Food Preparation dan Seni Mengatur Budget

Assalaamualaikum.



Hari ini saya mau cerita tentang food preparation. Saya merasa ini timing yang tepat buat bercerita karena di masa pandemi ini semua orang tentu harus melakukan food preparation. 
Food prep yang memudahkan saya menyiapkan makanan selama bulan Ramadhan lalu, serta menyiapkan bekal makan siang untuk Hubby saat harus Work From Office (WFO) agar di kantor ia bisa physical distancing.

Food prep ini sebenarnya blessing in disguise buat saya. I learned it the hard way, lewat pengalaman saya tahun lalu. Saat anak-anak bergiliran sakit bahkan sempat dirawat di RS. 

Si kakak sakit hingga 14 harian, disambung si adek yang sakit 5 mingguan atau sebulan lebih. Yah, mungkin kebayang ya rasanya gimana ngejagain anak sakit, plus ga ada ART, plus masih jadi supir antar jemput, dan hampir setiap malam sulit tidur karena si adek di masa itu rewelnya luar biasa. Dua bulan rasanya hidup kayak zombie. Masih hidup aja rasanya sudah untung.

Di kehidupan kami yang normal, saya nggak pernah terlalu mikirin makan apa. Karena kalau ga sempat masak saya bisa beli. Tapi saat anak sakit, mau ga mau harus masak di rumah terus. Karena rata-rata anak-anak itu sakit kalau nggak karena virus ya karena bakteri. Saat itu anak-anak saya, setelah cek darah, diketahui sakit demam karena ulah bakteri yang menjadi penyebab radang, dan pada akhirnya jadi penyebab demam. Jadi ya kemungkinan besar penyebabnya dari makanan. Mau ga mau saya harus masak tiap hari di rumah. Sejujurnya saya nggak tau bagaimana saya bisa melewati fase ini. Tapi saya ingat semua membaik saat pola pikir saya sama makanan berubah. Gara-gara kata-kata dokter saat periksa si adek setelah sekian kalinya. FYI, pada masa anak-anak sakit ini, kami bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali ke rumah sakit. Entah cek darah lah, dirawatlah, diuaplah, panas ga turun-turunlah, cek air seni, baca hasil lab, dlsb. Yah, pokonya cape lahir batin T_T.

Saat itu kami udah ganti dokter ke dua kalinya karena kami butuh second opinion. Well, technically, ini dokter ke empat, karena ada dokter yang kami pertama datangi karena saat itu emang keadaannya lagi darurat. Dan ada dokter ke tiga yang memang lagi available saat darurat juga. Rumit ya? Memang 😅.

Yang pasti di dokter terakhir ini, dr Huda Hilman di Hermina Depok, ia beberapa kali meminta si adek tes darah dan air seni. Karena setiap antibiotiknya habis, si adek pasti demam lagi. Dari beberapa kali ketemu, dokter ngasi resep antibiotik, dan ia saat itu bener-bener khawatir sama berat badannya si adek yang turun terus. Ia curiga bocil kekurangan zat besi karena susah makan. Sehingga imunitasnya turun terus. Jadi tiap mau sembuh, gampang demam lagi. Saya lupa dokter ngomong apa. Yang pasti kayaknya beliau ga mau tau, pokonya si bocil kudu mau makan dan berat badannya harus naik.

Saya yang secara fisik dan mental udah lelah banget waktu itu, akhirnya sampai di titik merasa ga boleh nyerah. Kayaknya cuma Allah dan suami saya yang tahu gimana lelahnya saya waktu itu. Tapi kemudian saya jadi mikir, kalo kayak gini terus, kapan anak gue bisa sembuh? Kapan gue bisa tidur dengan tenang?

Si adek saat itu susah banget disuruh makan. Minum susu UHT pun ga banyak. Maunya mimi terus sepanjang hari. Mungkin karena badannya ga nyaman. Dikasih mie aja anaknya nggak mau. Saya jadinya tambah sedih dan bingung. Ngebayangin kalo sampe gini terus, bisa masuk RS lagi. Sampai suatu kali, saya inget saya bikin brownies kukus Haan kesukaan si kakak. 

