Jogja Roadtrip (Part 2): Museum Ullen Sentalu, Rumah Makan Bu Ageng, dan Jejamuran



Aira di Museum Ullen Sentalu.


Assalaamualaikum,

Setelah cerita tentang Review Hotel Yats Colony Yogyakarta di post sebelumnya, kali ini saya mau bercerita tentang roadtripnya sendiri. 

Roadtrip di akhir Januari ini sebenarnya bisa dibilang mendadak. Saya sudah cerita bagaimana beberapa tahun terakhir kami menghadapi beberapa fase yang cukup menguras energi. Ada beberapa tujuan yang ingin kami capai beberapa tahun lalu. Di antaranya renovasi rumah. Untuk tujuan ini kami harus banyak mengalah dengan banyak keinginan. Termasuk di antaranya keinginan untuk traveling. 

Ketika kami selesai renovasi, banyak yang mengira kami merasa lega. Alhamdulillah, bersyukur sekali rasanya tujuan tercapai. Tapi ternyata di sudut hati yang tidak terlihat, kami mentally exhausted. Karena ternyata mengalah terus menerus untuk tujuan yang lebih besar juga melelahkan.

2019 tampaknya memang jadi tahun yang penuh pelajaran berharga bagi kami. Hubby kelelahan karena di kantor banyak pekerjaan, ga mungkin ambil cuti. Selain itu,  kami juga harus kembali menabung setelah merampungkan tujuan besar kami sehingga pergi liburan rasanya menjadi keputusan yang tidak bijak secara finansial saat itu. Lelah, tapi nggak bisa berhenti juga. Ya namanya juga hidup. Dijalanin aja dan bersabar lagi.

Sampai masuk 2020, akhirnya Hubby bisa ambil cuti. Timingnya lumayan pas setelah liburan sekolah, jadi belum musim ujian di sekolah. Kota yang dipilih adalah Jogja. Karena letaknya cukup jauh, tapi enggak terlalu jauh. Selain itu, banyak tempat yang bisa dilihat.

Dari awal berangkat sudah diniatkan, kali ini kami nggak akan banyak itinerary. Pingin menikmati waktu dan suasana saja dengan tenang. Nggak akan ngoyo pengen liat sana-sini, enggak pingin lihat matahari terbit di sini, dan terbenam di sana. Pingin liburan dengan tenang saja, nggak terburu-buru, menikmati waktu dengan lambat.

Sehari-hari saja kami sudah sering terburu-buru ke mana-mana. Kami cuma pengen slow down dan ga ngerasain beban. Itinerary-nya juga mudah saja. Satu hari, satu tempat wisata, lalu satu atau dua tempat makan. Pagi berlama-lama sarapan di hotel. Menjelang sore sudah sampai hotel lagi karena anak-anak pengen berenang. Iya, sesantai itu. Nggak ambisius sama sekali. 

Bahkan saya sengaja menyingkirkan acara foto-foto bersama. Foto bersama yang santai sengaja cuma di Prambanan dan Hotel. Sisanya, ya terima aja wes kalopun fotonya jelek. Heuheu. Maklumlah blogger, kadang saya sendiri yang ekspektasinya pengen foto bagus dan pengen ngulang-ngulang lagi berfoto. Padahal kalo jalan-jalan gini anak-anak biasanya suka kecapean dan ga mood diajak foto berulang-ulang. 

Niatnya sih baik, biar ada foto bagus buat kenangan (dan buat diposting). Tapi kalo ngurus kamera melulu, kok malah jadi ga nikmatin trip jadinya kan. Kan tadi niatnya pengen nikmatin dengan lambat waktu yang terlewati? Wkwkwk. Roadtrip kali ini selama 4 hari 3 malam. Pengennya sih lebih lama lagi, tapi nggak memungkinkan.


DAY 1
Sabtu itu kami berangkat pagi-pagi dari rumah. Kami harus melewati tol Cipali dan seterusnya Sepanjang jalan tol trans jawa. Sepengetahuan kami, jalan tol ini sepi dan sedikit sekali rest areanya, terutama setelah palimanan. Jadi kami memang sengaja berangkat pagi karena nggak mau melewati jalan ini dalam keadaan gelap untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Entah ban bocor, atau salah keluar pintu tol, dll.

