Wednesday, 15 April 2020

Alia's Weaning Diary (Cerita Menyapih Alia)




Assalaamualaikum,
Hari ini saya mau cerita tentang penyapihan Alia. Sebenernya saya amazed banget dengan waktu yang sudah berlalu. Karena ternyata sudah 7 tahun berlalu sejak saya menulis post tentang penyapihan kakaknya, Aira. Bisa dibaca Part I -nya di sini dan Part II -nya di sini. 

Saya sering dengar katanya anak yang satu jangan disamakan dengan anak yang lain karena wataknya berbeda. Saya mungkin gak akan percaya kalo ga ngalamin sendiri. Kalau teman-teman baca cerita penyapihan Aira di atas, mungkin teman-teman bakal tahu proses penyapihan Aira rasanya emosional buat saya. Bagaimana saya berkomitmen kuat untuk menyapih tanpa drama dan rasa merana buat Aira, dan bagaimana suami mendukung sekali sampai ambil cuti 4 hari untuk bantu menyapih. Saat Aira ulang tahun ke 2, kami siap menghadapi semua prosesnya dengan sabar. 

Lain halnya dengan cerita penyapihan Aira yang langsung dimulai setelah ultah ke 2, Alia disapih pelan-pelan. Secara mental saya belum siap menjadi sabar dalam kurun waktu 2 minggu, siang dan malam. Kadang karena kakaknya harus belajar buat PTS, kadang ya karena saya lelah saja. Suami juga kondisi pekerjaannya ga memungkinkan buat ambil cuti untuk membantu saya melewati proses penyapihan ini. Jadi saya harus mengambil opsi menyapih secara bertahap. Sehingga saya bisa berkomitmen secara bertahap dan Alia juga bisa menyesuaikan diri pelan-pelan.

Sebagaimana menyapih Aira dulu, saya masih percaya bahwa penyapihan bisa dilakukan tanpa membuat anak kita merana. Tanpa pengganti susu botol, tanpa drama oles-oles obat merah atau daun-daun pahit.

Saya membiasakannya tanpa mimi di siang hari terlebih dulu. Ini mulai lebih mudah karena saat antar jemput kakaknya ke sekolah, di mobil Alia terbiasa duduk di carseat dan ketiduran. Jadi urusan menidurkan di siang hari bisa dilalui pelan-pelan. Paling banyak ya komitmen buat gendong aja yang bikin pinggang pegal. Tapi lewat seminggu semuanya membaik, Alia pun kemudian jadi terbiasa tanpa mimi di siang hari.

Malam hari biasanya masih mimi supaya bisa tidur. Pernah dicoba beberapa kali tanpa mimi tapi tengah malam biasanya terbangun dan jadi rewel semalaman. Akhirnya kami mutusin tunggu dulu sampai kami benar-benar siap secara mental menghadapi hari-hari tanpa tidur.

Sampai kemudian Covid 19 masuk ke Indonesia. Saya pikir makin lama lagi nih saya sapih Alia. Proses menyapih kan butuh waktu minimal seminggu sampai kita dan anak terbiasa. Dan di masa sapih Aira dulu, saya sama Hubby kayaknya bener-bener kelelahan di hari ke 5 sampai 7. Keadaannya biasa baru menjadi lebih normal di akhir minggu ke 2. Jadi ya kebayang aja kita berdua imunnya bakal turun kayak apa. Ngebayangin waktu itu aja kayaknya udah cape. Menyapih butuh energi dan persiapan mental yang cukup agar saya bisa bersabar melalui semua prosesnya, dan agar anak bisa melewatinya dengan baik tanpa rasa merana.

Di masa kayak gini harus berusaha supaya badan tetep sehat dan ga ngalamin sakit. Apalagi di bulan ini saya berusaha menyelesaikan Qadha puasa sebelum Ramadhan yang masih tinggal 9 hari lagi. Wow, bisa tambah turun imun saya.

Tiga minggu berlalu sejak outbreak covid 19 di Indonesia dan mulai banyak spekulasi mengenai kapan wabah ini akan berakhir. Saya mulai mikir kayaknya keadaan belum akan normal sampai minimal 3 bulan ke depan. Banyak financial planner yang mengingatkan untuk bersiap hingga bulan Desember. Tapi sebagian orang juga berpikir akan terhenti saat terjadi Herd Immunity (situasi di mana cukup banyak orang memiliki imunitas/kekebalan terhadap suatu penyakit sehingga bisa menghentikan laju penyakit) dan ini entah kapan. Dan sebagian lagi meramalkan kehidupan akan normal lagi saat vaksin berhasil dan siap digunakan paling cepat 18 bulan mendatang. 

