Rabu, 24 Juni 2020

Honest Review: Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05




Assalaamualaikum.
Kali ini saya mau review Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05. Ini judulnya pake ‘honest review’ nggak berarti kalo saya review itu ngga honest ya. Tapi biar click bait aja. Wkwkwk. Dan ini bukan sponsored post salah satu merk apa pun.

Saya lumayan mendapat banyak pertanyaan mengenai vacuum stick ini di instagram. Saya juga sempat bikin polling, dan ternyata banyak juga yang pingin tahu reviewnya gimana. FYI, saya sudah memakai vacuum cleaner stick kurumi ini selama sekitar 8 minggu atau hampir 2 bulan.

Saya termasuk ibu-ibu yang sangat merasa terbantu dengan adanya vacuum cleaner.  Banyak yang menanyakan sama saya, kalau sudah vacuum lantai, apa sudah nggak perlu dipel? Lalu apa bedanya dengan menyapu biasa?

Pada prakteknya, sebenarnya vacuum cleaner menggantikan peran menyapu. Yaitu menyingkirkan debu tapi tidak menggantikan proses mengepel. Bedanya, lantai yang divacuum biasanya lebih bersih daripada lantai yang disapu. Beneran deh, rasanya beda di telapak kaki kita saat menginjak lantai yang disapu dan di-vacuum. Karena proses menyapu biasanya membuat debu terbang dan berulang kali kembali ke lantai. Proses menyapu juga membuat arah menyapu harus mengikuti arah tertentu hingga keluar ruangan, dan keluar rumah. Sehingga biasanya memakan waktu lebih lama.

Sementara mem-vacuum atau menyedot debu di lantai, prosesnya langsung menyingkirkan debu dari lantai begitu saja. Yah, nggak hanya debu sih, tapi juga rambut-rambut, sisa makanan, dan kotoran yang sifatnya serpihan-serpihan. Jadi tentu hasilnya lebih bersih daripada menyapu. Seringkali, dengan mem-vacuum lantai saya jadi nggak perlu mengepel setiap hari banget. Bisa 2 atau bahkan 3 hari sekali, tergantung kondisi lantainya. Tapi kalau memang lagi kotor karena anak-anak main, atau lantai dapur, ya mau ga mau harus dipel juga.

Vacuum cleaner stick Kurumi KV05 ini adalah vacuum cleaner ke tiga yang saya miliki selain Electrolux Ergorapido dan Hand Vacuum Cleaner Zuupermum. Electrolux Ergorapido pernah saya review di post instagram saya di bawah ini. Sementara hand vacuum cleaner Zuupermum pernah saya review di sini.



Sudah punya vacuum cleaner cordless dan hand vacuum, ngapain beli lagi?

Sebenarnya si Kurumi bukan barang yang kami rencanakan buat dibeli. Hubby beliin saya Kurumi karena suatu hari tiba-tiba si Ergorapido ngadat ga mau nyala. Padahal saat itu kalau nggak salah sudah mau masuk bulan puasa. Kayaknya semua Mamak-Mamak tahu ya, bulan Ramadhan biasanya merupakan bulan terhectic buat Mamak-Mamak sepanjang tahun.

Hubby tahu banget saya nggak bisa bebersih tanpa vacuum cleaner, alat ini sangat memudahkan hidup karena bisa membersihkan dalam waktu jauh lebih singkat dibanding pakai sapu. Karena saya sempat stress saat pindah kembali ke rumah yang luasan lantainya nambah jadi dua kali lipat. Jadi saat si ergorapido ngadat, dan ternyata waktu servisnya makan waktu sekitar 2 minggu (dari sejak nelpon service center sampai servis selesai), ia langsung nawarin beliin vacuum cleaner baru buat cadangan kalau-kalau kejadian seperti ini terjadi lagi nanti. Saya nggak bisa ngebayangin ngelewatin bulan Ramadhan tanpa adanya vacuum cleaner. Mungkin saya bakal stress lagi 😁.

Setelah pilih-pilih, akhirnya pilihan saya jatuh ke Kurumi KV05. Pertimbangannya, Kurumi daya isapnya kuat, bentuknya stick kayak model Dyson kalo di luar negeri itu. Harganya hanya setengah dari harga Ergorapido atau Philips. Pikir saya, kalaupun sampe ngadat, seenggaknya harganya ga bikin nyesek banget. Hahaha.

Ini dia penampakan Kurumi KV05,


Awalnya ragu beli ini karena kayaknya Kurumi baru launch produk ini sekitar Desember 2019 di Indonesia. Buat yang belum tahu, Kurumi KV05 ini vacuum cleaner stick cordless (tanpa kabel) pertama dari Kurumi. Jadi wajar yah sedikit ragu.

Kalau diperhatikan, sebenarnya berat Kurumi ini nggak jauh sama Ergorapido, yaitu sekitar 2 kg. Cuma bedanya, Ergorapido bagian yang beratnya (motor dan tabung penampung) ada di bawah di dekat brush-nya, sementara pada Kurumi bagian yang beratnya ini ada di bagian atas yaitu di bagian pegangannya. 

Ini kerasa banget di awal pemakaian perbedaannya, karena saya terbiasa memakai Ergorapido yang pegangannya ringan dan bawahnya berat. Jadi rasanya kok kebalik, berat di pegangan, tapi terlalu ringan di bagian brush-nya. Tapi ini kayaknya hanya masalah kebiasaan sih. Lama-lama saya jadi terbiasa sama Kurumi, dan mengontrol ujung brushnya juga nggak masalah. Malah belakangan saya jadi lebih sering pake si Kurumi.

