Yeah, you know what I mean. But you don't know how it feels. It's really that good 😄. 

Puless.

Besok paginya kami sarapan di resto. Restonya tidak begitu besar. Tapi karena kamarnya tidak banyak, jadi nggak hectic. Makanannya cukup lengkap. Makanan western khas hotel, makanan tradisional Indonesia, pastries, omelette, cereal, salads, susu, yoghurt, bahkan jamu. 

Saat mau berangkat sekitar pukul 9, kami titip kunci kamar untuk minta tolong. Pukul 12 siang kami nggak mungkin check out ke hotel karena ada itinerary yang harus dikejar, jadi minta tolong dibantu agar barang-barang bisa ditransfer ke kamar yang baru. Alhamdulillah staffnya helpful dan kami merasa terbantu.

Sorenya kami kembali ke hotel dan sudah pindah ke kamar tipe NA. Dan ini tipe kamar favorit kami.


Ada jendela lebar dengan day bed yang langsung menghadap ke kolam renang. 


Di depan kamar ada day bed sendiri langsung berhadapan dengan kolam renang.
Santai banget.


Televisi ini dipasang di tengah ruangan dan di belakangnya terdapat kaca.
Kalau mau nonton dari arah tempat tidur, kabinetnya bisa diputar.



Kamar NA dari arah kolam renang.



Esoknya, kami seharusnya pindah ke kamar HA DHUWUR. Kamar ini sebenarnya cukup menarik karena ada mezanine-nya. Letaknya di bangunan di bawah ini,



Tapi kami sudah terlanjur suka sama kamar kami yang sekarang. Akhirnya kami bicara sama Receptionist apakah boleh lanjut di kamar yang sekarang saja. Alhamdulillah kamarnya masih ada yang available, hanya saja hitungannya jadi downgrade karena kamar HA DHUWUR lebih mahal rate-nya dari kamar NA. Kami enggak keberatan. Senangnya bisa tinggal sehari lagi di kamar NA.



Yang paling happy tentu saja anak-anak. Sepanjang liburan ngajakin berenang melulu. Can't blame them. Memang suasananya santai banget. Biar mereka berenang sepuasnya. Kalau sore tiba, di area kolam renang bakal kedengeran lagu-lagu klasik macam Doris Day atau The Beatles. Seperti manggil-manggil dari arah kolam renang. It feels like living in a small island. Rasanya seperti tinggal di pulau kecil.

Yats Colony jadinya cocok dengan tujuan awal kami liburan, pingin melepas penat dan jauh dari suasana yang riuh. Sampai akhirnya besok-besoknya kami mutusin supaya bisa sampai sore-sore di hotel supaya anak-anak bisa berenang dan kami bisa lebih lama leyeh-leyeh.

Day bed ini spot favorit kami di malam hari dan di pagi hari.
Oia, lucunya, begitu kamu tiba di hotel kamu akan diingatkan tidak boleh makan duren di kamar. Ternyata, di pinggir jalan dekat hotel ada pedagang-pedagang duren dengan mobil bak. Kalau malam wangi durennya kemana-mana. Bikin pengen. 
Suatu hari kami baru sampai hotel, tanya staf hotel, boleh enggak makan duren di area lobi yang terbuka. Eh ternyata boleh, asal durennya ga dibawa ke dalam kamar. Ah senangnya 😋.



Sebelum pulang, kami nyempetin foto-foto dulu di kamar NA. 





Terima kasih, Yats Colony. Semoga kami bisa kembali lagi untuk liburan. Aamiin.

Wassalaamualaikum.








Wednesday, 15 April 2020

Alia's Weaning Diary (Cerita Menyapih Alia)




Assalaamualaikum,
Hari ini saya mau cerita tentang penyapihan Alia. Sebenernya saya amazed banget dengan waktu yang sudah berlalu. Karena ternyata sudah 7 tahun berlalu sejak saya menulis post tentang penyapihan kakaknya, Aira. Bisa dibaca Part I -nya di sini dan Part II -nya di sini. 

Saya sering dengar katanya anak yang satu jangan disamakan dengan anak yang lain karena wataknya berbeda. Saya mungkin gak akan percaya kalo ga ngalamin sendiri. Kalau teman-teman baca cerita penyapihan Aira di atas, mungkin teman-teman bakal tahu proses penyapihan Aira rasanya emosional buat saya. Bagaimana saya berkomitmen kuat untuk menyapih tanpa drama dan rasa merana buat Aira, dan bagaimana suami mendukung sekali sampai ambil cuti 4 hari untuk bantu menyapih. Saat Aira ulang tahun ke 2, kami siap menghadapi semua prosesnya dengan sabar. 

