Tuesday, 21 April 2020

Jogja Roadtrip : Yats Colony (Hotel Review)


Assalaamualaikum,
Gimana, Guys? Masih betah #dirumahaja ? 
Saya sekarang sudah di tahap bisa menerima apa yang bisa saya lakukan selama di rumah. Bahkan, ada hal-hal yang perlu disyukuri selama kita di rumah. Misalnya, rasa syukur bahwa kita masih diberi kesehatan, masih bisa berkumpul dengan keluarga, masih punya rumah untuk bernaung. Selain itu, kita punya banyak waktu yang (seharusnya) bisa dimanfaatkan di kala kita merasa jenuh. 

Lakukan hal yang sudah lama kita ingin lakukan tapi enggak jadi-jadi. Anggaplah Allah memberi kita waktu untuk self love, self care, atau self growth. Saya sudah lihat banyak orang mengerjakan banyak hal sebagai usaha untuk beradaptasi dengan keadaan mereka yang baru. The new normal. 

Here are some ideas. Membaca buku yang nggak pernah kita selesaikan, maskeran, ambil waktu 15 menit setiap hari buat skincare-an, diet, olahraga, belajar masak, ambil kelas online, khatam quran. Do anything you want to do. Bersibuklah dengan apa yang membuatmu bahagia. Jangan lupa juga berbagi dan berdoa. 

Ada beberapa hal baru yang saya coba lakukan dan belajar melakukannya sebagai rutinitas baru. Tapi ada juga hal yang sudah lama tidak dilakukan, tapi sekarang dilakukan lagi. Misalnya menulis di blog ini. Hahaha. Mumpung banyak waktu. Kenapa tidak, kan?

Hari ini saya mau review Yats Colony, hotel tempat kami menginap selama 4 hari 3 malam di Jogjakarta  akhir Januari yang lalu. Cerita mengenai roadtripnya sendiri akan saya post secara terpisah. Post ini khusus mau cerita hotelnya aja.

Roadtrip ke Jogja ini bisa dibilang dadakan. Beberapa tahun terakhir semenjak hamil, melahirkan, nyambung lagi renovasi rumah, kami nggak pernah liburan ke luar kota kecuali mudik. Pengen banget rasanya liburan ngelepasin penat. Akhirnya setahun setelah renovasi kami bisa liburan lagi.  Yang kalau dipikir-pikir, harus kami syukuri karena setelah momen liburan akhir Januari itu, awal Maret Indonesia diramaikan oleh berita outbreak Corona Virus. 

Waktu mutusin ke Jogja, tentu yang pertama kali kami pikirin mau nginep di mana. Terakhir ke Jogja kami menginap di Ibis Styles Malioboro. Bisa baca reviewnya di tulisan ini: Review Hotel Ibis Styles. Kalau dulu pinginnya nginep di hotel tengah kota, tapi kali ini kami enggak mau terlalu di tengah kota dan nggak mau di jaringan hotel yang kamarnya banyak. 

Ada beberapa pertimbangan. Betul, di tengah kota itu enak. Dekat ke mall, pusat perbelanjaan, dan oleh-oleh. Tapi kayaknya hanya cocok untuk traveler yang senang belanja dan keramaian. Sementara waktu mau liburan kemarin itu, kayaknya yang sama-sama kami inginkan cuma kedamaian. Pengen nginep di hotel yang santai ga banyak orang. Makan di resto hotel yang suasananya ga ramai, mau berenang juga suasananya ga ramai. Kami mencari suasana yang tenang. 

Akhirnya setelah liat review hotel-hotel di Jogja, kami memilih menginap di Yats Colony. Hotel ini jumlah kamarnya enggak banyak, dan digemari banyak orang karena instagramable dan artsy. Enggak heran kalau cari di traveloka dan website booking kamar lainnya selalu penuh. Kami menginap 3 malam di sini, dan ngebooking 3 kamar berbeda dengan tipe kamar yang berbeda pula. Means, akan ribet saat harus check in dan check out setiap hari, tapi yowislah, daripada pindah hotel lebih ribet.

Kami sampai di Jogja pada hari Sabtu sore. Karena lagi nggak musim liburan juga, jadi kayaknya jalanan lebih lancar daripada saat musim liburan. Yats Colony letaknya di Jl. Patangpuluhan. Lokasinya cukup dekat dari Keraton. Kalau kamu baru sampai di bagian depannya, ini sign-nya. Sign-nya nggak terlalu keliatan ya. Pas pertama kali dateng juga kelewat sampai harus muter balik lagi.