Oia, penting juga untuk mengisi kartu e-toll dari sebelum melakukan perjalanan. Karena di ruas tol ini juga jarang ATM. Sampai-sampai di beberapa titik pintu keluar disediakan antrian khusus isi kartu e-toll. Kami menemukan beberapa kali mobil kehabisan saldo di pintu tol. 

Jadi pastikan saldo e-moneynya cukup dari awal perjalanan. Kami masuk dari tol Cijago keluar di Boyolali habisnya sekitar Rp 400 ribuan. Ya wajar sih, jalur tolnya juga panjang banget sampe 480-an km dari Cijago. Paling gampang isi e-money Rp 1 juta aja. Cukup sampai perjalanan pulang nanti. Kita lebihkan dikitlah ya, takutnya salah keluar pintu tol atau tarifnya tiba-tiba naik. 

Alhamdulillahnya si Adek tidur pulas banget di car seat-nya dari sejak Tol Jakarta Cikampek sampai hampir keluar tol di Boyolali. Si Kakak juga sempat tertidur lama, terbangun karena harus shalat di rest area. Anak-anak kondusif nggak ada yang rewel.


Mari berangkat!

Baru lepas ashar kami sampai di Jogja. Kami beristirahat di hotel hingga maghrib. Baru sekitar jam 19.00 kami keluar cari makan malam. Tujuan kami Warung Makan Bu Ageng yang katanya makanannya memakai resep rumahan ibu dari seniman Butet Kartaredjasa. Letak tempat makannya di sekitar daerah keraton dan menyajikan makanan tradisional khas Jawa. 

Pertama kali masuk, yang pertama kali langsung tercium wangi semacam kemenyan atau dupa. Pegawainya cukup banyak sehingga pelayanannya pun cepat. Berikut beberapa menu yang disajikan di Warung Bu Ageng, dan beberapa makanan yang kami pesan. Maaf ya fotonya agak gelap karena pencahayaan tempat makan memang remang di malam hari.


Sayur asem
Ayam nylekit.
Paru ketumbar.


Sebenarnya ada Terik daging yang nggak kefoto karena Hubby udah keburu lapar jadi pas mau difoto terik dagingnya udah habis setengah 😂. Terik daging dan ayam nylekitnya enak deh. Ayam nylekit, seperti namanya, pedas tapi manis. Paru ketumbarnya juga enak, tapi parunya kurang digoreng kering buat selera saya. Overall di sini harganya terjangkau dan lumayan enak. 


DAY 2
Esok paginya, hari Minggu, kami mutusin ke Museum Ullen Sentalu. Museum ini tutup di hari Senin. Jadi mau nggak mau kami harus datangi di hari ini. Ullen Sentalu letaknya di daerah Pakem, Kaliurang, kabupaten Sleman. Berbeda dengan daerah Jogja lain yang udaranya panas, di sini justru udaranya adem, hijau, dan banyak pepohonan. Tanahnya pun berkontur dan basically lokasinya memang naik terus ke atas.  Seperti daerah Lembang kalau di Bandung atau Puncak di Bogor mungkin ya. 

Oiya, kami juga baru ngeh ternyata Kaliurang itu artinya Sungai Udang (kali = sungai, urang = udang). Mirip kata bahasa Sunda ‘hurang’ yang artinya juga udang. Gara-gara lihat patung udang besar di persimpangan jalan. 

Seperti yang saya bilang tadi, di sini udaranya sejuk dan pepohonannya rimbun. Jadi enggak heran, kalau penampakan bagian depan museum Ullen Sentalu seperti ini.


Tampak depan museum Ullen Sentalu. Fasade-nya tertutup rimbunnya pepohonan.


Saat itu masih pagi, sekitar jam 10.00. Tapi pengunjung yang datang sudah cukup banyak. Walaupun antrian tiket tidak panjang, tapi pengunjung yang sudah memegang tiket juga sudah cukup banyak.


