Jogja Roadtrip (Part 3) : Candi Prambanan, Kopi Klotok, Nanamia Pizzeria

Assalaamualaikum, 


Di pelataran Candi Prambanan.
Halo! Ini adalah bagian ketiga dari cerita Jogja Roadtrip. Kalau mau baca-baca, bagian pertama ada di sini ya,
Jogja Roadtrip: Yats Colony Hotel Review.
Dan bagian kedua ada di sini,
Jogja Roadtrip (Part 2): Museum Ullen Sentalu, Rumah Makan Bu Ageng, dan Jejamuran.


Lama banget ya sejak post terakhir tentang Jogja Roadtrip. Kemarin tiba-tiba saya jadi nonton film Ada Apa dengan Cinta? Lalu jadi keterusan nonton AADC 2 yang latar kotanya kebanyakan di Jogja. Terus jadi ngerasa diingatkan bagian terakhir roadtripnya belum saya tulis. Padahal foto-fotonya sudah terlanjur lama mengendap di draft. Jadi daripada sayang, saya lanjut cerita aja ya.

Pagi di hari ke tiga, kami lebih santai. Pagi-pagi anak-anak minta berenang. Lalu setelah puas berenang, kami juga menikmati sarapan di hotel dengan santai. Ga mau buru-buru. Itinerary hari ini cuma ke satu tempat dan satu tempat makan. Di kamar juga santai-santai saja bisa sambil menulis dan melamun.

Betah berlama-lama duduk di jendela ini.

CANDI PRAMBANAN

Aira request pengen lihat candi. Berhubung beberapa tahun lalu pernah ke Borobudur, dan sejujurnya ke Borobudur itu capek banget jalannya jauh dari bawah menuju atas, jadi kami pilih Candi Prambanan aja yang letak masih dekat dari pusat kota. Jaraknya sekitar 17 km dari Yogyakarta. 

Aira bilang di Youtube ia menonton cerita Candi Roro Jonggrang. Ia bercerita di situ diceritakan Candi Roro Jonggrang atau Candi Prambanan ini dibangun dalam semalam oleh Bandung Bondowoso dibantu para jin. Mama tergelitik untuk bertanya, "Menurut Aira bangunan sebesar ini, seindah ini, seluas ini, bisa dibuat dalam semalam?" Lalu bocil menggeleng sambil nyengir. "Itu cuma cerita rakyat aja, Aira." Kata Papa.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia yang termasuk salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga Dewa utama dalam agama Hindu. Yaitu Brahma (Dewa pencipta), Wishnu (dewa pemelihara), dan Siwa (dewa pemusnah). Berdasarkan prasasti Siwagrha, Candi Prambanan memiliki nama asli "Siwagrha" yang dalam bahasa Sanksakerta berarti "Rumah Siwa". Di Garbagrha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi 3 meter yang menunjukkan di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan. 
Menurut prasasti yang sama, candi ini dibangun pada sekitar 850 Masehi oleh Rakai Pikatan. Ia membangunnya sebagai tandingan candi Budha Borobudur dan Candi Sewu. Beberapa sejarawan lama menduga, pembangunannya untuk menandai berkuasanya kembali wangsa Sanjaya atas Jawa.

Sekitar tahun 930 M candi ini sempat ditelantarkan karena kepindahan ibukota ke Jawa Timur. Candi ini diduga benar-benar runtuh akibat gempa bumi hebat pada abad ke 16. Meski sudah tidak lagi menjadi pusat keagamaan umat Hindu, masyarakat Jawa lokal di sekitarnya masih mengenali keberadaannya. 
Meski begitu, mereka tidak mengetahui latar belakang sejarah di balik candi ini dan siapa yang membangunnya. Masyarakat lokal kemudian menciptakan dongeng rakyat mengenai candi tersebut. Arca Durga di dalam bangunan utama candi inilah yang mengilhami Legenda Roro Jonggrang.