Lain halnya dengan cerita penyapihan Aira yang langsung dimulai setelah ultah ke 2, Alia disapih pelan-pelan. Secara mental saya belum siap menjadi sabar dalam kurun waktu 2 minggu, siang dan malam. Kadang karena kakaknya harus belajar buat PTS, kadang ya karena saya lelah saja. Suami juga kondisi pekerjaannya ga memungkinkan buat ambil cuti untuk membantu saya melewati proses penyapihan ini. Jadi saya harus mengambil opsi menyapih secara bertahap. Sehingga saya bisa berkomitmen secara bertahap dan Alia juga bisa menyesuaikan diri pelan-pelan.

Sebagaimana menyapih Aira dulu, saya masih percaya bahwa penyapihan bisa dilakukan tanpa membuat anak kita merana. Tanpa pengganti susu botol, tanpa drama oles-oles obat merah atau daun-daun pahit.

Saya membiasakannya tanpa mimi di siang hari terlebih dulu. Ini mulai lebih mudah karena saat antar jemput kakaknya ke sekolah, di mobil Alia terbiasa duduk di carseat dan ketiduran. Jadi urusan menidurkan di siang hari bisa dilalui pelan-pelan. Paling banyak ya komitmen buat gendong aja yang bikin pinggang pegal. Tapi lewat seminggu semuanya membaik, Alia pun kemudian jadi terbiasa tanpa mimi di siang hari.

Malam hari biasanya masih mimi supaya bisa tidur. Pernah dicoba beberapa kali tanpa mimi tapi tengah malam biasanya terbangun dan jadi rewel semalaman. Akhirnya kami mutusin tunggu dulu sampai kami benar-benar siap secara mental menghadapi hari-hari tanpa tidur.

Sampai kemudian Covid 19 masuk ke Indonesia. Saya pikir makin lama lagi nih saya sapih Alia. Proses menyapih kan butuh waktu minimal seminggu sampai kita dan anak terbiasa. Dan di masa sapih Aira dulu, saya sama Hubby kayaknya bener-bener kelelahan di hari ke 5 sampai 7. Keadaannya biasa baru menjadi lebih normal di akhir minggu ke 2. Jadi ya kebayang aja kita berdua imunnya bakal turun kayak apa. Ngebayangin waktu itu aja kayaknya udah cape. Menyapih butuh energi dan persiapan mental yang cukup agar saya bisa bersabar melalui semua prosesnya, dan agar anak bisa melewatinya dengan baik tanpa rasa merana.

Di masa kayak gini harus berusaha supaya badan tetep sehat dan ga ngalamin sakit. Apalagi di bulan ini saya berusaha menyelesaikan Qadha puasa sebelum Ramadhan yang masih tinggal 9 hari lagi. Wow, bisa tambah turun imun saya.

Tiga minggu berlalu sejak outbreak covid 19 di Indonesia dan mulai banyak spekulasi mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Saya mulai mikir kayaknya keadaan belum akan normal sampai minimal 3 bulan ke depan. Banyak financial planner yang mengingatkan untuk bersiap hingga bulan Desember. Tapi sebagian orang juga berpikir akan terhenti saat terjadi Herd Immunity (situasi di mana cukup banyak orang memiliki imunitas/kekebalan terhadap suatu penyakit sehingga bisa menghentikan laju penyakit) dan ini entah kapan. Dan sebagian lagi meramalkan kehidupan akan normal lagi saat vaksin berhasil dan siap digunakan paling cepat 18 bulan mendatang. 

Oke, semua informasinya cukup masuk akal. Melihat sekarang grafik penyebaran covid masih naik dan tampaknya belum mencapai puncak atau melandai, ya masa target nyapih harus nunggu wabah selesai. Kalau begitu kapan mau nyapihnya? Nanti anaknya keburu 3 tahun. Hahaha.

Saya masih maju mundur sampai akhirnya mutusin mau selesaikan puasa qadha dulu aja. Minggu pertama saya puasa 3 hari, terpotong menstruasi, lalu lanjut puasa 3 hari minggu berikutnya. Di minggu berikutnya lagi saya masih berpuasa, dan ada saat-saat saya ketiduran berkali-kali dalam posisi yang ga nyaman sampai badan rasanya sakit sebelah. Tulang belikat sakit seperti dipelintir. Ibu-ibu menyusui kayaknya banyak yang mengalami hal ini. Tapi minggu itu mungkin karena bawaan puasa jadi malah saya yang rewel. Beberapa malam tidur rasanya ga nyaman karena masih berdempetan bertiga tapi sering ketiduran ga bergerak di posisi yang salah. 

