Ramadhan dan Lebaran Rasa #DiRumahAja



Assalaamualaikum,

Bener ya kata Raditya Dika, hidup di masa pandemi ini kok kayak film. Saya ngomong sama Hubby, “Rasanya hidup kita sebelum pandemi ini kayak bohong,” hahahaha. I mean, it’s so weird. Everything that is available for us, suddenly no longer available. Our life has changed a lot. 

Kali ini saya mau cerita bagaimana Ramadhan tahun ini di tengah pandemi is actually a bless in disguise. Dari sekitar 2 minggu sebelum puasa I think I have prepared myself for  the Ramadhan that I have never experienced in 35 years of my life. Dan mungkin ini yang membuat saya bisa melewati Ramadhan tahun ini dengan pikiran yang justru lebih positif.

Sebelum Ramadhan tiba, saya sempat menyelesaikan dulu puasa qadha tahun lalu 9 hari. Jadi ketika masuk bulan puasa, saya merasa minimal tahu rasanya puasa dengan kegiatan di rumah melulu seperti apa. 

Saat puasa qadha itu awalnya bosan banget. Di rumah terus tapi nggak bisa makan apa-apa. Tapi ya namanya wajib harus dijalanin. Salah saya juga baru mulai qadha menjelang bulan puasa. Apalagi si Adek baru disapih, jadi jadwal tidurnya saat itu masih berantakan dan kalau malam sulit tidur walopun ga rewel.

Tapi saya bersyukur juga, sih. Karena ngerasain puasa qadha, saya jadi tahu rasanya puasa #dirumahaja . Malah pas masuk bulan Ramadhan, kayaknya rasa #dirumahaja yang membosankan perlahan bisa menghilang. Hidup terasa lebih tergenggam rutinitasnya. Waktu kembali menjadi berharga di bulan Ramadhan. Saya memang di rumah terus tapi ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan. Yang sulit itu tentu saja membiasakan diri dengan kebiasaan baru ini.

Malah lama-lama, ada rasa syukur. Kalau sebelumnya waktu terasa cepat banget berlalu. Sekarang? Well, harus diakui kebosanan tentu saja ada. Tapi seandainya kita lebih berpikir positif, waktu sebenarnya terasa lebih berharga. Ada waktu untuk memiliki kebiasaan yang baru yang dari dulu nggak sempat, untuk membaca buku-buku yang dibeli tapi nggak pernah selesai, untuk berpikir dan terkoneksi dengan diri kita yang lebih dalam dan tentu saja yang paling penting, untuk bertumbuh. 

Di masa seperti saat itu, liat matahari pagi seperti ini rasanya sangat bersyukur masih diberi usia sama Allah SWT.




Enggak cuma buat saya, Aira juga berhasil menamatkan cukup banyak buku di masa pandemi ini. Misalnya buku seri Bliss Bakery ini. Ia sudah menamatkan 4 buku tapi buku yang ke 5 stuck karena kurang seru katanya. Ada 2 buku KKPK dari Mizan, dan sebagian buku risalah Nabi Muhammad SAW. 


Setelah lebaran yang lalu juga, Aira jadi bisa naik sepeda. Anaknya happy banget dan sering minta bersepeda. Papanya apalagi, seneng dan lega banget nampaknya. Karena itu salah satu milestone yang pingin Ia ajarkan sama Aira dari dulu. 

Gara-gara pandemi, kita memang jadi banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya susah banget dicari waktunya. Misalnya me-redecorate kamar. Mindahin furnitur ke posisi yang berbeda dan membuat space yang lebih nyaman dan bisa mendorong produktifitas seluruh anggota keluarga.

Selain itu, space yang bisa sebanyak mungkin menghadap ke jendela. Karena melegakan rasanya bisa melihat ke arah luar saat kita di rumah saja sepanjang hari.



Pokoknya setiap space sekarang dipikirkan pemanfaatannya agar semua orang lebih produktif, termasuk menunjang kegiatan ibadah. 

Set up kami kalau tarawih

Enggak cuma kamar kami, kamar anak-anak pun diubah posisinya beberapa kali. Misalnya, setelah penyapihan berhasil, kami memindahkan kasur Adek ke kamar kami supaya belajar tidur sendiri. Posisi tempat tidurnya seperti di bawah ini,


Setelah ia bisa tidur sendiri, akhirnya kasur Adek pindah lagi ke kamar Anak-anak. Diposisikan cukup dekat dengan Kakaknya, agar terbiasa tidur di kamar yang berbeda. 