Kami ditawarkan dua paket tour. Tapi kami hanya mengambil tiket Adiluhung Mataram. Yang menunjukkan koleksi mengenai kehidupan dinasti Mataram beserta koleksi berbagai macam batik.




Pengunjung di bagian dalam dibatasi, jadi kami harus masuk dalam satu kelompok besar sekitar 15 orang dengan satu guide. Kami semua menunggu di ruang tunggu dan setiap kelompok akan dipanggil nama dan jumlah orangnya. Kami masuk di kelompok ke dua.

Di ruang tunggu museum.

Di Ullen Sentalu kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar sama sekali. Kecuali di bagian ruang tunggu dan area yang diperbolehkan untuk berfoto. Saat itu hujan gerimis turun, jadi kami menunggu di barisan masuk sambil sedikit kena hujan. Si Adek mulai terkantuk-kantuk minta digendong Papanya. Sampai akhirnya di beberapa ruangan, ia benar-benar tertidur.

Kami diajak masuk melalui koridor-koridor tanpa atap mirip labirin, yang dindingnya ditutupi batu-batu halus. Udara yang sejuk dan tingkat humidity yang cukup tinggi membuat koridor batu ini terasa basah dan lembab. Kami berjalan berdampingan dalam barisan dua orang mengikuti pemandu.  Memasuki koridor-koridor yang letaknya lebih rendah dari permukaan tanah. Koridor ini membawa kami ke beberapa ruangan khusus, seperti ruangan Gamelan, Ruangan Keturunan Kerajaan Mataram, Ruangan Batik, dan tentu saja ruangan yang paling khas dari museum ini, Ruangan Putri Dambaan.

Di ruangan gamelan, berbagai alat musik budaya Jawa dipamerkan. Yang paling menarik di ruangan ini adalah lukisan Gusti Nurul Kamaril Ngarasati Koesoemawardhani. Salah satu putri keraton yang pada tahun 1930 menari tradisional Jawa di Belanda dengan diiringi musik Gamelan yang disiarkan langsung lewat siaran radio RRI. Puteri yang jago berkuda, berprestasi dan anti poligami. Sepertinya ini sosok puteri Jawa yang seringkali dibicarakan banyak traveler saat berkunjung ke Museum ini.

Puteri yang satu lagi yang sering jadi pembicaraan adalah puteri Tineke. Ada satu ruangan khusus yang didedikasikan untuk menampilkan surat-surat penghibur dari sahabat-sahabatnya saat sang puteri patah hati. Dari teman-teman di Indonesia, maupun teman-teman dari negara barat.

Ada lagi hal menarik yang saya perhatikan. Saat melihat lukisan Emban atau pembantu kerajaan dari kalangan biasa yang sering dilukis dengan memakai kemben. Sementara para anggota kerajaan seringkali dilukis dengan memakai kebaya. Saya sempat menanyakan kepada pemandu museum mengenai ini. Dan betul katanya, pada saat itu rakyat biasa memakai kemben, sementara para bangsawan memakai kebaya. Ini temuan menarik, sampai-sampai saya googling mengenai sejarah pakaian perempuan di Indonesia dan sampai berakhir di sejarah kutang nusantara. Tapi ini tentu terlalu panjang untuk diceritakan di sini. 

Intinya, masyarakat biasa memakai kain hanya sebagai kebutuhan, para bangsawan sudah memakainya sebagai bagian dari memperindah penampilan. Pakaian jadi semacam penanda strata sosial. Bahkan batik raja dan batik rakyat pun berbeda motifnya. Dan semua ada aturannya. 

Privilege is real. Mau nggak mau saya mikirin rakyat jelata yang dijajah orang asing. Para bangsawan bisa berdiplomasi, rakyat jelata boro-boro. Jadi ya kalo ada bangsawan jaman dulu yang merhatiin kaum rakyat jelata ya bersyukur ada bangsawan yang begitu.