Desainnya yang kurus panjang memudahkan banget buat bersihin kolong-kolong kasur dan sofa. Sebelumnya pake ergorapido biasanya bagian bawahnya vacuum suka kejedot gitu sama furnitur, jadi nggak bisa sampe bener-bener masuk ke kolong furnitur yang tingginya nanggung. Sementara Kurumi bisa masuk dengan lebih leluasa. Desainnya yang panjang ini juga cukup memudahkan sih buat mencapai langit-langit rumah yang biasanya suka berdebu dan ada sarang laba-laba. Tinggal lepas aja ujungnya ini, terus ganti sama brush extension lain yang panjang. 


Kalau butuh bersihin permukaan yang justru harus pakai stick pendek, stick panjangnya juga bisa dilepas lagi dengan mudah. Tinggal ganti saja brush extension-nya dengan model yang lain.



Brush extension untuk karpet, sofa,
atau tempat tinggi yang agak sulit dijangkau.
Yang putih itu filter washable cadangan.

Nah, ini bagian atas dari Vacuum. Di sini adalah letak pegangan, motor, tempat charge, sekaligus tabung penampung debu dan filternya.

Keliatan ya itu debu-debunya di dalam tabung penampung debu.

Saya juga awalnya kurang nyaman dengan penempatan tabung penampung debu di atas situ yang saat dilepas, kita harus beneran pegang sticknya dengan baik supaya debu nggak terbang kemana-mana. Cara ngebuang debunya sih mudah, cuma ribet karena stick-nya yang panjang itu harus dibawa-bawa. Mungkin emang lebih baik dilepas aja kepala bagian atasnya itu dari stick kalo pas buang debu.

Satu lagi yang kurang praktis, vacuum cleanernya harus digantung di gantungan gini. Jadi dia nggak bisa berdiri sendiri. Gantungannya harus di-mount di dinding supaya kuat.


Saat saya di lantai bawah, biasanya vacuumnya saya taruh aja di keranjang gini biar ga jatuh. Hehehe.


Mekanisme chargingnya juga nggak otomatis di dudukannya, tapi harus dicolok seperti gadget. Jadi ya jangan sampe lupa nyolok. Kalau enggak, resikonya besok nggak bisa vacuum. Atau vacuumnya keburu mati sebelum kerjaan beres.


Nah, ternyata setelah 2 bulanan ini dibandingin sama vacuum pertama saya si Ergorapido, Kurumi nggak kalah performance-nya. Bahkan dalam hal waktu pemakaian setelah fully charged (baterai penuh), saya seringkali merasa Kurumi lebih lama waktu pemakaiannya. 

Walaupun di beberapa hal terasa kekurangannya Kurumi secara praktis. Seperti tidak bisa berdiri sendiri, atau nge-chargenya harus selalu dicolok nggak bisa otomatis nge-charge di stand-nya, atau posisi tabung penampungan di bagian atas. Saya pikir ini semacam pembiasaan saja.

Di sisi lain, Kurumi juga punya kelebihan. Dari segi bentuknya yang panjang sehingga bisa lebih leluasa masuk ke kolong furnitur, daya isap yang kuat, serta waktu pemakaian yang terbilang cukup lama. 

Dengan Kurumi saya bisa vacuum lantai 1 dan lantai 2 dalam tempo yang santai. Dan beberapa kali saya lupa nyolok chargernya, Kurumi masih bisa dipakai esoknya dengan sisa baterai yang tersisa walaupun biasanya akan kehabisan waktu di tengah-tengah. Tapi buat saya itu berarti waktu pemakaian yang lebih panjang. Oiya, kelebihan lain lagi, Kurumi harganya cukup terjangkau. Saya beli 2 bulan lalu harganya sekitar Rp1.700.000,00. 

Pada akhirnya, it’s all about functionality, dan buat saya produk ini bagus. Tapi disclaimer ya, mengenai keawetannya saya belum bisa buktikan apa-apa, karena saya sendiri baru pakai 2 bulanan. 


Itu dia review Vacuum Cleaner Stick Kurumi KV05. Semoga bermanfaat ya :).
Wassalaamualaikum.

Kamis, 18 Juni 2020

Forest Walk di Cimory Riverside (2020)


Assalaamualaikum,
Kalau dihitung-hitung hampir 3 bulan kami #dirumahaja . Well, kecuali suami yang sejak #newnormal harus Work from Office (WFO) 3 hari seminggu. Kangen juga ya liat jalanan. Ternyata rasa aman dan kebebasan itu nikmat yang sering ga disyukuri. Btw, hari ini saya mau nulis tentang  Resto Cimory Riverside, Puncak, yang sempat kami datangi sebelum pandemi mulai. 

Sebenarnya saya sudah nulis beberapa kali mengenai Cimory. Dari jaman Aira masih toddler, sampai jamannya udah ada riverside walk, sampai awal tahun 2020 ke sana ternyata sudah ada forest walk. Kalau mau lihat post Cimory tahun 2013 boleh klik di sini. Dan kalau mau lihat post Cimory tahun 2016 boleh klik di sini ya. Nanti kelihatan bedanya.