Akhirnya kami memindahkan kasur si adek (yang jarang ditidurin itu) dari kamarnya ke kamar kami. Kasurnya ditaruh berdekatan, sebagaimana kami melatih Aira tidur di kasurnya waktu kecil dulu. Tapi ternyata sulit melatih anak pindah kasur kalau dia belum disapih. Yang ada saya berapa kali ketiduran di kasurnya yang kecil dengan posisi salah lagi. Sampai suatu hari jam 3 pagian saya terbangun lagi di posisi yang salah dan belikat rasanya sakit luar biasa sampe nangis. Akhirnya dipijitin Hubby pake minyak angin sambil saya sesenggukan.  

Malamnya, saya ketiduran duluan dan si anak toddler masih seger aja. Suami yang masih bangun kemudian berpikir mau gendongin bocil sampe tidur. Sebagaimana biasa kalau siang dia ngantuk. Dan akhirnya hampir tengah malam dia bisa tidur, sama sekali ga nangis minta mimi. 

Kalau nggak salah saya kemudian terbangun sekitar jam 3 pagi karena Alia nangis terbangun dan Hubby bilang semalam ia bisa tidur tanpa mimi. Jadi kami pun bergiliran gendong sampai ia kembali tidur. 

Saya amazed sih, malam itu tiba-tiba target nyapih bisa dimulai. Semalam sudah malam ke 6 sejak Alia disapih. Sama sekali ga ada drama. Hanya anak toddler yang masih aktif di saat waktunya tidur. Paling cuma minta gendong. Atau lompat-lompat naik turun kasur. Enggak nangis sama sekali. Badan pegal sih karena harus gendong. Tapi faktor dramanya yang hilang benar-benar membuat proses ini terasa lebih mudah. 

Ada satu malam di mana saya ketiduran dan Hubby juga ketiduran karena kurang tidur. Tau-tau tengah malam kami berdua terbangun dan si bocil udah tidur dengan manis di kasurnya. Entah bagaimana ia bisa tidur.

Ada juga satu waktu tengah malam saat bocil tiba-tiba sudah turun dari kasurnya dan berdiri disamping kasur saya. Wajahnya memelas, "Mama, Adek mau bobo." katanya. "Adek mau gendong?" tanyaku. Ia mengangguk. Dari mimiknya keliatan ia sebenarnya sudah ngantuk. Tapi Mama Papanya bablas ketiduran. Wkwkwk. Akhirnya saya gendong sampai tertidur.

Meski sambil menyapih, minggu itu saya masih harus menyelesaikan puasa 3 hari lagi. Masya Allah, terima kasih ya, anak solehah Mama dan Papa. Semoga adek tumbuh jadi anak yang solehah, tangguh, sehat dan mandiri. Aamiin.



Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Di saat-saat pandemi seperti ini masih bisa menyelesaikan kewajiban menyapih dan menyelesaikan qadha sebelum memasuki bulan Ramadhan. Pengalaman ini ngasih saya pelajaran, di saat wabah seperti ini kita masih bisa menyelesaikan target dan hal-hal yang kita anggap penting walaupun di rumah saja. Tentu dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan kita. This is the new normal. Kita harus menerima keadaan ini entah sampai berapa bulan ke depan. Karena kalau mau menunda, mau ditunda sampai kapan kan?

Wassalaamualaikum.




Monday, 30 March 2020

Review UV Vacuum Cleaner Zuupermum Thunderbolt




Assalaamualaikum, 

Hari ini saya mau review UV vacuum cleaner yang belakangan ini saya pakai, namanya Zuupermum Thunderbolt. Sudah ada beberapa teman yang minta review vacuumnya. Jadi sekalian saya mau review di blog. 

Zuupermum UV Vacuum cleaner ini dirancang buat ngebersihin permukaan-permukaan datar dengan mudah, seperti kasur, karpet, dan sofa. Begini penampakannya,




Pertama kali lihat, saya harus akuin sih, ini desainnya cakep. Minimalis, monokrom, enggak ngeganggu pandangan kalo disimpan. The best thing is, dia bisa ditaruh berdiri seperti di foto sehingga bisa menghemat tempat. Somehow desainnya seperti memang dirancang khusus supaya handy dan menyenangkan untuk dipakai.