Saya coba suapin si adek brownies hangat yang baru matang itu. Alhamdulillah setelah hampir 5 mingguan makannya nggak bener, dia habiskan lumayan banyak. Saya sampe pengen nangis kalo inget. Whateverlah orang mau ngomong apa kek kuenya banyak gula apa kek terserah. Tapi brownies itu mengawali hari-hari si adek makan lebih banyak. Ngasih saya semangat biar si adek makan lebih banyak. Sampai sekitar dua minggu berikutnya saya masih nyetok brownies dan membuatnya dalam batch yang lebih kecil. 

Saya juga lebih bersabar lagi menyuapi si adek makan. Berangsur-angsur kesehatannya pulih. Berat badannya pun naik. Alhamdulillah. Setelah antibiotik terakhir habis, demamnya gapernah datang lagi. Masya Allah. 

Saat itulah saya menyadari ternyata memasak itu penting buat kesehatan anak-anak, yang pada akhirnya juga penting buat kesehatan saya. Seribet apa pun, I need to work it out. I need to find a way to speed things up. Bagaimana saya bisa masak tapi nggak menghabiskan waktu sehingga sempat untuk dilakukan setiap hari.

Akhirnya saya mulai kepikiran bikin food preparation. Saya cari-cari share dan cerita orang yang sudah melakukan food prep dan mencari tahu apakah akan mendukung goals saya. Saya cari di berbagai sumber, terutama di Youtube.

Yang menarik, sering saya menemukan food preparation di youtube di Indonesia, dihubungkan dengan mengatur keuangan dan budgeting, juga cara penyimpanan sayuran agar lebih awet. Sementara di luar Indonesia, food prep biasanya dihubungkan dengan gaya hidup sehat, diet, dan minimalism.


Pola masak dan makan orang Indonesia dan orang di luar Indonesia berbeda. Jadi kalau diperhatikan, orang luar biasanya melakukan meal prep / food prep per meal yang utuh, atau tinggal mix and match. Semua dibuat untuk satu minggu lalu disimpan di kulkas. Saat mereka membutuhkannya, mereka hanya tinggal memanaskannya saja atau menambahkan saus atau rasa yang lain. 

Sementara, di Indonesia, rata-rata food preparation dihiasi dengan bumbu putih, bumbu kuning, baceman bawang, dan biasanya menghindari membersihkan sayur karena bisa membuatnya cepat layu. Apalagi bawang-bawangan, rata-rata penyimpanannya di udara luar dan tidak dicuci karena bisa mempercepat pembusukan.

Berbeda sekali ya?

Well, saya mencoba menerapkan food prep ala barat untuk beberapa hari, karena cocok dengan goals saya menyediakan masakan dalam waktu yang lebih singkat. Tapi ternyata kurang cocok karena cara memasak, dan hidangan sehari-hari kami di rumah dan masakan ala orang barat berbeda. Tapi ada beberapa hal yang saya pelajari dari food prep ala barat ini, salah satunya menyiapkan seluruh bahan sudah benar-benar siap diolah.

Semua sayuran sudah dikupas, dipotong, disiangi. Daging dipisahkan sesuai perkiraan porsi memasak. Bawang-bawangan minimal sudah dikupas. Agar pada saatnya saya mau masak, saya tinggal iris atau blender saja. Agak berbeda dengan penyimpanan rata-rata orang di Indonesia di Youtube yang biasanya sayuran tidak dicuci dahulu karena menghindari pembusukan. Mengenai ini, mungkin nanti akan saya share lebih banyak di post yang lain ya.

Saya harus menekankan tujuan utama food prep saya adalah: Menyediakan makanan sehat di rumah namun menghemat waktu, memperpendek waktu memasak. Tujuan food prep saya bukan untuk berhemat atau diet. Tapi saya akan menjelaskan bagaimana nanti food prep akan berhubungan dengan mengatur budget.


Food Prep mengeliminasi waktu berbelanja.
Saya mengelola rumah tanpa ART dengan 2 anak, dan mengantar-jemput sekolah sendiri. Berbelanja setiap hari, buat saya, menghabiskan waktu. Walaupun mungkin hanya setengah atau satu jam. Saya tidak punya waktu pergi ke tukang sayur setiap hari, atau menunggu sayur diantarkan ke rumah. Saya perlu bahan makanan sudah ada di rumah kapan pun saya punya waktu untuk mengolahnya. Berbelanja satu kali dalam seminggu, membuat saya bisa menyimpan waktu beberapa jam untuk diri saya sendiri.