Ngomongin Cimory nggak bisa lepas dari cerita sekitar tahun 2008 di hidup saya. Saat stay di Puncak    selama sekitar 4 bulan sebagai bagian dari program Management Trainee salah satu bank. Itulah pertama kali saya tahu resto Cimory Mountain View. Resto Cimory yang pemandangannya mengarah ke gunung. Maklum dulu kan tinggalnya di luar kota, ga pernah main ke Puncak. Walopun yang namanya fresh graduate, duitnya ga banyak. Hahahaha. Ke Cimory cuma mau beli susu dan yoghurt. Kalau pas makan, ya karena ditraktir pacar 😂. Makanya selalu ingat masa-masa awal saya tinggal di Jakarta kalau main ke Puncak. Kemudian muncul resto Cimory yang yang ada Riverside walk-nya dengan pemandangan ke sungai. Dan tahun ini saya baru tahu kalau ternyata sekarang udah ada forest walk. 

Kalau dulu ke riverside-nya ga perlu bayar, sekarang ya ga mungkin karena riverside-nya nyambung sama Forest Walk. Masuknya bayar, Rp 15.000 per orang, dapat voucher 1 mini yoghurt buat ditukarkan. Di  foto di bawah ini bisa diliat ya, kalo dulu dari sini ke kiri langsung riverside walk. Sekarang sudah ada jembatan besar yang melintasi sungai. Cocok deh buat foto-foto. Cuma ya susah foto-foto di sini karena ramai. Kami bisa sedikit curi foto karena resto-nya baru buka. Oiya, forest walk ini baru buka sekitar jam 9.00 pagi ya. 

Dulu setelah tangga ini, ke kiri langsung area riverside buat jalan-jalan. Sekarang ada jembatan yang bisa kita lintasi ke seberang sungai.
Dulu setelah tangga ini, ke kiri langsung area riverside buat jalan-jalan.
Sekarang ada jembatan yang bisa kita lintasi ke seberang sungai.


Beruntung masih pagi, jadi bisa foto gini di jembatan.
Itu pun kami harus menunggu pengunjung lain lewat dulu.
Dan masih ada orang di belakang kita yang masuk frame 😅.




Setelah melewati jembatan, kita langsung disambut oleh berbagai kandang binatang Yang dibiarkan terbuka. Semacam mini zoo di tengah hutan. Ada burung-burung, monyet, angsa, domba, kuda, dan tentu saja sapi-sapi yang penghasil susu yang warna bulunya hitam putih seperti di label yoghurt Cimory.

Kandang sapi.

Sapinya lucu ya bulunya hitam putih gini.

Ini kolam dengan banyak angsa.



Anak-anak lumayan happy, bisa liat macam-macam binatang.

Rusa.

Bisa naik kuda poni juga. Tapi bocil nggak mau 😅.

Ini kandang-kandang binatang kecil yang berjejer rapi. Anak-anak seneng deh liat ini.
Oiya, bisa feeding juga ya dengan membeli wortel buat binatang-binatang ini.


Domba.


Kuda poni.


Sebenarnya ada juga ular sanca yang besar sekali. Tapi karena waktu itu lagi musim ular di mana-mana, dan baru beberapa hari sebelumnya ditemukan ular sepanjang 3 meter di selokan salah satu pojok cluster kami, saya malas mendekati ular. Nyium bau amisnya aja kayak bergidik gitu. Hahaha. 

Lepas mini zoo, kita akan bertemu dengan jembatan yang lebih kecil, yang menyambungkan kita kembali ke area riverside walk khas Cimory.



Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 10 pagi. Jadi hitungannya sarapan sekalian makan siang, alias brunch. Kalau ke Puncak, kami memang selalu memilih pergi pagi agar bisa Brunch. Selain udaranya segar, juga belum terlalu macet dan bisa lebih leluasa menikmati suasana. Maklumlah, tempat begini di Puncak selalu dipenuhi orang. Saya kurang suka berdesakan. Rasanya ribet. Mau ke toilet saja bisa lama antrinya. Hahaha.


Bocil asyik gambar sambil nunggu makanan datang.

Kalau memperhatikan makanan yang kami pesan di post beberapa tahun lalu saat ke sini, ternyata menu makanan yang kami pesan sama aja. Hahaha.






Bedanya, kali ini rasanya enggak seenak dulu. Padahal seingat saya nasi ayam cabe ijonya enak banget. Kali ini kami juga nggak beli yoghurt dan makanan lain. Soalnya sekarang yoghurt cimory udah bisa dibeli di minimarket depan perumahan. 

Kesimpulannya, main-main ke Cimory masih cukup menyenangkan karena anak-anak suka banget liat mini zoo. Spot-spotnya juga cakep buat foto-foto. Tapi kalau makanannya entah kenapa hari itu biasa saja. Hahaha. Tapi kalau korona berlalu, ya pingin juga sih brunch lagi di sini.

Wassalaamualaikum.

Rabu, 10 Juni 2020

Food Preparation dan Seni Mengatur Budget

Assalaamualaikum.



Hari ini saya mau cerita tentang food preparation. Saya merasa ini timing yang tepat buat bercerita karena di masa pandemi ini semua orang tentu harus melakukan food preparation. 
Food prep yang memudahkan saya menyiapkan makanan selama bulan Ramadhan lalu, serta menyiapkan bekal makan siang untuk Hubby saat harus Work From Office (WFO) agar di kantor ia bisa physical distancing.

Food prep ini sebenarnya blessing in disguise buat saya. I learned it the hard way, lewat pengalaman saya tahun lalu. Saat anak-anak bergiliran sakit bahkan sempat dirawat di RS. 