Di Yats Colony tersedia beberapa tipe kamar. Yaitu Ha, Na, Ca, Ra, dan Ka. Malam pertama kami menginap di kamar yang bisa kami dapatkan malam itu yaitu kamar Ra. Waktu itu Sabtu malam dan sepertinya banyak orang sekitar Jogja yang lagi staycation (merhatiin plat mobil di parkiran). Jadi semua kamar habis kecuali Ra. Kamar Ra letaknya di atas, pemandangannya menghadap kolam renang.



Kamarnya nyaman dan artsy. Di area ujung kamar terdapat meja dan kursi panjang yang bisa dipakai untuk menikmati view kolam renang dari kamar.






Kamarnya cukup nyaman. Anak-anak juga senang. Tapi untuk kami berempat, rasanya agak kurang luas sedikit. Terutama area kamar mandi. Agak sulit untuk memandikan anak toddler di kamar mandi. Rasanya ketabrak-tabrak. Mungkin karena pengaturan areanya. Entahlah. Tapi besoknya di tipe kamar lain memandikan anak kecil lumayan lebih mudah. 
Enough about the toilet. The Matresses are super comfortable. Kasurnya super nyaman. Sekarang saya ngerti kenapa banyak yang bilang kasur di sini nyaman banget. Karena ya memang senyaman itu. Sepreinya dingin, kainnya lembut, bantal dan kasurnya empuk tapi ga bikin tulang punggung bengkok. You know what I mean? Yeah, you know what I mean. But you don't know how it feels. It's really that good 😄. 

Puless.

Besok paginya kami sarapan di resto. Restonya tidak begitu besar. Tapi karena kamarnya tidak banyak, jadi nggak hectic. Makanannya cukup lengkap. Makanan western khas hotel, makanan tradisional Indonesia, pastries, omelette, cereal, salads, susu, yoghurt, bahkan jamu. 

Saat mau berangkat sekitar pukul 9, kami titip kunci kamar untuk minta tolong. Pukul 12 siang kami nggak mungkin check out ke hotel karena ada itinerary yang harus dikejar, jadi minta tolong dibantu agar barang-barang bisa ditransfer ke kamar yang baru. Alhamdulillah staffnya helpful dan kami merasa terbantu.

Sorenya kami kembali ke hotel dan sudah pindah ke kamar tipe NA. Dan ini tipe kamar favorit kami.


Ada jendela lebar dengan day bed yang langsung menghadap ke kolam renang. 


Di depan kamar ada day bed sendiri langsung berhadapan dengan kolam renang.
Santai banget.


Televisi ini dipasang di tengah ruangan dan di belakangnya terdapat kaca.
Kalau mau nonton dari arah tempat tidur, kabinetnya bisa diputar.



Kamar NA dari arah kolam renang.



Esoknya, kami seharusnya pindah ke kamar HA DHUWUR. Kamar ini sebenarnya cukup menarik karena ada mezanine-nya. Letaknya di bangunan di bawah ini,



Tapi kami sudah terlanjur suka sama kamar kami yang sekarang. Akhirnya kami bicara sama Receptionist apakah boleh lanjut di kamar yang sekarang saja. Alhamdulillah kamarnya masih ada yang available, hanya saja hitungannya jadi downgrade karena kamar HA DHUWUR lebih mahal rate-nya dari kamar NA. Kami enggak keberatan. Senangnya bisa tinggal sehari lagi di kamar NA.



Yang paling happy tentu saja anak-anak. Sepanjang liburan ngajakin berenang melulu. Can't blame them. Memang suasananya santai banget. Biar mereka berenang sepuasnya. Kalau sore tiba, di area kolam renang bakal kedengeran lagu-lagu klasik macam Doris Day atau The Beatles. Seperti manggil-manggil dari arah kolam renang. It feels like living in a small island. Rasanya seperti tinggal di pulau kecil.

Yats Colony jadinya cocok dengan tujuan awal kami liburan, pingin melepas penat dan jauh dari suasana yang riuh. Sampai akhirnya besok-besoknya kami mutusin supaya bisa sampai sore-sore di hotel supaya anak-anak bisa berenang dan kami bisa lebih lama leyeh-leyeh.

Day bed ini spot favorit kami di malam hari dan di pagi hari.
Oia, lucunya, begitu kamu tiba di hotel kamu akan diingatkan tidak boleh makan duren di kamar. Ternyata, di pinggir jalan dekat hotel ada pedagang-pedagang duren dengan mobil bak. Kalau malam wangi durennya kemana-mana. Bikin pengen. 
Suatu hari kami baru sampai hotel, tanya staf hotel, boleh enggak makan duren di area lobi yang terbuka. Eh ternyata boleh, asal durennya ga dibawa ke dalam kamar. Ah senangnya 😋.