Food Prep menghemat waktu saya di rumah.
Saya hanya menyediakan satu hari untuk membereskan semua bahan makanan agar semua siap diolah pada waktunya. Itu artinya, semua sayuran dan daging saya bersihkan terlebih dulu. Saya usahakan semua bahan siap diolah pada waktunya.


As good as it seen. As neat as it seems. Kenyataannya tentu saja nggak semudah itu 😁. Food prep membutuhkan konsistensi untuk benar-benar menghasilkan dampak di hidup kita. Musuhnya adalah kemalasan untuk merapikan semua bahan itu, dan kreatifitas atau mood kita masak di hari tersebut. Iya, ada saat kita nggak mood aja masak bahan yang sudah kita beli. Atau tiba-tiba pingin masak makanan lain yang nggak ada di food prep. 

Kalau kamu tipe orang yang pingin kreatifitas memasaknya nggak terganggu, food prep ngga cocok buat kamu. Karena kalo dipaksain, kemungkinan bahan makanan mubadzirnya besar. Percuma kan kita belanja tapi semuanya nggak termasak. Nah, kalo udah gini, yang ada food prep malah jadi boros. Wkwkwk. 



Setelah melakukan food prep selama sekitar 6-7 bulan, ada beberapa tips yang mungkin bakal berguna.

1. Kontrol dan konsisten.
Ide awal dari food prep adalah mengontrol dan memudahkan hidup kita. Buat saya, gunanya untuk mengontrol dan mengendalikan pemanfaatan waktu. Untuk orang lain, mungkin untuk mengontrol pengeluaran atau mengatur makanan sehat (diet). Apapun itu, cobalah untuk konsisten melakukannya sehingga tujuanmu bisa tercapai.

2. Tetapkan jangka waktu yang masuk akal untukmu.
Food prep seharusnya bisa memudahkan hidup kita. Tetapkan jangka waktu yang sesuai buat kamu. Saya biasanya menyiapkan preparation untuk 5-7 hari. Lebih dari itu, saya nggak bisa. Ini jangka waktu yang cukup buat saya memikirkan menu dan lebih dari itu biasanya malah mubadzir karena menunya jadi ngereka-reka sendiri.


3. Tetapkan budget yang masuk akal buat kamu.
Ini mungkin bisa menjadi perdebatan. Tapi menurut saya, melakukan food preparation belum tentu bisa bikin kita berhemat. Jumlah belanja saya saat food prep dan tidak food prep adalah sama saja. Tidak ada yang berubah. Karena food prep dilakukan sesuai dengan pola konsumsi kita sendiri. Kalau biasa banyak menu daging-dagingan premium, atau ayam negeri, atau ayam kampung, saat food prep juga tentu akan melakukan hal yang sama. Malah bisa jadi budget boncos gara-gara beli banyak buat prep tapi ga konsisten masaknya, malah bikin bahan makanan bisa mubadzir/busuk dan jadi boros. Ini saya ngalamin sendiri 😁.

Bukan apa-apa. Saat mulai food prep kadang kita terlalu bersemangat dan nggak bisa ngukur jumlah makanan yang cukup buat seminggu. Jadinya banyak bahan makanan yang dibeli. Ini juga yang bikin budget boncos.

Jadi bagaimana?
Menurut saya, yang paling benar adalah tetapkan budget yang memang sesuai sama pola konsumsi di keluarga kita. Boleh diketatkan sedikit, tapi harus dalam jumlah yang realistis. Jangan halu (halusinasi), kalau kata anak sekarang. Karena kalau budgetnya terlalu dibikin kecil hanya karena ingin berhemat, tujuanmu pada akhirnya nggak akan tercapai dengan baik. Entah kamu akan nambah belanja di tengah minggu, atau kamu akan menderita.  Jujurlah pada diri sendiri saat bikin budget.

That’s just the nature of money. It cannot lie. Kita ambil di sini segini ya pasti di sana sisa segitu. Kita taruh budget yang halu, ya nanti hasilnya juga halu. Apa gunanya mengatur budget kalau kita nggak jujur sama diri sendiri? Budget kita nggak akan pernah teratur kalau kita nggak jujur sama diri sendiri.

Lalu kenapa saya ngasih judul post ini food preparation dan seni mengatur budget? 

Karena food preparation memang bisa bantu kita ngatur budget, bukan berhemat. Ini sangat berbeda. 