Si kakak sakit hingga 14 harian, disambung si adek yang sakit 5 mingguan atau sebulan lebih. Yah, mungkin kebayang ya rasanya gimana ngejagain anak sakit, plus ga ada ART, plus masih jadi supir antar jemput, dan hampir setiap malam sulit tidur karena si adek di masa itu rewelnya luar biasa. Dua bulan rasanya hidup kayak zombie. Masih hidup aja rasanya sudah untung.

Di kehidupan kami yang normal, saya nggak pernah terlalu mikirin makan apa. Karena kalau ga sempat masak saya bisa beli. Tapi saat anak sakit, mau ga mau harus masak di rumah terus. Karena rata-rata anak-anak itu sakit kalau nggak karena virus ya karena bakteri. Saat itu anak-anak saya, setelah cek darah, diketahui sakit demam karena ulah bakteri yang menjadi penyebab radang, dan pada akhirnya jadi penyebab demam. Jadi ya kemungkinan besar penyebabnya dari makanan. Mau ga mau saya harus masak tiap hari di rumah. Sejujurnya saya nggak tau bagaimana saya bisa melewati fase ini. Tapi saya ingat semua membaik saat pola pikir saya sama makanan berubah. Gara-gara kata-kata dokter saat periksa si adek setelah sekian kalinya. FYI, pada masa anak-anak sakit ini, kami bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali ke rumah sakit. Entah cek darah lah, dirawatlah, diuaplah, panas ga turun-turunlah, cek air seni, baca hasil lab, dlsb. Yah, pokonya cape lahir batin T_T.

Saat itu kami udah ganti dokter ke dua kalinya karena kami butuh second opinion. Well, technically, ini dokter ke empat, karena ada dokter yang kami pertama datangi karena saat itu emang keadaannya lagi darurat. Dan ada dokter ke tiga yang memang lagi available saat darurat juga. Rumit ya? Memang 😅.

Yang pasti di dokter terakhir ini, dr Huda Hilman di Hermina Depok, ia beberapa kali meminta si adek tes darah dan air seni. Karena setiap antibiotiknya habis, si adek pasti demam lagi. Dari beberapa kali ketemu, dokter ngasi resep antibiotik, dan ia saat itu bener-bener khawatir sama berat badannya si adek yang turun terus. Ia curiga bocil kekurangan zat besi karena susah makan. Sehingga imunitasnya turun terus. Jadi tiap mau sembuh, gampang demam lagi. Saya lupa dokter ngomong apa. Yang pasti kayaknya beliau ga mau tau, pokonya si bocil kudu mau makan dan berat badannya harus naik.

Saya yang secara fisik dan mental udah lelah banget waktu itu, akhirnya sampai di titik merasa ga boleh nyerah. Kayaknya cuma Allah dan suami saya yang tahu gimana lelahnya saya waktu itu. Tapi kemudian saya jadi mikir, kalo kayak gini terus, kapan anak gue bisa sembuh? Kapan gue bisa tidur dengan tenang?

Si adek saat itu susah banget disuruh makan. Minum susu UHT pun ga banyak. Maunya mimi terus sepanjang hari. Mungkin karena badannya ga nyaman. Dikasih mie aja anaknya nggak mau. Saya jadinya tambah sedih dan bingung. Ngebayangin kalo sampe gini terus, bisa masuk RS lagi. Sampai suatu kali, saya inget saya bikin brownies kukus Haan kesukaan si kakak. 

Saya coba suapin si adek brownies hangat yang baru matang itu. Alhamdulillah setelah hampir 5 mingguan makannya nggak bener, dia habiskan lumayan banyak. Saya sampe pengen nangis kalo inget. Whateverlah orang mau ngomong apa kek kuenya banyak gula apa kek terserah. Tapi brownies itu mengawali hari-hari si adek makan lebih banyak. Ngasih saya semangat biar si adek makan lebih banyak. Sampai sekitar dua minggu berikutnya saya masih nyetok brownies dan membuatnya dalam batch yang lebih kecil. 

Saya juga lebih bersabar lagi menyuapi si adek makan. Berangsur-angsur kesehatannya pulih. Berat badannya pun naik. Alhamdulillah. Setelah antibiotik terakhir habis, demamnya gapernah datang lagi. Masya Allah. 

Saat itulah saya menyadari ternyata memasak itu penting buat kesehatan anak-anak, yang pada akhirnya juga penting buat kesehatan saya. Seribet apa pun, I need to work it out. I need to find a way to speed things up. Bagaimana saya bisa masak tapi nggak menghabiskan waktu sehingga sempat untuk dilakukan setiap hari.

Akhirnya saya mulai kepikiran bikin food preparation. Saya cari-cari share dan cerita orang yang sudah melakukan food prep dan mencari tahu apakah akan mendukung goals saya. Saya cari di berbagai sumber, terutama di Youtube.

Yang menarik, sering saya menemukan food preparation di youtube di Indonesia, dihubungkan dengan mengatur keuangan dan budgeting, juga cara penyimpanan sayuran agar lebih awet. Sementara di luar Indonesia, food prep biasanya dihubungkan dengan gaya hidup sehat, diet, dan minimalism.