Oke, semua informasinya cukup masuk akal. Melihat sekarang grafik penyebaran covid masih naik dan tampaknya belum mencapai puncak atau melandai, ya masa target nyapih harus nunggu wabah selesai. Kalau begitu kapan mau nyapihnya? Nanti anaknya keburu 3 tahun. Hahaha.

Saya masih maju mundur sampai akhirnya mutusin mau selesaikan puasa qadha dulu aja. Minggu pertama saya puasa 3 hari, terpotong menstruasi, lalu lanjut puasa 3 hari minggu berikutnya. Di minggu berikutnya lagi saya masih berpuasa, dan ada saat-saat saya ketiduran berkali-kali dalam posisi yang ga nyaman sampai badan rasanya sakit sebelah. Tulang belikat sakit seperti dipelintir. Ibu-ibu menyusui kayaknya banyak yang mengalami hal ini. Tapi minggu itu mungkin karena bawaan puasa jadi malah saya yang rewel. Beberapa malam tidur rasanya ga nyaman karena masih berdempetan bertiga tapi sering ketiduran ga bergerak di posisi yang salah. 

Akhirnya kami memindahkan kasur si adek (yang jarang ditidurin itu) dari kamarnya ke kamar kami. Kasurnya ditaruh berdekatan, sebagaimana kami melatih Aira tidur di kasurnya waktu kecil dulu. Tapi ternyata sulit melatih anak pindah kasur kalau dia belum disapih. Yang ada saya berapa kali ketiduran di kasurnya yang kecil dengan posisi salah lagi. Sampai suatu hari jam 3 pagian saya terbangun lagi di posisi yang salah dan belikat rasanya sakit luar biasa sampe nangis. Akhirnya dipijitin Hubby pake minyak angin sambil saya sesenggukan.  

Malamnya, saya ketiduran duluan dan si anak toddler masih seger aja. Suami yang masih bangun kemudian berpikir mau gendongin bocil sampe tidur. Sebagaimana biasa kalau siang dia ngantuk. Dan akhirnya hampir tengah malam dia bisa tidur, sama sekali ga nangis minta mimi. 

Kalau nggak salah saya kemudian terbangun sekitar jam 3 pagi karena Alia nangis terbangun dan Hubby bilang semalam ia bisa tidur tanpa mimi. Jadi kami pun bergiliran gendong sampai ia kembali tidur. 

Saya amazed sih, malam itu tiba-tiba target nyapih bisa dimulai. Semalam sudah malam ke 6 sejak Alia disapih. Sama sekali ga ada drama. Hanya anak toddler yang masih aktif di saat waktunya tidur. Paling cuma minta gendong. Atau lompat-lompat naik turun kasur. Enggak nangis sama sekali. Badan pegal sih karena harus gendong. Tapi faktor dramanya yang hilang benar-benar membuat proses ini terasa lebih mudah. 

Ada satu malam di mana saya ketiduran dan Hubby juga ketiduran karena kurang tidur. Tau-tau tengah malam kami berdua terbangun dan si bocil udah tidur dengan manis di kasurnya. Entah bagaimana ia bisa tidur.

Ada juga satu waktu tengah malam saat bocil tiba-tiba sudah turun dari kasurnya dan berdiri disamping kasur saya. Wajahnya memelas, "Mama, Adek mau bobo." katanya. "Adek mau gendong?" tanyaku. Ia mengangguk. Dari mimiknya keliatan ia sebenarnya sudah ngantuk. Tapi Mama Papanya bablas ketiduran. Wkwkwk. Akhirnya saya gendong sampai tertidur.

Meski sambil menyapih, minggu itu saya masih harus menyelesaikan puasa 3 hari lagi. Masya Allah, terima kasih ya, anak solehah Mama dan Papa. Semoga adek tumbuh jadi anak yang solehah, tangguh, sehat dan mandiri. Aamiin.



Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Di saat-saat pandemi seperti ini masih bisa menyelesaikan kewajiban menyapih dan menyelesaikan qadha sebelum memasuki bulan Ramadhan. Pengalaman ini ngasih saya pelajaran, di saat wabah seperti ini kita masih bisa menyelesaikan target dan hal-hal yang kita anggap penting walaupun di rumah saja. Tentu dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan kita. This is the new normal. Kita harus menerima keadaan ini entah sampai berapa bulan ke depan. Karena kalau mau menunda, mau ditunda sampai kapan kan?

Wassalaamualaikum.




No comments:

Post a Comment

I would love to hear your comments :).
Mohon tidak meninggalkan link hidup pada kolom komentar. Komentar dengan link hidup tidak akan di-publish.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...