Sebagaimana biasa, perjalanan ke candi (apalagi sama bocil) biasanya exciting di awal, tapi penuh keluhan menjelang pulang. Karena perjalanan dari atas candi sampai ke pintu keluar biasanya lama dan jauh 😂. Matahari pun sudah tinggi dan panas. Saya juga salah nggak ganti sepatu kets di mobil. Malah pakai sepatu flat kulit. Jadinya kaki lecet dan kemasukan pasir. 










KOPI KLOTOK

Di post sebelumnya saya sempat cerita kalau hari sebelumnya kami pengen makan siang di Kopi Klotok. Tapi ternyata penuh luar biasa dan nggak bisa masuk. Nah, keesokan harinya kami masih penasaran dan datang lagi ke Kopi Klotok. Ternyata sama penuhnya, tapi masih dapat spot parkir. Tempat duduk nggak dapet kursi yang bagus dan duduknya pun di spot yang nggak terlalu nyaman. 

Well, honestly, menurut saya sulit untuk duduk dengan nyaman di sini karena pengunjungnya banyak banget.  Padahal itu kalo nggak salah hari senin. Kalau dapat tempat duduk yang nyaman, lucky you. Kami udah keburu lapar banget. Jadi duduk di mana pun hayu. Di mana-mana dipenuhi orang. Agak nggak nyaman buat saya yang ga suka keramaian. Untungnya dapat duduk di pinggir sawah di outdoor. 

Ambil makannya ngantri, sistem prasmanan, bawa piring sendiri-sendiri. Bayarnya belakangan nanti setelah makan, persis tempat makan mahasiswa jaman saya ngekos dulu. Tapi untuk pisang goreng dan minuman harus pesan dulu.

Ini dia makan siang khas Kopi Klotok yang terkenal. Nasi, Sayur Lodeh Tempe, Telur dadar Garing, dan Tempe Tepung digoreng garing. Begitu doang? Iya, begitu doang. Tapi enak. 


Buat saya ini ngingetin kita akan makanan rumahan yang sederhana. Mengenyangkan perut dan menghangatkan hati. Enggak mahal, biasa aja, nggak instagramable, tapi real. Emang bingung sih kenapa orang-orang sampe segitu antrinya demi makan sayur lodeh dan telor. Tapi saya akuin sih emang menu ini enak banget buat saya yang kayaknya udah bosen aja gitu sama makanan yang dijual sekarang yang ga jauh sama daging-dagingan, ayam, dan fast food. Ditambah lagi di daerah Kaliurang yang dingin, dan lapar karena abis jalan-jalan.

Pengalaman makannya? Jujur sih, kalau saya nggak dapat tempat duduk outdoor, mungkin saya pusing karena penuh. Hahaha. Untungnya dapat tempat duduk di luar dan saat itu hujan baru saja reda, jadi suasananya nggak panas. Cocok banget buat minum kopi panas dan pisang goreng. Ini dia kopi klotoknya.



Pada dasarnya, kopi klotok itu hanya kopi hitam yang diseduh air yang panas banget dan dikasih gula. Disajikan pakai gelas belimbing lengkap sama tutup gelasnya. Itu saja. Tapi ngingetin sama kopi yang suka diseduh ayah kita dulu. Di bawahnya dikasih pisin, piring kecil yang jaman saya kecil dulu suka jadi tempat kopi ditumpahkan sebagian biar cepat hangat. Papa saya yang ngajarin itu. Gara-gara kopi begini saya jadi tahu kalau salah satu cara menurunkan suhu cairan adalah dengan menempatkan pada benda yang lebih penampangnya lebih luas. 

Minum kopi panas di udara dingin, tentu saja harus ditemenin pisang goreng. Ini pisang gorengnya 2 porsi. Karena nggak tau 1 porsi itu seberapa banyak. Ternyata banyak 😄. Untungnya bawa tempat makan collapsible, jadi nggak mubazir karena sisanya banyak dan bisa dimakan di perjalanan atau di hotel.







Makan di pinggir sawah, jadinya bisa ketemu belalang sembah gini.

Lepas makan siang, sekitar pukul 3 sore kami putuskan langsung pulang saja ke hotel. Anak-anak pingin berenang lagi. Lagian dari awal pengennya ke Jogja buat ngelepas penat dan menikmati waktu dengan lambat. Jadi istirahat di hotel tentu saja mendapatkan waktu yang banyak. Hehehe.