Zuupermum yang saya miliki ini tipe corded, ada kabelnya sepanjang 5 meter, dan membutuhkan daya sebesar 450 Watt. Awalnya saya pikir akan sering mindahin colokan saat harus berpindah-pindah menyedot debu di tempat yang berbeda. Ya, karena selama ini sering mendengar keluhan orang malas memvacuum karena kabel yang bikin ribet harus pindah pindah colokan. Tapi ternyata saya nyedot debu di kasur dan di karpet di dalam kamar ini bisa nggak mindahin colokan sama sekali. Yang tadinya saya pikir bakal ribet sama kabel juga enggak sama sekali. Mungkin karena ukurannya kecil jadi ga seribet vacuum yang besar. Ya pokonya kesimpulannya buat saya: enggak ribet makenya buat di satu ruangan. Very handy. 

Tapi kalau misalnya temen-temen ada yang pengen handy dan bisa dipake tanpa kabel, ada juga varian yang cordless (tanpa kabel). Modelnya sama, tapi disertakan sama charging stationnya. 

Saya pribadi sebenernya punya vacuum cleaner yang besar yang bisa dilepas badannya untuk membersihkan kasur dan sofa. Jadi apa pentingnya punya vacuum cleaner kecil lagi? 

Pertama, saya butuh vacuum yang punya lampu UV yang fungsinya mematikan tungau dan bakteri. Ini penting buat saya karena ada anak-anak. Yang ada kabelnya (corded) ini juga bisa menyedot debu lebih kuat dari pada yang tanpa kabel (cordless). Terasa deh bedanya sedotan vacuum ini lebih kuat daripada vacuum cleaner besar yang aku punya di rumah. Cocok buat bersihkan permukaan datar yang sulit dibersihkan seperti kasur dan karpet.


Bagian bawah Vacuum cleaner yang didesain datar.
Terdapat lampu UV dan roller yang membuat vacuum bisa digerakkan dengan mudah.

Yang kedua, ini yang paling penting, pekerjaan bebersih jadi lebih mudah. Saya nggak punya asisten rumah tangga. Jadi gadget ibu rumah tangga yang terasa memudahkan itu penting supaya pekerjaan selesai lebih cepat. I mean, seriously. Ibu rumah tangga itu kantornya di rumah. Jadi memiliki alat-alat yang memudahkan pekerjaan kita di rumah itu sangat wajar. Walaupun di rumah, waktu kita juga sama berharganya, jadi harus dimanfaatkan dengan efektif dan efisien. Sisa waktunya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal lain untuk diri kita sendiri.




Oia, Zuupermum ini juga mudah dibersihkan. Cupnya tinggal dilepas, dan dibersihkan dengan alat pembersih yang terdapat di dalam paket. Cupnya terbuat dari stainless steel, jadi ga akan berkarat dan gampang banget dibersihkan. Ada filter cadangan juga buat ganti kalau-kalau filter utamanya lagi basah karena dibersihkan.

Terakhir, yang biasanya ditanyakan Ibu-Ibu, harganya berapa dan belinya di mana? Bisa beli di Shopee ya, lagi ada diskon juga harganya jadi Rp 840 ribu. Boleh klik linknya di sini



Nah itu dia review UV Vacuum Cleaner Zuupermum Thunderbolt. Semoga bermanfaat. Wassalaamualaikum.



Sunday, 29 March 2020

Tentang Wabah Covid 19 dan Melepaskan Kecemasan Selama #dirumahaja



Assalaamualaikum,

Halo, apa kabar? Semoga sehat-sehat saja ya. Sudah lama banget saya enggak nulis di blog. Beberapa minggu belakangan ini rasanya banyak melamun. Kayaknya enggak cuma saya, tapi semua orang di dunia. Belakangan ini mikirin apa hakikatnya hidup. Selama ini merasakan nikmat makanan, kesehatan, dan rasa aman. Betapa selama ini meremehkan nikmat Allah, dan baru tersadar ketika nikmat rasa aman itu terganggu karena wabah Covid 19. Subhanallah. Betapa nggak bersyukurnya saya selama ini. 

Buat saya sendiri, ini sudah sekitar 2 minggu tinggal di rumah. Keluar hanya weekend saja mampir tukang sayur dan minimarket untuk beli bahan kebutuhan di rumah. Itu pun sampai rumah langsung ganti baju, mandi. Setiap sore liat update berita mengenai Covid 19. Rasanya udah seperti nunggu hasil pertandingan, tapi selalu kecewa dengan hasilnya. Pikiran jadi cemas ga karuan. Kalau kata temen saya Ami, life will never be the same. Dan kalau dipikir lebih jauh lagi, buat yang kehilangan orang-orang terkasih, life will never be the same again for them. Saya rasa ini yang menakutkan banyak orang. Termasuk saya sendiri, kadang.