Pola masak dan makan orang Indonesia dan orang di luar Indonesia berbeda. Jadi kalau diperhatikan, orang luar biasanya melakukan meal prep / food prep per meal yang utuh, atau tinggal mix and match. Semua dibuat untuk satu minggu lalu disimpan di kulkas. Saat mereka membutuhkannya, mereka hanya tinggal memanaskannya saja atau menambahkan saus atau rasa yang lain. 

Sementara, di Indonesia, rata-rata food preparation dihiasi dengan bumbu putih, bumbu kuning, baceman bawang, dan biasanya menghindari membersihkan sayur karena bisa membuatnya cepat layu. Apalagi bawang-bawangan, rata-rata penyimpanannya di udara luar dan tidak dicuci karena bisa mempercepat pembusukan.

Berbeda sekali ya?

Well, saya mencoba menerapkan food prep ala barat untuk beberapa hari, karena cocok dengan goals saya menyediakan masakan dalam waktu yang lebih singkat. Tapi ternyata kurang cocok karena cara memasak, dan hidangan sehari-hari kami di rumah dan masakan ala orang barat berbeda. Tapi ada beberapa hal yang saya pelajari dari food prep ala barat ini, salah satunya menyiapkan seluruh bahan sudah benar-benar siap diolah.

Semua sayuran sudah dikupas, dipotong, disiangi. Daging dipisahkan sesuai perkiraan porsi memasak. Bawang-bawangan minimal sudah dikupas. Agar pada saatnya saya mau masak, saya tinggal iris atau blender saja. Agak berbeda dengan penyimpanan rata-rata orang di Indonesia di Youtube yang biasanya sayuran tidak dicuci dahulu karena menghindari pembusukan. Mengenai ini, mungkin nanti akan saya share lebih banyak di post yang lain ya.

Saya harus menekankan tujuan utama food prep saya adalah: Menyediakan makanan sehat di rumah namun menghemat waktu, memperpendek waktu memasak. Tujuan food prep saya bukan untuk berhemat atau diet. Tapi saya akan menjelaskan bagaimana nanti food prep akan berhubungan dengan mengatur budget.


Food Prep mengeliminasi waktu berbelanja.
Saya mengelola rumah tanpa ART dengan 2 anak, dan mengantar-jemput sekolah sendiri. Berbelanja setiap hari, buat saya, menghabiskan waktu. Walaupun mungkin hanya setengah atau satu jam. Saya tidak punya waktu pergi ke tukang sayur setiap hari, atau menunggu sayur diantarkan ke rumah. Saya perlu bahan makanan sudah ada di rumah kapan pun saya punya waktu untuk mengolahnya. Berbelanja satu kali dalam seminggu, membuat saya bisa menyimpan waktu beberapa jam untuk diri saya sendiri.

Food Prep menghemat waktu saya di rumah.
Saya hanya menyediakan satu hari untuk membereskan semua bahan makanan agar semua siap diolah pada waktunya. Itu artinya, semua sayuran dan daging saya bersihkan terlebih dulu. Saya usahakan semua bahan siap diolah pada waktunya.


As good as it seen. As neat as it seems. Kenyataannya tentu saja nggak semudah itu 😁. Food prep membutuhkan konsistensi untuk benar-benar menghasilkan dampak di hidup kita. Musuhnya adalah kemalasan untuk merapikan semua bahan itu, dan kreatifitas atau mood kita masak di hari tersebut. Iya, ada saat kita nggak mood aja masak bahan yang sudah kita beli. Atau tiba-tiba pingin masak makanan lain yang nggak ada di food prep. 

Kalau kamu tipe orang yang pingin kreatifitas memasaknya nggak terganggu, food prep ngga cocok buat kamu. Karena kalo dipaksain, kemungkinan bahan makanan mubadzirnya besar. Percuma kan kita belanja tapi semuanya nggak termasak. Nah, kalo udah gini, yang ada food prep malah jadi boros. Wkwkwk. 



Setelah melakukan food prep selama sekitar 6-7 bulan, ada beberapa tips yang mungkin bakal berguna.

1. Kontrol dan konsisten.
Ide awal dari food prep adalah mengontrol dan memudahkan hidup kita. Buat saya, gunanya untuk mengontrol dan mengendalikan pemanfaatan waktu. Untuk orang lain, mungkin untuk mengontrol pengeluaran atau mengatur makanan sehat (diet). Apapun itu, cobalah untuk konsisten melakukannya sehingga tujuanmu bisa tercapai.

2. Tetapkan jangka waktu yang masuk akal untukmu.
Food prep seharusnya bisa memudahkan hidup kita. Tetapkan jangka waktu yang sesuai buat kamu. Saya biasanya menyiapkan preparation untuk 5-7 hari. Lebih dari itu, saya nggak bisa. Ini jangka waktu yang cukup buat saya memikirkan menu dan lebih dari itu biasanya malah mubadzir karena menunya jadi ngereka-reka sendiri.


3. Tetapkan budget yang masuk akal buat kamu.
Ini mungkin bisa menjadi perdebatan. Tapi menurut saya, melakukan food preparation belum tentu bisa bikin kita berhemat. Jumlah belanja saya saat food prep dan tidak food prep adalah sama saja. Tidak ada yang berubah. Karena food prep dilakukan sesuai dengan pola konsumsi kita sendiri. Kalau biasa banyak menu daging-dagingan premium, atau ayam negeri, atau ayam kampung, saat food prep juga tentu akan melakukan hal yang sama. Malah bisa jadi budget boncos gara-gara beli banyak buat prep tapi ga konsisten masaknya, malah bikin bahan makanan bisa mubadzir/busuk dan jadi boros. Ini saya ngalamin sendiri 😁.

