Sunday, 29 March 2020

Tentang Wabah Covid 19 dan Melepaskan Kecemasan Selama #dirumahaja



Assalaamualaikum,

Halo, apa kabar? Semoga sehat-sehat saja ya. Sudah lama banget saya enggak nulis di blog. Beberapa minggu belakangan ini rasanya banyak melamun. Kayaknya enggak cuma saya, tapi semua orang di dunia. Belakangan ini mikirin apa hakikatnya hidup. Selama ini merasakan nikmat makanan, kesehatan, dan rasa aman. Betapa selama ini meremehkan nikmat Allah, dan baru tersadar ketika nikmat rasa aman itu terganggu karena wabah Covid 19. Subhanallah. Betapa nggak bersyukurnya saya selama ini. 

Buat saya sendiri, ini sudah sekitar 2 minggu tinggal di rumah. Keluar hanya weekend saja mampir tukang sayur dan minimarket untuk beli bahan kebutuhan di rumah. Itu pun sampai rumah langsung ganti baju, mandi. Setiap sore liat update berita mengenai Covid 19. Rasanya udah seperti nunggu hasil pertandingan, tapi selalu kecewa dengan hasilnya. Pikiran jadi cemas ga karuan. Kalau kata temen saya Ami, life will never be the same. Dan kalau dipikir lebih jauh lagi, buat yang kehilangan orang-orang terkasih, life will never be the same again for them. Saya rasa ini yang menakutkan banyak orang. Termasuk saya sendiri, kadang.

Saya termasuk orang yang introvert, walaupun bisa jadi ekstrovert. Bisa dibilang saya ini anak rumahan. I enjoy my own company, tapi saya orang yang senang mengobrol juga. Saya suka berinteraksi dengan orang lain, tapi biasanya setelah banyak berinteraksi dengan orang, saya butuh beberapa waktu untuk memulihkan energi. That's why I love being at home. 

Saya bersyukur anak-anak sekolah belajar di rumah. Pagi sekali saya harus masak karena Hubby masih belum full Work from Home. Saya harus pastikan sarapan dan makan siangnya bawa dari rumah supaya bisa physical distancing sama orang lain. Dan sepanjang pagi hingga siang saya harus menemani Aira belajar. Kegiatan ini lumayan bikin sibuk dan capek kadang. Tapi bisa bikin saya lebih fokus dengan apa yang bisa saya kerjakan, daripada mikirin hal yang ga bisa saya kontrol. Saya lebih lelah, tapi tidur saya jadi lebih nyenyak. 

Meski begitu, apa yang terjadi kayaknya bahkan buat orang introvert pun menggelisahkan.  Belakangan ini saya juga mulai mikirin kesehatan mental saya. Saya pikir meski di rumah terus, saya harus bisa lebih bahagia dan produktif. Saya butuh waktu buat diri saya sendiri. Karena sepanjang hari sepertinya waktu saya habis buat mengurusi keluarga. Kemudian saya ingat saya sudah lama sekali nggak nulis di blog. Kebetulan banyak cerita yang belum saya tulis. Semoga ini ngasih saya semangat buat kembali aktif nulis ya. Aamiin.

Oya, saya juga bersyukur sebelum masa social / physical distancing ini Allah sempat mempertemukan saya sama teman saya Marina. Teman yang sebenarnya saya sudah kenal lama, tapi rasanya hari itu berbeda. Saya seperti melihat Marina yang mindset-nya baru, meskipun tentu saja ia masih Marina yang sama. Well, kami membicarakan banyak hal. Tapi ada hal-hal yang membekas. 

She reminded me that we can always make a closure to any bad situatuations. Rasa kecewa, pengorbanan, waktu yang hilang, kesedihan, serahkan semua sama Allah. And that's it. As simple as that. 

I challenged her with some cases, she answered me with some cases too. And then I realised she was right. Menyerahkan segalanya sama Allah itu butuh mindset yang ikut berubah. "Always look on the brighter side," she said. "Coba pikirkan, Allah mau nunjukin apa sih sama kita?"

Dia mengambil contoh tentang ribetnya saat anak-anak ada acara assembly di sekolah. Ribetnya ngurus bayinya dan bahwa dia sama anak-anak telat sampai sekolah dan parkiran penuh. Sepanjang jalan dia berdoa, "Ya Allah, tolong saya ya Allah." 

Tiba-tiba sampai sekolah yang parkirannya sudah penuh, ada mobil yang keluar persis di depan gedung assembly. Dan alhamdulillah ia dapat parkir. "Gue tahu mungkin itu kebetulan. Tapi coba deh pikir. Gue memilih untuk percaya bahwa Allah menolong gue mendapatkan parkir. You have to always look on the brighter side." 

In my case, I know, I often need to not only look on the brighter side. I need to seek the brighter side. I need to shift my mindset. Mempercayai bahwa apa yang menjadi beban pikiran selama ini, bisa diserahkan saja sama Allah. Iya, sesederhana itu. Lepaskan. Make a closure.

The way she put it into words, is such a big relief for me. I still cannot see the end. But at least now I can see where I stand. Just like her, I need to believe that Allah is trying to show me something. Pola pikir seperti ini rasanya sangat melegakan. 


"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."  [Surah Al-Ankabut ayat 2-3].


“Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999)


Saya tahu beberapa waktu ke depan sepertinya akan berat untuk dihadapi. Saya pun belum jadi baik. Tapi saya pengen ngajakin teman-teman dan juga saya sendiri, untuk merubah mindset kita dan belajar melepaskan kecemasan. Try to always look on the brighter side. Apa yang ingin Allah tunjukkan sama kita. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, berikhtiarlah. Tapi untuk hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, serahkan sama Allah. 

Semoga wabah ini lekas berlalu dan sehat-sehat selalu untuk kita semua. Aamiin ya Robbal 'aalamiin. And thank you, Marina, for the good talk that day. 

Wassalaamualaikum.





No comments:

Post a Comment

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...