Buat saya pribadi, saya bersyukur dilahirkan di masa ini dan bisa pakai baju panjang. Saya bisa pakai baju apa pun yang saya mau. Bisa belajar di sekolah yang saya mau. Jadi orang jaman sekarang juga privilege, kalau kita mau bersyukur.

Setelah tur selesai, kami diajak duduk-duduk di ruangan khusus dan disediakan minuman wedang yang katanya ramuan jaman dulu dan berkhasiat bikin awet muda. Hanya di ruangan ini kami boleh berfoto. Selanjutnya, tur selesai.

Di bagian belakang museum terdapat sedikit pelataran batu dan ada replika salah satu adegan dari candi borobudur yang dipasang miring. Replika ini disebut dengan watu miring. Dipasang sebagai pengingat agar kita tidak melupakan budaya bangsa.

Si Bayik masih tertidur.







Di bagian belakang museum menuju parkiran ini rimbun banget. Saat itu juga masih pagi. Udaranya segar banget.





Mumpung ke Kaliurang, kami rencananya mau mampir di Kopi Klotok yang terkenal di sejagat Instagram. Tapi pas sampe parkirannya, masya Allah penuh banget. Bis pariwisata juga ada berapa entah. Hubby turun sebentar masuk ke dalam liat situasi. Katanya di dalam penuh banget banyak yang berdiri. Kalo chaos begitu nggak mungkin juga bisa makan. Yaudalah kami langsung jalan lagi. 

Searching di internet tentang makanan di Jogja, akhirnya mutusin ke Jejamuran aja. Sampai di resto-nya, alamak! Parkirannya sama penuhnya. Ternyata kita diminta parkir di area tambahan sekitar 20-50 meter dari resto. Dari situ, para pengunjung resto boleh naik odong-odong. Gratis.

Seumur-umur kita nggak pernah naik odong-odong. Jadinya seru aja kayak pengalaman baru. Musiknya dangdut pula. Hahahaha. 

Sampe resto kami langsung pesan makanan. Area restonya luas dan banyak banget mejanya. Kami duduk dekat panggung dan jujur aja, saya bukan orang yang suka makan dalam suasana yang bising. Tapi pelayanannya cepat, padahal meja dan tamunya banyak banget. Harganya juga ramah di kantong.


Makan siang kami di Jejamuran.





Selesai makan siang waktu udah menunjuk pukul 14.00 an. Aira minta pulang ke hotel karena pengen berenang sebelum malam. Kami juga mutusin hari itu kami udah cukup lelah. 

Sampai di hotel, ada tukang duren jualan di depan hotel. Senangnya😍. Kami minta ijin makan duren dan reseptionist ngebolehin tapi harus di lobi yang outdoor. Yeay!



Sampai kamar hotel kami istirahat dulu sebentar. Dan sorean bocil-bocil berenang sama Papanya.


Mamanya mager di kamar aja. Lagian ga bawa baju berenang. Tapi lama-lama pingin juga nyentuh air. Apalagi hotel lagi muter lagu-lagu klasik swing dan jazz yang bikin area kolam renang serasa di island. 

Malamnya kami nggak makan lagi. Tapi kami pesan salad buah dari aplikasi ojek online. Enak juga ini saladnya.



Kami tertidur cepat malam itu. Lelah. Tapi jam 4 pagi saya terbangun. Beginilah kalau jadi Mamak-Mamak. Kalau udah sekian jam tidur pasti deh kebangun. Mumpung masih pada tidur, saya nyalain TV. Udah lama banget kayaknya nggak nonton TV. Lumayan ada film Iron Man. Film yang keluarnya jaman pacaran sama Hubby kayaknya. Wkwkwk.



Ceritanya lanjut post berikutnya ya. Karena udah kepanjangan. Hehehe.
Wassalaamu’alaikum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilih-Pilih Gendongan (Review) : Geos, BabyK'Tan dan Hip Seat Carrier

Survey TK di Depok

Cerita Trimester Tiga: Pilih-Pilih Rumah Sakit (Biaya Melahirkan di Hermina Depok & Bunda Margonda)