Bukan apa-apa. Saat mulai food prep kadang kita terlalu bersemangat dan nggak bisa ngukur jumlah makanan yang cukup buat seminggu. Jadinya banyak bahan makanan yang dibeli. Ini juga yang bikin budget boncos.

Jadi bagaimana?
Menurut saya, yang paling benar adalah tetapkan budget yang memang sesuai sama pola konsumsi di keluarga kita. Boleh diketatkan sedikit, tapi harus dalam jumlah yang realistis. Jangan halu (halusinasi), kalau kata anak sekarang. Karena kalau budgetnya terlalu dibikin kecil hanya karena ingin berhemat, tujuanmu pada akhirnya nggak akan tercapai dengan baik. Entah kamu akan nambah belanja di tengah minggu, atau kamu akan menderita.  Jujurlah pada diri sendiri saat bikin budget.

That’s just the nature of money. It cannot lie. Kita ambil di sini segini ya pasti di sana sisa segitu. Kita taruh budget yang halu, ya nanti hasilnya juga halu. Apa gunanya mengatur budget kalau kita nggak jujur sama diri sendiri? Budget kita nggak akan pernah teratur kalau kita nggak jujur sama diri sendiri.

Lalu kenapa saya ngasih judul post ini food preparation dan seni mengatur budget? 

Karena food preparation memang bisa bantu kita ngatur budget, bukan berhemat. Ini sangat berbeda. 

Kita bisa menentukan budget makan kita selama jangka waktu tertentu, agar tidak bisa melebihi budget tersebut. Kita jadi lebih jujur kepada diri kita sendiri, berapa sih sebenarnya yang dibutuhkan keluarga kita buat makan? Yang pada akhirnya akan membawa kita kepada perencanaan budget rumah tangga setiap bulan. 

In my humble opinioin, soal budgeting food preparation ini tidak boleh ada angka halu seakan kita mau berhemat. Karena kalau angkanya terlalu kecil, kita sendiri yang bakal susah menetapkan budget bulanan. Yang pada akhirnya, angka yang kita dapatkan jadi nggak realistis.

Percayalah, dalam menentukan budget, kamu harus punya sedikit elastisitas sehingga pembengkakan budget bisa diukur sampai angka tertentu. Tetapkan budget yang cukup. Kalau mau taat budget, ya jangan belanja lebih dari budget telah kamu tetapkan itu. Lebih bagus lagi kalau ada sisa, jadi bisa disimpan atau dipakai buat kebutuhan lain. Nah, kalo itu, baru namanya berhemat.

Bagaimana kalau mau bikin food peparation untuk berhemat?
Ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Tapi butuh waktu. Jika memang mau membuat food preparation untuk berhemat, saran saya, lihat dulu pola makanan yang biasanya kita makan dan hitung dengan jujur. Setelah tahu polanya, kita bisa membuat pola yang baru dengan metode trial and error. Akan butuh waktu dan penyesuaian sampai benar-benar bisa menemukan pola food preparation yang baru untuk berhemat. Karena berhemat dengan cara ini, berarti kita harus mengubah pola makan kita dan seluruh keluarga. Tapi tentu saja ini bisa dilakukan. Lagi-lagi kuncinya, konsisten.

Satu hal lagi. 
Food preparation erat kaitannya dengan kebiasaan makan setiap keluarga. Jika memang ingin mengatur budget, sebaiknya memperhatikan pola konsumsi makan kita di luar rumah. Misalnya seperti saya, saya tahu saya punya kebiasaan makan di luar, atau sekarang jadinya order makan online di weekend, sekitar satu sampai tiga kali seminggu. 
Entah dari grup Whatsapp cluster karena ada yang menawarkan makanan enak, atau anak-anak yang pengen makan pizza. Dengan mengetahui pola makan ini, saya harus mengatur food prep agar tidak mubadzir. Jadi biasanya saya hitung persiapan sayuran untuk 5 hari (weekday) dan sisanya protein karena lebih awet dan lebih mudah diolah jika saat weekend ternyata saya memutuskan masak di rumah saja.

Dari semua hal yang saya ceritakan tadi, hal yang paling menyenangkan dari food preparation adalah saat melihat semua bahan makanan berjejer rapi dan bersih. Kulkas pun penampakannya bikin gembira.




Kalau sudah rapi, I have clear ideas mengenai apa yang akan saya masak dalam satu minggu ke depan. Pikiran saya lebih terorganisasi. Saya pun lebih tenang. Saya tahu seminggu ke depan saya bakal punya cukup banyak waktu luang untuk diri saya sendiri. Saya percaya diri bisa menyajikan makanan yang baik. Dan tentu saja bujet lebih terkendali.

Ada banyak hal lagi tentang food prep yang pingin saya ceritakan. Tapi mungkin nanti ya, karena tulisannya sudah terlalu panjang. 

Wassalaamualaikum :).



Sabtu, 06 Juni 2020

Make-Up Review : Emina Creamy Tint


Assalaamualaikum,

Semasa #dirumahaja ini bisa dihitung jari rasanya dandan. Boro-boro dandan lengkap, pakai pensil alis aja kalau mau zoom meeting. Hanya saja, belakangan jadi lebih sering pakai skincare. Dan karena jarang keluar, kulit wajah sekarang lebih cepat membaik kalau ada jerawat.