Malamnya kami tiba-tiba pengen makan di luar sambil putar-putar Jogja. Pengen liat lagi Alun-Alun Selatan. Tapi ternyata alun-alun selatan saat itu penuh banget. Banyak mobil berhias lampu warna-warni, lalu lintasnya lambat dan sukit parkir. Sempat salah belok dan malah kejebak di perempatan yang nggak bergerak di Plengkung Gading. Mobil deretan kami nggak bisa tembus perempatan, pun sebaliknya, nggak bisa masuk ke arah kami. Untungnya mobil di belakang kami satu-satu mundur dan memutar balik dengan tertib. Akhirnya kami bisa mundur sedikit dan bisa putar balik juga. Hamdallah. 

Malam itu Hubby ngajakin makan malam di Nanamia Pizzeria. Letaknya masih di sekitaran keraton. Dari tempatnya saja keliatan tempat makan ini dibuat untuk anak muda. Berbagai spot kece untuk berfoto. Di sini tempat makannya menyajikan makanan Italia homemade (mostly pasta dan pizza). 

Kami pesan Pepperoni Pizza, Fettucini Beef Carbonara dan Spaghetti Bolognese. Pizza Pepperoni-nya homemade. Keliatan dari dough-nya yang tipis kering. Ini tipikal pizza yang paling enak dimakan panas atau hangat. Karena kalau sudah nggak panas adonannya biasanya jadi agak alot. Rasanya oke, bumbunya terasa enak nggak kerasa seperti resto pizza biasanya. 


Fetuccini-nya enak. Creamy dan emang paling enak dimakan selagi hangat juga. Spaghetti bolognese-nya lumayan segar rasanya dari tomat beneran, nggak kayak saus botolan banget.



Minumannya saya lupa ini apa. Hehehe. Pokonya ada rasa lime-nya. Satu lagi minuman cokelat panas. Tapi buat saya minumannya tidak terlalu istimewa. Minuman cokelatnya terlalu manis dan cokelatnya tidak terasa nyoklat. Yah, minumannya biasa saja. Atau mungkin memang yang kami pesan bukan minuman specialty-nya.



Setelah kenyang kami pulang ke hotel. Sebagian pizza yang tidak habis dibawa pulang pakai tempat makan collapsible. Tempat makan collapsable ini emang berguna banget deh buat traveling. Karena bisa dilipat jadi cukup tipis saat ditaruh di tas, tapi cukup besar dan kokoh saat digunakan. Materialnya dari silikon, jadi tahan suhu panas dan tidak menyerap warna atau bau dari makanan. Saya rekomendasiin banget sih tempat makan ini agar kita bisa mengurangi penggunaan plastik atau kotak kardus sekali pakai.


Esoknya adalah hari keempat, hari terakhir kami di Jogja. Sedih juga rasanya harus pulang. Jadi hari terakhir ini saya dari subuh udah packing. Biar bisa tenang menikmati hotel terakhir kali. Pagi kami berenang, lalu semua mandi, dan sarapan berlama-lama. Terakhir, foto ala-ala dulu di kamar hotel yang kece. 












Kangen deh pengen liburan lagi. Tapi ya mau gimana masih harus bersabar dulu. 

Waktu nonton Ada Apa dengan Cinta 2 itu rasanya absurd banget sih. Liat Cinta dkk makan di semacam warung lesehan. Sekarang boro-boro berani lesehan 😅. Absurd kan? Liat piring gelas aja takut ada ketinggalan droplet orang. Hahaha. 

Yaudalah gausah ngeluh. Dikasi kesehatan saja sudah alhamdulillah, bersyukur. Bisa makan saja di saat ini harus bisa bersyukur. Alhamdulillah. 

Wassalaamualaikum.

  



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilih-Pilih Gendongan (Review) : Geos, BabyK'Tan dan Hip Seat Carrier

Survey TK di Depok

Cerita Trimester Tiga: Pilih-Pilih Rumah Sakit (Biaya Melahirkan di Hermina Depok & Bunda Margonda)