Ramadhan hampir berakhir. Menghadapi Idul Fitri, rasanya sedih nggak bisa mudik dan ketemu orangtua. Tapi ya tabah saja. Agak aneh karena tahun-tahun sebelumnya justru harus tabah menghadapi kemacetan di jalan. Ini juga pertama kalinya berlebaran tanpa mikirin harus beli baju baru atau pakai baju apa.
Di masa menjelang lebaran, justru menyenangkan karena bisa berkirim makanan kepada teman-teman dekat dan sebaliknya mendapat kiriman yang ga disangka. Alhamdulillah. Ternyata meski jauh dari rumah, kami masih bisa merasakan kehangatan dan kebersamaan walapun enggak secara fisik bertemu.

Masalah makanan lebaran, sudah tertangani dengan baik oleh tetangga kami yang punya katering. Jadi saya nggak terlalu dibikin pusing dengan bagaimana caranya membuat ketupat 😂.
Sehari sebelum Idul Fitri, seperti yang biasa dilakukan banyak orang, kami melakukan deep cleaning, membersihkan seluruh rumah. Agar lebaran terasa lebih bersemangat, dan pagi-pagi rumah sudah rapi nggak perlu bersih-bersih lagi. Menjelang jam 9 malam baru beres. Capek juga, jadi kami istirahat dulu sambil dengerin takbiran di luar.

Mematikan lampu, membuka semua jendela sambil liatin langit malam dan dengerin takbiran.  Rasanya agak asing. Ini pertama kalinya kami berlebaran di rumah sendiri. Biasanya berlebaran entah di rumah orang tua saya atau orang tua Hubby. 



Akhirnya Idul Fitri tiba. Aira saya tawarkan pakai dress biar terasa lebarannya, tapi nggak mau. Katanya kalau di rumah enakan pakai celana panjang. Jadi ya sudah, semua orang nge-jeans saja. 

Kami shalat Ied di ruang tamu. Pertama kalinya Hubby jadi imam shalat ied. Dan mungkin pengalaman pertama buat banyak suami di dunia. Kami foto-foto sebentar memakai tripod, untuk mengabadikan cerita ini. 


Setelah shalat Ied kami makan ketupat. Lalu video call sama keluarga di Tasik dan keluarga di Bandung. Tengah hari agenda lebaran sudah selesai. Malah di hari kedua lebaran kami semua bisa tidur siang 😂. But still interesting, karena ini pertama kalinya lebaran nggak pulang. 

Hari-hari berikutnya dihiasi beberapa zoom meeting dengan lingkaran-lingkaran pertemanan yang dekat. Sungguh aneh sebenarnya, di masa bisa kita susah banget mengatur jadwal bertemu. Tapi justru di masa pandemi gini malah bisa mudah bertemu walaupun cuma lewat internet. Hahahaha.

Bocil pernah bilang begini,”Kalau disuruh pilih, Aira kepingin balik lagi ke saat sebelum korona. Supaya bebas seperti dulu.” 
Tapi justru saya bilang,”Kalau Mama, disuruh pilih pun lebih pilih masa sekarang. Karena kalau balik ke masa itu, waktu akan terus berjalan ke masa sekarang, yang berati kita bakal ngalamin pasa pandemi ini lagi. Malah pandeminya jadi ngalamin dua kali. Lebih baik kita jalani saja masa sekarang, dan berharap kita segera bertemu dengan ujungnya, di mana pandemi bisa berakhir.”

Enggak ada yang bisa kita lakukan untuk kembali ‘normal’ seperti dulu. Lebih baik mengubah sudut pandang, dan melihat apa yang bisa kita lakukan di saat-saat ini. Looking back ke awal masa pandemi, saya malah merasa waktu saya lebih berharga sekarang. 

Keadaan ini pasti akan berpengaruh pada mental siapa pun, termasuk saya. Tapi saya pikir ini memang fase yang harus dilalui. Saya rasanya nggak akan seberani itu menghadapi diri saya sendiri kalau nggak ada pandemi. Untuk itu saya bersyukur sekali. Masya Allah. Selalu ada hikmah di balik segala kejadian. Semoga kita sehat-sehat selalu, ya :).

Wassalaamualaikum.

Komentar

Lubena Ali mengatakan…
Lebaran kali ini bakal diinget terus deh.. Karena aku pertamakalinya ga mudik

Postingan populer dari blog ini

Pilih-Pilih Gendongan (Review) : Geos, BabyK'Tan dan Hip Seat Carrier

Survey TK di Depok

Cerita Trimester Tiga: Pilih-Pilih Rumah Sakit (Biaya Melahirkan di Hermina Depok & Bunda Margonda)