Baru belakangan ini bisa pakai lipen lagi kalau mau zoom meeting atau bikin konten. Bedanya dulu malas banget, sekarang malah happy kalau ada alasan buat dandan. Jadi, mumpung lagi semangat, hari ini saya mau review lipen Creamy Tint dari Emina. Ini dia penampakannya,


Creamy tint ini sebenarnya ada 5 shades, tapi saya cuma beli 4 shades, dari nomor 02-05. Simply karena shade 01 itu warna brick town, dan saya kurang suka sama warna brick karena wajah saya jadi keliatan pucat atau gelap kalau pakai warna ini. Walaupun saya sadar warna ini banyak yang suka :).

So, ini dia shades 02 Peach Crush, 03 Sunbeam, 04 Wild Berry, dan 05 Cherry Soda.



Botolnya kecil ya? Isinya memang cuma 3.5 gram. Tapi harganya pun ramah di kantong. Hanya sekitar Rp 44.000. Affordable buat segmen remaja yang mungkin ga pakai lipstik tiap hari dan senang mencoba banyak hal. 

Karena botolnya kecil, maka aplikatornya pun pendek seperti ini.


Saya nggak ada masalah dengan aplikatornya yang pendek. Ujungnya seperti ada lubang, tapi justru aplikasinya jadi lebih mudah merata daripada wand yang tanpa lubang. Berikut swatch-nya di tangan.


Peach Crush
Seperti namanya, warnanya natural tapi ada hint peach. Gabungan warna cokelat muda dan warna peach. Ini warnanya cakep banget.

Sunbeam
Warnanya orange yang natural banget. Warna ini yang aku pakai di foto paling bawah di tulisan ini. Warna ini cocok buat yang punya warna kulit agak kuning. Cocok dipakai buat pengganti blush dan sebagai lip tint. Cerah seketika kalau dioles tipis di bibir.

Wild Berry
Ini warna fuschia yang ngejreng. Kulit saya yang agak kuning kurang cocok pakai warna ini. Kecuali saya pakai make up lengkap dengan foundation dan lain-lain. Kalau memang lagi mau bold ini kece juga sih. Tapi saya orangnya jarang pengen menonjol jadi jarang dipake juga. Hahaha.

Cherry Soda
Ini warna merah tua yang agak orange gitu. Jadi finishnya merah tua tapi bikin muka cerah. Cocok banget dipake saat males pakai makeup tebal tapi pengen keliatan dandan.

Creamy tint ini punya formula yang berada di antara lip cream dan lip tint. Finishnya agak matte seperti lip cream, tapi rasanya tidak kering di bibir yang biasanya muncul di formula lip cream. Seingat saya, formula lipcream biasanya yang kering yang gampang retak sehingga harus pakai lip balm dulu sebelumnya, atau tidak retak tapi bibir rasanya tebal dan susah banget dihapus. 

Di sisi lain, seperti lip tint, jika dipakai tipis-tipis efeknya seperti memakai lip tint yang teksturnya cair itu tapi warnanya lebih solid/cerah. Kita tahu pakai lip tint itu kayaknya warnanya tipis banget dan ga nutup sama sekali, cuma kasih tint aja di bibir. Kalau pakai ini, warnanya lumayan menutup imperfection di bibir sedikit. It’s like your own lip but better.

Karena efeknya ini pula, saya biasanya pakai juga buat di pipi sebagai pengganti blush. Warna Sunbeam yang agak orange paling favorit karena bikin wajah saya keliatan lebih cerah.


Oia, creamy tint ini agak transfer ya tapi nggak semudah lipstik biasa. Kalau nggak makan dan minum lumayan tahan lama. Tapi kalau makan atau minum akan berkurang warnanya sedikit demi sedikit dan harus touch up. Tapi kalau buat saya sih cocok aja, karena saya nggak suka lipstik yang susah dihapus saat mau wudhu. Saya tipikalnya kalau mau wudhu lipstik dan eyeliner saya hapus dulu biar air wudhu kena kulit. Jadi saya malah suka kesel kalau udah wudhu trus lupa hapus lipstik atau lipstiknya susah banget dihapus.

Akhir-akhir ini juga saya lebih suka produk Emina karena entah kenapa, mungkin karena image-nya yang buat remaja, saya jadi lebih nyaman karena berharap formulanya lebih ringan buat kulit. Tapi ini murni asumsi aja ya. Hahaha.


Kesimpulannya? Kalau kamu tipe yang suka lip cream atau lip tint yang warnanya lebih tahan lama, mungkin creamy tint ga akan cocok buat kamu. Tapi kalau kamu tipe yang seperti saya, suka lipstik yang ga bikin kering bibir dan bisa ngasih cerah natural saat dioles tipis-tipis, Emina Creamy Tint ini mungkin cocok. Yang warna Sunbeam malah saya repurchase saat habis karena saking sukanya :).

Wassalaamualaikum.

Senin, 01 Juni 2020

Review Pasta Gigi Sasha : Mencegah Gigi Berlubang di Masa Pandemi

Assalaamualaikum,



Sejak pandemi, rasanya kita ini nggak boleh sakit. Karena kalo sampe sakit, ribet. Apalagi mendatangi rumah sakit atau fasilitas kesehatan malah bisa membahayakan diri sendiri dan anak-anak. Saya pernah baca peringatan di awal-awal masa pandemi, banyak sekali anjuran agar menunda membuat janji temu dengan dokter kecuali darurat. 