Saya termasuk orang yang introvert, walaupun bisa jadi ekstrovert. Bisa dibilang saya ini anak rumahan. I enjoy my own company, tapi saya orang yang senang mengobrol juga. Saya suka berinteraksi dengan orang lain, tapi biasanya setelah banyak berinteraksi dengan orang, saya butuh beberapa waktu untuk memulihkan energi. That's why I love being at home. 

Saya bersyukur anak-anak sekolah belajar di rumah. Pagi sekali saya harus masak karena Hubby masih belum full Work from Home. Saya harus pastikan sarapan dan makan siangnya bawa dari rumah supaya bisa physical distancing sama orang lain. Dan sepanjang pagi hingga siang saya harus menemani Aira belajar. Kegiatan ini lumayan bikin sibuk dan capek kadang. Tapi bisa bikin saya lebih fokus dengan apa yang bisa saya kerjakan, daripada mikirin hal yang ga bisa saya kontrol. Saya lebih lelah, tapi tidur saya jadi lebih nyenyak. 

Meski begitu, apa yang terjadi kayaknya bahkan buat orang introvert pun menggelisahkan.  Belakangan ini saya juga mulai mikirin kesehatan mental saya. Saya pikir meski di rumah terus, saya harus bisa lebih bahagia dan produktif. Saya butuh waktu buat diri saya sendiri. Karena sepanjang hari sepertinya waktu saya habis buat mengurusi keluarga. Kemudian saya ingat saya sudah lama sekali nggak nulis di blog. Kebetulan banyak cerita yang belum saya tulis. Semoga ini ngasih saya semangat buat kembali aktif nulis ya. Aamiin.

Oya, saya juga bersyukur sebelum masa social / physical distancing ini Allah sempat mempertemukan saya sama teman saya Marina. Teman yang sebenarnya saya sudah kenal lama, tapi rasanya hari itu berbeda. Saya seperti melihat Marina yang mindset-nya baru, meskipun tentu saja ia masih Marina yang sama. Well, kami membicarakan banyak hal. Tapi ada hal-hal yang membekas. 

She reminded me that we can always make a closure to any bad situatuations. Rasa kecewa, pengorbanan, waktu yang hilang, kesedihan, serahkan semua sama Allah. And that's it. As simple as that. 

I challenged her with some cases, she answered me with some cases too. And then I realised she was right. Menyerahkan segalanya sama Allah itu butuh mindset yang ikut berubah. "Always look on the brighter side," she said. "Coba pikirkan, Allah mau nunjukin apa sih sama kita?"

Dia mengambil contoh tentang ribetnya saat anak-anak ada acara assembly di sekolah. Ribetnya ngurus bayinya dan bahwa dia sama anak-anak telat sampai sekolah dan parkiran penuh. Sepanjang jalan dia berdoa, "Ya Allah, tolong saya ya Allah." 

Tiba-tiba sampai sekolah yang parkirannya sudah penuh, ada mobil yang keluar persis di depan gedung assembly. Dan alhamdulillah ia dapat parkir. "Gue tahu mungkin itu kebetulan. Tapi coba deh pikir. Gue memilih untuk percaya bahwa Allah menolong gue mendapatkan parkir. You have to always look on the brighter side." 

In my case, I know, I often need to not only look on the brighter side. I need to seek the brighter side. I need to shift my mindset. Mempercayai bahwa apa yang menjadi beban pikiran selama ini, bisa diserahkan saja sama Allah. Iya, sesederhana itu. Lepaskan. Make a closure.

The way she put it into words, is such a big relief for me. I still cannot see the end. But at least now I can see where I stand. Just like her, I need to believe that Allah is trying to show me something. Pola pikir seperti ini rasanya sangat melegakan. 


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."  [Surah Al-Ankabut ayat 2-3].


“Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999)


Saya tahu beberapa waktu ke depan sepertinya akan berat untuk dihadapi. Saya pun belum jadi baik. Tapi saya pengen ngajakin teman-teman dan juga saya sendiri, untuk merubah mindset kita dan belajar melepaskan kecemasan. Try to always look on the brighter side. Apa yang ingin Allah tunjukkan sama kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, berikhtiarlah. Tapi untuk hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, serahkan sama Allah. 

Semoga wabah ini lekas berlalu dan sehat-sehat selalu untuk kita semua. Aamiin ya Robbal 'aalamiin. And thank you, Marina, for the good talk that day. 

Wassalaamualaikum.





You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...