Kita bisa menentukan budget makan kita selama jangka waktu tertentu, agar tidak bisa melebihi budget tersebut. Kita jadi lebih jujur kepada diri kita sendiri, berapa sih sebenarnya yang dibutuhkan keluarga kita buat makan? Yang pada akhirnya akan membawa kita kepada perencanaan budget rumah tangga setiap bulan. 

In my humble opinioin, soal budgeting food preparation ini tidak boleh ada angka halu seakan kita mau berhemat. Karena kalau angkanya terlalu kecil, kita sendiri yang bakal susah menetapkan budget bulanan. Yang pada akhirnya, angka yang kita dapatkan jadi nggak realistis.

Percayalah, dalam menentukan budget, kamu harus punya sedikit elastisitas sehingga pembengkakan budget bisa diukur sampai angka tertentu. Tetapkan budget yang cukup. Kalau mau taat budget, ya jangan belanja lebih dari budget telah kamu tetapkan itu. Lebih bagus lagi kalau ada sisa, jadi bisa disimpan atau dipakai buat kebutuhan lain. Nah, kalo itu, baru namanya berhemat.

Bagaimana kalau mau bikin food peparation untuk berhemat?
Ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Tapi butuh waktu. Jika memang mau membuat food preparation untuk berhemat, saran saya, lihat dulu pola makanan yang biasanya kita makan dan hitung dengan jujur. Setelah tahu polanya, kita bisa membuat pola yang baru dengan metode trial and error. Akan butuh waktu dan penyesuaian sampai benar-benar bisa menemukan pola food preparation yang baru untuk berhemat. Karena berhemat dengan cara ini, berarti kita harus mengubah pola makan kita dan seluruh keluarga. Tapi tentu saja ini bisa dilakukan. Lagi-lagi kuncinya, konsisten.

Satu hal lagi. 
Food preparation erat kaitannya dengan kebiasaan makan setiap keluarga. Jika memang ingin mengatur budget, sebaiknya memperhatikan pola konsumsi makan kita di luar rumah. Misalnya seperti saya, saya tahu saya punya kebiasaan makan di luar, atau sekarang jadinya order makan online di weekend, sekitar satu sampai tiga kali seminggu. 
Entah dari grup Whatsapp cluster karena ada yang menawarkan makanan enak, atau anak-anak yang pengen makan pizza. Dengan mengetahui pola makan ini, saya harus mengatur food prep agar tidak mubadzir. Jadi biasanya saya hitung persiapan sayuran untuk 5 hari (weekday) dan sisanya protein karena lebih awet dan lebih mudah diolah jika saat weekend ternyata saya memutuskan masak di rumah saja.

Dari semua hal yang saya ceritakan tadi, hal yang paling menyenangkan dari food preparation adalah saat melihat semua bahan makanan berjejer rapi dan bersih. Kulkas pun penampakannya bikin gembira.




Kalau sudah rapi, I have clear ideas mengenai apa yang akan saya masak dalam satu minggu ke depan. Pikiran saya lebih terorganisasi. Saya pun lebih tenang. Saya tahu seminggu ke depan saya bakal punya cukup banyak waktu luang untuk diri saya sendiri. Saya percaya diri bisa menyajikan makanan yang baik. Dan tentu saja bujet lebih terkendali.

Ada banyak hal lagi tentang food prep yang pingin saya ceritakan. Tapi mungkin nanti ya, karena tulisannya sudah terlalu panjang. 

Wassalaamualaikum :).



Komentar

Esti Sulistyawan mengatakan…
Terima kasih sharingnya Teh. Saya beberapa kali mau bikin food prep, tapi kalah sama art yang pengen masak ini itu haha ya sudahlah selama masakan rumah pakai bahan sehat dan semoga cara masak juga sehat, semoga orang serumah selalu sehat juga.
Yeye mengatakan…
Sejak kerja, gw sdh bikin food prep, walau kdg dlm seminggu itu suka kebolak balik menu nya krn terkait "mood" yg pengen makan ini dulu hahaha.Tp beneran deh food prep ini bisa ngontrol budget banget. TFS Miaaaaaaaa :*

Postingan populer dari blog ini

Pilih-Pilih Gendongan (Review) : Geos, BabyK'Tan dan Hip Seat Carrier

Survey TK di Depok

Cerita Trimester Tiga: Pilih-Pilih Rumah Sakit (Biaya Melahirkan di Hermina Depok & Bunda Margonda)