Tapi namanya awal masa pandemi, kita semua masih meraba-raba dan berusaha beradaptasi dengan kebiasaan di rumah sehari-hari. Bukan apa-apa, dengan informasi yang kita dapat saat itu, sepertinya kita semua waktu itu merasa bakal diam di rumah hanya selama dua minggu. Buat saya, diam di rumah selama dua minggu malah jadi banyak menyimpan makanan. Dari nyetok telur ayam sampe 4 kg dan sebagiannya jadi busuk karena kebanyakan 😭, sampai menyetok daging sapi yang sebenarnya jarang banget saya makan. Entah bagaimana di feed sering berseliweran orang bikin steak, barbeque a la Korea, dll. Kok lama-lama jadi ngiler. Hahahaha.

Akhirnya di rumah saya jadi punya stok daging cincang pack 1 kg, daging steak, daging rendang, dan tentu saja ikut pesan rendang padangnya Bu Rete yang emang enak buat kalau tiba-tiba mamak ga masak. Dan ini berlangsung berulang kayaknya kami di rumah jadi sering makan daging. Mungkin diperparah juga sama makanan dan minuman yang sering diorder online selama #dirumahaja . Dari kopi susu kekinian, sampai martabak cokelat kacang wijen yang nyangkut-nyangkut di gigi tapi enak. Wkwkwk.

Sampai suatu hari saya panas dalam dan gusi saya bengkak. Mengunyah daging malah bikin gigi saya yang ditambal sakit. Ini berlangsung beberapa hari sampai saya mikir saya takut kalau harus ke dokter gigi sekarang. Saya nggak mau. Karena kita sering diingatkan bahwa di masa pandemi ini ga boleh pergi ke dokter kecuali memang darurat.




Kita tahu perawatan gigi di dokter gigi itu menyebabkan banyak aerosol di udara. Jadi sebisa mungkin harus bisa jaga kesehatan gigi supaya nggak usah pergi ke dokter gigi karena giginya sakit. Gara-gara ini saya akhirnya mengurangi daging sebagai bahan makanan di rumah, menambah banyak asupan sayur agar tidak panas dalam, dan tentu saja lebih rajin lagi menyikat gigi. 

Kebetulan liat salah satu teman memakai pasta gigi halal Sasha Pencegah Gigi Berlubang, dan kebetulan juga saya memang pakai Sasha Herbal yang varian kemasannya emas kecokelatan. Begini kemasannya,

Pasta gigi halal Sasha Pencegah Gigi Berlubang.
Sasha Pencegah Gigi Berlubang memiliki kandungan utama siwak asli, flouride, dan juga kalsium. 

Seperti varian pendahulunya,  pasta gigi ini juga kandungan utamanya siwak asli. Siwak mengandung resin, flouride alami, klorida dan kalsium. Zat alami ini menjadikan manfaat siwak yaitu, memperkuat gigi, mencegah gigi berlubang, melawan bakteri penyebab plak dan bau mulut, serta membuat gigi putih alami. Di varian ini dikombinasikan juga dengan flouride dan kalsium untuk menjaga kekuatan dan kesehatan gigi dan mencegah gigi berlubang.

Ternyata, sebagian besar sakit gigi itu diakibatkan oleh adanya gigi yang berlubang. 92% anak-anak ternyata memiliki gigi berlubang, dan 88% ternyata dialami orang dewasa. Gigi berlubang biasanya disebabkan oleh plak yang menumpuk dan tumpukan kuman serta bakteri yang merubah sisa makanan menjadi asam. Asam inilah yang akhirnya merusak enamel pelindung gigi sehingga jadi berlubang. Jadi, kalau tidak mau sakit gigi dan gigi berlubang, solusinya ya harus sering sikat gigi. 

Kelebihan lain dari pasta gigi ini adalah, halal, tidak mengandung alkohol, dan tidak mengandung bahan yang berasal dari hewan. Jadi aman buat dipakai seluruh keluarga setiap hari.


Setelah saya coba, rasa di mulutnya mint segar. Aira juga suka karena rasanya nggak nonjok gitu. Menyegarkan, tapi nggak ‘pedas’ kalau kata Aira. Jadi Mamak senang bisa pakai satu pasta gigi ini aja buat seluruh keluarga. 

Harga pasta gigi ini pun cukup terjangkau. Tube yang besar (150 g) harganya Rp 10.500 dan tube yang kecil (65 g) Rp 4.500. Mamak pun happy bisa berhemat sedikit di tengah pandemi. Wkwkwk. Oiya, selamat Idul Fitri ya, Teman-Teman. Sengaja fotonya tema lebaran. Biar ingat, kalau habis makan Kue lebaran, jangan lupa sering sikat gigi. Semoga kita selalu sehat-sehat saja selama masa ini. Aamiin.


Kalau ada yang mau tahu lebih banyak tentang produk ini, kalian bisa follow akun @sashaindonesia  di Instagram atau di Facebook, dan beli produknya di www.kinostore.co.id 

Gue tutup tulisan ini dengan contoh Rasulullah SAW dalam membersihkan gigi. Beliau membersihkan gigi dengan kayu siwak. Rasulullah SAW bersiwak setiap kali berwudhu, setiap hendak shalat, sebelum membaca Al-Quran, saat memasuki rumah, dan saat bangun malam untuk shalat. Masya Allah. 

Jangan lupa sikat gigi ya, Gaes. Wassalaamualaikum.

You Might Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...