Sebelum pulang, kami nyempetin foto-foto dulu di kamar NA. 





Terima kasih, Yats Colony. Semoga kami bisa kembali lagi untuk liburan. Aamiin.

Wassalaamualaikum.








Wednesday, 15 April 2020

Alia's Weaning Diary (Cerita Menyapih Alia)




Assalaamualaikum,
Hari ini saya mau cerita tentang penyapihan Alia. Sebenernya saya amazed banget dengan waktu yang sudah berlalu. Karena ternyata sudah 7 tahun berlalu sejak saya menulis post tentang penyapihan kakaknya, Aira. Bisa dibaca Part I -nya di sini dan Part II -nya di sini. 

Saya sering dengar katanya anak yang satu jangan disamakan dengan anak yang lain karena wataknya berbeda. Saya mungkin gak akan percaya kalo ga ngalamin sendiri. Kalau teman-teman baca cerita penyapihan Aira di atas, mungkin teman-teman bakal tahu proses penyapihan Aira rasanya emosional buat saya. Bagaimana saya berkomitmen kuat untuk menyapih tanpa drama dan rasa merana buat Aira, dan bagaimana suami mendukung sekali sampai ambil cuti 4 hari untuk bantu menyapih. Saat Aira ulang tahun ke 2, kami siap menghadapi semua prosesnya dengan sabar. 

Lain halnya dengan cerita penyapihan Aira yang langsung dimulai setelah ultah ke 2, Alia disapih pelan-pelan. Secara mental saya belum siap menjadi sabar dalam kurun waktu 2 minggu, siang dan malam. Kadang karena kakaknya harus belajar buat PTS, kadang ya karena saya lelah saja. Suami juga kondisi pekerjaannya ga memungkinkan buat ambil cuti untuk membantu saya melewati proses penyapihan ini. Jadi saya harus mengambil opsi menyapih secara bertahap. Sehingga saya bisa berkomitmen secara bertahap dan Alia juga bisa menyesuaikan diri pelan-pelan.

Sebagaimana menyapih Aira dulu, saya masih percaya bahwa penyapihan bisa dilakukan tanpa membuat anak kita merana. Tanpa pengganti susu botol, tanpa drama oles-oles obat merah atau daun-daun pahit.

Saya membiasakannya tanpa mimi di siang hari terlebih dulu. Ini mulai lebih mudah karena saat antar jemput kakaknya ke sekolah, di mobil Alia terbiasa duduk di carseat dan ketiduran. Jadi urusan menidurkan di siang hari bisa dilalui pelan-pelan. Paling banyak ya komitmen buat gendong aja yang bikin pinggang pegal. Tapi lewat seminggu semuanya membaik, Alia pun kemudian jadi terbiasa tanpa mimi di siang hari.

Malam hari biasanya masih mimi supaya bisa tidur. Pernah dicoba beberapa kali tanpa mimi tapi tengah malam biasanya terbangun dan jadi rewel semalaman. Akhirnya kami mutusin tunggu dulu sampai kami benar-benar siap secara mental menghadapi hari-hari tanpa tidur.

Sampai kemudian Covid 19 masuk ke Indonesia. Saya pikir makin lama lagi nih saya sapih Alia. Proses menyapih kan butuh waktu minimal seminggu sampai kita dan anak terbiasa. Dan di masa sapih Aira dulu, saya sama Hubby kayaknya bener-bener kelelahan di hari ke 5 sampai 7. Keadaannya biasa baru menjadi lebih normal di akhir minggu ke 2. Jadi ya kebayang aja kita berdua imunnya bakal turun kayak apa. Ngebayangin waktu itu aja kayaknya udah cape. Menyapih butuh energi dan persiapan mental yang cukup agar saya bisa bersabar melalui semua prosesnya, dan agar anak bisa melewatinya dengan baik tanpa rasa merana.

Di masa kayak gini harus berusaha supaya badan tetep sehat dan ga ngalamin sakit. Apalagi di bulan ini saya berusaha menyelesaikan Qadha puasa sebelum Ramadhan yang masih tinggal 9 hari lagi. Wow, bisa tambah turun imun saya.

Tiga minggu berlalu sejak outbreak covid 19 di Indonesia dan mulai banyak spekulasi mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Saya mulai mikir kayaknya keadaan belum akan normal sampai minimal 3 bulan ke depan. Banyak financial planner yang mengingatkan untuk bersiap hingga bulan Desember. Tapi sebagian orang juga berpikir akan terhenti saat terjadi Herd Immunity (situasi di mana cukup banyak orang memiliki imunitas/kekebalan terhadap suatu penyakit sehingga bisa menghentikan laju penyakit) dan ini entah kapan. Dan sebagian lagi meramalkan kehidupan akan normal lagi saat vaksin berhasil dan siap digunakan paling cepat 18 bulan mendatang. 

Oke, semua informasinya cukup masuk akal. Melihat sekarang grafik penyebaran covid masih naik dan tampaknya belum mencapai puncak atau melandai, ya masa target nyapih harus nunggu wabah selesai. Kalau begitu kapan mau nyapihnya? Nanti anaknya keburu 3 tahun. Hahaha.

Saya masih maju mundur sampai akhirnya mutusin mau selesaikan puasa qadha dulu aja. Minggu pertama saya puasa 3 hari, terpotong menstruasi, lalu lanjut puasa 3 hari minggu berikutnya. Di minggu berikutnya lagi saya masih berpuasa, dan ada saat-saat saya ketiduran berkali-kali dalam posisi yang ga nyaman sampai badan rasanya sakit sebelah. Tulang belikat sakit seperti dipelintir. Ibu-ibu menyusui kayaknya banyak yang mengalami hal ini. Tapi minggu itu mungkin karena bawaan puasa jadi malah saya yang rewel. Beberapa malam tidur rasanya ga nyaman karena masih berdempetan bertiga tapi sering ketiduran ga bergerak di posisi yang salah. 

Akhirnya kami memindahkan kasur si adek (yang jarang ditidurin itu) dari kamarnya ke kamar kami. Kasurnya ditaruh berdekatan, sebagaimana kami melatih Aira tidur di kasurnya waktu kecil dulu. Tapi ternyata sulit melatih anak pindah kasur kalau dia belum disapih. Yang ada saya berapa kali ketiduran di kasurnya yang kecil dengan posisi salah lagi. Sampai suatu hari jam 3 pagian saya terbangun lagi di posisi yang salah dan belikat rasanya sakit luar biasa sampe nangis. Akhirnya dipijitin Hubby pake minyak angin sambil saya sesenggukan.  

Malamnya, saya ketiduran duluan dan si anak toddler masih seger aja. Suami yang masih bangun kemudian berpikir mau gendongin bocil sampe tidur. Sebagaimana biasa kalau siang dia ngantuk. Dan akhirnya hampir tengah malam dia bisa tidur, sama sekali ga nangis minta mimi. 

Kalau nggak salah saya kemudian terbangun sekitar jam 3 pagi karena Alia nangis terbangun dan Hubby bilang semalam ia bisa tidur tanpa mimi. Jadi kami pun bergiliran gendong sampai ia kembali tidur. 

Saya amazed sih, malam itu tiba-tiba target nyapih bisa dimulai. Semalam sudah malam ke 6 sejak Alia disapih. Sama sekali ga ada drama. Hanya anak toddler yang masih aktif di saat waktunya tidur. Paling cuma minta gendong. Atau lompat-lompat naik turun kasur. Enggak nangis sama sekali. Badan pegal sih karena harus gendong. Tapi faktor dramanya yang hilang benar-benar membuat proses ini terasa lebih mudah. 

Ada satu malam di mana saya ketiduran dan Hubby juga ketiduran karena kurang tidur. Tau-tau tengah malam kami berdua terbangun dan si bocil udah tidur dengan manis di kasurnya. Entah bagaimana ia bisa tidur.

Ada juga satu waktu tengah malam saat bocil tiba-tiba sudah turun dari kasurnya dan berdiri disamping kasur saya. Wajahnya memelas, "Mama, Adek mau bobo." katanya. "Adek mau gendong?" tanyaku. Ia mengangguk. Dari mimiknya keliatan ia sebenarnya sudah ngantuk. Tapi Mama Papanya bablas ketiduran. Wkwkwk. Akhirnya saya gendong sampai tertidur.

Meski sambil menyapih, minggu itu saya masih harus menyelesaikan puasa 3 hari lagi. Masya Allah, terima kasih ya, anak solehah Mama dan Papa. Semoga adek tumbuh jadi anak yang solehah, tangguh, sehat dan mandiri. Aamiin.



Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Di saat-saat pandemi seperti ini masih bisa menyelesaikan kewajiban menyapih dan menyelesaikan qadha sebelum memasuki bulan Ramadhan. Pengalaman ini ngasih saya pelajaran, di saat wabah seperti ini kita masih bisa menyelesaikan target dan hal-hal yang kita anggap penting walaupun di rumah saja. Tentu dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan kita. This is the new normal. Kita harus menerima keadaan ini entah sampai berapa bulan ke depan. Karena kalau mau menunda, mau ditunda sampai kapan kan?

Wassalaamualaikum.




You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...